
Darren memasuki rumah besar itu sambil menenteng kantong-kantong bajunya Valerie. Dilihatnya sekeliling rumah mewah itu. Ternyata benar, ayahnya seorang pengusaha kaya raya. Kenapa tidak dari dulu saja dia mencari ayahnya.
Terdengar langkah kaki seseorang menuruni tangga.
“Kakak! Sedang apa kau disini?” tanya pemilik kaki itu.
“Tentu saja aku ingin bertemu ayah,” jawab Darren.
“Buat apa? Tumben?” ucap Jeni, terus menuruni tangga sampai bawah dan menghampiri Darren.
Darren berjalan menuju kursi tamu dan duduk disofa besar itu, kantong-kantong disimpan di sampingnya.
“Kau bawa itu?” tanya Jeni, tangannya meraih salah satu kantong itu, Darren akan menariknya tapi keburu diambil Jeni lalu dibukanya.
“Apa ini? Baju ibu hamil?” tanya Jeni.
Darren bangun dari duduknya dan diambilnya baju itu lalu dimasukkan kembali kekantongnya, disimpannya di kantong kantong yang lain lalu duduk lagi dengan menopang satu kakinya.
“Kak, itu baju hamil siapa?” tanya Jeni, menatap Darren.
“Bukan urusanmu!” jawab Darren.
Jeni mengerutkan dahinya, dia sangat heran buat apa kakaknya membawa- bawa baju hamil segala.
Terdengar langkah kaki yang juga turun dari tangga. Brian turun menghampiri kedua anaknya.
“Kau, mau apa kau kemari?” tanya Brian, berdiri manatap Darren.
“Aku ini anakmu kan, seharusnya kau tidak bertanya seperti itu padaku,” jawab Darren.
“Jadi kau mau apa? Aku tidak mau ribet dengan urusan kalian berdua,” kata Brian.
“Aku minta hakku, aku minta rumah mobil dan juga perusahaan,” kata Darren, membuat Brian dan Jeni terkejut.
“Apa? Kau minta rumah, mobil dan perusahaan?” tanya Brian, menatap Darren.
Darren bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Brian.
“Selama ini kau tidak peduli padaku, jadi aku minta hakku,” jawab Darren.
“Aku kan sudah memberikan uang bulanan lewat ibumu, mau minta apa lagi?” keluh Brian.
Tiba-tiba Darren meraih kerah kemejanya Brian dan menariknya, membuat Brian terkejut.
“Kau baru bertemu denganku kan? Aku bisa menghabisimu untuk mendapatkan itu semua, jangan main-main denganku!” kata Darren.
Brian tidak menyangka putranya akan sekasar itu. Selama ini dia memang tidak perduli dengan anak-anaknya.
“Oke oke, lepaskan aku!” kata Brian.
Darren langsung melepaskan tangannya. Brian menghela nafas panjang.
“Baiklah, aku akan memberikanmu rumah, mobil juga perusahaan, tapi itu tidak cuma-cuma,” kata Brian.
Lagi-lagi Darrren menarik kerah bajunya.
“Dengarkan aku dulu!” kata Brian, keringat dingin membasahi keningnya.
Darren melepaskan cengkramannya. Brian kambali bernafas lega.
“Maksudku, kau harus mau bekerja,” lajut Brian.
“Aku pemilik perusahaan!” kata Darren.
“Ya, kau pemilik perusahaan, “ jawb Brian.
Darren menatap Brian.
__ADS_1
“Kau harus ingat, jika kau mati, seluruh kekayaanmu milikku,” kata Darren.
“Eh kakak tidak bisa, aku juga anak ayah, aku juga berhak!”seru Jeni.
Darren tidak bicara, dia kembali duduk dikursi. Brian menatap putranya itu, dia tidak menyangka kalau putranya sekasar itu.
“Baiklah, mulai besok kau bisa bekerja, nanti ada asisten yang akan membantumu, karena kau pasti belum terbiasa bekerja,” kata Brian, berjalan mendekati kursi lalu duduk disalah satu kursi itu.
Jeni menatap Darren.
“Kakak, kau sangat aneh tiba-tiba minta rumah, mobil, perusahaan, kenapa?” tanya Jeni.
“Bukan urusanmu!” jawab Darren.
Jeni kembali melirik kantong-kantong itu, dia masih penasaran baju hamil siapa itu?
“Itu baju…baju…” Jeni tiab-tiba melotot dan menoleh pada Darren.
“Itu baju hamil buat Valerie?” tebaknya.
“Kau sok tahu!” jawab Darren.
“Benarkan? Itu bajunya Valeri?” tanya Jeni kembali mendekati kantong –kantong itu tapi Darren menjauhkannya.
“Kakak, jangan-jangan ini ada kaitannya dengan kakak tiba-tiba minta rumah mobil, perusahanan. Oh… jangan katakan kalau kakak menyukai wanita itu!” seru Jeni.
“Kau ini bicara apa?” kilah Darren.
“Sudah jangan berbohong lagi! Itu baju Valerie kan? Siapa wanita hamil yang kakak kenal selain Valerie? Tidak, tidak, aku tidak mau kau menyukai wanita itu!” kata Jeni.
“Siapa Valerie?” tanya Brian.
“Perawat itu Yah, perawat kakek, istrinya Earlangga, cucunya Ny.Grace,” jawab Jeni.
Brian mengerutkan keningnya.
Darren langsung bangun.
“Kalian sangat berisik, mana kamarku? Aku mau istirahat!” kata Darren sambil mengambil kantong-kantong itu.
Brian memanggil seorang kepala pelayan.
“Pak Hilman, Siapkan kamar untuk putraku,” jawab Brian.
Kepalanya Brian sudah pusing tujuh keliling, selama ini dia tidak mau direpotkan soal anak, sekarang anak –anaknya berdatangan sendiri kerumahnya dan membuat hidupnya repot.
Seorang kepala pelayan muncul dari ruangan lain, lalu menoleh pada Darren dan kemudian naik ke lantai atas, Darrenpun mengikutinya.
“Ini kamar tamunya,” kata Pak Hilman
“Aku diberi kamar tamu? Aku ini putranya Pak Brian!” bentak Darren.
“Kamarnya nanti saya siapkan, Pak. Sementara kamar tamu yang sudah siap,” kata kepala pelayan, merasa takut karena tiba-tiba di bentak Darren.
“Ya sudah, cepet kau pergi! Siapkan makan yang enak buatku, aku lapar!” perintah Darren sambil menutup pintu kamar itu dengan keras. Pak Hilman sampai kaget, diapun segera meninggalkan tempat itu.
Darren melihat kesekeliling kamar itu. Dia menyimpan kantong-kantong itu diatas sofa lalu menjatuhan tubuhnya diatas temat tidur, menatap langit-langit.
Kepalanya membayangakn Valerie, kira-kira apa yang akan Valerie lakukan jika bertemu dengannya dengan penampilannya yang berubah? Dia akan muncul didepan Valerie sebagai seorang pria kaya yang tidak kalah keren dari Earlangga.
**************
Beberapa hari kemudian…
“Sayang, kau serius akan pindah ke London?” tanya Lorena pada Earlangga, saat mereka berkumpul diruang keluarga.
Earlangga menoleh pada Valerie yang duduk disampingnya.
__ADS_1
“Iya Bu, aku ingin Valerie melahirkan disana saja,” jawab Earlangga, lalu melirik pada Ny,Grace yang sedang membuka-buka tabloidnya.
Lorena menoleh pada suaminya.
“Aku terserah Earlangga saja,” kata Sean.
“Aku sudah membeli rumah disana, kalau tinggal sama grandma grandfa disana aku khawatirnya Valerie merasa tidak nyaman,” ujar Earlangga.
Tangannya menggenggam tangan istrinya.
“Tapi jangan biarkan Valerie sendirian disana,” ucap Lorena.
“Tidak, banyak pekerja juga disana,” kata Earlangga, tangannya mengusap perut istrinya.
“Kau sudah ke Dokter kan? Sudah ada jenis kelamin bayi itu?” tanya Lorena.
“Belum terlihat,” jawab Valerie.
“Oh begitu ya, mau laki-laki atau perempuan juga tidak masalah,” kata Lorena.
“Harus laki-laki!” tiba-tiba Ny,Grace bicara sambil membalikkan lembar tabloidnya, membuat semua orang menoleh kearahnya.
Earlangga langsung memberengut, ini Neneknya mau apa lagi?
“Laki-laki atau perempuan sama saja Bu,” kata Lorena.
“Ya beda lah! Kita ini keturunan dengan anak sedkit, jadi harus anak laki-laki,” ujar Ny.Grace.
Lorena tidak bicara lagi malas berdebat dengan ibu mertuanya.
“Bu, jangan mulai lagi, Biarkan Earlangga dan Valerie tenang,” kata Sean.
Ny,Grace menutup tabloidnya.
“Salahnya dimana? Kalau memang itu bayinya Earlangga, haruslah bayi laki-laki, kita butuh penerus perusaahan,” kata Ny.Grace.
“Nenek,” tegur Earlangga, tidak setuju dengan pendapat Neneknya.
Ny,Grace menatap Earlangga.
“Earl, kau harus sadar, kau memiki banyak kekayaan, kau butuh anak laki-laki! Sudah kau mendapatkan istri yang tidak sebanding, ya anak jangan jadi masalah lagi, harus laki-laki,” kata Ny.Grace.
“Bu, jangan menekan mereka begitu Bu,” ujar Sean.
“Tidak ada tawar menawar lagi, harus anak laki-laki. Jika anak perempuan, Earlangga harus menikah lagi supaya dapat anak laki-laki,” kata Ny,Grace membuat semua orang terkejut.
“Ibu!” terus Lorena.
Valerie terkejut mendengar pertanyaan Ny.Grace. Akan ada masalah apa lagi ini? Kenepa dia tidak bisa menjalani kehamilannya dengan tenang?
Ny.Grace bangun dari duuduknya.
“Pokoknya anak laki-laki, itu juga kalau anak itu anaknya Earlangga. Kalau bukan anaknya Earlangga sih tidak masalah perempuan juga aku tidak peduli,” kata Ny,Grace,lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Valerie langsung saja berkaca-kaca, kenapa masalah seperti tidak habis- habisnya?
Earlangga menoleh pada Valerie dan mengusap rambutnya.
“Anak laki-laki atau perempuan sama saja, jangan fikirkan kata-kata Nenek,” ucapnya.
“Iya,”sahut Lorena sambil tersenyum, memberi semangat pada Valerie, lalu dia menoleh pada suaminya yang tidak berkomentar apa-apa.
“Kalian akan berangkat ke London besok?” tanya Sean mengalihkan pembicaraan.
“Iya ayah,” jawab Earlangga.
Valerie mengusap perutnya dengan lembut. Menikah dengan pria tampan dan kaya ternyata tidak sebahagia yang dibayangkan setiap gadis, ternyata dicintai suami saja tidaklah cukup. Dia masih harus berjuang mempertahankan rumah tangganya. Melihat kondisi seperti ini dia tidak tahu apakah dia bisa bertahan menjadi istrinya Earlangga?
__ADS_1
***************