
Lorena menatap Sean penuh dengan curiga.
“Kau tidak sedang menjualku kan? Jangan-jangan ini pekerjaan sampinganmu yang membuatmu kaya?” tanya Lorena.
“Kau ini bicara apa? Pekerjaanku tidak ada hubungannya dengamu,” sanggah Sean, jadi kesal kenapa Lorena menuduhnya yang bukan bukan.
“Karena kau sangat mencurigakan, kau menguntitku, tiba-tiba kau janjian dengan temanmu dan kau mencari hotel, sangat mencurigakan,” ucap Lorena, masih menatap Sean.
Sean menghela nafas panjang, sebenarnya dia kesal, kenapa pertengkaran selalu ada diantara mereka, tapi dia mencoba menenangkan dirinya. Hatinya jadi bingung, kenapa dia jatuh cinta pada wanita yang sering bertengkar dengannya? Apa benar dia jatuh cinta?
“Dengar, aku tidak mungkin menjualmu, tidak mungkin,” ucap Sean menatap Lorena dan mencoba meyakinkan gadis itu.
“Bisa saja kan, makanya kau menjadi asisten presdir yang sangat kaya, karena kau memiliki usaha yang illegal?” tuduh Lorena lagi, membuat Sean semakin kesal.
“Aku bilang tidak mungkin! Tidak mungkin!” kata Sean.
“Kenapa? Coba katakan alasanmu kalau kau tidak mungkin menjualku?” tanya Lorena masih menatap Sean.
“Karena aku tidak mungkin menyakitimu,” ucap Sean, membalas tatapannya Lorena.
“Kenapa tidak?” tanya Lorena.
“Karena aku…” Sean tidak melanjutkan bicaranya. Hatinya ingin mengatakan karena aku mencintaimu. Tapi dia tidak mungkin mengatakan itu, belum tentu Lorena senang mendengarnya, sekarang saja sudah curiga yang macam macam.
“Karena apa?” tanya Lorena.
“Karena kau tidak laku dijual!” jawab Sean asal bicara. Mendengar jawaban Sean, Lorena langsung marah.
“Seaaaan! Kau keterlaluan!” teriak Lorena dan memukulkan tangannya ke bahunya Sean.
Sean buru-buru menahannya dan memegang kedua tangan Lorena.
“Maaf, aku tidak bermaksud begitu,” ucap Sean, meralat ucapannya, dia juga bingung kenapa dia berkata begitu?
“Tidak bermaksud begitu bagaimana? Jelas jelas kau bilang seperti itu,kau ingin menjualku dan tidak laku!” gerutu Lorena, sambil menarik kedua tangannya dengan keras, tapi karena menariknya terlalu keras dan posisi tubuhnya yang miring menghadap Sean, hampir saja dia akan terjungkal kebelakang kalau Sean tidak segera menarik pinggangnya dan memeluknya. Buk! Lorenapun jatuhnya jadi ke depan jatuh ke pelukannya Sean.
Lorena terkejut dengan apa yang terjadi, dia tidak menyangka kalau Sean akan memeluknya seperti itu, sampai-sampai wajahnya begitu dekat dengan wajahnya Sean. Hidung mancungnya pria itu hampir menyentuh hidungnya.
Sean menatapnya dengan sama-sama terkejut, jantungnya bergebar kencang mendapati gadis itu dalam pelukannya.
“Maaf,” ucap Sean, matanya sedikitpun tidak beralih menatap mata cantiknya Lorena. Dia berkata begitu tapi tangannya sama sekali tidak melepas pelukannya.
“Ya,” jawab Lorena pelan, diapun sama merasa gugup. Lorena akan bergerak mundur, tapi ternyata tidak bisa karena Sean masih memeluknya dengan erat.
“Kenapa kau tidak melepaskan pelukanmu?” tanya Lorena. Keningnya mulai berkeringat, dia benar-benar salah tingkah, pria tampan itu memeluknya.
“Oh iya maaf,” ucap Sean sambil melepas pelukannya dengan berat hati.
Lorena kembali duduk seperti semula sambil merapihkan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Gara-gara pelukan itu dia jadi merasa canggung.
“Jadi kita akan kemana sekarang?” tanya Lorena, mencoba mencairkan suasana.
“Kita cari hotel terdekat, kau tunggu di Loby, aku akan meeting sebentar dengan temanku di ruang meeting di hotel itu, tidak apa-apa kan kau menunggu sebentar?” jawab Sean sambil menyalakan mobilnya.
“Ya,” jawab Lorena mengangguk.
“Tapi kalau kau sangat sibuk, bagaimana kalau aku pakai taxi saja pulang kampungnya?” lanjut Lorena.
“Jangan!” teriak Sean, membuat Lorena kaget.
“Mm maksudku, seperti yang tadi aku bilang taxi sangat rawan, “ ucap Sean, merendahkan suaranya.
“Baiklah,” jawab Lorena akhirnya mengangguk. Hati Sean menjadi lega, akhirnya Lorena ada bersamanya.
“Sekarang kau bantu aku searching hotel terdekat,” ucap Sean.
“Baiklah,” jawab Lorena sambil membuka handphonenya, mencari hotel terdekat.
Akhirnya didapatkannya hotel terdekat di area yang mereka lewati.
“Kau tunggu disana ya, aku mau bicara dengan receptionis,” kata Sean.
Lorena mengangguk, diapun pergi munuju sofa-sofa kulit yang ada di loby itu.
Sean bicara dengan receptionis.
“Aku butuh ruangan meeting, jangan yang terlalu besar, aku butuh hari ini saja,” ucapnya.
“Baik, apa anda juga akan memesan kamar,Pak?” tanya receptionis.
__ADS_1
Sean berfikir sebentar. Menimbang nimbang apa harus memesan kamar atau tidak. Tapi sebaiknya memesan kamar untuk Lorena beristirahat, dia tidak mungkin membawa Lorena rapat.
“Tunggu sebentar, saya akan tanyakan dulu..” kata Sean sambil menunjuk pada Lorena yang sedang duduk.
“Silahkan tanyakan dulu pada istri anda Pak, tapi harus segera ya pak, karena ini week end, jadi hanya sisa beberapa kamar saja,” kata receptionis.
“Ya,” jawab Sean, dia tidak banyak bicara lagi, receptionis mengira Lorena istrinya.
Sean pun menghampiri Lorena.
“Aku khawatir pekerjaanku agak lama, kau tidak keberatan kalau kita memesan kamar mungkin kau mau beristirahat?” tanya Sean.
Lorena menatap Sean.
“Pekerjaanmu lama?” tanya Lorena.
“Hanya jaga-jaga saja, jangan sampai kamarnya full,” jawab Sean.
Lorena berfikir sejenak, dilihatnya hari juga sudah mulai sore. Memang ada baiknya dia memesan hotel supaya dia bisa mandi dan berganti pakaian, perjalanan ke rumahnya masih sangat jauh, membutuhkan waktu berjam jam lagi.
“Kau sangat aneh, katamu sebentar, kenapa jadi harus booking kamar segala?” tanya Lorena.
“Barangkali kau mau mandi dulu,” jawab Sean.
Terdengar handphonenya Sean berdering, segera diterimanya panggilan itu yang ternyata adalah Pak Deni.
Diapun menyebutkan alamat tempatnya sekarang. Kalau misalkan dia melanjutkan perjalanannya, Pak Deni akan semakin jauh mengejarnya, jadi memang dia harus berhenti beberapa saat.
“Ya sudah terserah kau saja,” kata Lorena, Sean pun segera ke receptionis lagi.
“Bagiamana Pak?” tanya receptionis.
“Baiklah minta 2 kamar,” jawab Sean.
“Dua?” receptionis menatap Sean.
“Iya,” jawab Sean.
“Tapi pak, maaf saya hanya menyisihkan satu kamar tadi, sekarang kamarnya sudah full,” kata receptionis, membuat Sean terkejut.
Melihat Sean yang lama di receptionis, Lorenapun jadi mengampiri mereka.
“Kamarnya hanya satu,” jawab Sean.
“Apa? Satu?” Lorena terkejut.
“Iya pak, tadi saya fikir anda dan istri anda hanya butuh satu kamar,” kata receptionis.
“Apa? Istri?” tanya Lorena tambah terkejut saja, ternyata dia disangka istrinya Sean.
“Tapi aku bu..” baru juga Lorena akan mengatakan dia bukan istrinya Sean, tiba-tiba tangan Sean menutup mulutnya dan menariknya menjauh dari receptionis.
“Lepaskan, kau ini apaan sih?” tanya Lorena sambil menepiskan tangannya Sean.
“Tidak usah bilang apa-apa pada receptionos, iya-in aja,” kata Sean.
“Memangnya kenapa?” tanya Lorena.
“Kamarnya cuma ada satu, kalau kau bilang bukan istriku, aku kan malu,” jawab Sean.
“Bukannya dari tadi kau pesannya dua,” kata Lorena.
“Ya sudah, kitakan cuma buat numpang mandi saja, mudah mudahan pekerjaanku sebentar, kita langsung melanjutkan perjalanan ke kampungmu, bagaimana?” tanya Sean.
Sean tidak mungin mengganti lagi rute perjalanannya sedangkan Pak Deni sudah otw menuju hotel ini, nanti jadinya malah kucing-kucingan, yang pentingkan dia sudah menahan Lorena supaya tidak pulang kampung.
“Ya sudah kalau begitu,”akhirnya Lorena setuju, dia fikir ada benarnya juga perkataan Sean, mereka tidak berencana menginap disini.
Akhirnya Sean menuju receptionis dan chek in satu kamar dan satu ruang meeting.
Sean menatap pintu kamar itu, dilihatnya nomor 43 tertera di pintu itu.
Sean akan membuka pintu kamar, tiba-tiba Lorena menahan tangannya.
“Tunggu!” kata Lorena.
“Apa?” tanya Sean. Lorena menatapnya.
“Kau jangan takut aku tidak akan berbuat macam-macam,” kata Sean.
__ADS_1
“Bukan itu,” ucap Lorena.
“Apa?” tanya Sean.
“Kalau Pak Sam datang bersama temanmu itu tidak?” tanya Lorena.
“Tentu saja tidak, dia ada di ibukota,” jawab Sean, hatinya jadi kesal kenapa Lorena ingat pada Sam?
“Syukurlah kalau begitu,” ucap Lorena.
“Kenapa?” tanya Sean.
“Aku takut dia salah faham kalau melihat kita berdua, apa katanya nanti? Dikiranya kita
pacaran, aku kan sedang ikut kontes supaya menikah dengannya,” jawab Lorena, membuat Sean tersadar, Lorena masih mengira dia asistennya Sam.
“Tidak, dia tidak datang,” kata Sean, sambil membuka pintu kamarnya. Sebenarnya dia tidak suka Lorena masih menganggap Sam adalah presdir yang akan dinikahinya kalau Lorena menang kontes, tapi untuk mengatakan kalau dia adalah Presdir yang sebenarnya, dia takut Lorena benar-benar membencinya sebelum Lorena jatuh cinta padanya.
“Ayo,” ajak Sean. Lorena terlihat ragu-ragu untuk masuk, Seanpun sebenarnya agak gugup satu kamar dengan gadis itu.
Terdengar lagi handphonenya berbunyi, Pak Deni menginformasikan sedang ada di perjalanan.
“Apa kau ingin makan sesuatu atau apa?” tanya Sean.
“Tidak, aku tidak lapar,” jawab Lorena. Dia duduk di sofa menyalakan televisi.
Sean berdiri tidak jauh darinya dan menatapnya. Sebenarnya pekerjaannya sangat banyak, apalagi kalau dinilai uangnya bukan jumlah uang yang sedikit yang sedang dia kerjakan ini, tapi karena dia takut kehilangan gadis itu, dia sudah membuat kacau semuanya.
“Kenapa kau berdiri saja? Temanmu masih jauh?” tanya Lorena, sambil memindahkan chanel televisinya.
“Tidak, katanya sebentar lagi,” jawab Sean berbohong padahal Pak Deni dan rombongan baru beberapa menit yang lalu berangkatnya.
Sean duduk di sofa disamping Lorena, diliriknya gadis itu focus pada yang ditontonnya.
“Apa ke kampungmu sangat jauh?” tanya Sean, menatap Lorena yang duduk disampingnya.
“Masih jauh,” jawab Lorena.
“Apa kau juga mengajar music di kampungmu?” tanya Sean.
“Tidak,” jawab Lorena, menggelengkan kepalanya.
“Tidak? Oh aku lupa kau bekerja di perusahaan swasta kan?” tanya Sean, sekarang merasa tertarik untuk mengetahui identitasnya Lorena.
Lorena tediam, dia jadi ingat kalau dia berbohong saat di wawancara itu, karena dia tidak mau menimbulkan banyak pertanyaan dari panitia karena statusnya yang mengikuti kontes ini.
“Apa pekerjaan orangtuamu?” tanya Sean.
”Bekerja di perusahaan swasta,” jawab Lorena, tidak bilang kalau orangtuanya pemilik perusahaan besar.
“Kalau kau bekerja di perusahaan swasta, selama kontes ini kau berhenti atau bagaimana?” tanya Sean.
“Aku cuti,” jawab Lorena.
“Tapi kan cuti tidak bisa lama,” kata Sean.
“Sebenarnya aku tidak tahu apa aku akan melanjutkan ikut kontes ini atau tidak?” ucap Lorena.
“Kenapa?” tanya Sean terkejut, dia takut kalau Lorena tidak ikut kontes lagi.
“Masalahnya…” jawab Lorena, tapi tidak melanjutkan perkataannya.
“Masalahnya apa?” tanya Sean, hatinya langsung merasa cemas.
“Masalahnya sebenarnya aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai, dan aku belum menyukai Pak Sam,” ucap Lorena. Mendengar jawaban Lorena, ada rasa bahagia dihati Sean, ternyata Lorena tidak menyukai Sam.
“Jadi aku ragu apa aku harus ikut kontes lagi atau tidak?” kata Lorena.
“Kalau kau tidak ikut kontes lagi artinya kau tidak akan kembali ke ibu kota?” tanya Sean, dengan hati semakin gelisah.
Lorena mengangguk.
Sean langsung saja kebakaran jenggot. Kalau Lorena pulang kampung bagaimana dia ada waktu untuk selalu bersama Lorena dan membuat gadis ini jatuh cinta? Untuk bisa pulang ke kontrakannya saja, dia sampai membatalkan jadwal kerjanya ke beberapa negara dan membuat pekerjaannya kacau balau. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
********
Readers maaf ya kalau episodenya flat dan membosankan, meskipun tidak pernah ada ide ( selalu ide dadakan ), mumpung ada waktu menulis author tetep nulis sedapetnya saja, yang penting up.
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1