
Di dalam ruangan itu tampak hening. Ada dua orang pria yang sedang memasukkan map-mapnya ke dalam tas kopernya yang ada diatas meja.
Disebrangnya ada seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik, Ny. Grace, Sean juga ada disana, dia duduk dengan santai menopang sebelah kaki kanannya ke atas kaki kirinya, punggungnya bersandar di sandaran kursinya yang sedikit bergerak gerak.
Pak Deni juga hadir disana, berdiri tidak jauh dari Sean.
“Kami hanya mengingatkan lagi tentang penyerahan seluruh warisan itu, sebelum usia 30 tahun Bapak Sean harus sudah menikah dan memiliki keturunan,” kata Pak Arfan, salah satu dari pria tadi.
Ny.Grace menoleh pada Sean, yang langsung bicara mengerti arti tatapan ibunya.
“Aku sudah memiliki calon, aku akan segera menikah,” kata Sean.
“Baguslah kalau begitu. Siapa gadis yang beruntung itu?” tanya Pak Arfan, menatap Sean sambil tersenyum.
“Namanya Lorena, dia seorang pemain biola,” ucap Sean.
“Pemain biola?” tanya Pak Arfan, dia agak terkejut, hatinya bertanya-tanya kenapa Sean akan menikah dengan pemain biola?
“Dia bukan pemain biola biasa, dia putri bangsawan di London,” jelas Ny.Grace, dia sudah menebak pasti reaksi orang-orang akan seperti itu jika Sean menikah tidak dengan gadis yang sederajat.
“Aku tidak peduli dia seorang pemain biola atau putri bangsawan, aku sangat mencintainya,” jawab Sean dengan mantap, membuat dua Pengacara itu tersenyum.
“Apakah ada pertanyaan lagi?” tanya Pak Joni, pengacara yang satunya lagi.
“Tidak ada, sudah cukup,” ucap Sean dan Ny.Grace bersamaan.
“Baiklah, kalau begitu kami permisi. Kami tunggu undangan pernikahannya Pak Sean,” kata Pak Arfan diangguki Pak Joni.
“Ya kalian pasti kuundang,” jawab Sean, hatinya berbunga-bunga, hari-harinya terasa bahagia sejak melamar Lorena, tidak ada lagi hari-hari yang sepi disetiap waktunya.
Akhirnya kedua pria itu berpamitan dan meninggalkan ruangan itu. Kini hanya tinggal Ny.Garce, Sean dan Pak Deni.
“Jadi kapan kau akan menikah?” tanya Ny.Grace, menatap Sean.
“Secepatnya,” jawab Sean.
“Kau sudah mantap ingin menikah dengan gadis pemain biola itu?” tanya Ny,Grace.
“Iya, Lorena namanya,” jawab Sean.
“Iya Lorena. Apa dia sudah dites kesehatan?” tanya Ny.Grace.
“Tes kesehatan? Tes kesehatan apa?” tanya Sean, terkejut dengan pertanyaan Sean.
“Tes kesuburan, memastikan kalau kalian menikah akan langsung memberimu keturunan secepatnya,” jawab Ny.Grace.
Seang mengerutkan keningnya, menatap ibnya.
“Apa itu perlu? Lorena bisa tersinggung kalau belum menikah sudah memikirkan masalah itu. Lebih baik tidak usah,”kata Sean.
“Tentu saja perlu, hanya untuk memastikan saja, kau harus ingat persyaratannya bukan hanya menikah saja tapi harus sudah memiliki keturunan jadi setelah kalian menikah, kalian harus langsung program kehamilan, jadi perlu tes kesuburan dari sekarang,” kata Ny.Grace.
“Baiklah, aku akan mengajak Lorena ke Dokter sekarang sekalian aku akan makan di restaurant itu,” ucap Sean, sambil bangun dari duduknya.
“Seharusnya dia tidak perlu bekerja lagi di restaurant itu, dia akan menikah denganmu,”kata Ny.Grace.
“Masalahnya dia menyukainya, bukan masalah uang, aku tidak bisa melarangnya, asal dia senang aku mendukung saja,” jawab Sean.
Ny. Grace menoleh pada Pak Deni.
“Pak Deni tolong siapkan jadwal untuk melamar Lorena,” kata Ny.Grace.
“Baik Nyonya,” jawab Pak Deni ,menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Sean!” panggil Ny, Grace saat Sean sudah sampai pintu. Pria itu membalikkan badannya.
“Tanyakan pada Lorena, kapan kita bisa bertemu orangtuanya untuk membahas penikahan kalian,” ucap Ny.Grace.
“Baiklah,” jawab Sean.
“Kau juga, apa kau akan terus-terusan tinggal di kontrakan itu?” tanya Ny.Grace.
“Kasihan Lorena kalau tinggal disana sendirian, aku tidak mau dia pulang kampung,” jawab Sean.
Ny.Grace tidak bicara lagi. Seanpun menutup pintu ruang kerja yang ada di rumahnya itu.
Dua pengacara itu baru keluar dari rumahnya Sean, saat telponnya Pak Arfan berbunyi.
“Halo, ada apa Pak Tedi?” tanya Pak Arfan
“Kau sedang ada dimana?” tanya Pak Tedi.
“Aku baru keluar dari rumahnya Pak Sean,” jawab Pak Arfan.
“Bagaimana kabarnya dia, apa dia akan segera menikah?” tanya Pak Tedi.
“Tentu saja,” jawab Pak Arfan,
“Dengan pemain biola itu? Pasti Ny. Grace tidak setuju kan? Masa Sean menikah dengan gadis biasa saja,” kata Pak tedi.
“Kau salah, gadis itu bukan pemain biola biasa, dia putri bangsawan di London, jadi tidak ada masalah dengan Ny Grace,” jawab Pak Arfan.
Mendengar jawaban dari Pak Arfan, membuat Pak Tedi kesal. Rencananya untuk menggagalkan pernikahannya Sean gagal lagi. Tadinya dia berharap Ny.Grace akan melarang pernikahan mereka, ternyata malah gadis itu bukan gadis sembarangan.
“Berarti penyerahan warisan akan berjalan lancar,” kata Pak Tedi.
“Tentu saja paling nanti hanya memastikan kesuburun calon istrinya Pak Sean, karena mereka harus segera memiliki keturunan,” jawab Pak Arfan.
“Baiklah Pak Arfan, aku tidak mau mengganggu kerjamu lebih lama lagi, sampai jumpa,” kata Pak Tedi.
Pak Arfan hanya menatap telponnya yang ditutup Pak Tedi. Dia keheranan Pak Tedi tadi menelponnya berarti ada perlu kenapa malah sekarang menyudahi pembicaraan mereka? Tapi Pak Arfan tidak ambil pusing, di segera menyusul temannya masuk ke mobil mereka.
Sean sudah sampai di restaurant itu, dia tidak langsung duduk dikursi yang sudah disediakan pelayan, dia malah berdiri menatap kearah pentas karena calon istrinya itu sedang tampil sekarang.
Lorena yang melihat Sean berdiri menatapnya, tersenyum kearahnya. Sebuah senyum yang membuat hati Sean sangat bahagia.
Setelah menyelesaikan lagunya, Lorena segera menghampiri Sean yang masih berdiri sedari tadi.
“Kenapa kau tidak duduk?” tanya Lorena keheranan.
Sean tidak menjawab, tangannya langsung memeluk pinggang Lorena lalu mencium pipinya.
“Kalau aku duduk, padanganku terhalang orang yang makan disana,” jawab Sean, menunjuk orang-orang yang makan dikursi yang lebih dekat ke tempat pentas tadi, membuat Lorena tersenyum.
Sean duduk dikursi itu begitu juga dengan Lorena.
“Setelah ini kau tidak ada acara kan?” tanya Sean.
“Tidak, memangnya kenapa?” tanya Lorena.
Sean memegang tangannya Lorena.
“Kalau kau tidak keberatan, aku mau mengajakmu ke Dokter setelah makan,” jawab Sean.
“Ke Dokter? Mau apa?” tanya Lorena.
“Untuk mengetes kesuburan kita,” jawab Sean, membuat Lorena terkejut.
__ADS_1
“Tes kesuburan? Buat apa? Kita kan belum menikah dan belum ada rencana kehamilan.” tanya Lorena.
“Supaya kita bisa langsung program kehamilan jika sudah menikah nanti,” jawab Sean.
“Apa perlu dilakukan sekarang?” tanya Lorena.
“Ibuku memintanya, sebenarnya aku tidak setuju tapi ya tidak apa-apalah, ini buat kita juga,” jawab Sean.
Meskipun Lorena merasa bingung, tapi akhirnya dia mengangguk. Sean mengecup tangannya Lorena.
“Kau sudah memesan makanan?” tanya Lorena.
“Belum,” jawab Sean.
“Aku akan pesan,” jawab Lorena, lalu memanggil pelayan.
Setelah makan siang, mereka pergi kerumah sakit yang bekerja sama dengan keluarganya Sean. Lorena masih bingung dengan tes yang akan dilakukannya ini.
“Sean!” panggil Lorena, saat mereka masih diruang tunggu, karena Dokternya masih ada pasien.
“Apa ada yang kau sembunyikan padaku?” tanya Lorena, menatap Sean yang duduk disampingnya. Tangan pria itu terus menggenggam tangannya.
“Maksudmu apa?” tanya Sean balas menatap Lorena.
“Pasti ada alasan lain tentang tes kesuburan ini kan? Kenapa harus dilakukan saat kita belum menikah?” tanya Lorena.
Sena terdiam mendapat pertanyaan seperti itu.
“Kita akan menikah, jangan ada lagi yang ditutup-tutupi, katakan padaku, ada apa sebenarnya?” tanya Lorena.
Sean berfikir sejenak lalu dia mengusap-usap tangannya Lorena.
“Baiklah aku akan bercerita. Kau tahu alasanku kenapa aku harus cepat-cepat menikah?” tanya Sean.
Lorea menggeleng.
“Karena kakekku akan memberikan semua warisannya saat usiaku 30 tahun,” jawab Sean membuta Lorena terkejut.
“Apa maksudmu? Kau mencari istri untuk warisan?” tanya Lorena, tidak percaya.
“Jangan salah faham dulu, aku harus melakukannya karena jangan sampai warisan itu jatuh ke tangan yang salah. Kakekku ingin aku sudah menikah diusia 30 tahun dan sudah memiliki anak,” jawab Sean.
Mendengarnya membuat Lorena melepaskan tangannya Sean.
“Jadi kau juga mengajakku tes kesuburan ini untuk itu juga? Memastikan kalau aku bisa hamil atau tidak? Bagaimana kalau ternyata aku tidak subur, kau akan meninggalkanku?” tanya Lorena, dengan nada ketus.
“Tidak sayang, tidak begitu, jangan befikir begitu, aku mencintaimu,tidak ada kaitannya dengan warisan ini,”kata Sean, tangannya langung menyentuh pipiya Lorena. Gadis itu mulai memberengut.
“Tolong jangan salah faham, apapaun hasil tesnya, aku akan tetap menikahimu, aku hanya ingin menikah denganmu, janagn terlau memikir tes ini,” ucap Sean. Dia sangat takut Lorena marah.
“Kau jangan marah dulu, kita jalani saja,” ucap Sean lagi, sambil tangannya mengusap rambutnya Lorena,yang masih memberengut.
Lorena tidak bicara, sebenarnya dia tidak suka dengan tes kesuburan sebelum menikah, dia merasa tidak nyaman, kenapa harus ada tes kesuburan segala?
“Kalau kau benar-benar mencintaiku dan ingin menikah denganku seharusnya tidak perlu seperti ini,” keluh Lorena.
Sean segera memeluknya, dia bisa memahami perasaannya Lorena, tapi tes ini haus dilakukan untuk meyakinkan ibunya.
“Tentu saja aku sangat mencintaimu, jangan terlalu memikirkan tes ini,apapun hasilnya aku juga tidak peduli,” kata Sean.
Terdengar suara perawat meanggil Sean. Pria itu melepaskan pelukannya, mengajak Loena masuk keruangan dokter itu.
************
__ADS_1
Maaf ya episode ini penulisannya kurang enak dibaca, memory authornya belum kumpul hehe…