Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
PART 67


__ADS_3

"Lexa, kau sudah sadar?" Tanya Leon beranjak dari tidurnya dan duduk menghadap Lexa.


"Kenapa, kenapa paha ku sakit sekali Leon, dan tanganmu, tanganmu kenapa ada di buah dada ku?! Kau ini mencuri kesempatan!!" Decak Lexa sambil memegang sekitar daerah pahanya yang terkena ranting tajam itu.


"Aku tidak sengaja, lagipula kau masih sempat memikirkan buah dadamu! Tadi langsung saja kulahap! Kenapa pahamu?!" Leon berdecih agak pening karna langsung terbangun tanpa aba aba.


"Sakit Leon! Perih sekali!" Lexa merintih.


"Benarkah?" Leon langsung membuka selimut Lexa dan ternyata paha Lexa kembali berdarah dan menembus perban yang sudah Leon lilitkan.


"Astaga, darahnya masih keluar?" Leon sangat terkejut.


"Tunggu sebentar Lexa, biar kutanya ibuku!"


Belum saja Leon beranjak dari tempat tidur, ibunya juga ayahnya dan Angel sudah di depan pintu kamarnya dan mengetuk. Suara teriakan Lexa agak mendengung di seluruh rumah sehingga semua orang bangun dan menuju kamar Leon.


"Mom, kenapa paha Lexa terus berdarah?" Tanya Leon yang sudah membuka pintu kamarnya.


Ibunya dan semua keluarganya masuk ke dalam. Jane lalu membuka perban Lexa. Dia memperhatikan luka Lexa yang ternyata memang agak membesar dan dalam.


"Jane, apa sebaiknya tidak diberikan ramuan tradisional mu untuk menghentikan darahnya?" Larry memberikan saran. Istrinya sangat menguasai ilmu pengobatan tradisional karna istrinya asli dari kota ini.


"Ambilkam garam sayang!" Perintah Jane pada suaminya lembut.


"Tidak! Aku tidak mau bibi, eh mom maaf, kepalaku agak sakit! Tidak bibi, aku tidak mau pakai garam, itu sakit sekali mom aku mohon!!" Lexa membantah panik.


"Kau tahu Lexa?" Tanya Leon mendelik.


"Ya, aku tahu, ketika aku terluka, aku pernah diberikan itu pada papiku waktu aku kecil!" Jawab Lexa dengan cepat. Kringat sudah mulai keluar pada kening Lexa.


"Papi?" Selidik Leon.


"Ya papiku. Entah mengapa aku menjadi mengingatnya. Mom, aku mohoh jangan pakai garam!!" Lexa kembali memohon.


"Bubuk cabai?" Jane menawarna obat lain yang ia ketahui dapat menghentikan darah.


"Baiklah itu saja!" Jawab Lexa asal, karna dia belum pernah merasakannya!


"Bubuk cabai malah perih kak Lexa!" Angel memperingati dan Lexa sontak melihat ke arah adik perempuannya Leon itu.


"Angel? Kau memanggilku?" Tanya Lexa terkejut.


"Hem, iya lupakan dlu kak. Lukamu dulu. Garam saja kak, dia sangat cepat menghentikan darah." Angel kembali mengingatkan Lexa tentang lukanya yang masih mengeluarkan darah.


"Oh may! Baiklah, Leon, aku pegang tanganmu!" Akhirnya Lexa menyerah.


"Tadi kau mempermasalahkan tanganku, sekarang kau mau memegangnya!" Decak Leon sedikit meledek.


"Ah, kalau begitu aku tidak mau!" Ancam Lexa meringis.


"Leon?!!" Ibunya membuat Leon mengalah.


"Tidak dimintapun aku tahu apa yang harus kulakukan!" Decak Leon dan menghampiri Lexa tepat di sampingnya. Lexa lalu menarik lengan Leon ke tubuhnya dan terasalah buah dada Lexa di sisi lengan Leon.


"Heng, kau saja ingin!" Sindir Leon.


"Diam!" Lexa menepuk dada Leon agar tidak dicurigai keluarganya.


Larry pun sudah datang dengan satu toples kecil garam dapur. Jane lalu mengeringkan darah yang yang sudah mengalir lalu menaburkan garam di atas luka Lexa. Betapa sangat Lexa menjerit dan sampai memeluk Leon. Dan yang parahnya Lexa menggigit kencang bahu Leon sehingga Leon ikut berteriak.


"Lexa!!!! Kau?? Mom, sesakit itu kah? Lihat kelinci ini berubah menjadi rabies! Sakit sekali aaarrgghhh!!!!" Leon merajuk ketika Lexa melepaskan gigitannya.


"Maaf Leon, ini perih sekali, aku masih merasakannya!!" Lexa tertunduk dan terus meringis. Dia masih mengalungkan tangannya pada tangan Leon.


Larry dan Angel terkekeh melihat tingkah dua orang itu. Jane lalu kembali membalut luka Lexa.


"Setelah darahnya berhenti, nanti baru akan kuobati lagi. Jadi bagaimana Lexa? Kau lapar?" Tanya Jane penuh kasih sayang.


"Iya mom, aku agak lapar, tapi ini perih sekali, sampai kapan akan menghilang mam?" Tanya Lexa tak sabar.


"Sebentar lagi. Sabarlah. Baiklah aku akan memanaskan sup jagungnya lagi. Tunggu sebentar ya?" Jane tersenyum dan beranjak dari duduknya dan menuju ke dapur.


"Baiklah Lexa nikmati makanan mu dan beristirahatlah, aku harus melihat Juan. Pahamu pasti akan sembuh. Tenanglah!" Larry memperhatikan menepuk bahu Lexa lalu kekuar dari kamar.


"Iya kak setelah makan kau bisa beristirahat lagi. Aku masih mengantuk. Eng sebelumnya terimakasih sudah menyelamatkanku." Angel akhirnya ikut berkata kata.


"Sama sama Angel." Jawab Lexa tersenyum tipis.


"Baiklah, besok lagi kita bicara, selamat malam!" Angel agak salah tingkah dan gugup. Dia lalu kembali ke kamarnya dengan agak kikuk.


"Tidak sia sia aku jatuh ke sungai." Gumam Lexa ketika melihat sedikit perubahan Angel meskipun masih sedikit dingin dan gugup.


Leon yang mendengar gumaman Lexa memicingkan matanya.


"Ada apa dengan matamu?" Tanya Lexa ketus.


"Jangan bilang kau sengaja menjatuhkan dirimu Lexa? Maka aku akan kembali menjatuhkanmu!" Tuduh Leon yang sudah sangat cemas mencarinya.


"Yakin kau akan menjatuhkan ku?!" Lexa malah menggoda Leon.


"Oohh, kau mau coba? Iya?!!!" Leon lalu menghampiri Lexa dan hendak menggendong Lexa. Lexa tertawa kecil merasakan jari jari Leon memegang pinggangnya sampai ia kembali berbaring.

__ADS_1


"Leon geli, awas kau mengenai pahaku!" Kata Lexa memperingati Leon yang sudah berada di atas tubuhnya.


Leon lalu ikut berbaring di samping Lexa dan memeluk pinggang Lexa.


"Nanti mommy datang Leon!" Lexa berusaha melepaskan tangan Leon namun gagal.


"Biar saja!" Tantang Leon dan mengendusi sisi pundak Lexa.


"Kau ini!" Lexa menepuk punggung tangan Leon.


"Lexa, aku benar benar takut. Jangan seperti ini terus. Cobalah untuk tenang dan tidak bertindak gegabah sayang." Tutur Leon dengan suara lembut.


"Bagaimana aku tenang kalau adikmu mau terjatuh ke sungai? Kau ini ada ada saja! Kalau kau jadi aku juga kau melakukan hal yang sama kan?! Kau kehilanganku beberapa saat saja otakmu sudah rusak seperti ini, bagaimana kalau aku dibawa pergi oleh seorang pria lain bertahun tahun hah?" Kata Lexa membela dirinya.


"Kau mau melakukannya Lexa? Kau menguji ku?! Kau benar benar jahat!" Decak Leon lalu kembali beranjak duduk di samping Lexa.


"Tidak akan. Lexa tidak akan meninggalkanmu Leon!" Tiba tiba Jane sudah datang dengan membawa dua mangkuk sup jagung dan teh hangat.


"Paling paling Leon yang akan meninggalkanku mom!" Lexa membalikan perkataan ibunya Leon.


"Kalau itu terjadi, aku akan menarik kupingnya dari Legacy dan ku kurung dia di sini!" Ancam Jane terkekeh.


"Ya kau benar mom, musang mesum tengik seperti ini memang seharusnya dikurung mom!" Lexa melirik menyeringai pada Leon. Sementara Leon diam saja sambil memperhatikan wajah sehat Lexa.


"Musang?" Jane agak terbingung karna Lexa kembali mengatakan musang.


"Hah, rasakan mengatai ku seenaknya!" Decak Leon merasa ibunya membelanya.


"Bukan mam, maksudku ketika aku tersesat di hutan aku melihat seekor musang di bawah pohon berjongkok dan dia menangis mom." Lexa kembali menyindiri Leon yang sudah menutup wajahnya.


"Berjongkok? Menangis?" Jane kembali terheran.


"Ya mom, nanti kutunjukan ya?!" Lexa tersenyum sumringah


"Kelinci rabies!" Gumam Leon kesal. Dia tidak berbuat semena mena pada Lexa jika ada ibunya sementara Lexa tersenyum penuh kemenangan. Dan pagi subuh Jane harus menemani anak pertamanya dan calon menantunya menyantap sup mereka sebagai sarapan paling pagi mereka.


Lexa dan Leon lalu kembali tidur sementara Jane melanjutkan aktifitasnya sebagai istri dan seorang ibu yang luar biasa di rumahnya.


...


Ketika sudah menjelang terang, Leon bangun dari tidurnya. Dia meraba raba sesuatu di sampingnya yang mungkin saja dia tak sengaja mengelusnya atau memegangnya. Dia tersenyum senyum namun rasanya dia hanya meraba alas tempat tidurnya. Dia tidak menemukan Lexa tidur di sampingnya. Lalu dia kembali membaringkan tubuhnya dan mengusap matanya seraya bergumam.


"Dia memang benar benar seekor kelinci yang meloncat lincah kian kemari! Kemarin baru saja jatuh ke sungai dan pahanya terluka. Tubuhnya agak hangat namun sekarang sudah bangun dari tidurnya. Seharusnya memang aku ikat saja kakinya itu di ujung ujung ranjang ini. Lexxaa!!!" Akhirnya Leon meneriakinya.


Tidak ada jawaban, Leon pun beranjak dari tidurnya. Dia duduk di tempat tidurnya dan mengusap dahinya. Kepala Leon ikut pening memikirkan Lexa yang entahlah, dia bisa mengaturnya atau tidak. Leon hanya tidak ingin terjadi apapun pada wanitanya itu.


Leon lalu keluar kamar. Dia mencari Lexa ke dapur tapi tidak ada. Angel dan ibunya juga tidak ada. Juan pun tidak terlihat batang hidungnya. Apalagi ayahnya. Ayahnya masih sibuk mengurus argo bisnis yang menjadi rencananya.


"Kau sudah baikan? Mengapa keluar?" Tanya Leon lembut ikut duduk di samping kursi Lexa. Leon mengelus lembut puncak kepala Lexa. Lexa terkesiap merasakan tangan Leon.


"Leon? Kau sudah bangun?" Tanya Lexa menoleh lalu meraih tangan Leon di atas kepalanya.


"Kalau tidak, mana mungkin aku di sini." Jawab Leon dan menarik tangannya.


"Tadi aku bangun pukul 6 karna kembali merasa perih pahaku. Aku tidak mau menganggumu, kau sangat pulas. Kau pasti sangat lelah ya Leon?" Kini Lexa mengelus pipi Leon. Leon tersenyum meraih tangan Lexa.


"Tidak selelah dirimu Lexa. Sudahlah tidak apa apa. Bagaimana pahamu sekarang? Sudah membaik?" Tanya Leon masih menggenggam tangan Lexa.


"Ya, tadi mommymu sudah memberikan serbuk cengkeh pada pahaku sehingga perihnya sudah menghilang namun belum mengering. Em, Leon?" Panggil Lexa lirih.


"Heem?" Leon malah mengecupi tangan Lexa.


"Apa sewaktu kau mengetahui aku jatuh ke sungai, kau begitu panik?" Tanya Lexa pelan.


"Aku sampai ingin menjatuhkan Angel!" Jawab Leon masih mengecupi tangan Lexa.


"Ah, kau berlebihan!"


"Terserahmu, kau bisa bertanya pada Angel atau mom, aku tidak bisa memberitahu padamu betapa aku sangat takut tidak bisa menemukan kelinci lincah sepertimu. Sangat langka di dunia ini, kau tahu?" Kini Leon menatap Lexa menyeringai.


"Kau ini Leon! Kau juga musang terlangka di dunia ini! Tidak ada musang sepertimu!" Decak Lexa menarik tangannya.


"Ya, yang tampan sepertiku tidak ada!" Leon tersenyum bangga.


"Hem! Leon, apa kau tak merasa aku terus memanggil namamu?" Lexa kembali menyakinkan Leon.


"Ya, aku tahu!" Jawab Leon masih tersenyum.


"Oleh sebab itu aku bertanya tentang dirimu padaku!"


"Jangan seperti ini lagi Lexa, aku hampir lupa bernapas!" Leon mengelus pipi Lexa.


Lexa tersenyum mendengar penuturan Leon yang terdengar acuh namun sepertinya memang sangat mengkhawatirkannya.


"Oiya Leon?" Lexa kembali memanggil hendak bertanya sesuatu.


"Apa?"


"Apa Nyonya Viena atau Tuan Dion belum menghubungimu lagi?" Tanya Lexa penasaran.


"Kenapa? Kau merindukannya?" Leon menatap pekarangan rumahnya.

__ADS_1


"Ya begitulah. Aku merindukan orang tua ku lebih tepatnya." Lexa mendukan kepalanya karna ia sudah menganggap Viena adalah ibunya.


"Mom and dad ku?" Leon kembali menatap Lexa.


"Ya mereka baik, sangat baik, tapi entah mengapa aku memikirkan mereka berdua. Lebih tepatnya papiku." Lexa seperti mengingat sesuatu yang harus dikatakan pada Leon.


"Nah, itu yang ingin kutanyakan. Mengapa kau tiba tiba mengingat beliau? Ada sesuatu?" Leon menyelidiki.


"Em, begini." Lexa tampak serius. Dia agak bergerak perlahan dan membuat posisi duduknya berhadapan dengan Leon.


"Leon, sewaktu kau sudah menemukanku kemarin, aku sempat bermimpi. Aku bermimpi aku benar benar tenggelam dalam air sungai itu. Lalu, tiba tiba kau menarik tanganku. Kau membawaku ke tepian. Namun, ketika sampai di tepian, papiku datang. Dia menarik tanganku dan membuatku menjauh darimu. Aku bilang aku ingin bersamamu. Namun, papiku terus menarikku sampai aku menjauh darimu dan beliau tidak mengatakan apa apa. Rasanya sesak sekali Leon. Sampai akhirnya aku terbangun dan ternyata kau ada di sampingku. Hem, sebuah bayang bayang yang sangat aneh." Lexa bercerita dengan wajah yang sangat serius dan sedikit takut.


Leon lalu tersenyum. Sebenarnya dalam hati agak takut. Kalau kalau benar terjadi dan Lexa tiba tiba bertemu dengan ayahnya lalu ayahnya tidak setuju Lexa dengannya, namun Leon berpikir positif. Itu hanyalah sebuah mimpi karna mungkin Lexa juga meminta tolong pada ayahnya ketika terpuruk kemarin malam.


"Kenapa kau tersenyum? Kau senang ya berjauhan denganku?" Lexa malah mencurigai Leon.


"Itu hanya mimpi Lexa, dan biasanya kalau mimpi seperti itu maka akan sebaliknya. Kau tenang saja ya?" Leon kembali mengelus pipi Lexa.


"Kalau memang benar, apa yang akan kau lakukan? Kau pasti menyerah kan? Aku sudah tahu kau tak pernah serius padaku Leon." Lexa tampak muram.


"Bicara apa kau? Ya aku pasti mencari cara agar papimu menyukaiku. Aku tidak akan melepaskanmu Lexa. Kau sudah masuk jeratanku, tidak bisa kemana mana, atau aku akan mengurungmu dan kau hanya boleh memakan wortel!" Leon terkekeh mengalihkan kekhawatiran Lexa.


"Haiz, kau ini tidak pernah serius, sudahlah lupakan. Percuma aku membicarakan kesedihanku ini!" Lexa hendak beranjak dan masuk ke dalam rumah, namun ia merasa pahanya kembali perih.


"Aawww!!" Lexa hendak memegang pahanya.


"Nah kan? Baru saja kubilang kau jangan seperti ini! Ayo kubantu!" Leon dengan sigap menghampiri Lexa dan memapahnya. Namun karna Lexa sulit sekali menggerakan pahannya yang sedang nyeri, akhirnya Leon menggendong Lexa. Jantung Lexa berdegup kencang karna melihat wajah Leon sangat dekat. Dia memiliki firasat akan terjadi sesuatu pada hubungan mereka. Lexa akhirnya mengalungkan tangannya pada leher Leon. Dia juga menempelkan dahinya ke kepala Leon. Seketika hati Leon ikut berdesir karna prilaku Lexa yang seperti ingin dimanja dan takut kehilangan.


Leon lalu menaruh Lexa di sofa ruang tamu. Leon duduk di sampingnya.


"Lexa, kau ini kenapa?" Tanya Leon kembali yang melihat wajah Lexa masih menyimpan suatu beban.


"Aku seperti ingin bertemu ayahku Leon. Aku seperti dia masih hidup dan sedang memikirkan diriku. Kau tahu kan batin orang tua pada anaknya, begitu juga dengan anaknya pada orang tuanya. Bayang bayang semalam itu sangat nyata Leon!" Lexa kembali bercerita tentang keganjalan hatinya.


"Tenanglah Lexa! Begini saja, kalau Nyonya Viena dan Tuan Dion sudah meminta kita menjemput mereka untuk ke sini, kita lalu pulang ke Legacy. Aku akan membantumu. Aku akan menghubungi pegawai Tuan Dion di Honolulu untuk bertanya kabar mengenai ayahmu di sana. Bagaimana?" Kata Leon menawarkan sambil memegang tangan Lexa.


Lexa menoleh ke arah Leon. Dia menyipitkan matanya.


"Kau mau membantuku?" Tanya Leon memastikan.


Leon mengangguk dan tersenyum.


"Benarkah?"


"Iyaaa!!" Leon kembali mengangguk dan tersenyum.


Lexa ikut tersenyum dan memeluk Leon dengan merengkuh pinggang pria itu. Leon ikut memeluk Lexa.


"Terimakasih Leon, emm tapi meskipun misalnya ayahku tidak menyukaimu, kau akan tetap mencarinya untukku?" Lexa mendongakan kepalanya menunggu respon Leon.


"Ya Lexa. Apapun untukmu, aku akan melakukannya. Kau tenang saja. Kita tidak akan terpisah dan aku yakin, ayahmu akan menyukaiku!" Kata Leon sangat yakin sambil mengelus punggung Lexa berkali kali.


"Terimakasih Leon, terimakasih!! Aku juga tidak ingin terpisah darimu, cepat nikahkan aku Leon!" Kata Lexa seperti tidak sadar namun hati kecil Lexa memang ingin segera pria yang sedang ia peluk ini saja yang menikahinya.


Mendengar hal ini, Leon agak tersentak. Secara tidak langsung, Lexa menginginkannya. Dia sedikit menarik diri dari Lexa.


"Kau ingin menjadi istriku?" Tanya Leon dengan wajah sangat serius. Lexa mengangguk dàn tersenyum.


"Baiklah, sekarang juga bisa! Ayo kita ke kamar, kita resmikan!" Ajak Leon menggoda.


"Mesummm!!" Lexa lalu menyentil dahi Leon. Leon terkekeh dan kembali memeluk Lexa.


~Sesampainya si Legacy, aku akan menyiapkannya Lexa. Sesuatu yang romantis yang tak akan kau lupakan!~ gumam Leon dalam hati.


Leon memejamkan matanya tersenyum sambil merasakan pelukan Lexa yang begitu menghangatkannya.


...


...


...


...


Cepetan Leon ah kelamaan banget dikaauuu, atau sama aku gimana? Aku fans berat mu lho!! Wakakaka 😂😂


Next part 68 yuk


Masih di Springfield ya gaes satu atau dua episod lagi dan baru deh kita balik ke Legacy 😍😍


.


Jangan lupa dukung vii yang cantik seperti lexa ini hahahahaa #ngarep, mirip viena aja uda untung, jiiiaahhh sama aja vii ngarep wakakak ywd mirip istrinya bapak dio ginting aja deh 😝😝


Baeklah cukup gurauannya, map virus musang menyerang 😁😁


Oke baeklah jangan lupa ya gaes LIKE DAN KOMEN KISAH LEXA LEON ini dan kasih juga VOTE dan RATE di depan profil novel yaa 😘😘


.


Oke thanks for read and i love youu 💕

__ADS_1


__ADS_2