Assistant Love Assistant

Assistant Love Assistant
ALA2 - Part 63. Final Destiny


__ADS_3

Kita tidak bisa menentukan kan menjadi apa akan bersama siapa dan akan berbuat apa. Pada akhirnya semua pasti akan kembali pada tanah pada semulanya. kita manusia hanya bisa berencana selanjutnya yang menentukan takdir hanya yang di atas. tujuan akhir yang sesungguhnya memang berasal dari hati kecil kita. proses bisa menunjukan tapi hasil akhirnya kita yang menentukan dan yang pasti dengan restu yang kuasa. Xelino dan Carolyn pada akhirnya terus meyakinkan diri kalau merekalah tujuan akhir cintanya. mencoba untuk setia dan melupakan masa lalu. mencoba terus saling mengasihi dan menanti masa depan.



terimakasih sudah mengikuti perjalanan cinta Lexa Leon, Jerry Angel, Solane Rico dan terakhir Xelino Carolyn yang ada pada novel ini. satu episode lagi di bab tamat ya. di sini sudah bab FINAL DESTINY 1 bab sebelum tamat ...


...


Kondisi kediaman keluarga Prime sedang tidak baik. Zefanya dan Ezekhiel belum kembali atau memberi kabar. Mereka pulang lebih dulu sama seperti Xelino dan Carolyn. Xelino dan Carolyn masih di dalam mobil dan mendapatkan kabar dari Lexa. Ketika Xelino dan Carolyn tiba, mereka baru saja mendengar kabar kalau Ezekhiel mendapatkan kecelakaan.


"Carolyn, sepertinya kita tidak bisa ke dalam. Keluarga Prime sedang mendapat musibah. Sebaiknya kita ke tempat lain saja dulu, bagaimana?" kata Xelino sebelum mereka turun dari mobil.


"Apa tidak apa jika kita tidak menghampirinya lebih dulu Xelino? Dan mungkin aku bisa meminta maaf pada Zhavia?" saut Carolyn menoleh ke arah Xelino.


"Nanti saja, Zhavia sedang ke tempat lokasi Zefanya berada bersama ayah dan ibunya. Mami dan papi menemani Tuan Dior dan Nona Gracia. Lebih baik kita pergi saja dulu dari sini. Besok pagi baru kita mendatangi mereka semua," kata Xelino lagi menjelaskan.


"Aku masih tidak enak, Xelino," balas Carolyn menundukan kepalanya.


"Tidak apa apa, tenang saja, mereka keluargaku, juga keluargamu," kata Xelino meraih tangan Carolyn dan memegangnya dengan lembut.


Seketika hati Carolyn berdesir. Xelino sangat menghargainya. Apalagi melihat senyum tipis dari pria yang sangat ia cintai itu. Belum pernah Carolyn merasa dianggap seperti ini. Sementara sewaktu bersama Aciel dulu sebenarnya ibunya Aciel kurang menyukainya. Bukan hanya itu, Gilbert juga tidak suka pada Aciel karena perlakuan ibunya Aciel yang waktu itu memarahi Carolyn. Carolyn datang ke kantor Aciel dan membawakan kejutan ulang tahun. Kebetulan Gilbert sedang melakukan penyuntingan bahan bahan baku pertaniannya yang di kirim melalui perusahaan pengiriman ekspor impor Aciel.


Ibu Aciel merasa Carolyn sangat tidak pantas mendatangi kantor dengan membawa kue untuk Aciel. Dia memarahi Carolyn dan Gilbert melihatnya. Sejak itu Gilbert tidak mau Carolyn bersama Aciel. Namun, Carolyn tetap berhubungan dengan Aciel. Gilbert tidak bisa berbuat apa apa demi kebahagiaan Carolyn.


Seketika Xelino menangkap wajah Carolyn yang cukup terharu tapi juga bersedih. Mengapa takdir mempertemukan dirinya dengan Xelino selama dan serumit ini?


"Carolyn, what's wrong?" selidik Xelino memegang tangan Carolyn.


Carolyn yang tadinya menunduk tersadar.


"Ah iya Xelino, maaf, maafkan aku, aku hanya terharu," jawab Carolyn mengusap matanya.


"Terharu kenapa?" tanya Xelino lagi agak khawatir.


"Kau sangat menghargaiku, terimakasih," jawab Carolyn tersenyum tipis.


"Menghargai? Oh God! Carolyn harus berapa kali lagi aku mengatakan kalau aku mencintaimu? Tentu aku akan menghargaimu," saut Xelino kini memegang pundak Carolyn.


"Ya benar, aku hanya takut kalau keluargamu tidak mau menerimaku ketika kau tidak mau kita ke dalam," tutur Carolyn menerka.


"Oh, bukan seperti itu Carolyn, bukan, dengarkan aku, mereka sedang berduka, mereka butuh waktu, bukan berarti mereka tidak menerimamu. Aku janji, besok sebelum kita pulang kita akan bertemu mereka sekalian ijin dan mengetahui kabar terbaru, oke?" jawab Xelino lagi mengartikan maksudnya.


"Maaf dengan prasangka ku Xelino, aku senang kalau kau membawaku pada keluargamu," kata Carolyn menatap sendu.


"Hem, Carolyn tenanglah, mami dan papiku sangat menyukaimu, kau tenang saja ya? Allegra juga sangat menyukaimu. Grandmaku, Kak Jessie, Paman Jerry, Bibi Angel. Mereka menyukaimu, kau tenang saja ya?"


Carolyn mengangguk dan tersenyum. Xelino pun memeluknya. Setelah itu Xelino mengajak Carolyn berjalan jalan melihat suasana malam pusat ibu kota Legacy. Xelino mengajaknya ke alun alun kota dan membelikan permen kapas untuk Carolyn.


"Permen kapas ini mirip sekali denganmu, Olyn," kata Xelino seketika memperhatikan bentuk bulat permen kapas itu.


"Kau bercanda, mirip Bagaimana?" Carolyn terkekeh tapi tetap memperhatikan permen kapas warna warni ini.


"Manis! Permen kapas ini begitu manis seperti wajahmu," jawab Xelino menoleh ke arah Carolyn dan menatapnya dengan mesra.


Carolyn menarik senyumnya sedikit demi sedikit dan akhirnya sangat lebar. Dia menatap Xelino.


"Kau selalu memujiku, Xelino," saut Carolyn tersipu malu.

__ADS_1


"Selalu, karena aku ingin membuat senyum ini terus tertarik ketika kau bersamaku," saut Xelino menyentuh pinggir bibir Carolyn.


Deg! Deg! Deg!


Entah mengapa ketika mereka berpandangan, Carolyn merasakan degup jantung ini. Carolyn pun meraih tangan Xelino untuk ia genggam.


"Malam ini kita harus tidur bersama Xelino, aku tidak mau sendirian," pinta Carolyn . Xelino mengangguk tersenyum dan kembali menarik Carolyn masuk ke dalam pelukannya.


...


Xelino sudah siap di sofa menunggu Carolyn menyiapkan sesuatu di pagi itu. Mereka hendak ke kediaman keluarga Prime. Xelino sudah berjanji dan tidak boleh mengingkarinya. Dia memang harus menumbuhkan rasa percaya pada Carolyn agar Carolyn yakin dengan dirinya. Mereka memang belum menjadi kekasih tapi Xelino sudah sangat memiliki Carolyn.


"Tadaaa ... Lihat apa yang kubuat untukmu, Xelino!" Kata Carolyn tak lama Xelino memeriksa ponselnya di sofa. Xelino sama sekali tidak tahu kalau Carolyn setelah membersihkan diri dia berkutat di dapur.


Carolyn menyajikan roti lapis berisi irisan ayam dengan mayonaise juga saus lada hitam.


"Apa ini, Carolyn?" Tanya Xelino menghampiri roti lapis itu. Tampaknya sangat menggeliurkan.


"Roti lapis dengan irisan ayam mayonaise dan saus lada hitam, cobalah, aku sudah berusaha," kata Carolyn tersenyum bangga.


"Pantas saja kau membeli ayam kemarin," saut Xelino.


"Benar," Carolyn mengangguk pasti.


Xelino pun meraih satu potongan roti lapis tersebut. Dia memakannya lalu mencoba merasakan bagaimana rasanya. Awalnya dia mengunyah perlahan tapi lama kelamaan dia mengernyitkan dahinya lalu tersenyum tipis.


"Hem, kenapa Xelino? Apa keasinan atau terlalu pedas?" selidik Carolyn harap harap cemas.


"Seberapa banyak kau menggunakan saus lada hitamnya Carolyn?" tanya Xelino dan tetap kembali menggigit roti itu.


"Setengah toples kecil," jawab Carolyn menggaruk pelipisnya.


"Kenapa?"


"Rasanya terlalu menyengat, sayang ..." Jawab Xelino apa adanya tapi tetap dengan nada pelan agar Carolyn tidak tersinggung.


"Iya kah?" Tanya Carolyn memastikan dan mengambil roti lapis satu potong lagi dengan wajahnya yang mengkerut. Carolyn duduk di samping Xelino. Dia pun mulai mencicipinya.


"Eemmm, benar! Mengapa agak pedas sekali Xelino?" Carolyn malah terbingung.


"Hahaha, tidak apa apa Carolyn, aku akan tetap memakannya. Kau sudah berusaha, aku bangga padamu!" puji Xelino masih melahap roti itu.


"Hem, maafkan aku Xelino, aku akan belajar lebih baik lagi," saut Carolyn merengutkan wajahnya.


"Hem, rupanya kau sedang berlatih menjadi istriku nanti ya?" goda Xelino.


Carolyn tidak menjawab. Dia hanya menunduk masih meratapi roti lapisnya. Xelino tersenyum dan merangkul wanita pujaan hatinya itu mendekat padanya.


"Carolyn, aku tetap memakannya. Lain kali kita membuatnya bersama, bagaimana? Jangan cemberut begitu, kau tambah cantik sehingga aku ingin memakanmu," bisik Xelino memberikan kecupan kecil pada pipi Carolyn.


"Hem, katamu tunggu resmi! Kekasih saja belum!" dengus Carolyn.


"Tersenyumlah, aku ingin kau tersenyum," pinta Xelino kemudian menatap lekat lekat Carolyn. Caroly menarik napas dan akhirnya tersenyum. Xelino juga ikut tersenyum.


"Sekarang habiskan dan segera ke kediaman keluarga Prime. Mereka sedang berduka. Kita harus berbela sungkawa," kata Xelino lagi.


"Berduka? Jadi Tuan Ezekhiel benar tiada?"

__ADS_1


"Sepertinya. Arus sungai begitu besar Carolyn,"


"Oh no! Siapa pasangannya? Saudara kembar wanita bar bar mu! "


"Carolyn ..."


"UPS, maksudku saudara kembar mantanmu,"


"Hemm ...."


"Ya ya, Zhavia! Ahhh aku tidak suka kau terlu membelanya, aku tidak suka!


"Kau harus bertindak sopan dan lemah lembut maka aku tidak akan membelanya lagi," bisik Xelino lagi merangkul Carolyn.


"Promise?"


Xelino mengangguk. Carolyn tersenyum. Sepertinya dia memang harus menerima Xelino menjadi kekasihnya. Tidak ada yang tahu kalau nantinya Xelino masih memiliki hati untuk Zhavia.


Setelah menghabiskan roti itu, mereka pun segera ke rumah Dion dan Viena. Karena suasananya berduka, Xelino dan Carolyn hanya membungkukan tubuhnya. Xelino tidak memperkenalkan Carolyn. Carolyn juga maklum ketika melihat Zhavia dan Gracia hanya terus merangkul Zefanya yang wajahnya sudah sangat datar dan membengkak.


Carolyn berdiri dekat Lexa dan Claudia karena hanya mereka berdua yang ia kenal. Egnor ikut membantu Leon dan Dion mencari keberadaan Ezekhiel karena pihak keluarga mereka menutup diri (kisah selengkapnya tentang Ezekhiel dan Zefanya ada di Novelku yang Mantan Terindah ya).


Carolyn tampak melipat kedua tangannya dan mengelusnya perlahan. Claudia merasakan empati yang keluar dari diri Carolyn tapi juga ada perasaan takut dan trauma.


"Carolyn, you okay?" selidik Claudia.


"Ah iya nyonya Jovanca," jawab Carolyn tersenyum tipis.


"Ada apa denganmu, nak?" Tanya Lexa yang merasa tubuh Carolyn sedikit bergidik.


Carolyn menggeleng.


"Semua tanganmu dingin sayang, kau baik baik saja? Apa kau sedang tidak enak badan?" tanya Lexa lagi cukup panik.


"Aku, aku tahu bagaimana perasaan Nona Zefanya. Dia pasti sangat merasa bersalah. Dia kasihan sekali. Dia pasti merasa kalau kekasihnya masih hidup. Hidup ini memang tidak adil. Di kala sepasang kekasih saling mencintai malah dihadapkan pada sebuah perpisahan," jawab Carolyn dengan tatapan datar dan rasa bersalam yang dalam.


"Ehem, Carolyn, apa kau memiliki masa lalu sama seperti yang dialami Zefanya sekarang?" tanya claudia memicingkan matanya.


Carolyn diam dan hanya menunduk, sementara Lexa mengedipkan mata ke Claudia untuk tidak membahas lagi. Lexa merasa kalau Carolyn pernah merasakan hal ini.


"Carolyn, percayalah takdir yang menentukan yang di atas. Aku juga tahu bagaimana perasaan Zefanya. Aku juga pernah mengalami hal ini bahkan aku mengira jasad itu adalah suamiku di saat aku sedang mengandung. Begini, kita semua memiliki masalah masing masing. Kau sebaiknya tenang saja tidak usah terlalu memikirkan Zefanya. Lihatlah lurus ke arah sana. Di samping suamiku dan anak tertuaku. Pria itu. Pria itu sekarang adalah tujuan dan takdirmu. Aku merestuimu menjadi pasangan pria itu, kau menyetujuinya kan?" Kata Claudia mengarahkan tubuh Carolyn untuk melihat Xelino yang saat ini juga memandangnya. Xelino tersenyum dan seketika itu juga hati Carolyn menjadi teduh dan tenang. Dia semakin bisa melupakan Aciel dan percaya kalau hanya Xelino yang menjadi destinasi nya yang terakhir.


Sementara Xelino sedang bercakap cakap dengan Egnor, Leon dan Wilson. Egnor memuji sepak terjang Xelino di perusahaan Gilbert. Ternyata Egnor sangat mengenal Gilbert. Perusahaan Gilbert di Oriental menggunakan jasa pengacara Egnor dan Willy. Leon juga mengatakan pada anaknya kalau dia sudah mengurus tanah yang diminta oleh Xelino waktu itu.


"Kau sudah memilikinya, son! Aku sudah membelinya atas namamu," kata Leon memberitahu.


"Benarkah pap? Terimakasih pap aku akan mulai pembangunannya," saut Xelino.


"Apa yang hendak kau buat? Apa itu untuk Carolyn?" selidik Leon.


"Ya, aku ingin membuat rumah impian untuknya lalu beberapa tanaman bunga tulip dan mawar berwarna kuning, ungu dan merah, dia sangat menyukainya. Dan saat itu dia tidak bisa lepas dari genggamanku. dialah tujuan akhirku, pap! aku akan menjadikannya teman hidupku sekarang dan selamanya!" jawab Xelino dengan antusias dan menatap Carolyn dengan penuh kehangatan cinta.


...


okesip 1 episode lagi ya aku menamatkan cerita ini 😁


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊

__ADS_1


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2