
Satu jam kemudian..
Valerie menangis terus dikamarnya, dia sama sekali tidak sengaja melibatkan Earlangga dalam kehamilannya. Dia tidak sengaja pingsan dikantor membuat semua orang tahu kalau dia sedang hamil.
Diapun bangun, membereskan baju-bajunya di masukkan ke kopernya.
“Kau mau kemana?” tanya Bu Asni, masuk kekamarnya Valerie, setelah mendengar ribut-ribut dirumah majikannya.
“Aku akan pergi dari rumah ini Bu,” kata Valerie.
“Pergi? Peri kemana?” tanya Bu Asni.
“Aku tidak mau melibatkan Pak Earlangga dalam kehamilanku, dia dituduh menghamiliku. Aku juga tidak bisa menunjukkan siapa pacarku, aku tidak mungkin sembarangan membawa pria untuk diperlihatkan kalau pria itu yang menghamiliki, aku tidak tahu siapa yang menghamiliku,” kata Valerie, airmata terus tumpah kepipinya.
Bu Asnipun diam, dia juga bingung harus bagaimana.
“Kau tidak cerita kalau ada pria yang menodaimu dan kau tidak tahu siapa?” tanya Asni.
“Aku hanya mengatakan bukan Pak Earlangga yang menghamiliku, aku rasa itu sudah cukup, aku tidak mau harus selalu menceritakan aibku Bu, aku malu,” kata Valerie.
“Kalau kau pergi kau akan pergi kemana?” tanya Bu Asni.
“Aku tidak tahu Bu,” aku akan mencari kos kosan, aku punya tabungan sedikit dari gaji yang Pak Earlangga berikan bulan ini, juga melanjutkan mencari pekerjaan dirumah sakit,” jawab Valerie.
Terdengar suara ketukan dipintu. Bu Asni menoleh kearah pintu dan segera membukakan pintu rumahnya. Pak Sobri sudah berdiri disana.
“Bu, Valerie diminta datang ke ruang keluarga,” kata Pak Sobri, dengan wajah yang kebingungan dan tegang.
“Baiklah,” jawab Bu Asni.
Diapun segera ke kamar Valerie. Gadis itu sudah merapihkan kopernya.
“Kau tetap akan pergi?” tanya Bu Asni.
“Iya Bu, aku akan pergi dari rumah ini, aku minta maaf karena telah membuat kekacauan disini,” jawab Valerie.
“Kau dipanggil ke ruang keluarga,” kata Bu Asni.
“Ada apalagi?” tanya Valerie ,menatap Bu Asni.
“Tidak ada salahnya, kalau kau mau pergi kau bisa sekalian berpamitan dengan mereka,” kata Bu Asni.
“Baiklah Bu,” jawab Valerie, diapun mengambil kopernya, dibantu Bu Asni, mereka menuju rumah majikan mereka dan langsung keruang keluarga.
Ternyata disana sudah berkumpul Sean,Lorena, Earlangga dan Ny. Grace.
Mereka terkejut saat melihat Valerie datang bersama Bu Asni membawa koper.
Lorena langsung menghampiri.
“Kau mau kemana?” tanya Lorena.
__ADS_1
“Aku mau pergi Nyonya,” jawab Valerie.
Lorena menoleh pada Sean lalu pada Ny. Grace, sedangkan Earlangga juga diam saja. Dia bukan tidak kasihan pada Valerie, tapi dia tidak mau harus menikahi gadis yang sedang hamil oleh orang lain.
Lorena mendekati Sean.
“Sayang, kasihan dia, dia sedang hamil, aku juga merasakan hamil tanpa kehadiran seorang suami itu sangat berat,” ucap Lorena sambil memegang tangan suaminya, dia jadi teringat bagaimana pahitnya melahirkan seorang diri.
“Biarkan saja dia pergi,” kata Ny.Grace.
“Tapi Bu, bagaimana kalau anak itu anaknya Earlangga, cucuku akan terlantar diluar sana, aku tidak mau itu terjadi, itu sangat menyakitkan Bu,” kata Lorena, dia mulai terisak, mengingat beratnya saat Earlangga dilahirkan.
Sean langsung memeluk bahunya dan mencium keningnya.
“Tapi itu bukan anakku, Bu!” kata Earlangga.
“Iya, Earlangga juga tidak ngaku, biar saja dia pergi, malah bagus,” ujar Ny.Grace.
“Bagus bagaimana? Ini malah akan semakin runyam Bu, orang-orang akan tahu Earlangga lari dari tanggung jawab,” kata Sean.
“Yah, aku tidak lari dari tanggung jawab,” ujar Earlangga dengan kesal.
“Ada cara lain yang bisa membuktikan bayi itu bukan anakmu?” tanya Sean.
“Harus tes DNA!” kata Earlangga.
“Itu harus menunggu bayi itu lahir, hamilnya masih kecil kan,” kata Lorena.
“Kalau begitu biarkan Earlangga menikah dulu dengan Valerie, kita tunggu sampai bayi itu lahir baru tes DNA,” usul Lorena
Sean terdiam memikirkan usul Lorena.
“Sepertinya itu jalan yang terbaik, kita juga harus meredam cemoohan orang soal Earlangga, ini aib buat keluarga kita apalagi kalau sampai Earlangga lari dari tanggung jawab,” kata Sean.
“ Ya sudahlah kalau begitu tidak ada jalan lain, tapi ingat hanya sampai bayi itu dilahirkan, kalau ternyata bayi itu bukan bayi Earlangga, gadis itu harus pergi dari rumah ini membawa bayinya. Kalau terbukti itu bayinya Earlangga, dia juga harus pergi tapi tanpa bayi itu, dia harus melepas bayi itu,” kata Ny. Grace
Earlangga dan Valerie terkejut mendengarnya.
“Tidak Nek, aku tidak mau menikah dengan nya!” tolak Earlangga.
“Earlangga!” bentak Sean.
“Yah, aku tidak terima harus menikah dengan gadis yang hamil oleh orang lain, aku tidak pernah menyentuhnya,” kata Earlangga.
“Tidak ada jalan lain, Earlangga, kau bisa membuktikannya jika bayi itu sudah lahir, mau tidak mau kau harus menikahinya!” kata Sean.
“Pak, aku tidak mau menikah dengan Pak Earlangga, aku bukan hamil oleh Pak Earlangga, aku akan pergi dari rumah ini,” kata Valerie, sambil mengambil kopernya.
“Tidak bisa! Semua ini sudah terjadi, kau juga harus bertanggung jawab, karena kehamilanmu melibatkan keluarga kami,” kata Sean.
Valerie menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Kalau kau hamil oleh orang lain, bawa pria itu, menikahlah dengan pria itu maka nama Earlangga tidak akan tercoreng. Kalau kau tidak bisa melakukan itu, kau terpaksa harus menikah dengan Earlangga, kita lihat sampai bayi itu lahir,” kata Sean dengan tegas.
Mendengarnya membuat Valerie sedih diapun kembali menangis. Dia memang tidak bisa menunjukkan siapa yang menghamilinya.
Ny.Grace bangun dari duduknya dan menghampiri Valerie yang menahan tangisnya sambil menunduk.
“Tapi ingat perkataanku tadi, kau harus pergi setelah bayi itu lahir, kau mengerti kan?” kata Ny. Grace, lalu memanggil Pak Sobri.
“Siapkan pernikahan buat Earlangga dan gadis ini, tapi tidak perlu yang mewah mewah, pemborosan!” perintah Ny.Grace lalu pergi.
Pak Sobri hanya mengangguk, lalu mengambil ponselnya dan melakukan panggilan dengan WO.
Sean tidak bicara apa-apa lagi, diapun pergi. Lorena menoleh pada Valerie dan Earlangga sama dengan suaminya tidak bicara lagi lalu mengikuti langkah Sean menuju lantai atas.
Valerie akan pergi tapi di panggil Earlangga.
“Tunggu! Aku mau bicara!” kata Earlangga. Valeriepun diam.
Earlangga menghampiri gadis itu.
“Kau, kau menjebakku?” tanya Earlangga, membuat Valerie terkejut dan menatap pria itu.
“Kau menjebakku dengan kehamilan ini? Kau hamil oleh orang lain dan aku yang terpaksa harus menikahimu? Kau sengaja pingsan berkali-kali di kantorku supaya semua mengira aku yang menghamilimu?” tanya Earlangga, mendengarnya membuat Valerie sakit hati, sepertinya airmata tidak akan pernah berhenti menetes dipipinya.
“Aku fikir kau gadis yang polos, aku hampir menyukaimu, tapi ternyata kau rubah betina,” ucap Earlangga, hati Valerie semakin tertusuk tusuk saja mendengarnya.
“Pak, tuduhanmu itu tidak benar, aku tidak menjebakmu,” ucap Valerie, matanya sudah mulai bengkak karena banyak menangis.
“Ah sudahlah tidak perlu berdalih. Setelah kita menikah nanti, jangan sok-sok-an jadi istriku, aku hanya menunggu kau melahirkan dan membuktikan pada semua orang kalau anak itu bukan anakku,” kata Earlangga.
Valerie mengerjapkan matanya dan airmata itupun menetes dipipinya.
“Dan satu hal lagi, kau tidak perlu protes apapun kalau aku punya pacar atau bersama wanita lain atau bahkan kalau aku menikah lagi selama kita menunggu kelahiran bayimu. Karena aku yakin bayimu bukanlah bayiku, karena kita sama-sama tahu aku tidak pernah menyentuhmu, kau faham?” ujar Earlangga.
Dengan berat hati Valerie mengangguk. Airmata terus saja mengalir tidak tertahankan.
“Bagus!” ucap Earlangga, lalu beranjak meninggalkan Valerie sendiri dan Bu Asni yang berdiri tidak jauh dari tempat itu, dia ikut terisak dipojok pintu.
Bu Asni tidak habis fikir kenapa Valerie tidak mengatakan saja kalau dia memang dinodai orang lain bukan Earlangga? Tapi memang tidak ada pilihan lain kalau memang Valerie tidak bisa menghadirkan pria yang menghamilinya. Mereka tetap harus dinikahkan untuk menjaga nama baik keluarga Joris.
“Ayo nak,” ajak Bu Asni, menghampiri Valerie sambil mengangkat kopernya lagi, memeluk bahunya Valerie yang menghapus airmatanya, berjalan sambil menunduk.
*************
__ADS_1