Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-28 Makan malam dengan Presdir (part 2)


__ADS_3

Lorena duduk berhadapan dengan Sean. Dia benar-benar sangat gugup, pria itu sudah menghipnotisnya membuatnya mati kutu, malam ini Sean sangat berbeda, dia sangat mempesona. Cara pelayan dan manager restaurant itu melayani mereka saja menunjukkan kalau Sean adalah pria yang sangat penting. Seistimewa itukah memperlakukan seorang asisten Presdir? Sungguh membuat Lorena bingung.


“Kau mau makan apa? Aku tidak tahu makanan kesukaannmu,” kata Sean tanpa menoleh, matanya tertuju pada sebuah menu ditangannya. Tidak jauh darinya dua pelayan itu masih menunggunya beserta pria yang berpakaian formil itu.


“Terserah kau saja,” jawab Lorena.


“Kau yakin?” tanya Sean, nadanya itu kali ini sangat berwibawa, membuat Lorena semakin bingung saja. Siapa sebenarnya pria yang di depannya ini? Saking terpesonanya dia pada Sean dia sampai lupa kalau dia seharusnya makan malam dengan Sam. Dia benar-benar melupakan Sam.


Sean mengangkat tangannya, pelayan restaurant langsung menghampiri. Sean menunjuk beberapa menu tanpa banyak bicara.


“Baik Pak, ditunggu, pesanan secepatnya dihidangkan,” kata pelayan itu, lalu meninggalkan meja mereka.


Satu pelayan lagi datang dan berdiri menggantikan pelayan yang tadi pergi. Lorena merasa aneh, apakah mereka akan ditunggui makan seperti ini seperti yang dilakukan di rumah Sean? Ada yang mengisikan minumnya, ada yang mengisikan makanannya, serbet, sendok, garpu, mereka sigap membantu apapun kebutuhannya Sean. Bahkan saat mencicipi masakannya itu, tong sampah pun sudah disiapkan. Di rumahnya itu tukang pijitpun ada.Semua pelayan dirumah siap sedia melakukan apapun kebutuhan Sean sekecil apapun. Bahkan Sam, sang Presdir sendiri begitu perhatian padanya.


Tiba-tiba Lorena merasa tersadar sesuatu. Apakah itu tidak terlalu berlebihan pelayanan kepada seorang asisten Presdir? Kenapa hati Lorena berubah menjadi gelisah? Dia merasa gelisah, apakah dia melewatkan sesuatu tentang Sean?


“Kau kenapa?” tanya Sean menatap Lorena. Gadis itu tersentak kaget dan cepat mendongak menatap Sean. Segala pertanyaan dihatinya menghilang dalam sekejap.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Sean.


Lorena mengambil tissue, melap keningnya yang berkeringat.


“Tidak apa-apa,” jawab Lorena. Kenapa dia berubah jadi manis begini?


“Beberapa hari ini aku tidak akan pulang ke rumah,” kata Sean.


“Tidak pulang? Kenapa?” tanya lorena, membalas tatapan Sean.


“Aku ada urusan pekerjaan keluar kota. Kau jaga rumah ya,” jawab Sean.


“Iya, baiklah,” jawab Lorena. Meskipun dalam hati dia heran kenapa dia mau saja disuruh jaga rumah? Biasanya kan pasti dia marah kalau Sean bersikap memerintahnya. Enak saja Sean menyuruhnya menjaga rumah, kan ada pak Roby. Tapi tidak dengan saat ini, rasa ingin bertengkarnya dengan Sean seperti sirna hilang lenyap begitu saja. Apakah karena dia tertawan dengan ketampanan pria ini?


Terdengar suara langkah beberapa orang, Lorena menoleh pada pelayan-pelayan yang berdatangan itu, mereka membawakan makanan pesanan Sean dalam sebuah meja dorong.


Ada yang menarik saat Lorena menatap menu yang dihidangkan diatas meja. Menu cah kangkung yang disimpan di sebuah templet hitam yang datar sedikit cengkung berbentuk elips lengkap dengan penghangatnya dibawahnya. Benar-benar sangat fresh dan baru saja matang. Daun kangkungnya yang muda terlihat sangat hijau dan menggiurkan, lengkap dengan aneka campuran cumi putih berbentuk cincin dan yang lainnya.


“Sean, Sean, suka cah kangkung? Bukankah bukankah cah kangkung buatannya disukai Presdir Sam?” tanya Lorena dalam hati. Lorena semakin keheranan dan gugup. Diambilnya tisu dilapnya lagi ke keningnya. Kenapa dia merasa semakin gelisah, dia semakin merasa ada banyak hal yang tidak dia perhatikan tentang Sean.


“Silahkan,” kata pelayan.


“Terimakasih,” jawab Sean. Pelayan-pelayan itupun segera meninggalkan tempat itu. Kecuali dua pelayan tadi yang berdiri tidak jauh dari Sean bersama managernya itu. Lorena menatap sebentar kearah mereka, kenapa mereka tidak ikut pergi juga? Apakah mereka tidak punya tamu yang lain? Lorena mengedarkan pandangannya ke sekeliling restaurant itu, banyak yang makan juga tapi tidak ditunggui seperti ini, serasa makan di rumah saja.


“Ayo makanlah,” ajak Sean. Lorena menatap Sean.


“Kau suka cah kangkung?” tanya Lorena. Sean tidak menjawab. Seorang pelayan mamasukkan menu yang dia tanyakan itu ke piringnya Sean.


“Cukup,” jawab Sean pada pelayan itu.


Satu pelayan lagi berputar mendekati Lorena.

__ADS_1


“Aku bisa sendiri, terimakasih,” ucap Lorena pada pelayan itu sambil tersenyum. Pelayan itu langsung mengangguk dan berjalan mundur, berdiri tidak jauh dibelakang Lorena.


Lorena menatap menu lainnya, diapun mulai memilih dan mengambil makanannya sendiri.


“Apa kau sering makan disini?” tanya Lorena.


Sean hanya mengangguk dan menyantap makanannya.


“Kau berapa hari ke luar kota?” tanya Lorena.


“Aku belum tahu,” jawab Sean.


Lorena mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. Diliriknya Sean yang tampak sangat menikmati makanannya.


“Makanannya sangat enak, kau keliatan sangat menyukainya,” kata Lorena.


“Hem,” Sean hanya mengangguk.


Terdengar beberapa langkah memasuki area itu.


“Pak Sean!” sebuah sapaan membuyarkan keheningan diantara mereka.


Tiga orang pria dengan penampilan seperti bos bos eksekutif berhenti tidak jauh dari meja mereka.


Sean melap mulutnya, lalu minum, barulah dia menoleh kearah suara.


“Senang bertemu dengan anda!” seru salah satu pria itu sambil mengulurkan tangannya bersalaman dengan Sean diikuti yang lainnya.


“Rupanya kau sedang makan malam dengan gadis yang sangat cantik. Malam nona!” kata yang lainnya sambil menoleh pada Lorena yang hanya tersenyum saja.


“Ini..” Sean mencoba memperkenalkan Lorena. Tapi perkataannya didahului oleh yang lain.


“Jangan katakan apa-apa, kami bisa menebak. Ini pasti calon istrimu! Kau memang pandai memilih calon istri. Dia sangat cantik,” kata salah satu dari mereka itu, sambil tersenyum diikuti  tawa yang lainnya.


Lorena memerah mukanya karena disebut cantik dia merasa malu, tapi dia hanya bisa tersenyum menanggapi candaannya teman-temannya Sean.Teman? Tidak salah dengan teman? Pria pria itu terlihat tua, tidak mungkin temannya Sean.


“Kami sudah mendengar desas desus kalau kau akan segera menikah, Kami penasaran siapa yang akan menjadi calon istrmu. Tidak menyangka akan bertemu disini. Kalian sangat cocok, kami tunggu undangannya ya,” kata pria yang tadi memanggil Sean itu.


Mendengar perkataan orang itu membuat wajah Lorena semakin merah, kenapa dirinya di sebut calon istrinya Sean? Dia sama sekali tidak tahu kalau Sean juga sedang mencari calon istri, ternyata bukan sam saja yang mencari calon istri.


Sean hanya tersenyum saja mendengar candaan pria-pria itu.


“Baiklah Pak Sean, kami tidak mau mengganggu kencan anda, kami akan mencari meja yang kosong. Jangan lupa jangan tunda lama-lama lagi, calon istrimu sangat cantik, jangan sampai diambil orang,” kata pria itu, diikuti tawa yang lain.


Wajah Lorena semakin merah saja terus terus dipuji seperti itu.


“Ya silahkan,” jawab Sean. Dia tidak banyak berbasa basi. Merekapun kembali bersalaman. Melihat dari cara tiga pria itu menyambut Sean, sepertinya Sean orang istimewa dimata mereka. Seorang asisten Presdir ini benar-benar sangat dihargai orang, apalagi pria-pria itu jauh lebih tua dan sepertinya bukan orang sembarangan, bisa dilihat dari cara berpakaian mereka.


Sean menoleh pada Lorena yang juga menatapnya. Dia melihat wajah gadis itu memerah semerah buah naga.

__ADS_1


“Kau tidak apa-apa?” tanya Sean.


“Kenapa?” tanya Lorena, tidak mengerti.


“Wajahmu sangat merah,” jawab Sean sambil duduk.


“Benarkah?” ucap Lorena sambil memegang pipinya.


Sean kembali menyimpan serbet dipangkuannya, melap tangannya dengan tisu basah, dia melanjutkan kembali makannya.


“Maaf mereka hanya bercanda,” kata sean.


“Ah tidak apa-apa,” jawab Lorena sambil tersenyum. Tapi kembali bibirnya mengerucut, kenapa dia bilang begitu? Tidak apa-apa gitu dia disebut calon istrinya Sean?


“Memangnya kau juga mencari calon istri? Aku ko tidak tahu?” tanya Lorena menatap Sean.


“Hem,” jawab Sean pendek, tanpa menoleh. Lorena terdiam, pria ini sepertinya sangat terutup.


“Aku fikir cuma Pak Sam saja yang mencari calon istri, ternyata kau juga. Apa kau juga mengadakan kontes?” tanya Lorena.


Sean tidak menjawab, dia kembali mengunyah makanannya. Lorena memperhatikannya.Tidak dirumah tidak diluar rumah, pria ini sangat rapih kalau makan, tidak banyak bicara dan tidak banyak melakukan hal yang tidak perlu.


“Memangnya kau akan ikut jadi peserta juga kalau aku mengadakan kontes?” tanya Sean. Membuat Lorena terkejut dan wajahnya kembali memerah.


“Apa kau akan mengikuti dua kontes sekaligus?“ tanya Sean.


Lorena menatap Sean, dia memikirkan sesuatu.


“Kau bertanya jika kau melakukan hal yang sama dengan pak Sam mengadakan kontes untuk jadi istrimu?” tanya Lorena. Sean tidak menjawabnya.


“Entahlah,” lanjut Lorena. Kini Sean yang menatapnya. Gadis itu kembali makan makanannya.


Gadis didepannya itu sangat cantik, seharusnya dia tidak perlu mengikuti kontes segala untuk mencari seorang suami. Sebenarnya kenapa Lorena mengikuti kontes ini? Kalau melihat dari fisiknya yang cantik dan terawat, sepertinya Lorena juga bukan dari kalangan yang kekurangan ekonomi, jadi tidak mungkin dia membutuhkan uang menikahi pria kaya.


Sean melihat tangan Lorena yang sedang memegang sendok.  Jari-jari tangannya sangat lentik dan halus, sangat terlihat dia tidak pernah melakukan pekerjaan kasar, kulitnya juga sangat lembut saat dipegangnya. Bahkan dia alergi detergen, tangannya akan melepuh karena kepanasan.


Tubuhnya juga sangat bagus,dia sangat sexy, sexy? Tiba-tiba Sean teringat saat pertama bertemu dengan Lorena yang tidur dikamarnya hanya menggunakan lingerie, dia sampai mengira gadis itu wanita yang melakukan layanan plus plus, ternyata hanya salah rumah.


Keringat muncul dikeningnya, kenapa dia malah membayangan tubuh mulusnya Lorena waktu itu? Cepat-cepat dia minum air putih di gelasnya, bukan seteguk tapi sampai habis, entah kenapa membayangkan Lorena memakai lingerie dia merasa kepanasan dan kehausan.


Lorena menatap keheranan melihat gelas kosong yang disimpan sean. Seorang pelayan buru-buru mengisinya dengan air putih di teko yang ada disebuah meja dorong di dekat pelayan itu berdiri bersama managernya.


“Sepertinya kau kehausan,” ucap Lorena menatap Sean.


Sean tidak menjawab. Dia hanya mengucapkan terimakasih pada pelayan yang mengisi gelas minumnya.


*****************


Jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2