
"Lepas Leon! Masih ada yang berlewatan." Kata Lexa yang masih tersipu ketika Leon menahan dirinya terjatuh.
"Kalau aku lepas sekarang kau akan jatuh, tapi kau memelukku, kau akan baik baik saja, bagaimana?" Leon menaik turunkan alisnya.
Lexa akhirnya mengikuti arahan Leon dan dia memeluk Leon.
"Begini baru benar.." kata Leon tersenyum mengusap usap punggung Lexa. Lexa tersenyum dan akhirnya mendorong tubuh Leon.
"Terimakasih!" Kata Lexa.
"Kau ini selalu ceroboh!" Decak Leon mengusap pelan dahi Lexa.
"Siapa suruh membelikanku gaun sepanjang ini?" Dengus Lexa menghempaskan tangan Leon.
"Kau yang menyukainya. Sudahlah, kau selalu mengajak bertengkaran. Sudah ayo kita pergi!" Leon lalu menggandeng tangan Lexa untuk keluar dari gedung apartemen Viena.
"Kita mau kemana?" Tanya Lexa setelah berada di basement parkir.
"Makan!" Jawab Leon membuka kan pintu duduk penumpang pada Lexa.
"Makan? Tadi kan kita sudah makan Leon.." kata Lexa ia duduk di kursi penumpang mobil.
"Aku ingin memakanmu." Goda Leon yang kini mulai menyalakan mobilnya.
"Mesum! Serius Leon! Kita mau kemana?"
"Kau diam saja dan lihat aku akan membawamu kemana." Jawab Leon dan dia melajukan mobilnya menuju ke pantai pesiar yang waktu itu dia pernah mengajak Lexa.
Sesampainya di sana Lexa kembali takjub dengan beberapa lampion yang menghiasi jalan pinggir pantai.
"Ada seperti perayaan Leon?" Tanya Lexa sambil mengelus elus lengannya yang mana ia melupakan membawa jaketnya tadi ketika pesta. Angin semilir ketika malam hari jauh lebih dingin dari pagi atau siang hari. Lexa merasakan dingin yang merasuk ke tulang tulangnya karna gaun tanpa lengannya.
"Ya seperti pameran lampion. Lihatlah lampionnya berbeda beda bukan?" Jawab Leon dan dia melepaskan jasnya lalu memakaikannya pada Lexa.
Seketika jantung Lexa berdetak. Hatinya bergetar menerima perlakuan Leon yang begitu gentle man. Dia lalu melihat ke arah Leon lirih.
"Ada apa?" Tanya Leon yang merasa semuanya normal.
"Untuk apa jas ini?" Tanya Lexa polos.
"Untuk menghangatkan kepalamu supaya bisa berpikir apa yang kulakukan padamu benar atau tidak! Sudah ayo kita ke restoran sana, aku ingin makan lobster." Jawab Leon dengan lugas dan memukul pelan kepala Lexa. Leon lalu berjalan lebih dulu ke arah restoran yang ia maksud
"Uuuhh dasar tidak romantis! Seharusnya kan dia menjawab untuk kau kenakan Lexa agar tidak kedinginan.." gumam Lexa sendiri sambil mengerucutkan bibirnya.
"Lexa! Kalau kau berlama di situ, ombak akan menerpamu dan kau akan tenggelam, cepat laahh aku sudah lapaaarr .. " panggil Leon yang menyadari kalau Lexa masih terdiam.
Lexa berjalan menyusul Leon dengan wajahnya yang masih masam.
"Kau mau pesan apa? Aku big lobster dua. Kau apa?" Tanya Leon yang sedang melihat lihat buku menu.
"Kau ini makannya banyak sekali tapi badan masih lurus lurus saja.." decak Lexa sambil melihat lihat buku menu.
"Lurus lurus kau bilang? Bukankah kemarin kau terpana melihat tubuhku. Nanti ku kasih sehabis makan ya. Tunggu saja kau kelinci, malam ini aku sangat sangat lapar!!" Jawab Leon tak terima.
"Cih, musang mesum tengik. Aku pesan musang panggang saja. Ada tidak pelayan?" Kata Lexa dengan seribu wajah kesalnya.
"Musang panggang? Tidak ada Nona.." jawab sang pelayan terheran.
"Kalau begitu tutup saja restoran ini!" Kata Lexa lagi menutup buku tamu dengan kasar.
"Lexa, sudah berapa kali kubilang mulutmu jangan diperbesar tapi otakmu. Diamlah, kau tidak usah memesan. Makan bersamaku!" Leon akhirnya menutup rapat mulut Lexa dengan ucapan menohoknya.
__ADS_1
"Hem!" Lexa memalingkan wajahnya benar benar sebal dengan Leon.
Dan pramusaji menyiapkan dua lobster besar dengan saus asam manis dan dua buah ice tea. Mata Lexa membelalak melihat lobster berwarna orange terang dan segar, juga aromanya yang menggugah selera.
"Berapa harga satu lobster ini Leon?" Tanya Lexa menatap takjub dengan makanan lezat yang ada di depannya itu.
"Entahlah, mungkin satu atau dua juta. Sudahlah ayo makan Lexa!" Jawab Leon siap menyantap satu lobster yang sudah ia ambil dan hendak ia buka kulit bagian luarnya. Sesaat dia menatap Lexa lalu ia tersenyum. Baru kali ini dia merasakan seperti mempunyai kekasih atau teman jalan yang benar benar penikmat makanan.
Berbeda dengan semua wanita yang ia dekati termasuk Solane. Solane khususnya sangat tidak suka makan malam. Dia menjaga badannya sehingga membuat Leon agak jenuh ketika mengajaknya makan ke luar. Ada lagi beberapa kenalannya di Legacy selalu berisik mengenai makanan yang mana tidak mau pakai penyedap, garamnya sedikit saja, tidak pakai kecap, bla bla bla.
Sementara Lexa? Dia malah menerima apa yang ada dan makannya cukup banyak. Dan, Lexa tidak pernah mempermasalahkan tempat makan dimanapun. Malah dia risih jika Leon mengajaknya makan di tempat mahal seperti ini.
Leon siap menyantap namun dia merasa aneh dalam diri Lexa. Lexa hanya menatap lobster tersebut tanpa melakukan apa apa.
"Lexa, ada apa?" Tanya Leon yang sudah menggigit daging putih itu.
"Aku, aku .."
"Aku apa?" Leon penasaran.
"Jangan mengejek ku ya? Aku tidak bisa membuka lobster ini Leon. Bahkan aku baru mencobanya sekali waktu Nyonya Viena membawanya ke kantor, itupun hanya dagingnya, tidak segar seperti ini!" Lexa menundukan kepalanya kecewa dengan dirinya yang sedikit kurang pergaulan.
"Eng, Leon, aku mau.." kata Lexa lagi mendongakan kepalanya menatap Leon dengan wajah yang membuat wajah Leon memerah. Lexa tampak menggemaskan dengan pipinya yang cukup berisi. Hanya melihat wajah Lexa seperti itu saja, Leon sudah tersipu malu, apalagi Lexa melakukan hal hal diluar ini semua. Argh, Leon kau harus menahan semua keteganganmu, pikir Leon yang kini sedang menghisap hisap kulit lobster.
"Leon! Mengapa kau melihatku seperti itu? Cepat kupaskan yang satu ini untukku, aku sudah sangat ingin!!!!" Lexa menghentakan lengan Leon untuk segera membuka daging lobster tersebut.
"Oh iya! Wajahmu seperti lobster Lexa, sepertinya nanti malam aku akan menyantapmu." Goda Leon sambil membuka lobster tersebut. Sementara Lexa berdecih dan tidak sabar memunggu daging lobster tersebut.
"Ini." Leon memberikan lobster tersebut dengan menyisakan kulit di bagian bawahnya.
Lexa langsung meraihnya. Lexa memakannya dengan lahap dan masih tetap menampilkan sisi anggunnya yang saat itu rambutnya di hias ke atas dan dia mengenakan riasan yang cukup tebal.
Dan ketika daging atasnya telah menipis, dia menghisap kulit lobster tersebut sama seperti yang Leon lakukan.
Leon meneguk ludahnya melihat Lexa yang begitu mempesona dengan melakukan penghisapan kulit lobster itu. Lexa melakukannya dengan tidak menahan keanggunannya namun tetap terlihat sopan dan menarik. Leon jadi berpikiran yang macam macam ketika bibir Lexa menyentuh kulit lobster tersebut seperti menyentuh kepunyaannya yang seketika menegang.
Leon lalu tersentak. Dia menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kenapa kau?" Tanya Lexa masih asik dengan lobsternya.
"Aku, aku ke toilet dulu, kau membuatku gila Lexa!" Kata Leon dan dia beranjak ke toilet.
"Aneh!" Decak Lexa melihat kepergian Leon.
Leon menampar nampar pipinya ketika sampai di toilet. Dia mencuci tangannya sebelumnya dan akhirnya menyibak wajahnya dengan air.
"Gila! Mengapa aku sampai berpikiran seperti itu? Aku tidak boleh terbawa nafsu ku, aku harus menyucikan Lexa ketika aku menikah dengannya. Malam ini aku tidak boleh membawanya pulang ke apartemenku. Tidak, aku harus mengantarnya ke rumahnya. Leon, kau mencintainya tulus. Dia bukan seperti wanita wanita mu dulu. Ya ya . Kau harus kuat Leon!!" Leon memantabkan dirinya menatap dirinya di cermin.
Dia lalu kembali ke meja makan dan Lexa sudah membersihkan tangannya. Kini wanita itu sedang meminum ice tea nya.
"Are you okey?" Tanya Lexa masim meminum ice tea nya dengan sedotan.
"Ya.. kau sudah selesai?"
"Sudah. Terimakasih kau kembali mentraktirku. Kapan kapan aku yang akan mentraktirmu.." kata Lexa kemudian.
"Memang gajimu sama sepertiku?" Tanya Leon menggoda.
"Tentu, lima juta!! Aku jujur kan?!" Jawab Lexa polos masih setia dengan sedotannya.
"Tidak mungkin segitu!" Leon menampu satu tangannya di sisi kursi.
__ADS_1
"Benar! Aku yang meminta karna Nyonya Viena yang membayar flat ku dan melengkapi seluruh kebutuhanku."
"Sama saja!!! Yasudah, ayo ikut aku!" Kata Leon kemudian dan beranjak dari kursi makannya dan menuju kasir untuk membayar. Lexa mengikutinya.
Leon lalu menuju ke pinggir pantai tapi sebelumnya dia membuka sepatunya karna ia hendak merasakan ombak semilir di pesisir pantai.
"Lexa, cepat buka sepatumu, kita rasakan ombak malam hari, pasti menyenangkan." Kata Leon yang melihat Lexa masih berdiam menatap laut.
"Kau tidak takut akan terjadi tsunami nanti Leon?" Tanya Lexa bergurau.
"Tidak ada tsunami selama aku ada di sampingmu, sudah cepat!" Decak Leon dan lagi lagi pria asisten Dion itu berjalan lebih dulu.
"Terus saja dia seperti itu, pemaksaan!!" Lexa merajuk namun tetap menjalankan perintah Leon. Dia lalu melepas sepatu hak tingginya dan menyusul Leon ke pesisir pantai.
"Bagaimana Lexa? Mengasikan kan?" Tanya Leon yang melihat Lexa sudah menyusulnya.
"Iya asik! Lain kali bicara dengan lembut tidak usah terus memerintah, kau seperti bos saja! Kau seharusnya sejak tadi bertindak romantis kalau mengajar seorang wanita ke pinggir laut seperti ini.." decak Lexa akhirnya meluapkan isi hatinya.
Leon menunduk dan tersenyum sesaat. Sejak tadi ia menahan dirinya karna hari ini Lexa sungguh menggoda imannya. Dengan gaun tanpa lengannya dan fit body dengan tubuh Lexa yang berbentuk bak gitar spanyol membuat Leon tak kuasa mengatakan dalam hatinya kalau Lexa begitu memukau dan cantik. Leon takut dia akan salah melangkah mengingat Lexa selalu mengikuti apa yang ia bicarakan. Namun, sejak tadi juga ia terus memberikan nada tidak menyenangkan pada Lexa, tidak seharusnya dia seperti ini. Leon menarik napas pada akhirnya.
"Baiklah Lexa aku minta maaf. Kau tidak tahu apa yang sedang kurasakan. Eng, sesuatu yang dimiliki pria. Eng hasrat ku sejak tadi sedang menahanku untuk tidak melakukan hal yang tidak tidak padamu. End, jadi mengertilah.." kata Leon akhirnya.
"Apa maksudmu?" Lexa memicingkan matanya terheran.
"Tidak ada, sudah ayo kita berjalan jalan." Leon menyela rasa penasaran Lexa dengan meraih tangannya dan menggandengnya. Mereka berduapun berjalan bergandengan.
"Leon, kita seperti ini, kita tidak memikirkan majikan kita yang mungkin sekarang dalam kegundahan. Kita tidak melakukan sesuatu?" Tanya Lexa di tengah jalan jalan malam mereka.
"Eng, entahlah apa yang sedang dipikirkan tuanku. Dia itu sebenarnya ingin bersanding dengan Nyonya mu Lexa. Aku percaya itu!!"
"Mengapa kau sangat yakin?" Lexa menoleh ke pria pujaan hatinya itu.
"Ya waktu itu aku pernah mengantarnya ke sebuah kapel. Dia berdoa di sana. Aku juga ikut berdoa. Mendoakanmu agar kau mau menjadi istriku kelak."
"Cih, istri apa? Kau saja selalu marah marah akhir akhir ini denganku! Tidak usah dibahas! Tidak nyambung! Lalu apa yang bos mu itu doakan? Memang dia bersuara ketika berdoa?"
"Tidak sih, tapi dia yang mengatakan padaku kalau Tuhan menginginkan Nyonya Viena yang menjadi jodohnya maka berikan jalan bagi mereka. Begitu katanya. Tapi sekarang dia bahkan membentak bentak nyonya mu. Aku jadi benar benar bingung.."
"Iya benar kan? Bos dan asisten sama saja. Tidak jelas. Sebentar sayang sebentar lembut sebentar kasih kejutan, tak lama kemudian galau, hanya kasihan, berkata kasar, marah marah. Itulah aku tidak ingin menyukai pria sebenarnya!!" Decak Lexa tidak menyadari kalau Leon ada di sampingnya dan membuat aura emosi Leon meluap kembali.
Dia membuang sepatu yang ia pegang pada satu tangannya yang lain lalu menarik tubuh Lexa masuk dalam pelukannya. Lexa terkesiap namun mengikuti tarikan Leon. Leon lalu merengkuh wajah Lexa dengan kedua tangannya dan tanpa basa basi, Leon mencium bibir Lexa. Lexa terkejut bukan main.
Ya, ini bukan kali pertama Leon melakukannya, tapi Lexa merasa ciuman kali ini agak berbeda. Lebih memiliki gairah. Lexa lalu melepaskan juga sepatu hak tingginya dan memegang pinggang Leon. Lexa menanggapi ciuman Leon. Mereka berciuman di pinggir pantai di bawah rembulan yang bersinar begitu nyata dan ombak kecil yang menyapukan kedua kaki pasangan asisten itu.
...
Tbc,
Haloo inilah kisah perjalanan cinta mereka dimulai..
Next part 43
Satu langkah lagi menuju hubungan cinta mereka 😁
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, RATE, dan TIP juga boleh 😍😍
Semua dukungan kalian berarti bagi LexaLeon 🙏🙏
.
__ADS_1
Thanks for read I LOVE YOUU 😘😘