
Dua bulan kemudian…
Sean dan Lorena sudah kembali dari bulan madu mereka. Setelah bulan madu itu, sikap Sean semakin menujukkan rasa sayangnya pada istrinya, peluk cium tidak lepas dari kesehariannya.
Sore menjelang malam. Sean duduk bersandar di sandaran tempat tidur, sedangkan Lorena duduk disampingnya bersandar di dadanya. Jari tangan Sean menyusup diantara jari-jemarinya Lorena.
“Di Paris kemarin aku berkenalan dengan compuser music ternama. Aku mendapat tawaran untuk ikut tampil di acara konser music artis terkenal di perancis,” kata Lorena. Tangan kanannya memeluk lutut kanannya Sean yang menekuk.
“Aku tidak mau kau terlalu cape, aku juga tidak mau jauh-jauh darimu,” jawab Sean.
“Kau boleh ikut mendampingiku,” sahut Lorena, menoleh pada Sean.
“Tapi bagaimana kalau jadwalnya menyita waktuku? Dua bulan ini pekerjaanku sudah menumpuk banyak,” ucap Sean lagi. Tangannya mengusap usap bahu Lorena. Istrinya itu kembali bersandar ke dadanya.
“Aku suka music. Ibumu tidak suka aku tampil di restaurant itu, jadi aku harus tampil di panggung yang lebih besar,” kata Lorena, kembali menengadah menatap wajah suaminya. Sean langsung menunduk dan mencium bibirnya.
“Kau kan bisa mengelola sanggar musicmu di sekitaran sini saja, kita cari lokasi yang strategis,” jawab Sean, dia tidak setuju Lorena pergi jauh-jauh darinya
“Iya tapi aku juga butuh aktualisasi diri untuk menunjang sanggarku juga,” kata Lorena.
Seanpun terdiam sejenak.
“Coba kau tanyakan kalau kau menerima tawaran itu apakah aku bisa mengatur jadwal kerjaku supaya aku bisa ikut denganmu.” Akhirnya Sean mengalah. Lorena tersenyum, kembali menengadah menatap suaminya.
“Terimakasih,” ucap Lorena, sebuah ciuman lagi mendarat di bibirnya.
Sean melirik jam di dinding yang ada dikamarnya.
“Sayang, saatnya makan malam, ibu pasti sudah menunggu dibawah,” kata Sean.
Lorena langsung bangun dan menatap suaminya.
“Ayo,”ajak Sean. Bukannya turun, dia malah mecium istrinya lagi.
“Kau tidak berhenti menciumku,” keluh Lorena. Sean malah tertawa dan bukannya berhenti dia malah berpindah mencium leher istrinya.
“Sean, jangan biarkan ibumu menunggu!” elak Lorena, merasa geli dengan sikap suaminya, diapun mendorong bahunya Sean supaya menjauh. Suaminya itu malah tertawa lagi, dia sangat suka melihat wajah Lorena yang memerah.
Dilihatnya Lorena turun dari tempat tidur, lalu berdiri menatapnya.
“Kau mau makan tidak? Aku sudah lapar,” kata Lorena.
“Baiklah, ayo, padahal aku laparnya yang lain,” ucap Sean, sambil mengikuti Lorena turun dari tempat tidurnya.
Sean langsung menarik pinggang Lorena dalam pelukannya membuat istrinya itu terkejut saja dengan gerakannya yang tiba-tiba.
“Kau benar-benar tidak ingin melepaskanku,” keluh Lorena.
__ADS_1
Sean kembali mencium bibirnya.
“Ayo,” ucapnya setelah melepas ciumannya.
Merekapun keluar dari kamar itu, menuju ruang makan. Benar saja ibunya sudah menunggu di meja makan dengan wajahnya yang tampak kesal.
“Apa kalian sudah lupa jam makan malam di rumah ini?” tanya Ny.Grace.
“Sedikit terlambat tidak apa-apa,” jawab Sean, kembali mencium lehernya Lorena meskipun di depan ibunya, Lorena segera menjauh merasa malu pada mertuanya.
Ny.Grace tidak bicara lagi, dia mulai makannya.
Sean dan Lorena duduk berdekatan.
“Bagaimana bulan madumu?” tanya Ny.Grace menoleh pada Sean lalu pada Lorena, matanya melirik ke leher Lorena yang ternyata ada tanda merah bekas ciuman suaminya. Lorena buru-buru membetulkan bajunya menutupi tanda merah itu. Tapi tentu saja tidak bisa menutupinya.
“Baik, kami bahagia,” jawab Sean, kembali menoleh pada Lorena dan kembali mencium pipi istrinya itu.
“Bagus, jadi apakah sudah kelihatan hasilnya?” tanya Ny.Grace, membuat Sean dan Lorena menatapnya.
“Hasil apa?” tanya Sean.
“Apa lagi? Apa ada tanda-tanda istrimu hamil?” tanya Ny.Grace.
“Belum,” jawab Lorena, sambil menyantap makannya.
Ny.Grace tidak menjawab, dia masih memasang wajah yang kesal.
“Tentu saja, waktu terus berjalan,” jawab Ny.Grace.
“Baiklah, aku akan menghubungi Dokter Ramli, kami memang ada janji dengan Dokter kandungan itu setelah dua bulan,” ucap Sean.
Ny.Grace menoleh pada Lorena.
“Coba kau beli tes pack, lihat bagaimana hasilnya,” kata Ny.Grace.
“Baik Bu,” jawab Lorena yang sekarang memanggil Ny.Grace dengan sebutan Ibu.
“Ingat, aku sudah memberikan toleransi pada kalian. Pernikahanmu dengan Nisa ditunda dua bulan menunggu kalian pulang dari bulan madu. Tapi kalau ternyata hasilnya negative juga, terpaksa Sean harus menikah dengan Nisa, mau tidak mau,” kata Ny.Grace.
Sean menatap ibunya.
“Bu, aku sudah memutuskan untuk melepaskan warisan dari kakek. Aku hanya ingin menjalani hari-hariku dengan bahagia bersama istriku dan anakku nanti. Aku tidak mau ada orang ketiga dalam rumahtanggaku, aku tidak mau ada banyak masalah, pekerjaanku sangat banyak,” ucap Sean.
“Kau serius akan melepaskan warisan dari kakekmu?” tanya Ny.Grace terkejut.
“Iya, kalau ternyata warisan itu membuatku tidak bahagia, lebih baik aku melepaskannya. Aku tidak peduli warisan itu untuk siapa nantinya. Aku hanya ingin bahagia dengan istriku tanpa ada embel embel warisan itu. Aku juga ingin mempunyai anak dengan natural saja, tidak mau dikejar-kejra begini, aku akan menjalani pernikahanku dengan Loeena senormal mungkin,” jawab Sean panjang lebar.
__ADS_1
Ny.Grace mengambil minumnya lalu meminumnya sampai habis, wajahnya semakin merah saja, terlihat dia menahan marah.
“Jadi Stop membicarakan pernikahanku dengan Nisa,” lanjut Sean dengan tegas.
“Sekarang kau bisa bicara begitu, tapi lihat beberapa tahun ke depan, kau akan kesepian tanpa anak,” ucap Ny.Grace, setelah menyimpan gelas dimejanya.
“Aku akan mencoba bayi tabung atau apalah, pengobatan alternative atau apa, aku tidak akan menyerah. Memiliki anak dari wanita lain juga tidak membuatku bahagia,” kata Sean.
Ny.Grace tidak bisa bicara lagi, dia sudah kehabisan akal untuk membujuk Sean supaya mau menikah dengan Nisa, dia tidak rela kalau warisan sebanyak itu jatuh ketangan orang lain, apalagi keturunannya akan habis sampai disini karena Sean tidak akan mempunyai anak, membuat kepalanya pusing saja.
Ny.Grace menatap Lorena.
“Kau juga sudah berhenti dari restaurant itu kan? Aku tidak mau mendengar kau tampil di restaurant itu lagi,” kata Ny.Grace dengn ketus. Tatapannya semakin menunjukkan tidak menyukai Lorena.
“Iya, aku sudah berhenti,” jawab Lorena.
“Bagus, kau harus menjaga wibawa suamimu , jadi jangan bertingkah yang tidak-tidak,” kata Ny.Grace.
Lorena terdiam mendengar perkataan mertuanya, makin lama makin terlihat sekali mertuanya mulai tidak menyukainya, tapi mau bagaimana lagi, dia mengerti kekecewaan mertuanya.
“Sebenarnya aku mendapat tawaran dari Perancis untuk tampil memeriahkan konser artis terkenal disana,” ucap Lorena.
“Bagus, daripada tidak ada anak yang kau urus, lebih baik kau mengurus karirmu saja,” jawab Ny.Grace, membuat Lorena kembali terdiam. Hatinya semakin sakit mendengar perkataan pedas mertuanya, tapi dia harus bisa menahannya.
“Bu, jangan bicara seperti itu lagi pada Lorena, aku tidak suka!” kata Sean dengan nada tinggi, sambil menatap ibunya.
“Apa yang salah? Aku bicara benar kan? Dia tidak akan ada kesibukan kalau tidak punya anak,” kata Ny.Grace.
Sean masih menatap ibunya.
“Apa benar yang kau katakan itu? Apa ibu juga mengurus anak saat punya aku? Buktinya ibu tidak peduli padaku, ibu sibuk bekerja dan meninggalkanku, bahkan hanya Pak Deni yang selalu menemaniku!” ujar Sean.
Ny.Grace terkejut mendengar perkataannya Sean, dia menatap putranya yang menatapnya dengan tajam.
“Sean, ibu melakukannya karena tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain mengurus perusahaan peninggalan ayahmu dan warisan kakekmu untukmu karena kau masih kecil!” kata Ny.Grace, dia juga merasa kesal dengan perkataanya Sean yang memojokkannya.
“Jadi stopmengajari Lorena soal mengurus anak,” ujar Sean. Dia mengakhiri makannya dan meninggalkan ruang makan itu dengan marah.
Lorena terkejut mendengar pertengkaran Sean dan ibunya itu, tapi tidak ada yang bisa dikatakannya. Dia bisa merasakan rasa kecewa dan kesepiannya Sean hidup sendirian ditinggal ayahnya meninggal dan ibunya yang sibuk.
Ny.Grace menatap Lorena yang menoleh kearahnya.
“Ini semua karenamu yang masuk dalam hidup anakku. Dia terlau mencintaimu sampai lupa segala-galanya. Seharusnya kau tahu diri dan pergi jauh-jauh dari anakku,” kata Ny.Grace, diapun langsung mengakhiri makannya.
Deg! Hati Lorena berhenti berdetak lalu ada rasa perih muncul dalam hatinya. Apakah memang semua salahnya karena hadir dalam kehidupannya Sean?
Lorena menunduk sambil menyentuh perutnya, mengusapnya perlahan.
__ADS_1
“Kenapa kau tidak memberiku bayi? Berikan kebahagiaan buat suamiku, buat mertuaku,” ucapnya, dengan matanya yang berkaca-kaca. Sehabis ini dia akan membeli tespack yang banyak, dia berharap keajaiban akan datang dalam pernikahannya.
**************