
Ketika masa lalu berperang bersama masa sekarang, hanya harapan memiliki masa depan yang akan menyelamatkannya. Bagaimana kelanjutan perjalanan usaha Carolyn untuk lepas dari pembelajaran? Apakah dia akan menemukan masa depannya atau malah kembali pada masa lalunya? Bagaimana Xelino membantunya dalam hal ini?
...
"Jadi, klien ketiga yang rancangannya ditangani oleh Nyonya Deborah adalah milik pria ini?!" Carolyn sekali lagi menyelidiki. Xelino masih menatap tak senang Ansel. Dia malah memperhatikan pria yang berpenampilan cukup rapi ini dari bawah sampai atas. Pria itu terus tersenyum.
"Ya benar Carolyn! Berikan salam padanya!" Kata Rietha menyuruh Carolyn bersalaman dengan Ansel.
Seketika hatinya bergetar. Dia mungkin akan terus bertemu laki laki ini dalam waktu dekat. Carolyn mengulurkan tangannya sedikit bergetar. Kini Xelino menatap tajam Carolyn berharap dia tidak bersalaman tapi Xelino juga tidak enak dengan Rietha. Akhirnya Xelino membiarkannya dengan memasang wajah kesalnya.
"Ansel Gellarmo, Nona Carolyn, salam kenal," ucap Ansel terus menyunggingkan senyumnya. Sungguh, hati Carolyn bergemuruh terenyuh. Seperti beberapa tahun silam ketika setiap pagi Aciel menjemputnya dan menebarkan senyum sampai Carolyn tak dapat lagi berkata selain tersipu malu. Ansel benar benar cukup mirip dengan Aciel. Tidak semua tapi perawakan, postur tubuh dan senyumnya mengarah pada seorang Aciel dari masa lalu Carolyn.
"Ehem!" Xelino berdehem. Rasanya mereka sudah saling terpikat. Xelino pun meraih ponselnya hendak mengetikan sesuatu dan Carolyn juga melepaskan tangannya untuk tidak berlama lama berjabat tangan dengan Ansel. Ansel pun menarik tangannya.
"Kalian bisa berbincang bincang besok bersama Deborah. Sekarang mari Ansel ke ruanganku saja. Jam kerja Carolyn sudah selesai, dia harus melakukan kegiatannya selanjutnya atau orang tuanya akan memeganggalku, dia memiliki sekelumit ujian dengan pria di sampingnya," ujar Rietha terkekeh dan kembali ke ruangannya di atas. Ansel masih di sana bersama asistennya memandang Carolyn.
"Senang bisa bekerja sama denganmu, nona Carolyn. Sampai jumpa besok. Aku tidak sabar bisa berbincang bincang denganmu," tutur Ansel ramah tersenyum.
"Hemm..." Hanya itu sautan Carolyn karena dia menahan kegugupannya. Ansel pun meninggalkan mereka untuk mengikuti Rietha.
Carolyn memegang dadanya dan Xelino meliriknya. Ada yang tidak beres pikirnya. Xelino mengerucutkan bibirnya, menaikan sebelah sisi hidungnya dan menarik alisnya tak suka dengan respon Carolyn yang salah tingkah. Seperti malu tapi tidak bisa diungkapkan. Xelino pun mengetik sebuah pesan pada ponselnya dan kembali memasukan di sakunya. Dia menyenggol Carolyn. Carolyn yang tadinya menunduk langsung mendongakan kepalanya. Kali ini dia menatap wajah kesal dan jengkel Xelino yang malah menurutnya lucu. Carolyn langsung memukul pipi Xelino dengan pelan.
"Aduh! Apa apaan kau ini?" sungut Xelino memegang pipinya.
"Kau yang apa apaan meyenggolku! Dan wajahmu kenapa bertekuk tekuk tidak jelas begitu!" Celetuk Carolyn dengan sedikit tersenyum kecil.
"Kau tidak usah terkesima dengan si Ansel itu, aku mencurigainya," decak Xelino mengusap dagunya.
"Mencurigai apa? Memang kau peramal?" Saut Carolyn dan mulai berjalan keluar gedung. Xelino pun mengikuti Carolyn.
"Hey, memang kau ada hubungan apa dengannya? Mengapa setiap bertemu dengannya, kau tidak menjadi dirimu sendiri?" Tanya Xelino cukup penasaran sambil mereka terus berjalan menuju mobil.
Carolyn hanya menggeleng tidak mau menjawab. Xelino tentu tidak memaksa tapi dia hanya menerka nerka.
"Ah, kau ini! Jangan jangan kau pernah memiliki sebuah hubungan dengan seorang yang mirip dengannya dan kini kau bertemu dengan orang yang mirip dan kau suka serta dilema, kalut menjadi satu, begitu?!" Xelino memutar mutarkan tangannya di samping Carolyn membuatnya akhirnya menghentikan langkahnya di luar gedung itu. Dia melirik tajam Xelino.
"Begitu kan?" Tanya Xelino lagi sudah menurunkan tangannya.
"Bukan dan kau jangan sok tahu! Sekarang aku mau ke restoran Sukiyaki, antarkan ke restoran yang memasaknya dengan sangat enak!" decak Carolyn sedikit memaksa.
"Tentu buatan bibiku," saut Xelino tersenyum bangga.
"Di mana bibimu berada? Aku tidak mau ke tempat kumuh, sedang tidak berselera!" balas Carolyn mengibas ngibaskan tangannya.
"Kau benar benar seorang nona! Tentu saja di Atkinson de Angel, masa kau tidak tahu," kata Xelino merasa biasa saja.
Carolyn mengernyitkan alisnya dan kembali berhenti ketika dia hendak masuk ke dalam mobil.
"WHAT?? Atkinson? Xelino, ini masih sore, jangan tidur, kau masih bekerja, bangun bangun dan jangan bermimpi menjadi orang kaya!!! Kau saja baru bekerja denganku 3 hari!!" Decak Carolyn memukul mukul kepala Xelino.
'Haiz, mulutmu Xelino benar benar seperti perempuan, untung saja wanita ini bodoh!' decak Xelino dalam hati.
"Aahh, sakit Carolyn! Sudah berapa kali kau memukulku? Kau mau kupukul?" dengus Xelino tidak terima.
"Dengan apa? Sini kalau berani!" balas Crolyn malah menantang Xelino. Dia memajukan wajahnya pada Xelino dan mereka saling memandang. Xelino malah menjadi gemas dengan wajah Carolyn.
Cup!
Xelino malah mengecup kening Carolyn.
"Dengan bibirku!" Xelino tersenyum puas membalas semua perlakuan nona nya itu.
Dia lalu memutar menuju ke kursi pengemudi. Carolyn masih tertegun. Lagi lagi Xelino membuat hatinya sedikit bergelinjang. Ketimbang dengan Ansel tadi, mengapa perasaan ini lebih berbunga Bunga dan ceria?
"Cepat masuk atau aku akan kembali lagi dan malah menciumi bibirmu! Cepat!!" Pekik Xelino dan membuat Carolyn memegang bibirnya takut. Dia segera memasuki mobil dan Xelino benar menuju ke resort bibinya karena memang di sana tempat Sukiyaki terenak dengan chef yang sudah Xelino kenal.
...
Sepanjang perjalanan Carolyn melamun. Dia kembali mengingat Aciel. Sebuah penyesalan yang sampai saat ini masih melekat dalam hatinya. Andai hari itu dia tidak memaksakan kehendaknya. Mungkin sekarang dia masih bersama Aciel. Mungkin kini Aciel yang menjaganya bahkan mengantar jemputnya. Xelino sedang mendengarkan musik jadi dia tidak menganggu Carolyn. Lagipula dia tampak melihat Carolyn tertidur. Padahal Carolyn bersandar pada sisi jendela dan memang memejamkan matanya. Bayang bayang Aciel sedang melingkupinya setelah bertemu dengan Ansel yang cukup memiliki banyak kesamaan dengan Aciel.
(Flashback kepergian Aciel)
Waktu itu sekitar 3 tahun yang lalu ketika baru saja Carolyn lulus dari high school, usianya masih 17 tahun sedangkan Aciel berusia 22 tahun, lima tahun di atas Carolyn. Aciel menjanjikan sesuatu jika Carolyn dapat lulus dengan nilai minimal masuk dalam jajaran 3 besar di sekolahnya. Carolyn dengan penuh semangat karena cintanya pada Aciel berhasil menduduki jajaran kedua tingkat sekolah.
Aciel akan mengajak Carolyn mencari sebuah lahan yang akan ia bangun sebuah rumah kecil dan di pinggirannya akan terdapat kebun bunga yang indah. Aciel juga akan mengajak Carolyn melihat bintang di puncak gunung ketika malam hari. Namun, ketika hari yang sudah ditentukan, Aciel harus mengikuti rapat penting perusahaannya. Aciel Stego merupakan anak dari pasangan pembisnis terkenal di Springfield dalam lingkup ekspedisi dan pengiriman barang. Aciel pun sudah terjun langsung membantu ayah dan ibunya dalam mengemban perusahan itu.
Carolyn sudah menghubunginya berkali kali karena sampai jam 11 pagi, Aciel belum menjemputnya. Barulah ketika akhirnya Aciel berhasil ijin keluar, dia menghubungi kekasihnya itu.
"Carol, bisakah kau lebih dulu pergi ke sana? Supirku sudah menuju ke rumahmu untuk menjemputmu. Dia sudah tahu lokasi yang akan kita jadikan sebuah rumah. Kau bisa melihatnya terlebih dahulu dan memikirkan konsep seperti apa untuk Caroliciel kita, bagaimana gadis kecilku?" kata Aciel menyuruh Carolyn agar tidak menunggu terlalu lama.
"Kapan kau ke sana?" tanya Carolyn dengan nada suara yang sudah sedikit sebal.
"Setelah makan siang aku akan kesana. Pertemuan ini sangat penting, Carol! Setelah urusan ini, mungkin aku bisa melamarmu," balas Aciel dengan kata kata manisnya.
"Kau jangan mencoba membohongi anak kecil!" Carolyn senang jika dimanja manja oleh Aciel.
"Tidak sama sekali, anak kecil," saut Aciel tersenyum di seberang sana.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggumu di sana, sampai jumpa,"
"Sampai jumpa, tunggu!"
"Apalagi? Aku akan menunggu supirmu," kata Carolyn sedikit terheran.
"Kecupan," pinta Aciel dan Carolyn menarik senyumnya.
"Muach!"
"Bye!"
Panggilan dimatikan dan Carolyn tersenyum senang. Carolyn pun menuju ke halaman depan untuk menunggu supir kiriman Aciel. Ketika menunggu, ayahnya baru saja pulang dari kantor dan bertanya pada Carolyn. Carolyn menjawab akan pergi ke perbatadan antara Springfield dan Greenville. Gilbert agak kesal karena Aciel tidak menjemput Carolyn malah menyuruhnya bersama seorang supir. Sempat terjadi perdebatan tapi akhirnya Jennifer datang dan memutuskan kalau Liliana harus menemani Carolyn. Carolyn terpaksa menyetujuinya. Sejak saat itu, Gilbert agak tidak suka dengan Aciel. Dia merasa Aciel tidak bertanggung jawab pada putrinya. Dan, hal ini juga yang membuat Gilbert melarang keras Carolyn memikirkan Aciel sampai saat ini.
Carolyn sudah sampai di perbatasan itu. Perbatasan itu memang memiliki tanah subur dan sangat baik seperti Desa Serena. Kata sang supir, Aciel sudah memberi berhektar hektar tanah dan memang beberapa hektar sudah ditanami kebun bunga dengan warna bunga ungu, merah dan kuning seperti warna kesukaan Carolyn. Carolyn benar benar menikmati suasana ini. Carolyn jadi menginginkan sebuah rumah di pinggir kebun bunga ini. Rumah berbahan kayu yang kokoh yang begitu asri. Selain itu Carolyn juga ingin tumbuh beberapa sayur mayur dan buah buahan di sampingnya. Carolyn mulai menggambar konsepnya pada kertas gambarnya menjadi sebuah sketsa yang sangat indah dan benar benar terasa kerimbunan serta kesegaran dari suasana tempat ini.
Carolyn tak sabar memperlihatkannya pada Aciel. Dia pun mengambil gambar sketsanya dan mengirimnya pada Aciel. Aciel melihat gambar Carolyn yang sangat menyukainya. Rumah impiannya bersama wanita yang ia cintai. Aciel menghubungi Carolyn sekaligus mengabari kalau dia sedikit terlambat. Ternyata bersamaan dengan itu orang tua Aciel datang dari Nederland. Aciel harus meminta ijin terlebih dahulu. Bukan hanya itu, di Kota Springfield turun hujan. Carolyn memakluminya karena di tempat dia berpijak juga sudah rintik hujan.
Carolyn, Liliana dan supir menunggu di sebuah villa dekat perbatasan itu. Hari makin sore tapi Aciel tak kunjung datang. Carolyn jadi kesal karena bisa saja mereka menaiki mobil. Carolyn kembali menghubungi Aciel.
"Ini sudah sore, kita tidak bisa lagi melihat lahan bersama. Kau berbohong padaku!" dengus Carolyn sudah sangat kesal dan sedikit kecewa dengan Aciel.
"Maafkan aku Carolyn! Ternyata mommy ku pulang ke Springfield untuk berobat. Dia memintaku untuk menemaninya," kata Aciel juga merasa bersalah pada Carolyn.
"Jadi, kau tidak jadi kemari?" tanya Carolyn dengna nada melemah. Aciel sangat tahu tipikal Carolyn yang tidak suka diberi harapan.
"Kita masih bisa melihat bintang malam hari kan? Di sini sudah tidak hujan, apa di sana masih?" tanya Aciel masih berusaha untuk datang.
"Masih rintik hujan," jawab Carolyn.
"Oke, sebentar lagi aku akan menuju ke sana,"
"Kau tidak ingkar kan?"
"Tidak, tunggulah!"
Sementara Gilbert sudah sangat khawatir karena malam sudah tiba dan Carolyn belum kembali. Gilbert menyuruh Carolyn pulang tetapi Carolyn tidak mau. Carolyn akhirnya memutuskan menunggu Aciel di tebing dekat villa itu. Liliana sudah melarangnya tapi dia tetap ingin ke sana dan menunggu Aciel. Si supir menunggu tuannya di villa.
Satu jam, dua jam, Carolyn menunggu Aciel di tebing berumput hijau itu bersama Lilian tapi juga tak kunjung datang. Sampai Carolyn menyelesaikan sketsa rumahnya menjadi sebuah gambar pemandangan kebun bunga dengan ladang sayur mayur dan terdapat rumah kayu di pinggirnya. Dengan warna yang berwarna warni dan Carolyn menuliskan nama Caroliciel di bawah pinggir kertas. Namun, Aciel juga tak kunjung datang. Carolyn meraih ponselnya tapi tak ada signal. Dia memutuskan terus menunggu sampai beberapa menit kemudian, si supir mendatangi mereka.
"Nona Carolyn, Tuan Muda Aciel mengalami kecelakaan di persimpangan tebing menuju ke tempat ini. Mobilnya terkena tanah longsor dari puncak tebing ini!"
Aciel meninggal di tempat bersama supir yang membawanya karena tertimbun tanah juga bebatuan yang besar.
...
Kling kling !!
Kling kling !!
"Carolyn!!! Mengapa kau terus melamun, ponselmu berbunyi! Kita juga sudah sampai!!" Pekik Xelino menyadarkan Carolyn dari kejadian itu. Dari kenangan buruk yang membuat dirinya enggan berhubungan dengan seorang pria lagi. Dia takut salah langkah dan menyebabkan hal seperti ini lagi.
"NO NA CA RO LYN!!" pekik Xelino lagi mengeja memanggilnya. Carolyn akhirnya tersentak dan mengusap satu matanya.
"Kau menangis lagi?" Selidik Xelino.
Carolyn menggeleng.
"Cepat angkat ponselmu! Sejak tadi berbunyi!" Kata Xelino lagi. Carolyn lalu meraih ponsel di tasnya dan mengangkatnya.
"Ya halo?" sambut Carolyn mengangkat panggilan dari Deborah.
"Kau harus mengubah lagi denah buatanku tadi dan buat anggaran yang seharusnya kita ajukan untuk pembangunan kantor cabang itu. Anggarkan juga segala perlengkapan yang digunakan termasuk jenis lantai, cat dinding juga bahan langit langit. Kau mengerti kan?" perintah Deborah di seberang sana.
"Ya aku mengerti!" jawab Carolyn singkat.
"Jangan terjadi kesalahan lagi dan jangan mengubah sketsa yang sudah kubuat!"
"Iyaaa Nyonya Debora!!
"Oiya, kau jangan lupa persiapkan denah untuk klien keluarga Gellarmo. Aku belum membuatnya," perintah Rietha yang lain.
"Nanti kau menipuku lagi!" dengus Carolyn.
"Kali ini tidak!"
"Hem, ya ya baiklah!"
Panggilan dimatikan Deborah. Tidak ada kata terimakasih. Carolyn sebal bukan main.
"Nenek sihir tidak tahu etika. Bilang padaku tidak punya etika dan tidak tahu sopan santun. Dia saja tidak mengucapkan terimakasih padaku! Argh, kapan aku terbebas dari semua pengekangan ini!!" Decak Carolyn langsung keluar dari mobil dengan sangat kesal. Xelino tentu ikut turun dan mengikutinya.
Carolyn masih menekuk wajahnya dan mereka memasuki pintu utama resort. Carolyn langsung ke meja informasi untu menunggu Xelino menanyakan di mana letak restorannya.
"Selamat malam Nona," sapa seorang pegawai perempuan kepada Carolyn. Carolyn tidak menjawab. Seorang lagi melihat Xelino mendekat dan mereka tampak mengagumi Xelino.
"Itu tuan muda Xelino, tidak biasanya dia kemari dengan berpakaian rapi sekali!" Bisik pegawai tersebut.
__ADS_1
"Iya benar, dia tampan sekali!" Balas temannya.
Carolyn sedikit curiga tapi terus memperhatikan mereka.
"Selamat malam Tuan ..."
"Sstt!!" Xelino dengan cepat menyuruh pegawai tersebut untuk tidak memanggilnya tuan muda atau semacamnya atau yang parahnya memanggil dirinya Tuan Muda Janson. Tamatlah riwayatnya jika itu terjadi.
Carolyn menoleh ke arah Xelino dan Xelino tampak tenang malah makin mendekati Carolyn. Dia pun merangkul Carolyn.
"Kami ingin ke resto resort ini," kata Xelino menaik turunkan alisnya.
"Ah, kau jangan rangkul rangkul!" Decak Carolyn.
Dua pegawai itu langsung menunjukan letak restorannya. Mereka pun menuju ke restoran dengan berdampingan. Xelino memperhatikan wajah Carolyn yang terus cemberut penuh emosi kekesalan.
Sesampainya di resto, Xelino memilih tempat di pinggir resto tersebut yang berdekatan dengan taman bunga dan terdapat air mancur di tengahnya. Carolyn dan Xelino duduk berhadapan di sana. Seorang pelayang menghampiri mereka dan sebelum mereka duduk, Xelino sudah memperingati pelayan yang sedang berkumpul untuk tidak memamggil dirinya Tuan Muda Janson. Mereka pun mengerti. Xelino sudah memesan satu set Sukiyaki untuk dirinya dan Carolyn. Xelino pun kembali memperhatikan Carolyn yang masih terus terdiam.
"Ada apa denganmu, nona?" Tanya Xelino tersenyum. Carolyn melirik Xelino sesaat.
"Argh! Aku kesal!" Pekik Carolyn membuat Xelino sedikit terkejut.
Carolyn pun menceritakan apa yang terjadi di kantor tadi. Bagaimana pekerjaannya dan bagaimana bibinya menanggapi dirinya. Namun, ketika Carolyn setelah menceritakannya, Xelino malah tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" selidik Carolyn bingung juga sedikit sebal dengan Xelino.
"Kau memang tidak pernah bekerja! Hal seperti itu wajar! Tindakanmu sudah benar tapi ada baiknya kau berbicara pada atasanmu, jangan sok tahu!" Kata Xelino menyentil pelan dahi Carolyn.
"Aw! Sakit Xelino!" sungut Carolyn mengusap dahinya.
Xelino tersenyum.
"Sekarang dia memintaku mengembalikan ukuran denahnya, lihat ini!" Dengus Carolyn meraih iPad nya dan menyerahkan pada Xelino. Xelino melihat apa yang sudah dikerjakan nona nya. ternyata dibalik sifat arogan Carolyn, dia memang bisa menggambar dan gambar itu mengingatkan Xelino pada sahabatnya. Benar benar sama hebatnya.
"Yasudah, kerjakan nona!" saut Xelino sudah meletakan kedua tangannya di atas meja.
"Tidak mau! Kau tidak tahu, dia sebenarnya sudah mempunyai denah dan dia akan kembali menghinaku, aku tidak mau!" decak Carolyn melipat kedua tangannya.
"Nona, kau harus mengerjakannya, biar bagaimanapun dia adalah atasanmu. Begini, kalau kau bisa terus menurutinya maka lambat laut dia tidak akan meremehkanmu lagi. Gambarmu bagus. Aku saja tidak bisa menggambar," kata Xelino menyemangati Carolyn.
"Kau hanya bisa mengurus lahan mana bisa menggambar!" Carolyn mencibir. Xelino terkekeh.
"Bisa!" saut Xelino seketika.
"Heng, menggambar apa?"
"Menggambar hatiku di hatimu, hahahaa!"
"Cih!" Carolyn menyunggingkan senyumnya.
Rasanya dirinya kembali lagi dan melupakan semua masa lalunya serta kekesalannya pada Deborah. Dia pun akhirnya mengerjakan tugas itu sambil menikmati Sukiyaki bersama Xelino yang terkadang memberinya candaan ringan.
...
...
...
...
...
serah lu xel serah lu angkat tangan gua 😂😂😅😅
.
next part 12
Bagaimana hari hari Carolyn selanjutnya bekerja dengan Deborah dan juga Ansel?
siapa sebenarnya Ansel?
lalu bagaimana kelanjutan Xelino di mata Gilbert dan Jennifer?
.
rekomen Novel penuh misteri dan teka teki akan cinta dan kehidupan dari seorang consultant design dan seorang CEO . mampir ya dengan judul:
---- LOVE & HURT ----
karyaku berkolaborasi dengan seorang wanita dewasa yang kece badas 😍😍
.
Okedeh pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
__ADS_1
.
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤