Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 75


__ADS_3

"Viena, kau sudah siap? Ayo kita ke hotel dulu!" Kata Dion sudah bersiap hendak ke hotel sebelum ke pertunangan Lexa dan Jerry.


"Sudah, ayo segera temukan asistenmu!" Jawab Viena segera keluar dari apartemen mereka.


Tepat pukul 1 siang Dion dan Viena sudah bergegas ke pertunangan Lexa dan Jerry namun mereka hendak bersama Leon. Leon tidak bisa dihubungi sejak pagi tadi. Dion panik. Dion hendak menanyakan pencariannya kemarin.


Dion dan Viena sampai ke hotel dan tidak menemui Leon. Dion sudah menyuruh Renzy dan Elsa menghubungi Leon dan Ben.


"Tuan, Ben hari ini mengantar Tuan Jeremy ke Summer, mungkin tidak ada signal!" Renzy memberi tahu.


"Sayang, kau telepon pap saja untuk sebentar berbicara pada Ben. Ben pasti tahu Leon ada di mana." Kata Viena berusaha menghubungi yang bisa ditanyakan. Sementara Viena juga sudah menghubungi Abby.


"Ben sudah kembali Nyonya, baru saja dia mengatakan padaku sedang di jalan. Mungkin sebentar lagi tiba Nyonya." Kata Abby di sebrang panggilan.


Memang benar, tak lama Ben menyeruak masuk ke dalam ruangan Renzy.


"Leon Renzy! Dia di apartemennya. Semalam dia mabuk parah. Dia tak sadar dia terus menyebut nama Lexa. Dia menghancurkan bar ku. Dia berbicara seperti orang gila. Dia menggoda wanita wanita namun dia malah mendorongnya. Aneh sekali temanmu Renzy! Untung saja aku datang tepat waktu, kalau tidak dia bisa masuk penjara karna tak berapa lama polisi datang. Argh untuk sementara bar ku ditutup karna dia Renzy. Leon menjadi kacau Renzy. Aku tidak bisa menenangkan dia!" Ben merajuk setelah Elsa memberi tahu kalau Dion dan Viena mencari Leon.


"Di mana dia sekarang?!" Tanya Dion sudah berdiri di daun pintu ruangan.


"Di apartemennya Tuan. Aku menguncinya! Aku takut dia kabur entah kemana membuat kekacauan lagi! Padahal aku sudah katakan masih ada waktu tapi dia hanya bilang mau Lexa mau Lexa dan dia memukulku, lihat pipiku Tuan!" Ben menunjukan pipi lebamnya karna mendapat pukulan dari Leon yang berusaha menenangkannya.


"Oh Tuhan, mengapa biru seperti itu Ben?!" Renzy meringis.


"Iya ini karna Leon, hem.." Ben tertunduk sedikit menyesal tapi juga sedih.


"Aku akan ke apartemennya. Ben ikut aku. Viena kau di sini saja bersama Renzy. Aku takut Leon mengamuk lagi. Dia selalu begini kalau yang dia mau tidak terjadi, merepotkan sekali memiliki asisten seperti dia!" Umpat Dion dan bergegas ke apartemen Leon.


"Renzy, apa tidak ada Matheo atau Regi? Aku lelah sekali, belum lagi pipiku saja masih biru begini, hah?" Ben merajuk lagi sebelum mengikuti tuannya.


"BEN CEPAAAT!!" Teriak Dion yang sudah berjalan menuruni hotel.


"Tidak ada dan tidak bisa sepertinya Ben." Renzy berucap pasrah.


Ben menghela napas. Entah apa lagi yang Leon akan lakukan padanya. Tadi malam setelah sampai tengah malam menunggu Lexa dan tidak ketemu, hatinya benar benar hancur. Jiwanya entah berlarian kemana mana. Sudah menjadi seperti butiran debu bahkan sudah seperti tak terlihat. Batinnya teriris. Dia tidak bertemu Lexa. Bahkan hanya tak sengaja melihat saja tidak ada. Kepalanya pening. Raganya lelah bahkan sangat lelah.


Sesampainya dari Springfield dia bahkan hanya tidur 2-3 jam sehari. Dia harus ke summer. Dia memesan kembang api. Mengabari Angel, menanyakan rancangan cincinnya. Namun entah semua hanya seperti mimpi baginya. Dia berjalan lunglai keluar dari rumah sakit. Dia masih menghubungi Lexa namun nihil. Akhirnya dia ke bar Ben. Dia memesan semua jenis minuman sampai perutnya mual namun dia masih bisa melakukan hal hal yang tak seharusnya. Menggoda para wanita namun melemparnya ketika wanita itu hendak mencium dirinya. Leon menari nari di lantai dansa sambil terus meminum minuman kerasnya.


"Lexa, Lexa Lexa!" hanya itu yang terucap di bibir Leon sampai dia menabrak seorang lelaki yang sedang bersama kekasihnya. Kepala kekasih lelaki itu terkena tembok dan lelaki itu marah pada Leon. Leon malah menyerangnya. Leon membuat keributan di bar Ben sampai Ben datang menghentikan semuanya namun naasnya polisi sudah datang. Leon hendak digiring namun saat itu juga Ben memberikan jaminan agar tidak menahan Leon.


"Aku ingin mati saja, aku lebih baik ikut polisi itu Ben, polisi tangkap aku. Borgol tangan ini yang tidak berguna. Yang tidak bisa lagi menjaga lexa ku. Cuci saja otak ini karna sudah beku. Dan ambil saja jantungku hatiku ini karna sudah tidak berfungsi dengan benar lagi. Jiwa ini raga ini penjarakan saja ayo tuan polisi. Bawa aku!!! tubuh ini otak ini tidak ada artinya lagi. Lexa ku sudah MENGHILAAANGGG!!!! AARRGGHHH LEXA KAU JAHAT AKU BENCI PADAMU SEMUA WANITA SAMA SAMA SAMAA!!!!" Leon merajuk saat itu. Dia berteriak teriak di bar Ben yang saat itu sudah tidak ada siapa siapa lagi selain dirinya dan Ben.


Ben hanya menundukan kepalanya dan membiarkan Leon merajuk sampai puas. Sampai Leon tersungkur di sana. Dia menangis. Ben merasa kasihan. Ben menghampiri Leon namun Leon malah mencengkram leher Ben.


"Ini semua karna kau Ben!" Leon memukul Ben keras sekali sehingga Ben juga ikut kesal. Ben akhirnya juga memukul Leon sampai Leon tertidur di sana. Ben lalu berusaha membawa Leon ke apartemennya. Dia mengunci temannya itu sampai sudah akan membaik Ben akan kembali menengoknya.


...


Ben segera membuka apartemen Leon. Waktu sudah menunjukan pukul 2 siang. Dion menyeruak masuk dan menemukan Leon tidur di kasurnya sambil memegang botol bir dan masih banyak botol bir kosong berserakan di sana. Leon benar benar kacau. Dia tak sanggup menerima kenyataan ini. Rasa rasanya seperti Lexa sudah hilang dari permukaan bumi ini saja.


"Bangun!!! Di mana ponselmu?!!" Dion langsung menarik tangan Leon agar segera duduk dan bangun.


"LEON BANGUN BUKA MATA MU ATAU KAU BENAR BENAR KEHILANGAN LEXA!" Dion berteriak yang sanggup membuat Leon agak bergerak karna juga mendengar nama Lexa.


"Apa Tuan? Lexa sudah bersama temanmu itu, sudahlaahh..." Leon berusaha untuk bangun dan memegang kepalanya.


"Lexa, kau mau pergi? Kau tidak mau melihat Leon dulu sebentar?" Ben berbohong.


Leon langsung melotot. Dia percaya karna dirinya memang menginginkan Lexa saat ini juga. Dia lalu keluar dari kamarnya.


"Di mana Lexa?!" Leon malah memukul kepala Ben.


"Cepat bersihkan dirimu, kita gagalkan pertunangan Lexa, INI PERINTAH LEON!!" Dion melemparkan jas kebesaran Leon yang selalu ia kenakan ketika bertugas atau sesekali pergi bersama Lexa.


"Apakah Lexa mau menemuiku, Tuan?" Leon meraih jas nya dan menundukan kepalanya takut.


"Kau mau kesempatan terakhir atau tidak sama sekali hah?" Kata Dion sangat tegas.


"Ayo Leon, Tuan Dion bersamamu!" Gumam Ben di belakang Leon.


"Begini Leon! Kau datang saja! Lihat respon Lexa melihatmu, jika dia bersih keras bertunangan dengan Jerry kau harus berlapang dada. Relakan dia. Jika masih bisa kau mengungkapkan perasaanmu. Ungkapkan. Yang penting kau sudah mengatakannya. Ini kesempatan terakhir. Tidak ada kesempatan lain lagi!" Kata Dion kemudian. Leon menarik napas. Dia ingin Lexa. Dia harus menemuinya. Ya dia harus menemuinya pikirnya.


Leon lalu menyalakan ponselnya. Dia melihat pesan Jerry. Dia mencengkram sesaat ponselnya lalu segera bersiap diri. Dia mengenakan jasnya dan tak lupa menegakan rambutnya. Raambutnya ini yang membuat Lexa terpesona padanya. Dia berusaha untuk tetap tenang dan bertemu Lexa nanti.

__ADS_1


Setelah Dion menjemput Viena ke hotel, Mereka bertiga segera ke pertunangan Lexa dan Jerry. Ben tidak ikut karna masih harus mengurus kembang api yang akan segera tiba sore ini. Memang seharusnya malam ini merupakan rencana Leon.


Untunglah dewi fortuna sedang di pihak Leon. Jalanan lenggang sehingga mereka sampai di kediaman Jerry lima menit sebelum acara di mulai. Ketika turun dari mobil. Hati Leon bergemuruh. Dia takut Lexa tidak mau menemuinya bahkan hanya melihatnya.


"Tenang Leon, dia pasti mau menemuimu!" Kata Viena sedikit menepuk punggung Leon.


"Terimakasih Nyonya mau mendukungku!"


"Lexa pasti memilihmu, ayo!"


Mereka lalu memasuki mansion Jerry. Jim mengantar mereka memasuki sebuah ruangan besar seperti ruang pertemuan di mansion itu. Leon masih kalang kabut dan berada di belakang Dion. Dia benar benar gugup.


Dion masuk terlebih dulu dengan Viena.


"Leon, kau harus bisa! Kau juga harus bertemu dengan ayahnya Lexa! Mom, dad, angel, juan, dukung aku plis, aku akan mendapatkan Lexa aku mohon!" Ucap Leon sebelum akhirnya dia memasuki ruangan itu.


Deg! Jantungnya berdetak cepat sangat cepat! Lexa mengenakan baju putih di sana namun sudah menghadap Jerry membelakangi Leon. Sebelumnya Lexa sudah bertemu dengan Viena dan Dion. Lexa kembali pada Jerry karna akan memulai acara pertunangan.


Leon hanya menatap Lexa. Jerry sudah tersenyum. Dia sempat cemas ketika melihat Dion hanya bersama Viena. Namun sekarang ia lega. Leon di sana berdiri tanpa bersuara. Hatinya perih melihat Lexa bersama pria lain. Namun, dia tidak bisa menyalahkan Jerry. Jerry sudah berjasa atas ayahnya. Dion hanya memegang bahu Leon. Dia tidak bisa mengarahkannya terus.


Jerry lalu memegang bahu Lexa.


"Berbaliklah Lexa!" Kata Jerry tersenyum.


"Kenapa?" Tanya Lexa dan menoleh ke belakang.


Leon! Nama itu yang terucap di hatinya. Hatinya meringis.



"Leon.." panggil Lexa lirih. Jantungnya sudah berdetak sangat cepat. Dia merindukan pria itu. Tadi malam pun dia masih menangisi Leon. Ingin sekali memeluknya dan merasakan aroma tubuh pria bermata lancip itu. Air matanya sudah menetes namun matanya berbinar binar.


~Sepertinya aku harus mengucapkan selamat tinggal padanya!~ Lexa menunduk dan menghapus air matanya. Dia berjalan ke arah Leon yang juga berjalan ke arahnya.


Sementara Jerry berjongkok di samping Alexis yang agak terheran dengan anaknya. Dia juga belum mengenali Leon.


"Dad, perhatikan cara Lexa melihat pria itu dengan cara Lexa melihatku! Kau akan tahu jawaban atas semua pembicaraanku!" Ucap Jerry dan Alexis mengikuti arah bicara anaknya.


Leon sudah merogoh sakunya. Dia berjalan mendekati Lexa. Dia tidak peduli dengan sekitarnya. Dia harus mengatakan ini. Apapun jawaban Lexa. Dia harus mengatakannya.


"Aku merindukanmu Lexa, kau kemana saja? Kau benar benar melupakanku begitu saja ya, kelinciku?" Kata Leon membuat Lexa membungkam penuh mulutnya.


Lexa tak sanggup berkata. Dia menangis sambil menutup mulutnya dengan tangan lainnya.


"Aku sudah mencarimu. Nyawaku ada di tanganmu ini, mengapa kau menjauh dariku, Lexa? Kalau kau menjauh bahkan pergi, aku harus kemana lagi?" Leon mengecupi setiap inci tangan indah Lexa.


"Sekali ini saja, aku ingin katakan padamu. Kalaupun kau tak mau bersamaku aku akan merelakan kebahagiaanmu dengan Tuan Jerry. Entah apa yang terjadi pada diriku karna kau sudah menghancurkan nyawaku. Aku minta maaf Lexa. Aku - aku mencintaimu. Aku menginginimu. Kau hidupku. Kau semua jiwaku. Kau yang mewarnai setiap napas ku Lexa. Aku ingin kau menjadi kekasih hidupku, Lexa."


Leon lalu berlutut di hadapan Lexa. Leon membuka kotak cincin yang sudah ia genggam sedari tadi dan menyodorkannya pada Lexa yang sudah sangat sangat terharu.


"Lexa, mau kah kau menjadi istriku? Cincin ini ada lambang huruf depan nama panggilan kita. LeLe. Kita sudah berjodoh namun semuanya kembali padamu, apakah kau menginginkannya?" Leon menunduk. Leon tak sanggup lagi. Sudah sampai ini perjuangannya.


"Papi, aku minta maaf, aku minta maaf tidak bisa bersama Tuan Jerry. Aku mencintai pria ini pap. Pria bodoh yang sedang berlutut di hadapanku ini. Pria musangku ini papi, aku minta maaf!!!" Lexa malah berbalik menangis dan menutup wajahnya. Dia terlalu senang melihat perlakuan Leon namun juga dia sedih tidak bisa berbakti pada ayahnya. Dia sudah tidak tahu lagi. Dia takut namun juga berharap ayahnya mau menerima Leon. Dia tidak bisa memendam semua ini kalau dia juga ingin bersama Leon. Ini yang dia inginkan sejak dulu dari Leon. Leon mengakui dirinya dan akhirnya Leon meminta Lexa untuk mengakui dirinya dengan cara dan kondisi seperti ini.


Leon di bawah sana juga menangis menunggu jawaban Lexa yang malah tak mengerti bagaimana menjawabnya.


Viena yang sejak tadi juga sudah menangis menghampiri Lexa. Dia menenangkan Lexa.


"Ayahmu pasti setuju, jawablah dulu pertanyaan Leon. Tenanglah, Lexa!" Viena kembali mengarahkan Lexa di depan Leon.


"Leon bangun, jangan seperti ini!" Lexa membangunkan Leon dan dia melihat air mata Leon mengalir di sana.


"Leon, kau menangis? Kau menangis untukku?" Lexa meyakinkan karna dia benar benar senang. Pria yang ia anggap tak punya hati dan sepertinya tidak peka pada ya kini menangis karnanya.


Leon mengangguk. Dia tak kuasa lagi langsung memeluk Lexa dengan air matanya.


"Lexa, aku minta maaf, jangan meninggalkanku aku mohon, aku mencintaimu Lexa. Aku tidak pernah seperti ini. Pekerjaan satu minggu ini aku persembahkan untukmu. Aku hanya tidak ingin sebuah kata kata terucap begitu saja. Susah payah aku mendekatimu, mencuri hatimu dan merasa kembali nyaman dengan seorang wanita. Aku kini merasakannya padamu. Aku hanya ingin membuatnya istimewa." Kata Leon sambil menangis. Leon lalu menarik dirinya.


"Karna kau istimewa untukku. Tidak ada yang lain lagi. Ini cincinmu, terimalah!" Leon kembali menyodorkan cincin yang terdapat guratan nama depan panggilan mereka. Lele. Terukir disana le dan di tengahnya terdapat bentuk hati bertabur berlian lalu di lanjutkan le lagi.


Le❤Le


"Pasangkan!" Kata Lexa tersenyum haru.

__ADS_1


Leon lalu memasangkan cincin tersebut di jari manis Lexa. Lexa benar benar bahagia. Dia tidak menyangka Leon akan datang melakukan semua ini. Cincin ini bukan sembarang dibeli saat ini. Leon pasti sudah mempersiapkannya pikirnya.


"Aku mencintaimu musang, maafkan aku menjauhimu. Aku hanya tidak ingin menyakitimu. Aku terlalu rapuh bertemu denganmu. Aku takut aku malah mengajakmu pergi tapi aku juga menginginkan seorang ayah. Aku minta maaf. Aku harap kau mengerti. Sebenarnya, kau akan menjadi yang terindah di hatiku Leon. Aku pun takut tidak akan bisa mencintai Tuan Jerry. Karna dirimu. Aku minta maaf!" Kini Lexa yang mengecupi tangan Leon. Leon tersenyum dan kembali memeluk Lexa.


"Terimakasih Lexa. Terimakasih masih memberiku kesempatan mengatakan ini semua. Sekarang, biarkan aku melakukan melakukan kewajibanku lagi. Aku akan menepati janjiku di Springfield untuk berusaha merenggut hati ayahmu." Leon menarik pelukannya dan menuju ke Alexis yang di sana menyaksikan kebahagiaan anaknya yang sesungguhnya yang sebenarnya belum ia lihat.


"Selamat sore Tuan Alexis, saya Danteleon Janson. Panggil saja Leon. Salam kenal." Leon membungkukan tubuhnya.


Alexis menjulurkan tangannya hendak meraih wajah Leon. Leon pun mendekatinya.


"Apa kau yang selama ini sudah menjaga Alexa anakku?" Tanya Alexis dengan nada suara parau.


Leon mengangguk. Sesaat dia mengingat Larry.


"Apa kau mencintai anakku?" Tanya Alexis lagi.


"Tuan, aku mencintainya melebihi diriku sendiri, melebihi apapun yang indah yang ada di bumi ini. Tolong Tuan, jangan pisahkan aku dengannya. Apapun yang kau minta, aku akan menurutinya. Tapi, untuk menjauhinya aku tidak punya tempat bersembunyi darinya. Nyawaku ada pada hati anakmu. Jadi tolong kasihani aku!" Leon menunduk dan berlutut di hadapan Alexis. Dia meminta restu dari sang ayah Lexa yang sangat ia hormati.


"Mengapa baru sekarang kau datang? Mengapa Lexa tidak membawamu padaku?" Alexis hanya ingin memastikan apa yang Leon rasakan pada anaknya.


"Maafkan aku, aku memang bodoh, aku terlalu percaya dengan trauma ku. Aku terlalu dihantui ketakutan kalau Lexa akan menyakitiku. Tapi aku sadar, Lexa bahkan tak sekedar indah bagiku. Dia sungguh berarti. Hatiku kelam dan hitam jika tidak melihat wajahnya. Tidak usah tersenyum pun aku merasa ada sinar yang menggerayangi hatiku. Maka, restui aku menjadi menantumu, menjadi bagian dalam keluargamu, Tuan." Tambah Leon dan kembali meneteskan air matanya.


Lexa di sana mendengarnya tak kuasa. Dia ikut mendatangi Leon. Dia ikut berlutut di bawah kaki ayahnya.


"Ini pria ku pap. Dia yang menggantikanmu dan mami ketika aku sendiri. Dia yang memberikan semua yang aku butuhkan. Dia bagaikan keluargaku pap. Aku mohon terimalah Leon yang menjadi menantumu. Aku percaya, orang sebaik seperti Tuan Jerry pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Yang lebih mencintainya." Lexa memegang punggung Leon dan juga berkata kata.


"Bangunlah kalian semua. Aku merestui kalian." Alexis menarik tangan Leon untuk bangun. Lexa pun ikut bangun dan memeluk ayahnya.


"Terimakasih Pap!" Ucap Lexa menangis.


"Leon, jangan kau sakit anakku. Jagalah dia. Beri perlindungan padanya. Aku ingin melihat kalian menikah dan memiliki anak. Aku akan berusaha juga untuk kalian. Dan aku juga yakin Jerry anak laki laki ku yang baik hati ini akan mendapatkan jodohnya." Alexis mengelus punggung tangan Jerry yang sudah bertandang di pundaknya. Jerry juga tersenyum. Dia sangat bahagia melihat Lexa bahagia. Dia bukan orang jahat. Dia juga seperti Leon. Seorang lelaki yang ingin dihargai.


"Terimakasih Tuan, eng maksudku apa aku juga bisa memanggilmu Dad, Tuan?" Leon yang malah menawarkan sudah memanggil ayah Lexa dengan sebutan Dad. Membuat semua yang ada disitu agak terkekeh karna Leon kembali menjadi percaya diri. Lexa lalu memeluk gemas pria nya itu dari samping dan Leon juga merangkulnya sambil tertawa.


"Asistenmu tak jauh dari pohonnya!" Viena berdecih pada suaminya.


"Siapa pohonnya? Tuan Larry?" Dion masih belum menyadari maksud istrinya.


Viena menggeleng


"Lalu?"


"Kau lah, hahahaa! Tetap memalukan dan sok tampan!" Umpat Viena terkekeh.


"Tapi kau tetap mau kusetubuhi dengan berbagai macam gaya kan?" Dion mulai merangkul pinggang istrinya.


"Kan? Percis semua pikiran mesumnya itu kuyakin darimu!! Hahaha!!" Viena ikut hanyut dalam suasana haru menjadi riang itu.


...


...


...


...


Segini dulu dah agak legaan kan? 😁😁


.


Next part 76


Siap siap meleleh apa yang dibuat Leon untuk Lexa yaa 😍😍


Pekerjaan seminggu lho 😝😝


.


Yoyoo jangan lupa kasih LIKE KOMEN yang banyakk untuk semangatnya akoohh 😁😁


Minta RATE DAN VOTE JUGA DI DEPAN PROFILE NOVEL YAA 😘😘


.

__ADS_1


THANKS for read and i love you ❤️


__ADS_2