Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-33 Pagi hari bersama ibu hamil


__ADS_3

Valerie kembali ke rumah utama. Saat memasuki kamar, Earlangga sudah tidur. Valerie melihat kesekeliling, dia bingung harus tidur dimana? Dilihatnya kearah sofa, posisi sofa itu dekat sekali dengan pendingin, dia akan merasa kedinginan kalau tidur disana. Dilihatnya kebawah, ke lantai itu mekipun ada karpet tapi tatap saja dia akan kedinginan, apalagi Earlangga memasang ACnya sangat dingin, dia tidak mungkin merubah AC nya karena Eerlangga sangat sensitive dengan suhu udara.


Akhirnya terpaksa Valerie naik ke tempat tidur, berbaring disebelah Earlangga, dan mengambil selimut terpisah supaya tidak kedinginan. Karena lelah seharian menjalani prosesi pernikahan membuat Valerie tertidur dengan nyenyak sambil membelakangi Earlangga.


Menjelang pagi hari, Valerie terbangun karena perutnya merasa tidak enak, ada dorongan dari perutnya yang ingin dimuntah, perutnya benar-benar merasa mual. Ditahan-tahannya tapi tidak tertahankan.


“Uoo!” Valerie menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan berlari ke kamar mandi. Diapun muntah-muntah.


Earlangga yang masih tidur merasa terganggu dengan suara muntah-muntah didalam kamar mandi, diapun berteriak masih matanya yang terpejam.


“Apa yang kau lakukan? Kau menggangu tidurku!” teriaknya, sambil berguling menjauh dari arah kamar mandi.


Valerie keluar dari kamar mandi sambil melap wajahnya dengan tisu.


“Maaf,” ucapnya.


Tapi baru juga beberapa langkah, rasa mual itu kembali menyerang, diapun berlari masuk kekamar mandi, kembali muntah-muntah.


“Valerie! Kau sangat berisik!” teriak Earlangga, sambil menutu telinganya dengan bantal.


Valerie menatap wajahnya di cermin yang ada di wastafel. Dia benar-benar tidak kuat menahan mual ini. Wajahnya sampai pucat dan matanya merah. Apa begini rasanya hamil? Rasa mualnya tidak tertahankan.


Valerie keluar dari kamar mandi, menatap Earlangga yang menutup telinganya dengan bantal.


Dia tidak bicara apa-apa, dilihatnya jam di dinding, masih pagi, rasa mualnya sangat tidak tertahankan, diapun keluar kamar menuju dapur, mencari sesuatu yang menyegarkan. Dibukanya kulkas khusus menyimpan buah-buahan, mencari persediaan buah-buahan, ada banyak buah buhan disana.


Valerie mengambil jeruk dan anggur. Melihat buah-buahan itu terasa sangat menyegarkan. Diapun duduk dimeja makan dengan berbagai macam buah didepanya. Tanpa fikir panjang, meskipun hari masih gelap dia memakanannya. Ternyata setelah memakannya mulutny berasa lebih baik. Dia makan jeruk itu dengan lahap, bahkan dicarinya yang terlihat agak asam, sungguh menyegarkan.


“Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?” terdengar suara mengagetkannya. Valerie melihat pada suara yang datang.


“Nyonya!” panggil Valerie, buru-buru merapihkan buah-buahan di meja itu akan disimpan kembali ke kulkas.


“Apa yang


kau lakukan?” tanya Lorena menatap Valerie.


Valerie cepat-cepat memasukkan buah-buahan itu ka kulkas. Lorena melihat jeruk dan


anggur yang masih tertinggal dimeja, juga kulit-kulit jeruknya yang berserakan.


“Kau sedang mual?” tanya Lorena.


“Iya Nyonya, mulut saya sangat pahit, maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi,” jawab Valerie, sekarang membuang kulit jeruk dan biji anggur ke tempat sampah.


“Tidak perlu kau simpan lagi buah buahannya, kau boleh memilih buah yang kau suka, kau bisa memakannya,” kata Lorena sambil mendekati meja makan, mengambil gelas lalu diisi air mineral dan diminumnya.


“Maaf Nyonya, mulutku sangat pahit jadi aku mengambil buah-buahan ini,” ulang Valerie.


“Tidak apa-apa, kau boleh memakannya,” kata Lorena sambil duduk dikursi, Valeripun duduk dikursinya yang tadi, masih ada jeruk and anggur yang tersisa diatas meja.


“Makanlah yang banyak, kau terlihat kurus. Kau harus menjaga bayimu dengan baik,” kata Lorena sambil tersenyum, menatap menantunya yang terlihat pucat. Dia bisa merasakan bagaimana repotnya awal-awal kehamilan.


“Terimakasih Nyonya,” jawab Valerie, merasa tenang ternyata ibunya Earlangga tidak marah atas kelakuannya, kalau Ny.Grace yang memergokinya mungkin akan menuduhnya mencuri.


“Kau lanjutkan lagi makannya, aku masih mengantuk. Apa suamimu tidak bangun?” tanya Lorena, sambil bangun akan meninggalkan ruang makan itu.


“Pak Earlangga masih tidur,” jawab Valerie.

__ADS_1


Lorena mengerutkan dahinya mendengar jawaban Valerie.


“Kau masih memanggil Pak Earlangga pada suamimu?” tanya Lorena menoleh lagi pada Valerie.


“Iya Nyonya,” jawab Valerie.


Lorenapun terdiam, mungkin Valerie juga belum terbiasa memanggil Earlangga tanpa sebutan Pak, apalagi memanggilnya sayang.


“Kau boleh membawa buah-buahan itu ke kamarmu, nanti aku minta pelayan membelikan buah-buahan lebih banyak dan menyimpannya dikamarmu jadi kau bisa memakannya kapanpun kau mau,” kata Lorena, sambil tersenyum.


“Terimakasih Nyonya,” jawab Valerie balas tersenyum pada ibu mertuanya. Mungkin hanya ibu mertuanya ini yang bisa memahami dirinya. Dilihatnya ibu mertuanya masuk lagi kedalam rumah.


Valerie menatap buah-buahan itu, bahagia sekali melihat buah-buahan itu, kalau dipilihkan dengan hadiah yang lain tetap buah-buahan itu yang akan membuatnya bahagia.


Diambilnya keranjang diisikan buah-buahan yang dipilihnya dan dibawanya kembali ke kamarnya. Ternyata Earlangga kembali melanjutkan tidurnya.


Valerie melihat lagi kearah sofa, dia tidak bisa tidur disana karena sangat dingin, akhirnya dia naik ke tempat tidur, menyimpan keranjang buahnya diatas pangkuannya dan mulai memakannya, dia juga menyalakan televisi tanpa ada suara. Sambil menikmati buah itu lambat laun kantuknya mulai menyerang, Valerie bersandar ke bantalnya, diapun tertidur dengan buah-buahan berserakan didekatnya.


Cahaya matahari semakin meninggi, sinarnya masuk kedalam kamar menghangatkan kamar itu.


Earlangga menguap beberapa kali, malam bukan semalam tapi pagi yang terlalu pagi, tidurnya terganggu karena ada suara Valerie yang muntah-muntah dikamar mandi, membuatnya bangun kesiangan sekarang.


Dibukakannya matanya, didepannya  Valerie sedang berbaring membelakanginya. Diapun menghela nafas panjang. Kenapa dia harus tidur seranjang dengan wanita hamil itu? Keluhnya. Diapun duduk dan tekejut saat melihat disamping Valerie berserakan kulit jeruk dan dan biji-biji anggur.  Perawatnya itu makan buah-buahan diatas tempat tidurnya.


“Hei apa yang kau lakukan?” teriaknya, membuat Valerie kaget mendengarnya, diapun bangun sambil mengucek ngucek matanya, menatap Earlangga dengan bingung.


“Ada apa Pak?” tanya Valerie.


“Apa yang kau lakukan ditempat tidurku?” bentak Earlangga, sambil turun dari tempat tidur.


“Maaf Pak, saya tidak bisa tidur di sofa, terlalu dingin,” jawab Valerie.


Valerie menoleh kearah yang ditunjuk Earlangga, diapun terkejut.


“Ma maaf Pak,” serunya sambil turun dari tempat tidur dan memunguti kulit jeruk dan biji biji itu yang tentu saja menyebabkana selimut dan sprei ternoda warna kuning dan ungu, karena ikut terlindas saat Valerie tidur lagi.


“Kau sangat jorok sekali! Aku tidak menyangka ada perawat sejorok ini!” bentak Earlangga. Dia yang selalu mementingkan kebersihan dan kerapihan melihat hal yang jorok di kamarnya, tentu saja membuatnya marah.


“Maaf Pak, saya ketiduran!” kata Valerie.


“Buat apa kau makan buah-buahan malam malam?” tanya Earlangga dengan kesal.


“Maaf Pak, mulut saya sangat pahit, perut juga mual,” jawab Valerie.


Earlangga berjalan mendekati Valerie lalu membungkuk mendekatkan wajahnya pada wajah Valerie.


“Aku tidak mau tahu, kau yang perawat kenapa kau yang berkeluh kesah?” hardik Earlangga dengan nada tertahankan saking kesalnya.


Valerie menatap wajah tampan yang ada di depannya itu, yang menatapnya dengan marah, meskpiun begitu pria itu masih terlihat tampan. Earlanggapun kembali menegakkan badannya menjauh dari Valerie.


“Pokoknya kau bersihkan semua itu, kau cuci selimut dan spreinya, aku tidak mau kau makan buah lagi diatas tempat tidurku!” maki Earlangga.


“Ba baik Pak,” jawab Valerie, buru-buru turun sambil menarik selimut dan sprei untuk diganti yang bersih.


Terdengar suara ketukan dipintu kamar.


“Siapa?” bentak Earlangga. Kenapa pagi ini dia ingin marah-marah saja, semua ini benar-benar membuatnya stress.

__ADS_1


“Saya Pak,” terdengar suara jawaban dari luar.


Earlangga menuju pintu kamar dan membukanya, ada dua orang palayan disana, membawa keranjang-keranjang buah. Valerie yang melihat buah-buahan itu langsung tersenyum, buah-buahan yang membuatnya merasa sangat bahagia.


“Apa ini?” tanya Earlangga.


“Buah-buahan Pak,” jawab pelayan itu.


“Iya aku tahu itu buah-buahan, kenapa dibawa kesini?” tanya Earlangga.


“Buat Nonya,” jawab pelayan itu.


“Nyonya? Nyonya siapa?” tanya Earlangga.


“Bu Valerie!” jawab pelayan tadi.


“Apa?” Earlangga terkejut juga Valerie, dia tidak meminta palayan-pelayan itu membawakan buah- buahan.


Earlangga langsung menoleh pada Valerie.


“Apa maksudnya ini?” tanya Earlangga.


“Maaf Pak, saya tidak meminta buah-buahan  itu,” jawab Valerie.


“Sehari kau menjadi isrtiku kau langsung membuat aturan sendiri begitu?” bentak Earlangga.


“Tidak Pak, saya tidak…” Valerie menggelengkan kepalanya.


“Sayang, kau sudah bangun?” terdengar suara ibunya muncul dipintu kamarnya.


Earlangga menoleh kearah suara. Lorena menatap pelayan-pelayan itu yang malah diam saja dipintu.


“Kenapa kalian diam saja? Bawa masuk buahnya!” perinath Lorena.


Palayan-pelayan itu langsung masuk kedalam kamar Earlangga dan menyimpan buah-buahan itu di atas meja, lalu keluar.


“Apa ini Bu?” tanya Earlangga, wajahnya masih masam.


“Itu buah buahan buat istrimu. Masa hamil muda memang akan sangat mual, biar istrimu bisa dengan mudah memakannya kapanpun dia mau, tidak perlu mengendap-endap ke ruang makan segala,” kata Lorena.


“Apa?” Earlangga tampak bingung.


“Kau harus baca baca artikel ibu hamil supaya kau faham wanita hamil itu butuh apa saja, kau harus menjadi ayah yang baik,” kata Lorena sambil mengusap bahu putranya. Lalu menoleh pada Valerie yang hanya diam saja.


“Turunlah, kita akan sarapan,” kata Lorena.


“Terimakasih Bu,” jawab Valerie, sambil mengangguk.


 Lorena hanya tersenyum lalu keluar dari kamar itu.


Setelah kepergian ibunya, Earlangga menoleh pada Valerie.


“Kau senang mendapatkan perhatian dari ibuku?” tanyanya.


Valerie tidak menjawab.


“Masa aku harus membaca artikel ibu hamil segala. Kalau bayinya bayiku sih tidak masalah, tapi itukan bayi pacarmu buat apa aku memperhatikannya?” ucap Earlangga, lalu beranjak masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Valeriepun diam, benar kata Earlangga, dia itu tidak perlu memperhatikannya karena ini bukan bayinya.


************


__ADS_2