Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-113 Pencarian ke Perkebunan karet


__ADS_3

Dengan gugup Sean berlari ke mobilnya.


“Sam lihat ini!” seru Sean sambil membuka pintu mobilnya dan mengeluarkan brosur itu.


“Apa ini?” tanya Sam, sambil meraih brosur itu.


“Ini kan brosur yang tadi dibagikan,” kata Sam.


“Lihat dibaliknya,” ucap Sean, dengan jantungnya yang berdebar-debar.


Sam membacanya dan dia terkejut.


“Siapa yang menulis ini?” tanya Sam, menoleh pada Sean.


“Aku tidak tahu, dengan orang sebanyak ini kita tidak akan menemukan penulisnya,” jawab Sean.


“Apa kita harus mempercayai tulisan ini? Mungkin orang iseng,” kata Sam.


“Tidak mungkin orang iseng sangat kebetulan dengan pencarian kita. Dia tahu darimana kalau aku sedang mencari istriku?” ucap Sean, masih kebingungan.


“Apa mungkin penculik itu menemui Pak Tedi?” Tanya Sam, menatap Sean.


Merekapun saling bertatapan.


“Kalau iya, buat apa penculik itu memberitahu kita keberadaan istriku, sangat membingungkan,” kata Sean, matanya kembali mengedar ke seluruh area parkiran itu barangkali dia melihat ada yang mencurigakan.


“Jadi kita akan bertindak apa?” tanya Sam.


“Kita pergi ke perkebunan karet,” jawab Sean.


“Perkebunan karet dimana? Itu diluar kota Sean. Perkebunan karet sangat luas,” kata Sam.


“Kita tetap harus melakukannya Sam. Kita kerahkan orang-orang untuk mencari ke lokasi-lokasi perkebunan karet, kita awali dengan perkebunan karet terdekat,” jawab Sean.


“Ada perkebunan karet diluar kota, sekitar 5-6 jam perjalanannya,” kata Sam.


“Kalau begitu kita kesana sekarang sebelum gelap,” ajak Sean.


Sam menatapnya.


“Kau yakin? Ada banyak perkebunan karet,” Tanya Sam


“Jika ada perkebunan karet di ibukota, aku rasa penculik itu tidak akan kesana, karena akan gampang dilacak. Aku rasa keluar kota lebih mungkin, tapi luar kota terdekat,” jawab Sean.


"Aku setuju dengan memikiranmu," ucap Sam.


"Kalau begitu ayo kita kesana sekarang!” ajak Sean dengan bersemangat. Dia berharap tulisan itu benar dan dia bisa menemukan istrinya, hatinya benar-benar mencemaskan anak istrinya.


“Sayang, kau dimana?” batin Sean, masih teringat dalam bayangannya melihat istrinya terakhir kali memeluk perutnya yang besar saat di kamar bayi, dia tidak menyangka kebahagiaan yang dibayangkannya malah seperti ini.


“Semoga istriku ditemukan, Sam!” kata Sean, pada Sam yang mengendarai mobilnya dengan kencang, karena perjalanan mereka masih jauh.


“Kalau  benar Pak Tedi yang melakukan kejahatan ini, bisakah kita mendapatkan bukti untuk menambah hukumannya? Sepertinya dia tidak akan behenti sampai dendamnya terbalaskan Sean,” kata Sam.


“Itu yang kita butuhkan, bukti. Pria itu benar-benar tidak kapok. Kita harus mencari cara supaya dia tidak mengganggu keluargaku lagi,” keluh Sean.


“Mungkin kita harus melakukan sesuatu yang lebih berat,” usul Sam.

__ADS_1


“Tapi kalau tidak ada bukti kita tidak bisa berbuat apa-apa, kalau cuma bukti dari ucapannya itu akan terpatahkan di pengadilan, percuma saja. Kita butuh bukti fisik,” kata Sean.


“Kau benar,” jawab Sam. Mobil terus meluncur keluar kota, menuju daerah pekebunan karet.


Hari sudah mulai sore saat mobilnya Sam sudah memasuki wilayah daerah yang memiliki perkebunan karet yang sangat luas.


“Kita akan mulai dari mana? Sekarang kita sudah memasuki perkebunan karet dipinggir-pinggir jalan raya,” kata Sean, dia merasa bingung ternyata perkebunan karet itu sangat luas, hampir di beberapa lokasi ada jalan setapak menuju perkampungan.


Sam mengurangi kecepatan mobilnya, kini mobil itu merayap di jalan raya.


“Aku rasa penculik itu akan membawa korbannya ke lokasi yang sangat rimbun, Sam,” kata Sean, matanya menoleh ke arah kanan dan kiri, dari jalan itu mereka bisa melihat lengang di antara pohon-pohon karet.


Sam menghentikan mobilnya dipinggir jalan yang sebelah kanan dan kirinya adalah kebun karet.


“Kita harus masuk ke kebun karet?” tanya Sean.


“Sepertinya begitu, coba kita tanya di warung itu, sambil membeli minuman,” kata Sam yang diangguki Sean.


Sam kembali menjalankan mobilnya dan berhenti disebuah warung sederhana di pingir jalan.


Sam dan Sean duduk dibangku kayu. Sam memesan minuman, sedangkan Sean mengedarkan pandangannya ke sebrang jalan ke perkebunan karet itu. Dari sini dia bisa melihat kedalam perkebunan sepertinya penculik itu tidak mungkin membawa Lorena ke tempat yang lengang, berarti memag harus ke perkebunan yang rapat.


Sam menyodorkan sebotol minuman pada Sean yang langsung meminumnya.


Sam menatap pria pedagang diwarung itu.


“Disini perkebunan karet yang rimbun disekitar mana?” tanya Sam.


“Perkebunan karet itu luas Pak. Dari jalan setapak itu kalau masuk ke dalam pasti rimbun,” jawab pedagang itu.


“Bapak barangkali mendengar sesuatu yang menghebohkan?” tanya Sam.


“Misalnya ditemukan mayat perempuan di kebun karet,” jawab Sam, yang langsung mendapat pukulan dibahunya oleh Sean. Sean tidak terima Sam bertanya begitu seakan akan Lorena sudah meninggal.


Sam hanya meliriknya sekilas lalu kembali menatap pedagang itu.


“Penemuan mayat? Dulu pernah ada,” jawab pedagang itu, dia duduk disebuah bangku dekat pintu warungnya.


“Kalau sekarang?” tanya Sam. Sean langsung merasa deg-degan saja takut mendapat jawaban yang tidak diinginkannya.


“Tidak, sepertinya tidak ada berita seperti itu,” jawab pdagang itu, membuat Sean merasa lega.


“Bapak tinggal dimana? Disini ke perkampungan jauh?” tanya Sam.


“Jauh, biasanya perkampungan ada diperbatasan satu perkebunan dengan perkebunan yang lain, masuk gang-gang kecil,” kata pedagang itu.


Sam dan Sean saling pandang, mereka bingung bagaimana cara menemukan Lorena diperkebunan yang luas ini?


Tiba-tiba terdengar dari dalam warung ada suara bayi menangis.


Sean dan Sam langsung menoleh kearah warung yang hanya pintunya saja yang terbuka.


“Kenapa lagi Bu?” tanya Pedagang itu berteriak, sepertinya istrinya ada didalam warung itu.


“Anaknya rewel, sepertinya lapar,” terdengar jawaban dari dalam.


Mendengar suara tangis bayi itu membuat Sean bersedih, dia teringat lagi pada istrinya, matanya mendadak berkaca-kaca, dia merasa sedih dan merasa bersalah tidak menjaga istri dan anaknya dengan baik.

__ADS_1


“Sayang, kau dimana?” batinnya, kembali melihat ke sebrang perkebunan karet itu. Melihat sikap Sean begitu membuat Sam merasa bersedih, dia merasa kasihan pada temannya itu. Tiba-tiba terbersit suatu pertanyaan dibenaknya Sam.


“Bayinya usia berapa tahun?” tanya Sam.


“Baru dua bulan,” jawab pedagang itu.


“Biasanya kalau melahirkan dimana?” tanya Sam.


“Disini klinik jauh, tapi ada bidan yang praktek dirumah,” jawab pedagang itu.


Sam langsung bersemangat, siapa tahu dia bisa mencari keberadaan Lorena di tempat bersalin, siapa tahu Lorena melahirkan, ya ini hanya coba-coba saja, daripada bingung duduk-duduk diwarung.


“Dimana rumah bidan itu?” tanya Sam.


“Lumayan jauh, nanti setelah melewati perkebunan ini ada jalanan yang menurun tajam, didekat kantor kecamatan ada jalan ke sebelah kiri yang menanjak, itu jalan ke perumahan penduduk, disana idan itu praktek,” jawab pedagang itu.


“Siapa nama Bidan itu?” tanya Sam.


“Nama Bidannya Bidan Eno,” jawab pedagang itu.


”Bidan Eno!” gumam Sam sambil menoleh pada Sean yang juga menoleh kearah nya.


“Kita akan kesana?” tanya Sean, dengan nada pelan.


“Tidak ada salahnya, siapa tahu Lorena melahirkan,” jawab Sam.


“Tapi Lorena melahirkan seminggu lagi,” kata Sean.


“Siapa yang hamil? Istrinya?” tanya pedagang itu.


“Iya, perkiraan seminggu lagi melahirkan,” jawab Sam.


“Seminggu lagi? Yang melahirkan bisa lebih cepat atau lebih lambat dari waktu melahirkan, kalau istri saya lewat beberapa hari dari perkiraan,” kata pedagang itu, membuat Sam kembali menoleh pada Sean.


“Tidak ada salahnya kita kesana Sean,” kata Sam.


“Apa istrinya tinggal diperkebunan ini?” tanya pedagang itu.


“Mm tidak, sebenarnya kami sedang mencari istriku, kami bertengkar, dia pergi kerumah temannya disekitar perkebunan karet,  istriku itu sedang hamil,” jawab Sean berbohong, dia juga bingung kalau menyebut Lorena diculik malah nanti banyak pertanyaan.


“Ya coba saja temui bidan Eno,” kata pedagang itu, meskipun tidak mengerti dengan apa yang Sean katakan, dia tidak banyak bertanya lagi.


 “Baiklah, ayo kita kesana,” jawab Sean. Tidak ada salahnya dia mengikuti idenya Sam, siapa tahu Lorena melahirkan di Bidan itu.


Sam menoleh pada pedagang itu.


“Baiklah Pak, terima kasih, saya harus membayar berapa?” tanya Sam.


Pedagang itu menyebutkan angka harga jualannya. Sam segera membayarnya sedangkan Sean segera masuk ke mobilnya, dia tidak sabar ingin tahu apakah Lorena melahirkan di Bidan itu? Sam segera menyusul masuk ke mobil dan menyalakannya.


“Jauh tidak rumah Bidannya?” tanya Sean.


“Katanya lumayan jauh, kita susuri saja jalan ini nanti di jalan yang menukik tajam ada perkampungan disebelah kiri, rumah Bidan Eno ada didaerah situ,” jawab Sam.


“Baiklah, ayo kita kesana,” ajak Sean.


Tanpa banyak bicara lagi Sam kembali menjalankan mobilnya, meluncur dijalan raya beraspal yang licin, yang kanan kirinya terhampar luas perkebunan karet

__ADS_1


***********


__ADS_2