Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-47 Earlangga semakin bingung


__ADS_3

Valerie dan Nella ke mejanya Earlangga. Saat melihat Nella, Earlangga langsung tersenyum.


“Kenapa? Kau kaget karena ternyata aku teman istrimu?” tanya Nella, masih berdiri memeluk Valerie.


“Aku fikir kalian tidak saling kenal,” kata Earlangga.


Dalam hati dia berkata kalau tahu begini mending tanya pada Nella daripada ngikutin infonya Jeni nyari-nyari Dokter Dandy segala.


“Aku mau protes,” ucap Nella.


“Protes soal apa?” tanya Earlangga.


“Protes kenapa istrimu masih memanggilmu Bapak! Engga lucu banget istri sendiri memanggil masih memakai Bapak segala,” jawab Nella, membuat Valerie terkejut dan menyenggol Nella.


“Kau ini bicara apa sih? Aku ini perawatnya Earlangga,” kata Valerie.


“Dulu, sekarang kau kan istrinya,” kata Nella.


“Memangnya dia harus memanggilku apa?” tanya Earlangga, menatap Nella.


“Tentu saja dia bisa memanggilmu nama saja atau sayang,” jawab Nella.


“Apa? Sayang? Kau ini bicara apa?” tanya Valerie terkejut.


“Iya sayang.  Kau kan istrinya! Tega amat istri sendiri dibiarkan memanggil Bapak,” keluh Nella.


Earlangga malah tertawa mendengarnya.


“Aku tidak menyuruhnya tetap memanggil Bapak,” ucap Earlangga.


“Ngeles, tidak mau disalahkan,” kata Nella.


“Jadi dia harus memanggil apa?” tanya Earlangga lagi, dari roman mukanya masih terlihat menahan tawa.


“Ya sayanglah,” ucap Nella.


Earlangga tertawa lagi, lalu menoleh pada Valerie yang memerah mukanya. Semua orang memang mengira Earlangga yang menghamilinya.


“Baiklah, kau boleh memanggilku sayang,” ucap Earlangga membuat Valerie terkejut.


“Apa?” tanyanya dengan bingung.


Nella langsung tertawa.


“Pada suami sendiri, kaku amat,” gerutunya, sambil menyenggol tangan Valerie, lalu dia menoleh pada Earlangga.


“Memangnya ada apa kau ingin bertemu?” tanya Nella.


“Aku cuma ingin tahu saja apa temannya Valerie itu kamu atau bukan,” jawab Earlangga.

__ADS_1


“Ooh dikirain ada apa,” ucap Nella.


“Tapi aku ada perlu sebentar,” kata Earlangga, sepertinya dia memang sangat tidak sabar ingin bicara dengan Nella. Dia langsung bangun dari duduknya dan mendekati Nella, lalu menoleh pada Valerie.


“Kau tunggu dulu sebentar, aku ada perlu pada Nella,” kata Earlangga.


“Ya baiklah,” jawab Valerie sambil duduk dikursinya tadi.


Nella menoleh pada Earlangga yang langsung menarik tangannya, mengajaknya masuk ke ruangan lain resto itu. Merekapun berhenti dekat kantornya Indri.


“Ada apa?” tanya Nella, menatap Earlangga yang terlihat sangat serius.


“Kau temannya Valerie kan?” tanya Earlangga.


“Iya,” jawab Nella.


“Sejak kapan?” tanya Earlangga.


“Sudah lama sudah berapa tahun ya,” Nella mengingat-ingat.


“Berarti kau tahu kan siapa pacarnya Valerie?” tanya Earlangga.


“Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Nella, merasa terkejut dan menatap pria itu.


“Aku ingin tahu siapa pacar Valerie yang terdekat, yang paling dekat,” jawab Earlangga.


“Siapa ya, masalahnya dulu ada sih dulu pacarnya,” kata Nella, membuat Earlangga merasa tidak tenang. Jantungnya berdebar kencang.


“Soalnya Valerie juga belakangan bersikap aneh, hanya saja aku sibuk dia juga sibuk jadi kami tidak bertemu lagi. Baru bertemu sekarang,” lanjut Nella.


“Bisa kau beritahu siapa pacarnya?” tanya Earlangga merasa penasaran.


“Sudah putus sudah setahun yang lalu mungkin, sudah lama, dia jomblowati,” kata Nella.


“Apa? Jomblowati?” tanya Earlangga mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan kata jomblowati.


“Jomblowati. Wanita yang tidak punya pacar,” jawab Nella.


Mendengarnya benar-benar membuat Earlangga lega, tapi kalau Valerie tidak punya pacar, siapa yang menghamilinya? Apa Valerie serius mengatakan tidak tahu itu memang dia tidak tahu atau bagaimana?


“Eh, ada apa sih? Kau membuatku bingung,” kata Nella.


“Apa kau tidak tahu kalau Valerie punya pacar beberapa bulan kebelakang?” tanya Earlangga.


“Sepertinya tidak. Dia itu kan kerja juga merawat pasien lumpuh dan stroke, dan majikannya itu sangat cerewet, dia tidak bisa kemana mana selain pada jam-jam kuliah,” kata Nella.


Earlangga terdiam lagi, semua sangat membuatnya bingung. Terus siapa yang membuat tanda merah merah itu di leher dan dadanya Valerie? Tidak mungkin bukan pacarnya, terus Valerie tiba-tiba hamil.


“Apa dia punya pacar bule?” tanya Earlanga.

__ADS_1


“Bule? Tidak ada,” jawab Nella.


Earlangagapun diam, kenapa Valerie bilang pria itu pergi ke luar negeri segala?


“Sebenarnya ada apa sih? Aku bingung. Jangan kau katakana kau curiga bayi itu bukan bayimu?” tebak Nella.


“Tidak apa-apa aku hanya sedang cemburu saja,” jawab Earlangga. Dia tidak bisa jujur terus terang pada Nella karena sepertinya Nella juga tidak tahu apa-apa. Kalau Nella tidak tahu apa-apa, siapa lagi yang kira-kaira tahu Valerie pacaran dengan siapa?


“Kau yakin Valerie tidak punya pacar beberapa bulan ini?” tanya Earlangga.


“Tidak ada, aku pasti tahu kalau dia punya pacar,” jawab Nella


“Dua bulan kebelakang?” tanya Earlangga menatap Nella dengan serius.


“Kalau dua bulan yang lalu…” Nella tampak berfikir keras.


“Dua bulan yang lalu aku sudah jarang bertemu dengan Valerie karena itu masa-masa ujian, dia juga sibuk melamar kerjaan, aku juga sibuk mengurus ijin klinikku,” kata Nella.


Earlangga mengingat-ingat kembali kapan dia melihat tanda-tanda merah itu, iya sekitar dua bulan yang lalu, tapi Nella tidak tahu siapa pacarnya Valerie.


“Kau tahu selain kau temannya, kira-kira Valerie punya teman dekat lagi tidak?” tanya Earlangga.


“Aku tidak tahu, aku sendiri kan beda kampus, mungkin teman dirumah sakit,” kata Nella.


Earlangga diam lagi, kalau teman rumah sakit kan kata Dokter Dandy juga Valerie tidak punya pacar juga.


“Mungkin saudaranya, tapi saudaranya sudah meninggal, makany Valerie ingin berhenti bekerja merawat Pak Tedi,” kata Nella.


Semua ini membuat Earlangga bingung. Kenapa dia merasa penasaran siapa pacarnya Valerie, bukti merah-merah di leher dan dada itu sudah jelas jelas kalau Valerie punya pacar, tapi dia selalu bilang tidak tahu, sepertinya Valerie memang menutupi identitas pria itu. Dan takut meminta pertanggungjawaban pria itu .


Maka dari itu Earlangga bertekad harus menemukannya. Soal kedepannya harus bagaimana- bangaimana, ya bagaimana nanti saja. Yang pasti dia harus tahu dulu siapa ayah dari bayi itu.


Valerie menunggu dikursi itu dengan kasal, kenapa Earlangga lama sekali berbecara dengan Nella. Untung kursinya dekat jendela jadi dia bisa melihat pemandangan diluar yang masih hujan, pelanggan-pelanggan yang akan makan malampun berdatangan dengan tukang parkir yang sibuk mengantar dengan payungnya menuju teras resto.


“Maaf menunggumu lama,” kata suara yang mengagatkannya. Valerie menoleh pada yang datang ternyata Earlangga. Dia menatap pria itu lalu pada Nella.


“Kalian makan saja, aku akan pulang, aku mau ke klinik dulu, alat-lat kesehatan baru datang ke klinikku,” kata Nella, tersenyum pada Valerie lalu pada Earlangga yang duduk dikursinya disebrang Valerie.


“Terimakasih,” kata Earlangga.


“Selamat menikmati,” jawab Nella.


“Bye!” lanjutnya sambil melambaikan tangannya pada Valerie yang membalasnya dengan melambaikan tangannya lagi.


Earlangga menatap Valerie yang sedang tersenyum pada Nella sambil melambaikan tangannya. Saat Valerie menoleh kearah Earlangga ternyata pria itu sedang menatapnya. Earlangga berfikir kenapa begitu banyak teka teki dan misteri pada gadis ini.


“Ayo kita makan, makanannya sudah dingin,” kata Earlangga.


Valerie langsung mengangguk, dia juga sudah lapar dari tadi.

__ADS_1


************


__ADS_2