Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-74 Jantung Hati dan Jantung Pisang


__ADS_3

MC Kembali bertaya pada Sam.


“Bagaimana Pak Sam? Apa kau bersedia menikah dengan Sdri. Indri?” tanya MC 1. Semua mata menatap Sam.


Pria itu menoleh pada Indri, sebenarnya Indri cantik tapi itu ya ampuun centilnya dan agresifnya kadang berlebihan, membuat Sam pusing memikirkannya. Akhirnya Sam pun menjawab.


“Baiklah, aku tetap bertanggung jawab terhadap kontes ini, aku akan menikah dengan pemenang kontes,” ucap Sam.


Terdengar tepuk tangan yang sangat meriah di dalam gedung itu, semua mengucap selamat pada Presdir Samuel dan pemenang kontes, Indri Wulandari.


“Selamat ya,” ucap Lorena pada Indri yang tesenyum senang, diapun dipanggil ke depan bersama 2 peserta lain, Evi dan Nisa, tapi mereka bingung saat juara 3 tidak ada di atas panggung.


“Juara 3! Juara 3! Kemana juara 3?” tanya MC 3.


Semua mata mencari-cari Nisa, ternyata Nisa sudah kabur tanpa ada yang memperhatikannya gara-gara focus pada Sam.


Panitia memberikan piala berbentuk sepasang pengantin, bertuliskan juara 1 dan 2 Kontes menjadi Istri Presdir juga  sebuah gabus yang sudah ditempel tulisan sejumlah uang yang sangat besar diberikan  pada Sam, Presdir acara kontes ini, untuk kemudian diberikan pada pemenang.


Sam memberikan piala dan gabus itu pada Evi, kemudan pada Indri, gadis itu langsung menatap Sam dengan senyum genitnya.


“Presdir Sam,” ucap Indri, tersipu malu.


Sam hanya tersenyum saja, dalam hati dia bertanya-tanya kenapa Indri yang menang? Benar-benar diluar dugaannya. Tahu dia yang akan menikah dengan peserta, sedari awal dia ngecengin peserta memilih buat jadi calon pemenang, yang diurusin Lorena terus, eh yang menang Indri.


Tiba-tiba terdengar celetukan dari seorang wartawan.


“Pak Sam menikahnya kapan?” tanya wartawan.


“Nanti kita lihat situasi dan kondisi dulu,” jawab Sam.


“Secepatnya Pak Sam!” terdengar teriakan diantara penonton.


“Ya secepatnya,” jawab Sam, tidak ada lagi yang bisa dikatakannya lagi.


Terdengar suara MC mengumumkan acara hiburan artis-artis ibukota lagi. Yang ada di panggungpun turun semua.


Para peserta menyalami Indri, sedangkan para tamu menyalami Sam, yang berhasil mendapatkan jodohnya diacara ini.


Sam mendekati Sean, menarik tanganya ke lokasi yang sepi di ruangan itu.


“Ada apa?” tanya Sean.


“Apa katamu tadi soal aku Presdir? Kenapa jadi aku yang menikah dengan Indri? Kau juga tidak bicara dulu padaku soal scenario ini? Aku fikir Lorena yang menang,” tanya Sam, menatap Sean.


“Aku tidak mungkin memenangkan Lorena, karena Nisa pasti akan membuatnya menikah denganmu,” kata Sean.


“Tapi sekarang jadi aku yang menikah dengan Indri?” keluh Sam.


“Tidak apa-apa kan? Indri cantik, kau juga tidak punya calon,” ucap Sean.


“Tapi dia sangat centil dan agresif,” keluh Sam, sambil menoleh kearah Indri,  begitupun Sean, eh benar saja, Indri langsung melambaikan tangannya, sambil matanya berkedip-kedip menggoda.


“Tuh Kan? Sangat genit,” keluh Sam, membuat Sean tertawa.


“Ya sudah tukar saja, kau yang sama Indri, aku sama Lorena,” ucap Sam.

__ADS_1


“Jangan! Lorena milikku, kau bagaimana sih?” geurutu Sean, membuat Sam tertawa.


“Tuh kau juga takut pada wanita genit, aku juga takut,” ucap Sam, disela tawanya.


“Tapi dia pandai memasak, kau akan makan terus yang enak-enak kalau menikah dengannya,” hibur Sean.


“Ya sudahlah mau bagaimana lagi? Terus soal aku Presdir itu gimana?” tanya Sam.


“Aku serius, aku memberikan satu perusahaanku padamu, kalau kau menikah dengan Indri, kau tidak perlu  jadi asistenku lagi, kau jadi Presdir sekarang,” kata Sean.


“Kau serius itu?” tanya Sam tidak percaya.


“Tentu saja, memberikanmu satu perusahaan tidak akan membuatku bangkrut, lagi pula kau berhak menerimanya, kau sudah banyak membantuku, kau teman dan asisten yang sangat baik, aku sangat menghargai dedikasimu, ” jawab Sean, sambil menepuk bahunya Sam, membuat Sam terharu.


Kalau sedang serius begini, terlihat sekali kalau Sean benar-benar seorang Presdir. Bukan itu saja dia Presdir diatas Presdir, karena miliki kekayaan yang berlimpah.


“Kau membuatku terharu dan aku ingin menciummu,” ucap Sam.


“Jangan, nanti Lorena salah faham,” jawab Sean, membuat Sam tertawa.


“Tapi ngomong-ngomong kau memberikan perusahaan itu bukan perusahaan yang bangkrut kan?” tanya Sam.


“Tentu saja tidak, mana ada perusahananku yang bangkrut? Kau ada-ada saja,” keluh Sean.


Sam lagi-lagi tertawa dan langsung memeluk Sean, merekapun saling berpelukan. Sam adalah satu-satunya teman dan sahabat Sean dari kecil, meskipun dia adalah putra dari orang kepercayaan kelurga besarnya, tapi Sean sudah mengaggap Sam seperti saudaranya sendiri.


“Aku akan menemui jantung hatiku,” ucap Sean, membuat Sam mencibir.


“Jangan mengajekku, kau juga sudah punya jantung hati sekarang,” kata Sean, memukul bahunya Sam.


“Jantung hati pisang apa?” tanya Indri ternyata sudah ada diantara mereka, membuat Sam dan Sean terkejut.


“Mm aku suka jantung pisang maksudnya,” jawab Sam, ngeles.


“Benarkah? Kalau begitu Presdir Sam jangan khawatir, aku bisa memasak sayur jantung pisang yang sangat enak, cuma memang jantung pisang susah dicarinya, harus ke kampung-kampung dulu, tapi tidak apa-apa, kakakku dikampung punya kebun pisang, nanti kita bisa kesana memetik jantung pisang,” ucap Indri panjang lebar seperti kereta api.


Sam tersenyum sambil mengangguk angguk, tidak ada lagi yang bisa di perbuat selain tersenyum dan mengangguk.


Sean mendekati Lorena yang sedang saling mengucapkan selamat tinggal dengan peserta lain.


“Sayang,” panggil Sean. Lorena menoleh kearah suara. Dilihatnya pria tampan itu sudah berdiri dibelakangnya sedang menatapnya.


Teman-temannya begitu melihat kedatangan Sean langsung pada kabur, tidak mau mengganggu mereka.


“Kau sangat terkejut tadi?” tanya Sean.


“Iya, aku fikir kau akan menikah dengan Indri,” jawab Lorena, menatap Sean, wajahnya masih terihat pucat.


“Kau fikir aku mau menikah dengan Indri?” tanya Sean, membuat Lorena tertawa.


“Aku hanya mau menikah denganmu saja,” ucap Sean, kedua tangannya meraih kedua tangannya Lorena.


“Apa kau serius menjadikan Sam Presdir?” tanya Lorena.


“Tentu saja, aku memiliki banyak perusahaan, aku memberikannya satu perusahaanku pada Sam, nanti setelah Sam menikah dengan Indri, dia bukan asistenku lagi, ada Pak Deni, itu sudah cukup,” ucap Sean.

__ADS_1


Lorena menatap pria itu, dia tidak menyangka kalau Sean semurah hati itu.


“Bagaimana dengan kita?” tanya Sean.


“Apanya?” tanya Lorena.


“Aku ingin cepat-cepat melamarmu pada orangtuamu,” kata Sean.


“Aku harus bicara dengan orangtuaku, mereka ada di London,” ucap Lorena.


“Aku juga harus bicara dengan ibuku,” jawab  Sean, matanya tidak lepas menatap wajah cantik itu, begitu juga dengan Lorena, mereka saling tatap.


Sean perlahan menundukkan wajahnya akan mencium Lorena, tapi tiba-tiba, Breng!! Terdengar suara dram dibunyikan dengan keras, membuat Sean terkejut dan tidak jadi mencium Lorena.


Lorena malah tertawa Sean tidak jadi menciumnya, tapi tangannya langsung memeluk tubuhnya Sean. Dia juga tidak menyangka akan sedekat ini dengan pria sebelah kamarnya itu. Sean balas memeluknya dengan erat dan mencium rambutnya.


***************


Nisa pulang ke rumahnya sambil marah-marah. Semua perabotan yang ada di kamarnya habis pecah berantakan, dia juga berteriak -teriak saking kesalnya.


“Sayang, kau kenapa?” tanya ayah dan ibunya, yang terkaget kaget kerena Nisa ngamuk dikamarnya.


“Aku kalah, aku kalah!” teriaknya smabil meremas-remas rambutnya menjadi acak-acakan.


“Kau kalah lagi bagaimana?” tanya Pak Tedi.


“Ternyata Sean itu tidak sebodoh yang ku kira, padahal aku sudah membayar wartawan juga,” jawab Nisa.


“Jadi gadis itu yang memenangkan kontes?” tanya Pak Tedi.


“Bukan, tapi Indri, dia juga akan menikah dengan asistennya yang tiba-tiba jadi Presdir! Tidak tahu benar atau tidak begitu,” jawab Nisa.


“Tentu saja benar kalau Sean bilang Sam jadi Presdir, dia sangat kaya apalagi kalau sudah mendapat seluruh warisan kakeknya, dia akan semakin kaya, perusahaannya banyak diluar negeri,” kata Pak Tedi.


“Aku tidak terima dipermalukan di atas panggung tadi,” keluh Nisa, sambil duduk dipinggir tempat tidur, lalu diapun menangis.


“Pak bagaimana ini?” tanya ibunya Nisa, sambil duduk disamping putrinya  dan langsung memeluknya.


“Aku tidak bisa diam, aku tidak akan membiarkan Sean mendapatkan warisannya dengan mudah,  aku harus menyelidiki gadis itu. Kalau dia orang miskin tidak mungkin ibunya merestui pernikahan mereka,” kata Pak Tedi.


Tiba-tiba Nisa menoleh pada ayahnya.


“Benar ayah, dia tinggal dirumah Sean, mengontrak disana, pasti dia orang miskin makanya dia sengaja menjerat Sean supaya menikahinya,” kata Nisa.


“Hem lihat saja nanti, Sean tidak akan dengan mudah mendapat warisan itu,” ucap Pak Tedi, sambil tersenyum sinis, dia masih dendam karena sudah dikeluarkan dari tim pengacara keluarga Joris.


************


Readers, yang sudah dukung author. Terimakasih banyak ya, author sangat  terharu atas perhatian kalian.


Sekali lagi terimakasih, I Love U.


Episodenya sedikit dulu ya, mau mati lampu masal seharian, cepat cepat up.


********

__ADS_1


__ADS_2