
Lexa dan Leon berusaha diri keluar dari kesedihan yang menghantuinya selama beberapa hari ini. Lexa masih sering terdiam namun tak ayal, Leon lagi lagi membuatnya berbicara kembali. Mereka berdua kembali menjalani aktivitas seperti biasa mereka. Membersihkan diri, sarapan, pergi bekerja bersama, menyelesaikan tugas kantor dan mendampingi para atasan mereka. Lexa sering ikut berpergian dengan Viena dan juga Abby secara bergantian. Viena menugaskannya untuk tidak terlalu lelah, jadi Viena hanya meminta Lexa untuk mendampinginya saja atau jika ada rapat dan Viena membawa Dior, Lexa yang menjaganya.
Sudah satu Minggu lebih, Lexa terkurung dalam perasaan tak menentu. Inginnya dia senang seperti biasanya, namun rasanya sulit. Terlalu sering ayah dan anak nya nampak dalam waktu senggang dan lamunannya. Seperti ada di depan mata dan pikiran. Rasanya dia ingin memberontak diri dan menyalahkan takdir, namun hal ini juga tidak benar. Bagaimana sewaktu ibunya meninggal dan dia benar benar sendiri? Kenapa dia tidak mensyukuri siapa saja yang ada di sekitarnya? Dia mencoba meminta pada Viena untuk sebuah pekerjaan besar sehingga dia lupa, namun kenyataannya dia pun masih suka terdiam.
Hari ini, cuaca begitu gelap. Dari pagi hari hujan rintik membasahi kota Legacy. Kenapa sampai siang ini tidak ada tanda tanda Abby menganggunya. Viena juga tidak ada perintah untuknya. Lucy sudah mengambil untuk cuti hamilnya beberapa hari yang lalu. Lexa tidak tahu, kalau Abby belum kunjung datang. Dia menjadi mengantuk. Memang beberapa Minggu ini, sudah banyak iklan yang telah terselesaikan termkasuk iklan hotel Belleza. Semua karna ketangkasan Abby dan Susan serta Viena yang membantu mereka. Mereka telah membebani Lexa sebelumnya, oleh sebab itu mereka memberi waktu Lexa untuk beristirahat.
Lexa pun tertidur di atas meja kerjanya. Tubuhnya seketika melemah dan kepalanya menjadi berat. Tiba tiba ..
"Mami?" Sebuah suara anak kecil memanggil Lexa. Lexa membuka mata di bawah alam sadarnya
"Kau? Apa kau Lionel?" Lexa memastikan.
"Benar mami!"
"Kau masih bersamaku?" Selidik Lexa sedikit tak percaya.
"Selalu mami! Mami, bangunlah! Bersemangat lah! Aku mencintaimu! Cup!" Lionel mengecup kening Lexa dan Lexa benar benar membuka matanya.
"Haiz, mengapa anak itu selalu muncul? Membuatku tidak bisa melupakannya, dia seperti papinya selalu menggerayangi ku. Hem, baiklah Lionel mami akan bekerja. Mungkin aku bisa mengerjakan pekerjaan Lucy!" Kata Lexa dan dia beranjak dari duduknya. Dia hendak menuju ke ruangan Viena namun dia melihat Abby baru saja datang bersama Ben yang sedang merangkulnya. Ben juga mengelus elus perut Abby.
"Ini sudah siang! Mengapa kalian terus berpacaran?! Ben, kenapa kau bersama Abby? Kau tidak keluar kota bersama Tuan Jeremy?" Decak Lexa menutup pintu ruang kerjanya dan menghampiri pasangan itu.
Abby terdiam. Dia seperti menyembunyikan sesuatu dengan wajah masamnya, berbeda dengan tunangannya. Sebelumnya, Abby memang sudah bertunangan dengan Ben dan rencananya beberapa bulan lagi mereka akan menikah.
Ben tampak sangat sumringah sambil terus mengelus perut Abby sampai Abby yang menepuk kecil tangan tunangannya itu.
"Kau kenapa Ben, tampak bahagia sekali" tanya Lexa penasaran.
"Abby hamil Lexa!" Jawab Ben apa adanya dan lupa kalau Lexa baru saja kehilangan anaknya.
Deg! Entah apa yang Lexa rasakan. Kenapa rasanya sangat sesak dan tak karuan begini? Kenapa begitu sedih dan merasa dirinya tak berguna? Lexa terdiam dan melihat perut Abby. Akhir akhir ini dia memang merasa sahabatnya agak berisi dan banyak makan seperti dirinya dulu.
"Em, Lexa? Kau baik baik saja?" Selidik Abby agak tidak enak.
Lexa yang tadi nya menunduk melihat perut Abby melirik cukup tajam pada sahabatnya itu .
"Benar kau hamil Abby?" Lexa hanya memastikan.
Abby mengangguk dan menggaruk pelipisnya.
"Aku hebat kan Lexa?! Haha, akhirnya aku bisa mengalahkan Leon!" Ben berdecih senang dan bangga.
"Kau ini bodoh sekali!" Abby memukul dada Ben dan Ben terdiam lalu menutup mulutnya.
"Haha! Aku senang sekali Abby! Dengan begini, kau harus lebih menjaga dirimu sehingga pekerjaanmu menjadi pekerjaanku lagi. Sepertiny aku membutuhkan asupan dana untuk rekeningku. Mereka seperti nakas kosong yang dilingkupi sarang laba laba haha .. em, sebelum Susan, Lucy atau Renzy mengetahuinya, harus aku yang menjadi ibu angkatnya, oke?" Saut Lexa kemudian menyembunyikan semua kesedihan dan kekalutannya. Apalagi Ben menyinggung Leon. Mungkin Leon tidak akan memikirkannya. Tidak bisakah dirinya seperti Leon?
Lexa tersenyum pada Abby. Namun Abby merasakan kesedihan dan kekecewaan Lexa.
"Lexa, aku yakin, kau juga akan merasakannya lagi, percayalah!" Balas Abby memegang bahu Lexa.
"Ya tenang saja Abby! Kau harus menjaganya ya, jangan sampai menyesal, em segeralah kalian menikah agar tidak ada cibiran cibiran tak jelas." Kata Lexa lagi dengan memaksakan senyumnya.
"Ya Lexa, lusa nanti tolong temani aku memilih gaun pengantin ya? Si mata sipit ini harus ke Summer!" Abby mengajak Lexa agar mengalihkan rasa sedihnya.
"Semua demi anak kita Abby!" Gumam Ben yang sebenarnya menyesal tidak bisa menemani Abby memilih gaun.
"Tenang saja Abby, aku akan selalu ada untukmu! Biarkan Ben mencari nafkahnya, kita akan menjadi istri orang kaya kan?" Lexa bergurau.
"Haha, kau memang sahabat ku yang luar biasa Lexa!" Puji Abby yang percaya Lexa tidak akan sedih terus menerus meskipun memang sangat berat.
"Baiklah, aku mau ke ruangan Nyonya Viena. Sepertinya ada pekerjaan Lucy yang bisa ku kerjakan."
"Ya, aku ada di ruangan ku bersama Ben, kalau kau atau nyonya membutuhkan ku, telepon saja ya?"
"Oke!" Lexa sudah berbalik dan menuju ke ruangan Viena. Viena di sana sedang mengetik sesuatu seperti sebuah surat permohonan ijin yang seharusnya dikerjakan Lucy. Hari ini dia tidak membawa Dior karna beberapa hari yang lalu sampai sekarang, Aunty Anne dan Johanes sedang datang berkunjung sehingga mereka yang menemani Dior. Viena menjadi lebih ringan karna juga dengan tidak adanya Lucy.
Viena sedikit melirik Lexa. Dia menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan asistennya yang sepertinya akan menangis. Dan benar! Setelah Lexa menutup pintu dan menguncinya, dia berlari kecil dan menangis di depan Viena sambil menutup wajahnya. Dia sudah duduk di depan meja kerja Viena. Viena melipat tanganny dan menghela napas. Dia sangat tahu apa yang terjadi pada wanita yang sudah dianggap seperti adiknya.
__ADS_1
"Lexaaa...." Panggil Viena mencoba membuka tangan Lexa.
"Hhhhuuuaaaa, nyonyaaa aku ingin hamil .. hiks!" Kata Lexa menahan tangannya dan menangis lagi.
"Heeemm, sudahlah jangan seperti ini!!"
"Hhuhhuuuu ..." Lexa terus menangis dan akhirnya Viena tidak lagi menarik tangannya. Dia membiarkan Lexa menangis terlebih dahulu. Setelah sekitar beberapa menit akhirnya Lexa terdiam. Viena sudah mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada asistennya itu.
"Minumlah!" Kata Viena dan Lexa menegaknya sampai habis.
"Lexa?" Panggil Viena. Lexa menoleh masih sesenggukan. Matanya kembali memerah dan dia masih menyeka sisa sisa air matanya dengan tysu.
"Kau jangan seperti ini terus! Aku mengerti dan paham perasaanmu, tapi waktu mu masih panjang. Kau juga baru sekitar 5 6 bulan menikah. Ini hal biasa jika belum hamil atau hamil dan mengalami keguguran. Ayolah bangkit Lexa sayang! Begini saja, aku akan membantumu! Tolong kau urus iklan Hotel Prime. Dion memintaku untuk membuat kembali dua buah iklan untuk Hotel Prime pusat dan Motel Prime di Honolulu. Dan, ketika survey ke Honolulu, sebaiknya kau pergi ke desa kampung halamanmu. Temui suster Regina mu dan ayah dan ibu angkatmu! Kau harus pergi bersama Leon, ini semua sebagai liburan juga. Namun, sebelumnya kau harus menyelesaikan iklan Hotel Prime, oke?" Viena akhirnya memberikan pekerjaan yang cukup besar baginya.
"Aku harus bersama siapa? Lucy cuti, Abby sedang hamil. Hanya dengan Susan, Nyonya?" Tanya Lexa menghentikan tangisnya.
"Ajak Solane! Dion tertarik dengan pembawaan Solane ketika menjelaskan informasi hotel. Em, Belleza hotel beberapa Minggu ini menjadi banyak dikunjungi karna Solane memberitahukannya dengan sangat jelas dan menarik." Jawab Viena yang mengetahui kedekatan mereka.
Lexa mengangguk.
"Aku juga akan membantumu, kau tenang saja! Hem, atasan suamimu itu seperti mengulang masa lalu, kau tahu, dia berkata ingin bernostalgia dan mengingat ketika akhirnya aku dan dia bertemu kembali. Dia itu semakin kekanak kanakan. Sudah punya Dior namun rasanya masih polos polos saja seperti kalian." kata Viena lagi seraya bercerita tentang kehidupan cintanya bersama Dion kali ini semata mata ingin mengalihkan kesedihan Lexa.
"Tuan Dion begitu mencintaimu karna kau sudah memberikannya keturunan nyonya." tapi Lexa lagi lagi menyambung nyambungkannya dengan ke meranaan nya.
"Haiz Lexa Lexa, mengapa pemikiranmu sempit begitu? Aku tidak mau membantumu jika Leon mendengarnya. Suami mu akan berubah menjadi apa yang suka kau Katai dia?"
"Musang!"
"Itulah! Hahahaa! Sudahlah, ayo kita makan siang!" Viena beranjak dari duduknya.
"Di mana nyonya?"
"Di hotel Prime. Karna pekerjaan ini, aku jadi merindukan suamiku dan kau juga bisa bertemu dengan suamimu, ayo!"
Lexa menghela napas. Ya, mungkin dia membutuhkan Leon saat ini. Entah apa yang sedang dikerjakan suaminya karna sampai siang ini belum ada kabar. Biasanya dia berisik sekali menghiasi ponselnya.
...
"Aunty Lexa?" Panggil Sherry langsung berhambur memeluk Lexa.
"Hay Sherry, kau ikut dengan Daddy mu?" tanya Lexa mengelus punggung Sherry.
"Ya, setiap hari dia di sini dan mendampingiku, Lexa. Aku jadi mengingat Renata." Renzy yang menjawab.
"Ya, Sherry tidak menganggumu kan Renzy?" Lexa memastikan karna Sherry juga merupakan tanggung jawabnya.
"Tidak! Aku mengajarinya beberapa kata dan mewarnai, dia menikmatinya." jawab Renzy.
"Sherry, apa kau tidak ingin sekolah?" Tiba tiba Viena bertanya padanya. Umur Sherry telah mencapai 5 tahun, sudah saat nya dia bersekolah di taman kanak kanak.
"Mau Aunty Nyonya, tapi kata Daddy nanti dulu sampai dia mendapat gaji tahunan." jawab Sherry polos.
"Ohhh, sudahlah, nanti aunty yang bicara pada Daddy mu dan paman ya?" balas Viena yang merasa Sherry lebih baik sekolah atau menunggui ayahnya di sini.
Sherry mengangguk dan tersenyum senang.
"Lexa, Leon tidak di meja kerjanya. Dia bersama Reginald dan Manuel pergi mengunjungi Belleza Hotel karna bertemu dengan Rico untuk urusan saham yang sudah disetujui." Kata Renzy memberitahu karna Lexa juga ingin menemui suaminya.
"Oh begitu? Pantas saja dia belum menghubung hubungimu, Mungkin dia sibuk sekali ya, hehe!" Lexa terkekeh mengiyakan apa yang dikatakan Renzy.
"Iya Lexa, dia masih harus membimbing Reginald dan Manuel sebentar lagi." Saut Renzy.
"Baiklah, aku akan ke ruangan suamiku Renzy, ayo Lexa!" Kata Viena meninggalkan Renzy dan Sherry yang kembali mewarnai.
Viena dan Lexa menuju ke ruangan Dion. Dion sedang melakukan video call dengan ibunya dan anaknya Dior.
"Sayang!" Panggil Viena memasuki ruangan Dion.
__ADS_1
"Viena? Kau sudah datang? Kemarilah, aku sedang melihat Dior memakan pisangnya. Cepatlah!" Kata Dion dengan begitu antusiasnya. Viena langsung menghambur menuju ke belakang Dion sementara Lexa memasuki ruangan perlahan. Dia memandang para majikannya tampak bahagia dengan keahlian anak mereka.
Dior kini sudah berusia 6 bulan. Dia semakin pintar dan menggemaskan. Lexa tidak melihat aksinya. Dia hanya memperhatikan dan membayangkan ketika dirinya dan Leon memiliki seorang bayi. Ingat ketika kemarin Leon selalu mengelusi perut nya ketika bangun pagi, selesai makan, membersihkan diri dan ketika tidur, Leon memeluk perutnya dengan sangat posesif. Lexa tersenyum dan matanya mulai berkaca kaca lagi.
"Lexa! Ayo makan!" Sampai tiba tiba Viena dan Dion mengajak nya makan.
"Kau jangan sedih terus Lexa, kau tidak tahu kan Leon juga menjadi pendiam beberapa hari ini. Dia lebih menutup diri dan diam. Kata Renzy dia memikirkan mu!" Celetuk Dion seraya keluar ruangan dengan menggandeng tangan Viena.
Glek! Hati Lexa bergetir. Benarkah Leon seperti itu di kantor? Di apartemen, dia selalu tersenyum dan memberi candaan padanya. Mengapa di kantor menjadi begini?
Lexa diam saja tidak menanggapi perkataan Dion. Dia tetap mengikuti majikannya itu menuju ke restoran hotel Prime. Mereka juga mengajak Sherry. Karna Sherry, Lexa menjadi sedikit melupakan kesedihannya. Dia malah membantu Sherry makan. Viena dan Dion yang melihat pemandangan itu menjadi senang. Namun, mereka juga harus terus memperhatikan bawahan mereka karna masih diliputi kesedihan.
Setelah jam makan siang, Viena kembali ke kantor nya bersama Lexa. Dion masih harus mengikuti rapat bersama para manager hotel dan ayahnya, Jeremy.
Sore menjelang, namun belum ada tanda tanda Leon menghubungi Lexa. Akhirnya Lexa pulang bersama ikut dengan mobil Viena. Mungkin pekerjaan Leon sangat banyak sehingga tidak sempat menghubunginya mengingat sejak kemarin dia berpergian bersamanya. Lexa hendak menyiapkan makan malam dan mencoba berubah diri. Menyambut Leon dengan senyum dan pelukan. Ya, dia akui sudah hampir seminggu ini, dia tetap dalam diam dan malah terkesan tidak mengurusi keperluan Leon sampai Leon yang memintanya. Dia harus meminta maaf pada suaminya.
Lexa sudah menyelesaikan semua makan malam kesukaan Leon, namun Leon belum kunjung pulang. Dia melihat jam dinding sudah menunjukan pukul 8 malam. Lexa akhirnya menghubungi Leon.
"Lexa?" Suara pria mengangkat panggilan Lexa. Lexa sepertinya mengenal suara ini.
"Rico?" Lexa memastikan dan memang benar itu Rico.
"Ya ini diriku! Suami mu mabuk! Aku sudah ingin membawanya pulang tapi dia menolak!" Jawab Rico memberitahukan kondisi Leon.
"Mabuk?" Lexa sedikit tercengang. Ada apa dengan suaminya sampai mabuk begini?
"Ya, kami mengadakan pesta kecil minum minum biasa, namun entah mengapa suamimu jadi gila sekali meminumnya. Dia terus menegak dan menegak. Manuel sudah melarangnya tapi dia terus menegak dan terakhir dia menegak satu botol. Aku mau membawanya pulang tapi dia enggan Lexa. Apa kau bisa kesini ke hotelku! Aku tidak bisa memaksanya." Pinta Rico mencemaskan temannya.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia jadi mabuk begini?" Lexa mulai panik.
"Tidak tahu Lexa! Tapi dia mengigau namamu juga sebuah nama pria. Ah sudah gila suamimu! Dia menyebut nama Lionel!" Pekik Rico dengan nada sebal.
Deg! Lexa membuyarkan air matanya ..
"Lexa? Kau bisa kesini kan? Suruh Solane mengantarmu, Lexa, kau masih di sana? Lexa??!!" Lexa masih melamun dan Rico terus berkata kata.
"I, i, iya, aku, kesana!" Lexa tersadar dan berkata kata dengan terbata.
...
...
...
...
...
Hem, entahlah Lexa, ini ujian berumah tangga bukan rumah yang ada tangganya hihi 😅😅
.
Next part 33
Ada apa dengan Leon?
Betapa sangat Leon mencintai Lexa
Drama apa lagi yang akan terjadi pada mereka?
.
yok yok LIKE dan KOMEN nya
aku lagi rada buntu nii hahaha
kasih RATE dan VOTE nya juga di depan profil novel yaa 😍😍
__ADS_1
.
thanks for read and i love you ❤❤