
Sepulangnya dari rumah sakit, Sean langsung menemui ibunya yang sedang sibuk diruang kerjanya.
“Ada yang ingin aku katakan padamu,” kata Sean, masih berdiri menatap ibunya yang sama sekali tidak menoleh padanya.
“Katakan saja,” jawab Ny.Grace.
“Aku sudah menempuh jalur hukum atas kecurangannya Pak Tedi,” kata Sean, membuat Ny.Grace menatapnya.
“Dia sudah melakukan kecurangan dengan Dokter dirumah sakit untuk memalsukan tesnya Lorena. Sekarang kau tahu kan kebusukannya?” kata Sean, membuat Ny. Grace terkejut.
“Dia sakit hati karena aku mengeluarkannya dari tim pengacara keluarga kita,” lanjut Sean.
“Apa maksudmu dengan surat palsu itu?” tanya Ny.Grace, masih menatap Sean.
“Jadi sebenarnya Lorena baik-baik saja. Jadi ibu tidak perlu lagi membahas pernikahanku dengan Nisa atau wanita lain,” jawab Sean.
Ny.Grace masih terbengong tidak percaya mendengar kata-kata itu.
“Juga jangan selalu menyudutkan Lorena karena belum hamil, biarkan kami menjalani pernikahan kami dengan normal,” piñta Sean.
“Jadi, jadi pria itu sudah memalsukan hasil tes? Benar-benar keterlaluan!” umpat Ny.Grace dengan kesal, dia menjadi merasa bersalah sudah berusaha memisahkan Sean dengan Lorena.
Sean tidak bicara lagi pada ibunya, dia langsung keluar dari ruangan itu.
Ny. Grace langsung menelpon Pak Deni yang belum pulang ke rumah.
“Aku ingin pria itu dipenjara! Berani-beraninya dia bermain-main denganku!” teriaknya dengan kesal.
Setelah berbicara dengan Pak Deni, Ny.Grace menuju kamar putranya lalu mengetuk pintunya.
Mendengar suara ketukan dipintu, Lorena membuka pintu kamarnya, dia terkejut melihat ibu mertuanya sudah berdiri disana.
Ny.Grace menatap menantunya itu.
“Sean sudah menceritakan semuanya. Aku minta maaf sudah mempercayai hasil tes itu, dan merencakan pernikahan Sean dengan Nisa,” kata Ny.Grace.
Lorena menatap ibu mertuanya.
“Tidak apa-apa Bu. Semua sudah berlalu,” jawab Lorena.
“Meskipun begitu, aku tetap berharap kau bisa memberikan keturunan buat Sean. Kau tidak perlu melakukan apapun, focuslah dengan program kehamilanmu,” pinta Ny.Grace.
Lorenapun terdiam. Dia bisa mengerti besar harapan Ny.Grace untuk memiliki cucu.
“Aku sudah mulai ikut program kehamilan,” jawab Lorena.
“Ya baguslah,” kata Ny.Grace.
“Apa yang ibu lakuan disini?“ tiba-tiba ada suara Sean dibelakang Ny.Grace. Ibunya itu langsung menoleh pada Sean.
“Ibu hanya minta maaf pada istrimu atas kesalah fahaman ini,” kata Ny.Grace.
Sean pun terdiam mendengar jawaban ibunya.
“Baiklah, aku pergi dulu,” kata Ny.Grace, sambil beranjak, kemudian Sean memanggilnya.
“Bu!” panggil Sean, membuat Ny.Grace menghentikan langkahnya, kembali menatap Sean.
“Aku sudah meminta Pak Deni untuk membuat resepsi pernikahanku dengan Lorena,” kata Sean.
Ny.Grace terdiam sesaat.
“Baiklah, kau lakukan saja,” jawab Ny.Grace, tanpa bicara lagi meninggalkan depan kamarnya Sean.
Sean menoleh pada Lorena yang juga menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Dia bahagia bisa melihat senyum istrinya lagi.
“Ayo kita istirahat, kau pasti lelah banyak sekali tes di rumah sakit,” kata Sean, mengajak istrinya masuk sambil menutup pintu kamarnya.
************
Beberapa bulan kemudian…
__ADS_1
Tampak beberapa orang berdatangan kerumahnya Sean. Pak Deni sudah menyambutnya didepan pintu dan mengajak mereka menuju ruang kerjanya Ny.Grace.
Sean baru selesai mandi dan sedang berpakaian, di lihatnya istrinya itu hanya berbaring saja belum bangun.
“Kau kenapa? Apa kau sakit?” tanya Sean sambil memakai bajunya.
“Tidak, aku hanya merasa malas saja,” jawab Lorena.
Terdengar suara handphone berdering dimeja kecil disamping tempat tidur. Lorena menggapai-gapai tangannya mengambil handphone itu lalu mengagkatnya sambil duduk ditempat tidur.
“Ya Halo!” sapanya.
Dia terdiam sejenak lalu menoleh pada Sean.
“Apa?” tanya Sean.
“Tawaran ke Perancis lagi,” jawab Lorena.
Sean tidak menjawab, malah menatapnya.
Lorena kembali bicara dengan si penelpon.
“Maaf, untuk saat ini aku sedang sibuk urusan lain. Maaf aku tidak bisa menerima tawaranmu,”ucap Lorena.
Sean menyelesaikan berpakaian dan menyisir rambutnya. Dia kembali menoleh pada Lorena yang menutup telponnya sambil menunduk.
Sean segera menghampirinya lalu duduk didekat Lorena.
“Kau menolak tawaran itu?” tanya Sean.
Lorena menatap suaminya lalu mengangguk.
“Kalau kau ingin tampil disana, aku tidak apa-apa, meskipun berat,” kata Sean.
Lorena menggeleng sambil tersenyum.
“Tidak, aku lebih menyukai menemanimu disini,”jawab Lorena.
Sean menatap istrinya.
“Iya, aku serius. Aku tidak mau jauh darimu,” jawab Lorena, kembali mengangguk.
Sean tersenyum mendengarnya. Dia bisa mengerti ini adalah pilihan yang sulit, karena dia tahu Lorena sangat menyukai music tapi istrinya mengorbankan kesempatan besar itu demi dirinya.
Seanpun mendekatkan wajahnya akan mencium Lorena tapi tiba-tiba Lorena mundur dan menutup hidungnya.
“Kenapa kau bau sekali?” tanya Lorena, terus bergerak mundur, membuat Sean terkejut.
“Bau? Apa aku bau? Aku sudah mandi,” kata Sean.
“Tidak, kau sangat bau,” sanggah Lorena, menggeleng gelengkan kepalanya.
“Sebaiknya kau mandi lagi!” seru Lorena.
“Apa benar bau?” tanya Sean kebingungan, sambil menarik bajunya dan menciumnya, bajunya sudah dicuci seperti baisa, tidak mungkin kepala pelayan sembrono membiarkan bajunya abu apek.
“Harum sayang,” kata Sean.
“Tidak, kau bau, cepatlah mandi lagi! Nanti malu kalau kau bertemu orang-orang, dan ganti bajumu,” ucap Lorena, masih menutu hidungnya.
Meskipun Sean kebingungan, tapi dia menurut, diapun kembali melepas bajunya dan pergi ke kamar mandi. Barulah Lorena menurunkan tangannya. Dia heran kenapa suaminya sebau itu?
Lorena turun dari tempat tidur dan membereskan temat tidur itu juga merapihkan selimutnya, setelah itu berjalan menuju jendela, menatap kearah luar. Dia melihat banyak mobil terparkir diluar, sepertinya memang ada tamu, mungkin tamu itu menemui mertuanya.
Didengarnya Sean keluar dari kamar mandi. Lorena segera menghampirinya, Menatap suaminya yang bertelanjang dada. Tiba-tiba dia mencium bau lagi.
“Apa kau mandi tidak pakai sabun?” keluh Lorena kembali mundur sambil menutup hidungnya.
Sean menatap istrinya.
“Tentu saja aku pakai sabun,” jawab Sean.
__ADS_1
“Sabunnya pasti kadaluarsa, kau masih bau, pakai sabunku saja!” kata Lorena.
Tangannya mendorong bahunya Sean supaya kembali ke kamar mandi.
“Sayang aku pakai sabun yang biasa aku pakai,” ucap Sean, kebingungan.
“Ah tidak, tidak, kau masih bau, aku tidak mau dekat-dekat denganmu, ayo mandi lagi! Pakai sabunku saja!” kata Lorena, terus mendorong punggung suaminya.
Meskipun Sean kesal dengan ulah istrinya, akhirnya dia kembali masuk ke kamar mandi. Dia mengambil botol sabunnya dan diciumnya harum seperti biasanya, lalu diambilnya botol sabun milik istrinya juga diciumnya, masa dia pakai sabun wanita? Tapi kalau dia tidak ganti sabun, istrinya pasti komplen lagi menyuruhnya mandi. Ya sudahlah akhirnya Sean menggunakan sabun punyanya Lorena. Ini adalah yang ketiga kalinya dia mandi.
Keluar dari kamar mandi, istrinya tidak ada dikamar, entah sedang kemana. Seanpun segera berpakaian rapih, dia ada janji pertemuan diruang kerja ibunya.
Setelah rapih diapun keluar kamar, dilihatnya istrinya itu sedang berdiri di dekat tangga menatap kebawah.
“Ada apa?” tanya Sean.
“Siapa orang-orang itu?” tanya Lorena.
“Mereka tim pengacara keluargaku,” jawab Sean.
“Ada apa mereka kemari? Sepertinya ada orang asing juga,” kata Lorena.
“Iya, mereka akan membacakan aset-aset peninggalan kekekku yang akan aku terima tahun depan. Ini tahun ke 29. Setiap tahun aku mendapatkan warisan dari kakekku,” jawab Sean.
Lorena menatap suaminya.
“Tahun ke-29? Berarti kau ulang tahun? Kenapa aku lupa?” tanya Lorena.
“Kau lupa sebentar lagi aku ulang tahun yang ke 29,” jawab Sean.
“Maaf aku lupa ulang tahunmu, tapi belum terlambatkan?” kata Lorena.
“Tidak apa-apa yang penting kau siapkan kado untukku saja,” jawab Sean sambil tersenyum.
“Tentu saja tapi kado apa ya?” gumam Lorena.
Pembicaraan mereka terhenti karena Pak Deni muncul dari pintu yang lain sepertinya sudah dari ruang kerjanya Sean.
“Pak, sudah ditunggu diruang kerja Nyonya. Semua tamu sudah tiba,” kata Pak Deni.
“Baiklah,” jawab Sean, lalu menoleh pada Lorena, berjalan beberapa langkah mendekati Lorena dan akan menciumnya, lagi-lagi Lorena mundur dan memegang hidungnya.
“Apa kau tidak mendengar perkataanku tadi? Sabunmu kadaluarsa, pakai sabunku saja,” gerutu Lorena, memberengut sebal pada suaminya.
“Aku sudah mandi pakai sabunmu!” kata Sean dengan kesal. Sudah tiga kali mandi dia pagi ini, masa harus mandi lagi?
“Benarkah? Sepertinya sabunku juga sudah kadaluarsa!” jawab Lorena lalu menoleh pada Pak Deni.
“Pak Deni minta tolong kepala pelayan untuk mengganti sabun-sabunku, semua sabun sabun itu sangat bau,” ucap Lorena.
“Benarkah?” tanya Pa Deni, sambil berjalan mendekat dan mencium kearah Sean.
“Apa sebau itu? Bagaimana kalau tamu-tamu menciumnya?” tanya Sean, sambil menarik bajunya dan menciumnya lagi.
Pak Deni mengendus-endus ke tubuhnya Sean.
“Tidak masalah Pak, harum,” kata Pak Deni.
“Ah tidak, tidak, sabun itu sangat bau. Tolong pada kepala pelayan untuk membelikan bermacan-macam sabun baru, aku mau mengganti sabun di kamar mandi,” ucap Lorena lalu meninggalkan Sean dan Pak Deni yang keheranan.
Pak Deni menoleh pada Sean.
“Kau ditunggu diruang kerjanya Nonya,” kata Pak Deni mengingatkan.
“Aku tidak bau kan?” tanya Sean.
“Tidak,” jawab Pak Deni.
“Istriku ada ada saja,” keluh Sean. Merekapun segera menuruni tangga menuju ruang kerjanya Ny. Grace.
*************
__ADS_1