
Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena tinta setitik, rusak susu sebelanga: hanya karena kesalahan kecil yang nampak tiada artinya seluruh persoalan menjadi kacau dan berantakan. Ungkapan ini begitu terasa di hati seorang istri tanpa suami dan memiliki anak. Padahal rasa rasanya tidak ada yang perlu di gunjingkan, di permasalahkan bahkan di manfaatkan.
Namun, bagaimana dengan Solane dan Rico sebegai kekasihnya yang menanggapinya? Solane terlalu terkurung dalam rasa bersalahnya yang sama sekali tidak ia perbuat sehingga pada kenyataanya dia mengorbankan perasaan kekasihnya yang menerima nya apa adanya. Di tengah masalah keluarga suaminya yang juga terus meminta pertanggung jawabannya. belum lagi mertuannya yang tidak mau memaafkannya dan malah pergi meninggalkan dirinya dan cucu kandungnya. agak miris namun untuk apa Solane memikirkannya. dipikiran Solane hanya mencari nafkah untuk membesarkan anak semata wayangnya.
Sedangkan Rico, kekasihnya sudah berjuta kali dia meyakinkan wanita nya itu agar mau menikah dengannya di kota tempat kepergian suaminya. sampai tak kenal lelah Rico yang rela bolak balik kota hanya untuk seorang Solane. lalu bagaimana perjuangan Rico yang ternyata kurang tepat menempatkan dan mengrti keadaan Solane.
Dan siang itu di Legacy, Rico sudah tiba di bandara dan segera menuju ke tempat pertemuan yang dijanjikan oleh Manuel dan Reginald. Rico telah membuat keputusan bersama pengacara Bella, nyonya nya. Hotel yang di Legacy akan di alihkan menjadi milik Hotel Prime sebagai hotel cabang. Rico hendak menetap kembali di Honolulu. Rico akan mengurus Belleza Hotel yang di Honolulu saja sampai usia Anthena, anak kandung nyonya nya berusia 21 tahun. Bella masih dalam pemulihan. Dia sudah sadar namun dia hanya terus terdiam dan tidak dapat mengatakan apa apa. Sementara Anthena dapat menerima harta warisan di usia 19 tahun dan menjabat sebagai presiden direktur sekaligus pemilik Belleza Hotel di usia 21 tahun. Jadi untuk sementara Rico yang harus menangani semuanya. Jadi dia tidak bisa terus terusan bolak balik Honolulu Legacy. Jadi dia sudahi saja kerja sama dengan seluruh perusahaan di Legacy dan fokus mengurus hotel di Honolulu .
Dia juga sudah memutuskan bertekad kalau dia akan melamar Solane saat ini juga. Dia akan membawa Solane dan Jacklyn menjadi warga kewarganegaraan Honolulu. Namun, dia agak sedikit cemas kalau Solane akan menolaknya. Solane tidak pernah mau membahasa mengenai pernikahan dan kepindahannya dari Legacy ke Honolulu.
Kali ini dia tidak peduli. Dia akan menggunakan semua cara untuk membuat Solane mau menjadi istrinya dan pindah ke Honolulu. Rico menatap mentari siang ini di Legacy tidak begitu terik, sepertinya akan turun hujan dan semoga rencananya tidak berantakan atau kelabu seperti awan hari ini. Rico menghela napas dan merogoh ponselnya hendak menghubungi Solane.
"Halo!" Solane mengangkat dengan nada suara frustasi. Dia baru saja di datangi keluarga Jimmy yang katanya Jimmy pernah berhutang pada mereka namun belum membayarnya. Sementara Solane takut ini hanya tipuan. Solane mengerahkan semua cara yang tidak masuk akal namun mereka akhirnya menyerah tapi mungkin akan datang lagi!
"Kau kenapa sayang?" tanya Rico yang menangkap beda suara kekasihnya.
"Tidak apa apa!" jawab Solane masih dalam aura kesal.
"Kau yakin?"
"Ya, kau dimana?"
"Aku sudah di bandara Legacy. Siang ini akan bertemu dengan Leon, Manuel dan Reginal. Kau bisa datang ke Restoran Plaza sore ini kan?" pinta Rico.
"Ya, kau tenang saja." saut Solane melemah.
"Sayang .." panggil Rico lagi memastikan .
"Apa Rico?! Bisakah kau .. sudah, hanya menghubungi saja?! Berisik sekali terus memanggilku!" decak Solane yang perasaannya sedang tidak enak dan berselera untuk berbicara.
"Kau ini kenapa sebenarnya hah? Ada masalah? Beritahu padaku!!" bentak Rico juga ikut kesal. baru saja dia tiba tapi kekasihnya sudah merajuk seperti ini.
"Tidak ada! Sudah nanti aku datang dengan Jacklyn pukul 4 sore!!" saut Solane tetap menutup dirinya.
Panggilan dimatikan membuat Rico bingung. Dia hendak ke apartemen Solane terlebih dahulu namun Manuel sudah menghubunginya. Rico akhirnya memutuskan biarkan Solane tenang dan mungkin akan menerima lamarannya.
...
"Baiklah Rico! Jadi kerjasama kita sudah selesai. Terimakasih kau mau bekerja sama dengan kami." Kata Leon setelah saling menanda tangani berkas berkas yang berkaitan di restoran Plaza itu.
"Ya Leon! Mohon maaf jika aku tidak bisa melanjutkannya karna kondisi pemilik Hotel yang tidak memungkinkan dan mengingat hubunganmu dengan Lexa akan dipertaruhkan jika hal ini terus terjadi." balas Rico memohon lagi karna sebenarnya ini tidak benar.
"Benar Rico! Santai saja, Tuan Dion juga memakluminya." kata Leon tersenyum.
Manuel dan Reginald segera memeriksa lagi berkas apa yang harus dilengkapi oleh Rico sebagai syarat pembatalan kerja sama.
"Lalu Rico, bagaimana hubunganmu dengan Solane? Apakah Solane sudah setuju untuk menikah denganmu?" selidik Leon yang sedikit tahu dari Lexa.
"Aku baru berkata kata lewat panggilan! Kalau bertemu, dia tidak pernah serius Leon dan akhirnya menggodaku dan aku lupa membicarakannya!" Bisik Rico menceritakan kondisinya.
"Kau harus tegas dan jangan sampai kau menyesal!" Leon menyenggol bahu sahabatnya itu.
"Dia hanya masih memikirkan Jimmy yang meninggal di sana, hanya itu!" gumam Rico menundukan kepalanya sedikit cemburu.
"Kau yakin hanya itu? Pasti ada hal lain Rico, coba saja kau pastikan!" Leon sedikit curiga . Solane tidak pernah memendam mendam masalah .
"Ya, sekarang aku ingin melamarnya di sini. Aku sudah mempersiapkan semuanya." kata Rico tersenyum mendongakan kepalanya lagi.
"Dia akan datang?" selidik Leon yang tak menyangka akan menyaksikan sebuah katakan cinta.
"Ya, aku menyuruhnya datang bersama Jacklyn. Aku juga merindukan anak itu." jawab Rico.
__ADS_1
"Kau sudah sangat menyayangi anaknya? Jacklyn bukan anak kandungmu sir!" Leon mengingatkan dan penasaran apa yang dirasakan Rico pada Jacklyn.
"Apa peduliku? Satu alasanku mendekati Soalne itu karna Jacklyn, Leon! Kau bayangkan saja, gadis kecil itu tidak tahu apa apa namun dia sudah kehilangan ayahnya karna kesalahan ayahnya. Bagaimana psikologis emosinya nanti? Dan itu juga akan berpengaruh pada ibunya. Wanita yang kucintai!" decak Rico mewakili isi hatinya.
Leon pun sejena berpikir, Rico yang bukan ayah kandung Jacklyn bahkan mencintainya dan memikirkan masa depannya. Masa dirinya yang lebih dulu menikah malah tidak mau memiliki keturunan.
"Leon, kenapa kau terdiam?" Rico terheran pada Leon dan memegang pundaknya.
"Tidak apa! Jadi kapan Solane datang biar aku yang menandai saksi kalian?" Leon berusaha menguasai diri.
"Itu dia!" Rico melihat ke arah pintu utama dan di sana Solane sedang berjalan sambil menggandeng Jacklyn yang sudah berusia satu tahun dan sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit. Leon menatap wajah Rico. Wajah Rico seperti wajah seorang ayah yang tadi ia temui di basement, sangat bercahaya. Seakan akan memend rindu pada Solane dan juga anaknya. Leon ikut tersenyum. Akhirnya mantan kekasihnya mendapat pria yang tepat. Leon yakin Rico tidak akan menyakiti Solane seperti Jimmy.
Sementara Rico hendak memulai aksinya. Dia akan melamar Solane memang ketika Solane datang.
"Baiklah Leon, Manuel, Reginald, aku akan melamar Solane saat ini juga. Sambut mereka di meja makan ini dan aku akan ke podium live music itu." Kata Rico ketika sebentar lagi Solane datang mendekat.
"Semangat!!" Kata Manuel yang diikuti Reginald. Leon menyambut Jacklyn yang agak takut melihat Leon.
"Kenapa dia takut padaku Solane?" Decak Leon sebal pada Solane.
"Hem, biasanya kalau Jacklyn agak takut bearti orang itu sedang menyembunyikan banyak permasalahan dan tekanan yang tak ada gunanya!!" Jawab Solane yang sebenarnya sedang menyindir Leon. Lexa sudah menceritakan semuanya pada sahabatnya itu.
"Aku akan membuatnya, sudah kau diam saja!" dengus Solane.
"Kau kebiasaan Leon, kau selalu berkata kata dengan mudah tapi sulit sekali melakukannya!" decak Solane cukup sebal dengan tingkah Leon.
"Sepertinya kalian sudah sangat akrab sekali ya? Nanti aku akan melarang Lexa dekat denganmu!!" ancam Leon.
"Kekanak kanakan!" Solane berdecih.
"Sebaiknya kau diam di sini dan dengarkan apa yang akan kekasihmu katakan!!" Leon memperingati.
"Melamarmu Nona Solane!" Manuel menjawab polos.
Reginald menyenggol bahu Manuel dan Manuel menutup mulutnya.
"Ah, sudah gila! Benar dia mau melamar ku Leon?" selidik Solane dengan matanya yang melebar.
"Ya, diamlah, dia sudah bekerja keras. Kau harus menghargainya Solane!" jawab Leon yang ternyata respon Solane tidak sesuai dengan harapannya. Solane tampak tak suka.
"Ah tidak Leon, ini tidak benar! Dia sangat salah melakukan ini, hal ini akan diketahui semua orang. Dia sungguh keras kepala!" Kata Solane dipenuhi dengan emosi. Dia lantas berdiri.
"Tapi Solane, dengarkan dulu Rico!" Leon mencoba menahan dengan juga berdiri.
"Tidak mau! Aku akan kembali pulang!" Solane menggendong Jacklyn dan berbalik ke arah luar.
Rico baru saja hendak berkata kata tapi sudah melihat Solane keluar dari ruangan membuatnya sedikit bingung. Dia lalu menuruni podium dan menghampiri meja Leon terlebih dahulu.
"Kau kejar saja sekarang, tanyakan ada apa dengannya, sana!" Leon langsung mengarahkan Rico untuk segera menyusul Solane. Rico pun mengejar Solane.
Namun ketika Rico sampai keluar, Solane sudah menaiki taxi yang sudah ia berhentikan.
"Sial! Ada apa dengannya?!" Umpat Rico kesal. Dia segera berlari ke basement untuk mengambil mobilnya.
Rico mengemudi sambil menghubungi Solane namun dia tidak mengangkatnya membuat Rico Makin bingung saja. Rico pun sampai di basement apartemen Solane. Dia segera menuju ke apartemen Solane. Namun ketika tiba dan terus mengetuk pintu, tampaknya Solane tidak ada di rumah.
"Wanita sial! Mengapa dia tidak mengangkat panggilan ku dan pergi entah kemana.?! Ada apa dengannya sih?!" Rico terus mengumpat dan akhirnya dia memutuskan menunggu di depan pintu kamar apartemen itu.
Sekitar 2 jam Rico menunggu sampai tertidur. Dia bersandar di depan pintu sambil melipat kakinya. Solane pun akhirnya tiba dengan menggendong Jacklyn. Solane terkejut melihat di sana Rico duduk bersandar di depan pintu.
"Hem, aku minta maaf Rico, aku belum siap!" Gumam Solane. Dia lalu mengendap endap dengan pelan dan perlahan membuka pintu kamar apartemennya agar Rico tidak mendengar. Dia bisa membukanya sedikit lalu masuk tanpa dikertahui Rico. Namun, baru saja Solane memutar kuncinya, Rico menahan pergelangan kaki Solane.
__ADS_1
"Kau mau menghindar terus dariku, iya?" Tanya Rico lalu beranjak dari duduknya beralaskan lantai itu.
"Tidak!" Solane masih berdalih sedikit menunduk.
"Kenapa kau pergi tadi?" Tanya Rico menghimpit Solane.
"Aku tidak suka kau melakukannya di kerumunan orang banyak itu!" jawab Solane masih menundukan kepalanya.
"Mengapa kau tidak mengatakan pada ku?! Kau ini kekanak kanakan sekali! Kau seharusnya mau kunikahi Solane, bukannya malah seperti ini, kau mau terus diusik orang karna kau tidak punya suami dan mengurusi satu anak hah?!" Bentak Rico yang sepertinya malah menyinggung Solane.
"Apa maksudmu?" Selidik Solane mengernyitkan dahinya.
"Seharusnya kau malu menjadi janda beranak satu dan seharusnya kau senang ada pria yang datang dan menikahimu. Itu sebuah keberuntungan bagimu dan bagi anakmu Solane!" tambah Rico lagi dan Solane sudah merasa sangat terhina. sejatinya Rico hanya mau mengingatkan Solane agar tersadar dan meminta dirinya namun Rico juga sudah sangat sebal dengan tingkah kekasihnya ini. seperti mencintainya namun tidak mau meninggalkan masa lalu.
Cuih!
Solane meludahi Rico karna dia tidak bisa menampar Rico karna ucapan pria itu yang sungguh menghinanya. Seperti merasa direndahkan karna dirinya seorang janda.
"Kita putus! Pergi sana!" Kata Solane lalu memasuki kamar apartemennya. Rico menghapus air liur Solane dan ikut memasuki kamar apartemennya. dia menutup pintunya dan menguncinya. Namun, ketika Solane sudah meletakan Jacklyn di atas tempat tidur, dia mendorong Rico untuk keluar dari ruangannya.
"Pergi, aku benci padamu! Pergi!" Dia terus mendorong Rico yang tetap berdiri memegang tangan wanitanya itu. Ya, mungkin Rico agak keterlaluan mengatakannya namun begini, Rico ingin memancing tingkat kesadaran Solane.
"Kau pergi dari sini dan jangan bertemu lagi denganku! PERGI!!!" Bentak Solane benar benar geram dan kesal.
Namun, Rico malah meraih bibirnya dan terus memaksa lidahnya menerobos bibir Solane yang tak terelakan olehnya.
saat itu juga, entah bagaimana pikiran Rico, dia malah bersetubuh dengan kekasihnya itu. Solane mengikuti nya dengan rasa rindu tetapi juga dalam tangis karna perkataan Rico yang belum bisa diterima nalarnya.
"Kau akan menjadi milikku, Solane!" gumam Rico di tengah tengah pergumulan cinta mereka.
...
...
...
...
...
sek tak jeda dulu Uda kebanyakan hari ini haha 😁😁
.
next part 45
campur campur lah y yang penting alur nyambung mengalir lurus..
Solane, apalagi yang kau ragukan dari Rico?
ayoo move on, kuramal punya anak tengil 😂😂
.
jangan lupa lupa lupa LIKE dan KOMEN i need .. kalo ga keberatan juga kasih RATE bintang bintang di langit lima biji ✨✨✨✨✨ terus kasih VOTE Deh 😍😍
.
okedeh maaci ya dah mo baca
i lop you pull 💕💕
__ADS_1