Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 46. Feel Warm


__ADS_3

Kehangatan dari orang yang kita cintai hampir mirip dengan rasa kekeluargaan. Entah itu lawan jenis atau sahabat, rasanya kehangatan yang diberikan tidak bisa diukur oleh apapun. Banyak kisah di dalamnya. Mulai dari berkenalan, mendalami isi hati masing masing sehingga bisa saling menghangatkan satu sama lain. Carolyn tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Sesungguhnya dia belum siap menyatakan cinta pada Xelino, dia hanya ingin bersama orang yang bisa membuatnya hangat, tenang dan nyaman. Lalu, bagaimana Xelino akhirnya bisa memiliki Carolyn dengan apa adanya sebelum kedok nya terbongkar?



Carolyn masih memeluk Xelino. Dia tidak peduli apa yang dipikirkan mantan asistennya itu. Dengan memeluk Xelino rasanya dia akan aman dan tidak terlalu mempedulikan kemarahan ayahnya. Dia malah merasa Xelino yang akan melindunginya. Xelino juga masih mendekapnya. Dia merasa sangat bodoh membuat wanita yang ia cintai sampai seperti ini padanya. Dia tahu dia salah, dia hanya tidak mau melakukan kesalahan. Dia mau bersama sama bahagia. Dia harus melakukannya dengan benar. Dia sudah yakin akan perasaan Carolyn melalui sikap sikapnya oleh sebab itu dia harus melakukan sesuatu agar terlepas dari mereka yang hendak menganggu hubungan mereka.


"Carolyn, tenanglah terlebih dahulu, aku tidak akan mengusirmu, percayalah, sudah diam jangan menangis," kata Xelino akhirnya dengan terus mengelus punggung wanitanya itu.


Carolyn hanya bisa mengangguk sambil merasakan kehangatan yang ditimbulkan dari tangan tangan Xelino.


"Carolyn, sudah jangan menangis lagi. Hey, tatap aku!" Kata Xelino lagi memegang dagu Carolyn dan mendongakannya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kalau kau mau di sini bersamaku, aku tidak akan melarang, aku malah sangat senang,"


Carolyn mengangguk dan mencoba menahan air mata yang hendak terjatuh lagi.


"Hem, kau sangat menggemaskan jika sedang menahan tangis seperti ini, Carolyn, sudah jangan menangis lagi!" Ujar Xelino menghapus air mata Carolyn dengan jari telunjuknya yang tertekuk.


Carolyn kembali menundukan kepalanya karena malu apalagi memandangi wajah Xelino yang sangat dekat padanya. Mereka memang pernah berciuman tapi secara tiba tiba tidak dengan saling pandang dan merasakan aura masing masing. Carolyn mencoba menormalkan dirinya. Dia pun tersadar bahwa dia berani sekali memeluk Xelino seperti ini. Untung saja dia belum mengatakan hal yang lainnya. Tak lama Carolynn menarik diri. Dia harus tau batas. Yang terpenting sekarang Xelino mau menerima dirinya berada di sini sehingga acara pertunangan itu pasti sudah batal.


"Em, maaf Xelino aku memelukmu karena kau asisten ku ! Kau masih menjadi asistenku oleh sebab itu kau harus menjagaku, kau harus ada di saat aku dilanda kesedihan. Seperti sekarang ini. Em, jangan masukan ke hati kata kataku. Kata kataku yang tadi hanya mencari perlindungan dan kau, kau sudah janji padaku akan menjadi orang paling pertama yang menenangkanku kan? Kau ingat kan? Aku akan ada di depanmu nona, begitu kau bilang, jadi jangan berpikiran macam macam!" Decak Carolyn salah tingkah dan sedikit terbata. Xelino sudah tahu kalau Carolyn malu akan pengakuannya.


Namun, tidak masalah bagi Xelino. Memang seharusnya dia yang menyatakan semua itu. Xelino tersenyum menanggapi kata kata Carolyn.


'Tunggu sebentar ya little Tiger ku, sedikit lagi, setelah aku membongkar semuanya lalu mendapatkan apa yang hendak kuberikan padamu, aku akan menyatakan semua perasaanku padamu! Aku berjanji!' gumam Xelino dalam hati sambil mengelus puncak kepala Carolyn. Carolyn semakin salah tingkah tapi tidak menghentikan Xelino yang mengusap kepalanya.


"Jadi, apa yang kau bawa tadi? Kebetulan aku belum makan Carolyn," kata Xelino kemudian.


"Oh iya, ini kesukaan kita berdua, kue ikan. Tapi tidak ada rasa kacang merah yang kau suka, Xelino, jadi aku membeli rasa coklat, kau mau?" Saut Carolyn meraih paper bag berisi kue ikan yang sudah ia beli.


"Aaaaa .... Apapun yang kau berikan, aku sudah percaya kau tidak akan membunuhku! Cepat masukan, aaaa ...." Xelino malah membuka mulutnya meminta untuk disuapi.


"Cih, memang aku jahat sekali padamu! Ini!" decak Carolyn.


Carolyn pun menyuapi Xelino kue ikan tersebut sampai habis. Kini Carolyn yang memakan punya nya sendiri.


"Hem, kau juga belum makan?" tanya Xelino.


Carolyn menggeleng dan menggigit kue tersebut terus menerus sambil pandangannya lurus ke depan dan merasa kembali melihat si pelukis tersebut. Sampai sampai dia tidak menyadari lelehan coklat yang menodai sisi bibirnya. Xelino tersenyum melihatnya lalu menghapus coklat tersebut dengan tangannya. Carolyn tentu terkejut.


"Ada apa Xelino?" tanya Carolyn gugup.


"Kau makan bersemangat sekali, apa yang kau lihat?" tanya Xelino melihat lurus pandangan Carolyn.


"Oh iya, terimakasih, itu aku melihat pelukis itu. Ya, wanita pelukis itu yang hendak kuhampiri. Sekarang, ayo Xelino kita ke sana! Ayoo ...!!" Kata Carolyn menaruh kue ikan tersebut dan menarik tangan Xelino beranjak setelah dia meminum air mineral lalu menghampiri sang pelukis.


Carolyn dan Xelino sudah berada di belakang wanita tersebut. Wanita tersebut tentu menyadari kehadiran mereka berdua. Dia lalu berbalik dan betapa terkejutnya wanita itu juga Xelino. Mereka tampak saling kenal.


"Xel, Xel, Xelino?" kata wanita itu menunjuk wajah Xelino.


"Glad, Gladys? Ohh god, kita bertemu lagi dan di sini! Kau kemana saja!" Pekik Xelino yang langsung memegang lengan Gladys.


"Aku baik baik saja, aku kembali lagi, maafkan aku waktu itu aku pergi mendadak, kau tahu kan pekerjaan ayah dan ibuku, suka tak menentu," seru Gladys menjelaskan.


"Ya ya, aku mengerti, santai saja. Oh iya, ini perkenalkan, emm ... Kekasihku!" balas Xelino melepas pegangan tangannya di lengan Gladys dan mengarahkan tubuhnya ke Carolyn.


Carolyn membelalakan matanya. Apa maksud dari kekasihnya sementara mengatakan cinta saja susah sekali!


"Apa kau bilang?!" Bisik Carolyn.


"Diam! Nanti kujelaskan!" Bisik Xelino lagi.


"Oh, jadi kau sudah mempunyai kekasih Xelino, heeemmm habis sudah harapanku,"


Carolyn pun langsung menoleh ke arah Gladys yang tampak frustasi. Mungkin ini yang dimaksudkan Xelino.


"Haha, aku hanya bergurau, halo perkenalkan namaku Gladys Riel Gabriane," kata Gladys lagi mengulurkan tangannya.


"Gabriane?" selidik Carolyn sangat familiar dengan nama keluarga itu. Carolyn juga sudah mengulurkan tangannya.


"Ya, si motivator tua itu!" saut Gladys memutar bola matanya.

__ADS_1


"Gladys! Kau kebiasaan!" decak Xelino yang selalu mengingatkan Gladys untuk tidak memanggil orang tua dengan seenaknya.


"Karena dia kami harus mengikutinya terus. Dan sekarang dia kembali mendapat pekerjaan sering di sini. Kebetulan ibuku juga mendapat tugas mengawasi rumah sakit yang baru dibangun di perbatasan kota dan desa. Kau tahu kan Xelino?" ujar Gladys kemudian.


"Oh iya aku tahu! Jadi apa pekerjaanmu sekarang?" tanya Xelino.


"Aku membuka galeri di pusat kota. Kalian bisa datang ke sana. Gratis !" kata Gladys seraya mengajak Xelino dan Carolyn.


"Oh iya baiklah, tapi apa kau bisa mengajariku melukis?" kata Carolyn seketika.


"Ah iya Carolyn, aku jadi ingat, ini Gladys sahabat ku yang sangat pandai melukis," sela Xelino mengingat pernah menceritakan sahabatnya ini pada Carolyn.


"Oohh kau Gladys? Terimakasih juga ya berkat aku melihatmu, sahabatmu ini jadi mengatakan jujur padaku!" gumam Carolyn seraya menyindiri Xelino.


"Mengatakan jujur? Tentang apa? " tanya Gladys terheran.


Deg!


Xelino lupa kalau dia bukan sebagai Xelino Janson. Gladys pasti akan mengatakan hal tentang dirinya. Xelino harus memotongnya terlebih dahulu.


"Aaahhh tentang perasaanku padanya, Gladys! Memang tentang apa?" celetuk Xelino menimpali.


"Hem, mencurigakan! Baiklah Carolyn kau datang saja ke galeriku besok atau lusa aku ada di sana pukul tiga sampai lima sore. Aku harus menjemput ibuku. Dia sudah tidak bisa mengemudi," ijin Gladys kemudian.


"Baiklah Gladys, aku yang akan mengantarnya dan sampaikan salamku pada ayah dan ibumu,"


Gladys mengangguk dan tersenyum lalu meninggalkan mereka berdua. Tak lupa Gladys membawa perlengkapan melukisnya. Xelino masih memperhatikan punggung sahabatnya itu dan Carolyn memperhatikan dirinya.


"Hey!" Panggil Carolyn menyenggol dada Xelino. Xelino tersadar dan menoleh ke arah wanita itu.


"Jadi apa perasaanmu padaku?" selidik Carolyn menuntut.


"Carolyn, kuberitahu ya? Gladys pernah menyukaimu, jadi kalau aku tidak mengatakan kau kekasihku maka dia akan mengejarku lagi. Sekarang dia tambah cantik, bisa bisa aku terpikat dengannya!" kata Xelino malah mengalihkan.


"Terpikat saja sana! Aku tidak peduli! Rubah tengik, percaya diri sekali dia!" Dengus Carolyn memukul dada Xelino lalu kembali ke bangku taman di bawah pohon sana. Xelino tersenyum melihat sika Carolyn yang ketahuan sekali sangat cemburu.


"Ggrrr, harimau menggemaskan! Tunggu saja ya! Roar!" Saut Xelino mengerang dan membentuk tangannya seperti cakar harimau.


Xelino kembali menyusul Carolyn tapi tak berapa lama, seseorang menghubunginya. Xelino melihat orang tersebut dan dia harus menjauh dari Carolyn sebentar. Carolyn melihat Xelino sedang mengangkat panggilan. Carolyn hanya berharap Xelino tidak menyerahkannya ke keluarganya.


"Bagaimana?"


"Aku sudah mendapat kodenya,"


"Baik, kau sebarkan saja sekarang, aku tidak masalah! Aku akan melindungi Carolyn dan hal tersebut tanpa mengurangi reputasi ku! Tuan Gilbert akan mengetahui dengan sendirinya,"


"Baiklah kak,"


"Oiya, tapi Erina sudah ke Japanis kan?" selidik Xelino.


"Sudah kak, aku sudah memenuhi kebutuhannya,"


"Baiklah, selanjutnya biar aku yang urus,"


"Oke kak,"


"Thanks Alle!"


"Your welcome,"


Xelino tersenyum tipis mendengar kabar dari adik sepupunya. Dia lalu kembali menghampiri Carolyn. Carolyn di sana kembali menundukan kepalanya. Dia senang bisa berkenalan dengan pelukis yang ternyata sahabat Xelino, dengan begitu dia bisa mencari tahu tentang Xelino tapi dilain pihak dia memikirkan respon ayah dan ibunya, bibi dan juga kakaknya ketika dia pulang nanti.


"Ada apa lagi Carolyn? Kau sudah bersamaku, kau juga sudah berkenalan dengan si anak motivator itu, lalu apa lagi?" selidik Xelino mencari cari wajah Carolyn.


"Ehm, kau memang pria tidak peka. Kau tidak tahu apa yang sedang kupikirkan?!" keluh Carolyn mendongakan kepalanya.


"Hem, biar kutebak," ujar Xelino memijat dagunya dan berpikir.


"Ansel tidak kau pikirkan kan? Jadi aku tahu, pasti kau memikirkan Tuan Gilbert dan Nyonya Jennifer kan?" Xelino bergumam.


"Begitulah, sekarang hampir jam 6 sore. Apa yang harus kita lakukan Xelino? Aku masih tdiak mau pulang, pasti mereka masih menunggu atau mencariku," kata Carolyn kemudian.

__ADS_1


"Tunggu saja dan kau tenanglah, aku akan menemani mu pulang," saut Xelino tersenyum.


"Apa? Menemaniku?" tutur Carolyn tidak menyangka.


"Ya, kau tenang saja! Kau yang bilang aku harus melindungimu!" balas Xelino.


"Aaahhh benar Xelino. Benar ya kau harus mengantarku pulang ," pekik Carolyn melingkarkan tangannya ke lengan Xelino.


Xelino mengangguk tersenyum. Xelino lalu mengajak Carolyn masuk ke dalam gereja. Kebetulan sedang ada kebaktian. Xelino mengatakan kalau berdoa cara terampuh untuk meringankan setiap masalah. Carolyn juga mempercayai itu.


Sekitar satu jam Carolyn dan Xelino menikmati lagu lagu rohani juga bacaan bacaan kitab suci. Carolyn sudah agak membaik walau tetap ada rasa takut. Dia tidak tega melihat wajah ayahnya yang tampak geram padanya.


Ketika mereka keluar dari gereja, Xelino akhirnya mengangkat panggilan dari James. James mengatakan semua orang mencari Carolyn.


"Kau hebat sekali Xelino bisa ikut membantu Nona Carolyn membatalkan acara ini," kata James di seberang sana.


"Memang kau tahu aku bersamanya?"


"Tentu! Tapi tenang, aku dan Grizel tutup mulut. Em, sebenarnya ada yang ingin kuberikan padamu Xelino," ujar James berbisik.


"Apa?"


"Tentang keburukan Ansel dan Nona Casey," kata James lagi.


"Siapa?!" Xelino agak memekik.


"Nona Casey!"


"Kau serius James," Xelino memastikan.


"Serius, nanti kau datang ke apartemenku ya? Aku mengantar Grizel. Kau siap siap saja menghadapi ketegangan semua orang, tapi aku senang tunanagan ini gagal karena Nona Carolyn tidak pantas untuk Ansel!"


"Baiklah! Sampai jumpa," kata Xelino mematikan panggilan. Carolyn tidak bertanya. Dia tahu siapa yang James cari.


Carolyn berdiri di depan gereja.


"Carolyn, kau membawa mobil? Biar kita menaiki mobilmu aja, mobilku tinggal di sini saja, kemarikan kunci mobilnya!" Pinta Xelino dan langsung menaiki mobil setelah membukanya. Dia tidak lupa menggiring Carolyn untuk masuk ke dalam mobil.


Akhirnya mereka tiba. Carolyn meneguk salivanya hendak membuka pintu utama itu. Xelino sudah merangkulnya dan merasa dia harus menjelaskan pada keluarga Carolyn tentang isi hati Carolyn yang sebenarnya. Namun, ketika Xelino yang hendak membuka pintu itu, orang dari dalam membukanya terlebih dulu.


Ternyata Ansel dan seorang wanita paruh baya yang ada di dalam sana membuka pintu. Ansel membelalakan matanya melihat Carolyn bersama Xelino. Semua yang di dalam beranjak dan mastikan siapa yang datang.


"Carolyn?" Panggil Ansel hendak memegang lengan Carolyn tapi Xelino mencegahnya. Xelino malah semakin memeluk Carolyn.


"Hey tuan! Ada apa denganmu? Ini tunanganku!" decak Ansel menatap tajam Xelino.



"Sebaiknya kau diam dan pergi dari sini sekarang juga atau aku akan memberitahu berita tentangmu yang sesungguhnya!" Bisik Xelino menghampiri samping wajah Ansel dan mengancamnya. Ansel melebarkan matanya. Apa berita tentang dirinya yang sebenarnya sudah terbuka? Tidak mungkin Erina melakukan ini, pikirnya.


"Apa maksudmu!" Ansel berdesis.


"Sudahlah, kau resapi saja, pada akhirnya sepintar pintarnya kau menutupi makanan basi maka aroma tak sedap pasti akan menguar! Minggir!" Decak Xelino mendorong sisi dada Ansel dengan tangannya agar dia dan Carolyn dapat masuk ke dalam. Carolyn memperhatikan Xelino yang penuh dengan kekuatan menjaganya. Ansel masih terpaku di sana. Dia benar benar tidak mengerti dengan perkataan Xelino tapi juga sangat takut.


"Xelino! Kau lagi! Kau yang membawa Carolyn! Kau keterlaluan, dengan maksud apa kau membawa keponakanku?!" Pekik Rietha menghampiri mereka berdua sementara Gilbert dan Jennifer malah tampak biasa saja.


"Carolyn, apa yang kau lakukan hah? Kau membuat malu!" Bentak Rietha hendak meraih lengan Carolyn tapi lagi lagi Xelino mencegahnya.


"Jangan sakiti dia nyonya, dia tidak salah, aku yang membawanya!" Kata Xelino meraih lengan Carolyn dan memeluknya. Dia menatap Rietha dengan sangat tajam.


"Kau! Apa maksudmu memeluk keponakanku, lepaskan dia!" Decak Rietha lagi hendak meraih Carolyn tetapi Xelino lagi lagi melindunginya.


"Nyonya! Mengapa kau memaksanya? Dia tidak menyukai Ansel, dia sebenarnya tidak ingin, mengapa kalian semua memaksanya? Kalian tidak tahu kan kalau Nona Carolyn hendak bunuh diri! Aku yang menyelamatkannya dan aku yang membawanya keluar dari acara ini! Dan kau nyonya Rietha yang terhormat, apa kau tidak belajar dari kesalahan sebelumnya yang terus memaksa Carolyn bekerja sehingga dia lupa akan pantangannya? Sebaiknya anda mengaca diri. Anda bukan siapa siapa Carolyn, hanya karena materi dan jabatan, hal itu tidak bisa membeli kebahagiaan! Maafkan aku Tuan Gilbert, Nyonya Jennifer, sejak kalian menyuruhku menjadi asisten Nona Carolyn, saya pun bertanggung jawab untuk membuat Nona Carolyn bahagia!" Tutur Xelino membuat semua orang melihatnya dengan kekaguman.


Apalagi Carolyn yang sudah tersenyum di dalam pelukan Xelino. Begitu juga dengan Jennifer yang tersenyum bangga pada pria yang sudah ia tetapkan akan menjadi menantunya.


...


bersambung


next part 47

__ADS_1


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕💕


__ADS_2