
Nisa terkejut saat pelayannya memberitahukan kalau ada tamu untuknya.
“Tamu siapa? Pagi-pagi begini,” keluhnya, sambil menuruni tangga bersamaan dengan ibunya yang juga akan truurn.
“Tamu siapa?” tanya ibunya.
“Aku tidak tahu,” jawab Nisa
Merekapun keruang tamu, dilihatnya Sean sudah duduk disofa, sedangkan Sam bediri tidak jauh dari tempat Sean duduk.
Nisa menoleh pada Sam yang menatapnya tajam. Pria itu tidak menyukai Nisa.
Nisa mengalihkan pandangannya pada Sean. Melihat pria tampan itu dia langsung tersenyum manis.
“Sean!” sapanya, sambil bergegas menghampiri dan duduk disebrang Sean.
Pria itu duduk dengan santainya bersandar disandaran sofa, menopang sebelah kakinya, menatap Nisa.
“Tumben sekali kau kesini. Kau mencariku?” tanya Nisa dengan wajah berseri-seri.
Ibunya Nisa pun menghampiri dan menyapanya.
“Pak Sean!” sapanya tersenyum ramah. Yang disapa sama sekali tidak tersenyum.
“Aku langsung saja pada tujuanku kesini,” ucap Sean dengan nada tegas dan serius, tidak mau basa basi.
Meihat sikap Sean seperti itu, ibunya Nisa segera duduk dengan hati yang penasaran.
Sean menatap ibunya Nisa lalu beralih pada Nisa.
“Jangan pernah mengganggu istri dan anakku, aku bisa bersikap kasar jika kalian mau,” kata Sean, membuat Nisa dan ibunya saling pandang.
“Maksudmu apa ya?” tanya Nisa.
“Jangan sok polos. Kau membawakan makanan buat istriku, dan sekerang istriku sedang berada dirumah sakit,” jawab Sean.
Mendengar perkataan Sean, membuat Nisa terkejut, dia tidak menyangka apa benar Lorena masuk rumah sakit karena asinan buah yang dia bawa? Lorena hanya makan sedikit mangga itu, ternyata ramuannya benar-benar bagus, batinnya Nisa.
“Apa maksudmu? Aku kesana hanya meminta maaf pada Lorena, itu saja. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku tidak mungkin berani mencelakainya,”ucap Nisa.
“Sebenarnya aku bisa memasukkanmu ke penjara sekarang juga. Aku punya rekaman cctv yang akan meberatkanmu,” kata Sean, semakin membuat Nisa terkejut. Sekarang wajahnya berubah menjadi pucat.
Ibunya Nisa menoleh pada Nisa.
“Apa maksudnya ini?” tanya ibunya.
“Aku juga tidak tahu Bu,” jawab Nisa, berbohong.
“Tidak usah berbohong!” jawab Sean. Dia langsung mengeluarkan handphone-nya.
“Kau mau apa?” tanya Nisa, dengan wajah semakin pucat.
“Aku mau menelpon polisi,” jawab Sean.
“Jangan! Aku tidak mau dipenjara!” teriak Nisa. Sean menghentikan gerakan tangannya.
“Jadi kau sudah mengaku kau yang meracuni istri dan bayiku?” tanya Sean.
“I iya, tapi tolong jangan laporkan aku ke polisi. Aku mohon. Aku minta maaf,” jawab Nisa terbata-bata.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan?” tanya ibunya menatap Nisa.
“Aku hanya disuruh ayah untuk mengugurkan kandungannya Lorena,” bela Nisa pada ibunya.
__ADS_1
Ibunya Nisa tampak terkejut lalu menoleh pada Sean.
“Pak Sean, aku tidak tahu soal ini, mohon maafkan Nisa, dia tidak sengaja melakukannya. Mungkin karena dia merasa kecewa tidak jadi menikah denganmu,” kata ibunya Nisa.
Sean menatap ibunya Nisa lalu pada Nisa.
“Jadi kau memang sengaja mencelakai istri dan bayiku?” tanya Sean.
“Iya aku minta maaf, aku tidak mau dipenjara,” jawab Nisa, sambil menunduk.
“Baiklah, aku rasa rekamannya sudah cukup. Ini akan menjadi bukti dipengadilan nanti,” kata Sean. Membuat Nisa dan ibunya terkejut.
Sean memasukkan handphone-nya ke sakunya.
“Jangan sekali-kali menyentuh istriku, atau aku akan dengan mudah menjebloskanmu ke penjara,” ancam Sean.
Nisa terdiam membisu, dia tidak menyangka Sean akan merekam pengakuannya.
“Aku tidak main-main. Kau pastikan ayahmu juga akan lama mendekam dipenjara,” kata Sean dengan ketus.
“Aku minta maaf, tolong jangan masukkan aku ke penjara,” pinta Nia.
“Iya Pak Sean tolong maafkan putriku,” kata ibunya Nisa.
Sean tidak bicara lagi, dia menatap tajam pada Nisa juga pada ibunya.
“Jangan coba-coba mengusik keluargaku, aku tidak suka. Kalau kalian sekali lagi mengganggu anak istriku aku tidak akan memaafkan kalian,” ucap Sean, membuat Nisa dan ibunya semakin tidak bisa bicara.
“Sebenarnya aku bisa memasukanmu ke penjara sekarang juga dan menambah masa tahanan ayahmu, tapi karena permintaan istriku aku tidak melakukannya. Tapi awas, kalau terjadi apa-apa pada bayiku nanti, aku tetap akan memasukkanmu ke penjara!” kata Sean.
Nisa dan ibunya semakin tidak bisa berkutik. Mereka tidak berani membantah atau Sean akan melakukan ancamannya.
Sean bangun dari duduknya, tanpa bicara apa-apa lagi, dia menoleh pada Sam yang segera mengikutinya berjalan dibelakang.
“Kenapa rencanaku selalu gagal?” teriaknya, lalu menarik taplak meja dan dilemparnya sembarang.
“Aku tidak terima!” teriaknya lagi.
Melihat sikap Nisa membuat ibunya terkajut, dia langsung mendekati Nisa.
“Sayang, jangan seperti itu, sabarlah! Kenapa kau berindak seceroboh itu?” seru ibunya.
“Apa lagi yang harus aku lakukan? Aku tidak terima!” teriak Nisa.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain membiarkan semunya terjadi. Bukti rekaman ada pada Pak Sean! Ibu tidak mau kau dipenjara juga,” kata ibunya Nisa.
“Aku tidak suka kalah!” gerutu Nisa.
Ibunya Nisa langsung memeluk Nisa, mencoba meredam kemarahannya.
"Sudahlah, jangan melakukan hal yang akan merugikanmu lagi," kata ibunya. Nisa tidak menjawab, dia kesal sangat kesal.
***********
Di rumah sakit…
Terdengar suara ketukan di pintu membuat Lorena dan Indri menoleh. Lorena tersenyum saat melihat suaminya muncul dipintu dengan membawa buket bunga.
Pria itu menghampirinya, sedangkan Sam melirik pada Indri mengajaknya keluar dari ruangan itu. Indripun segera mengambil tasnya lalu keluar tanpa bicara apa-apa, diikuti Sam.
Sean mengulurkan bunga itu pada Lorena yang menatapnya.
“Kau membawakan aku bunga?” tanya Lorena.
__ADS_1
“Iya,” jawab Sean, memberikan bunga itu pada Lorena. Hatinya merasa bahagia melihat Lorena tersenyum senang melihat bunga yang dibawanya.
Diulurkannya bunga itu yang langsung diterima Lorena.
“Terimakasih,” ucap Lorena sambil mencium bunga itu.
“Aku jadi teringat, ini bunga pertama yang kau berikan padaku kan?” lanjut Lorena, sambil menatap suaminya yang duduk disampingnya menghadap kearahnya.
“Aku mau minta maaf,” ucap Sean.
“Minta maaf soal apa?” tanya Lorena.
“Aku belum bisa membahagiakanmu,” jawab Sean.
Lorena menggelengkan kepalanya.
“Jangan bicara begitu,” ucap Lorena.
“Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tahu pernikahan kita tidak membuatmu bahagia, tapi aku sangat mencintaimu,” kata Sean, menatap Lorena yang juga menatapnya.
“Kata siapa aku tidak bahagia? Aku bahagia,” ucap Lorena, kembali tersenyum.
Sean membalas tersenyum pada istrinya, dia tahu istrinya hanya sedang menghiburnya. Diapun beringsut mendekat dan langsung mengulurkan tangannya kedepan Lorena.
“Aku ingin memelukmu,” kata Sean.
Lorena langsung mencondongkan tubuhnya kearah Sean yang langsung dipeluk Sean.
“Kau lebih baik sekarang?” bisik Sean ke telinga Lorena.
“Ya,” jawab Lorena.
“Apa kau ingin sesuatu?” tanya Sean lagi.
“Tidak,” jawab Lorena menghadapkan wajahnya ke leher suaminya.
“Kau selalu menjawab tidak,” keluh Sean, memeluk punggung istrinya dengan erat.
“Memangnya aku harus menjawab apa?” tanya Lorena.
“Aku tidak keberatan kalau kau banyak maunya,” jawab Sean, membuat Lorena tertawa.
“Bayi kita pasti senang memiliki ayah sepertimu,” kata Lorena.
“Makanya jagalah dirimu baik-baik, supaya bayi kita lahir dengan sehat,” jawab Sean.
“Iya,” jawab Lorena mengangguk.
“Kau sudah meminum obatmu?” tanya Sean.
“Sudah,” jawab Lorena.
“Sekarang tidurlah dipelukanku,” ucap Sean, memperat pelukannya.
Lorena hanya mengangguk lagi, kedua tangannya memeluk tubuh pria itu semakin erat. Tidak ada yang bisa dikatakannya lagi, yang dirasanya kini suaminya membelai rambutnya. Hanya satu yang membuatnya bahagia, dicintai suaminya.
**********
Readers, bagi yang sudah bosan, maaf ya.
Sebenarnya aku sangat sibuk dan seharusnya hiatus. Tapi karena suka kefikiran belum nulis juga kangen Sean dan Lorena jadi aku sempatkan nulis sebisanya meskipun episodenya pendek pendek.
Maaf bagi yang tidak suka ceritanya, aku tidak punya banyak waktu untuk berfikir, hanya nulis dadakan saja.
__ADS_1
Terimakasih bagi yang masih setia.