Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-64 Pengakuan Earlangga


__ADS_3

Rey tertawa mendengar pengakuannya Earlangga. Valerie menatapnya tidak percaya.


“Bagaimana mungkin  ada dua pria yang mengaku bersama satu orang gadis? Kau benar-benar pembohong besar! Kau yang telah melakukan kebohongan!” kata Rey.


“Sudahlah tidak perlu berdalih lagi, aku yang bersama Valerie malam itu, jadi kau segera pergi jauh dari kehidupan Valerie, jangan  pernah menemuinya lagi apalagi memintanya bercerai dariku dan membawa bayiku!” ujar Earlangga dengan tegas.


Valerie menegang tangan Earlangga.


“Pak, apa benar yang kau katakan itu?” tanya Valerie dengan terbata-bata dan bibir yang bergetar. Dia sungguh bingung dengan pengakuan Earlangga.


Earlangga menoleh pada Valerie dan menatap mata yang sedang menatapnya menanti jawaban.


“Benar, aku adalah pria itu,” jawab Earlangga.


Valerie langsung melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah. Dia benar-benar tidak percaya  dengan perkataannya Earlangga. Pria ini yang menodainya malam itu?


Melihat sikapnya Valerie membuat Earlangga panic. Dia takut Valerie membencinya.


“Aku bisa menjelaskan semuanya,” ucap Earlangga.


Valerie menatap pria itu, dia masih tidak percaya dangan apa yang didengarnya. Kepalanya tiba-tiba merasa pusing, matanya berkunang-kunang. Dia tidak bisa menahan tubuhnya untuk berdiri tegak, hampir saja dia terjatuh ke tanah kalau tidak Earlangga menahannya.


“Valerie!” panggil Earlangga, dengan cepat meraih tubuhnya Valerie.


Rey juga segera mendekat, tapi Earlangga menepiskan tangannya.


“Jangan menyentuh istriku!” bentaknya dengan keras pada Rey.


“Aku juga peduli padanya!” kata Rey.


“Stop berpura-pura! Aku ayah bayi itu! Kau mengerti? Pergi-pergi jauh  darinya atau aku benar-benar akan melaporkanmu ke polisi!” teriak Earlangga, menatap Rey.


“Valerie! Valerie!” Earlangga menepuk-nepuk pipinya Valerie yang tidak sadarkan diri. Diapun segera membawa tubuhnya Valerie, berlari menuju mobilnya, tidak dihiraukannya Rey masih ada disitu.


Rey langsung mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


“Bagaimana? Apa kau berhasil meyakinkan Valerie kalau kau ayah bayi itu?” tanya Jeni.


“Aku belum tahu,” jawab Rey.


“Belum tahu bagaimana?” bentak Jeni dengan kesal.


“Pria itu tiba-tiba datang dan mengaku kalau dia yang menghamilinya!” kata Rey.


“Apa? Pria? Pria siapa?” tanya Jeni.


“Suaminya, Earlangga! Dia mengaku yang bermalam dengan Valerie di club itu!” jawab Rey.


Jeni terkejut mendengarnya.


“Apa? Earlangga mengaku kalau dia yang bersama dengan Valerie di club?” tanya Jeni tidak percaya.


“Benar!” jawab Rey.


“Sekarang bagaimana apa Valerie percaya?” tanya Jeni.


“Valerie shock, dia pingsan sekarang dibawa oleh pria itu kerumah sakit,” jawab Rey.


“Baiklah, kau tunggu perintah berikutnya dariku!” kata Jeni, sambil telponnya ditutup.


Dia bermenung dia sangat terkejut mendengar Earlangga mengaku yang bermalam dengan Valerie di club itu, jadi bayi yang dikandung Valerie itu bayinya Earlangga? Jeni duduk disofa dengan kesal. Kalau begitu semakin sulit saja memisahkan Valerie dengan Earlangga.


Earlangga membawa Valerie ke sebuah klinik terdekat, dia sangat panic karena Valerie pingsan setelah mendengar kalau dia pria yang bersama Valerie di club itu, dia khawatir Valerie akan membencinya dan pergi meninggalkannya membawa bayi dalam kandungannya. Dia tidak mau kehilangan Valerie dan bayinya.


“Bagaiman Dok?” tanyanya pada Dokter yang selesai memeriksa.


“Tidak apa-apa sebentar lagi siuman,” jawab Dokter.


“Kenapa dia pingsan ya Dok?” tanya Earlangga.


“Apa ini kehamilannya yang pertama?” tanya Dokter.

__ADS_1


“Iya,” jawab Earlangga.


“Pasien kurang istirahat dan stress,” jawab Dokter.


Earlangga terdiam, semalam memang Valerie tidak bisa tidur, dia pasti memikirkan akan bertemu dengan pria itu.


“Jangan dibuat stress ya Pak, ibu hamil harus selalu senang biar bayinya juga tenang dan tumbuh dengan baik,” kata Dokter.


“Baik Dok!” jawab Earlangga.


Dokter menuliskan resep, lalu disodorkan pada Earlangga.


“Ini resepnya, pasien boleh disini sampai siuman, saya permisi dulu,” jawab Dokter.


“Terimakasih,” jawab Earlangga sambil menerima resep itu, Dokter itupun meninggalkan ruangan periksa itu.


Earlangga menoleh pada Valerie yang masih tidak sadarkan diri. Dia merasa bersalah memberitahu soal itu tadi, dia sangat kesal pada pria yang mau menipu Valerie. Dia tidak mau kalau Valerie sampai terpancing dan terayu oleh pria itu, apalagi pria itu sangat tampan, bagaimana kalau Valerie tergoda dan meninggalkannya?


Dilihatnya Valerie bergerak perlahan, dia buru-buru menghampirinya.


“Kau sudah sadar?” tanya Earlangga menghampiri tempat periksa pasien itu.


Valerie memegang kepalanya yang terasa pusing.


“Hanya pusing,” jawab Valerie.


“Aku akan panggilkan Dokter lagi?” tanya Earlangga.


“Tidak, tidak usah,” jawab Valerie menggelengkan kepalanya, lalu dia mencoba bangun dibantu oleh Earlangga. Mata merekapun kembali bertemu.


Valerie ingat tadi Earlangga mengatakan kalau dia adalah pria yang di club malam itu, itu artinya Earlangga adalah ayah dari bayinya. Ada perasaan lega dihatinya, ada rasa bahagia dihatinya, meskipun dia tidak menyukai cara Earlangga memperlakukannya di club, tapi setelah mengenalnya, dia merasa senang karena Earlangga bukan pria yang jahat.


Tapi ternyata pingsannya Valerie di tanggapi lain oleh Earlangga, dia merasa apa yang dikatakannya tadi membuat Valerie pingsan dan tidak bisa menerimanya.


“Aku minta maaf soal tadi,” kata Earlangga.


“Minta maaf? Kenapa?” tanya Valerie terkejut, menatap pria yang berdiri di depannya.


“Maksudnya apa?” tanya Valerie.


“Sebenarnya aku tidak bersamamu di club itu,” jawab Earlangga membuat Valerie terkejut.


“Apa? Jadi Bapak bukan pria di club itu?” tanya Valerie.


“Iya, aku minta maaf aku harus melakukan kebohongan itu, karena pria yang menemuimu itu seorang penipu,” jawab Earlangga.


Valerie menatap wajah Earlangga, padahal dia sudah merasa senang saat mengetahui Earlagga pria yang di club itu artinya bayinya memiilki ayah yang baik, tapi ternyata Earlangga meralatnya? Kenapa hatinya malah kecewa mendengarnya?


“Bapak tahu darimana kalau pria itu penipu?” tanya Valerie.


“Aku memfotonya dan mengirimkan pada seseorang untuk melacak identitasnaya. Ternyata dia tinggal di luar kota,” jawab Earlangga.


“Jadi dia berbohong?” tanya Valerie. Earlangga mengangguk.


“Kau jangan khawatir aku sudah mangancamnya akan  dilaporkan ke kepolisian dia tidak akan berani muncul didepanmu lagi,” kata Earlangga


Valerie kembali menatap Earlangga.


“Dan kau juga berbohong,” kata Valerie.


“Aku minta maaf,” ucap Earlangga.


“Bapak Juga mengikutiku?” tanya Valerie.


“Maaf aku membaca pesan di ponselmu yang terus berbunyi, jadi aku juga datang kesini, aku merasa khawatir,” jawab Ealrangga.


“Khawatir?” tanya Valerie lagi, masih menatap wajahnya Earlangga.


 “ Aku khawatir kau akan mempercayai pria itu dan meninggalkanku,” jawab Earlangga.


“Kalau aku pergipun sebenarnya tidak masalah bagimu kan? Bayi ini bukan bayimu,” kata Valerie, sambil menunduk dan mengusap perutnya.

__ADS_1


 “Aku tidak mau kau pergi dengan pria itu atau pria yang lain,” ujar Earlangga.


“Maksud Bapak apa bicara begitu? Lambat laun aku memang harus pergi meninggalkanmu,” kata Valerie.


“Tidak, aku tidak mau kau pergi meninggalkanku,” jawab Earlangga.


Valerie masih menengadah menatap pria yang ada didepannya itu, seakan pandangannya tidak mau berpaling sedikitpun.


“Kenapa? Aku hanya merepotkanmu saja,” jawab Valerie.


“Tidak,kau salah, aku tidak merasa direpotkan, justru sebaliknya,” jawab Earlangga.


“Maksud Bapak apa?” tanya Valerie lagi dia merasa bingung.


“Aku senang kau selalu bersamaku, aku mencintaimu, Valerie,” jawab Earlangga.


“Apa?” tanya Valerie tidak percaya dengan pendengarannya.


“Iya, aku mencintaimu, aku tidak mau kau pegri dariku,” kata Earlangga.


Valerie menatapnya dengan tidak percaya, ada rasa bahagia mendengarnya, meskipun Earlangga bukan ayah dari bayinya, tapi mendengar Earlangga menyatakan cinta padanya, sungguh sangat membahagiakannya.


“Maukah kau berjanji untuk tidak pergi dariku?” tanya Earlangga, tangannya meraih tangannya Valerie.


“Aku…maaf Pak, kau tidak boleh menanitaiku,” jawab Valerie.


“Kenapa?” tanya Earlangga terkejut.


“Karena aku tidak pantas buatmu, aku juga sedang hamil bayi orang lain, Nyonya Grace tidiak menyukaiku, aku tidak pantas untukmu,” kata Valerie, dengan perlahan melepas tangannya Earlangga dia merasa sedih saat mengatakan kata-kata itu.


Earlangga kembali meraih tangannya Valerie.


“Yang bisa mengatakan pantas atau tidak adalah aku sendiri, aku bebas mencintai siapa saja, dan aku sadar kalau aku mencintaimu, juga bayimu,” jawab Earlangga, membuat Valerie senang mendengarnya tapi dia kembali lesu mengingat Ny,Grace juga mengancamnya untuk tidak jatuh cinta pada Earlangga.


“Tapi Pak..” Valerie akan bicara tapi dipotong oleh Earlangga.


“Tidak ada tapi lagi, kau lebih aman bersamaku daripada dengan pria lain yang belum tentu mencintaimu,” kata Earlangga.


“Aku ingin kau tetap bersamaku, dengan bayimu, bayi kita,” ucap Earlangga lagi.


Valeriepun terdiam, sungguh dia merasa bahagia mendengarnya. Ternyata Earlangga mencintainya dan juga bayinya.


“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku,” kata Earlangga, tangannya menyentuh pipinya Valerie, menatap kedua matanya.


Valerie menyentuh tangan yang ada dipipinya itu, Earlangga memegang jemarinya.


“Aku tidak akan tenang kalau kau jauh dariku,” kata Earlangga.


“Tapi Pak, bagaimana jika hasil tes DNA itu bayiku bukan bayi Bapak?” tanya Valerie.


“Tidak masalah, aku akan tetap menyayanginya seperti bayiku sendiri,” jawab Earlangga, padahal dalam hatinya dia sudah yakin itu adalah bayinya.


Ingin rasanya Earlangga mengatakan kalau bayi yang dikandung Valerie kemungkinan bayinya, tapi sementara hanya inilah cara yang tepat supaya Valerie tidak pergi jauh darinya, menyatakan rasa cintanya.


Valerie tidak bicara lagi, dia merasa bahagia atas ketulusan cintanya Earlangga, mencintai dengan tulus padahal dia sedang mengandung bayi orang lain.


“Kau berjanji tidak akan pergi dariku?” tanya Earlangga.


Akhirnya Valerie mengangguk, membuat Earlangga tersenyum dan merasa lega, diapun bergerak lebih dekat lalu memeluk Valerie.


“Kau tidak boleh stress lagi dan banyak fikiran, kau harus banyak istirahat, itu kata Dokter tadi,” ucap Earlangga.


Valerie mengangguk dalam pelukannya Erlangga.


“Aku ingin bayi kita lahir dengan sehat, jadi kau harus menjaga kesehatanmu dan bayi kita,” lanjutnya, kedua tangannya mengusap usap punggungnya Valerie.


Valerie mengangguk lagi, merasakan pelukannya Earlangga yang lebih erat, dia sangat bahagia dicintai pria itu.


************


 

__ADS_1


__ADS_2