Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-52 Suami siaga


__ADS_3

Darren mencari-cari foto digalery ponselnya lalu diperlihatkan pada Earlangga.


“Kau mencari identitas gadis ini bukan? Gadis virgin yang aku bawa itu?” tanya Darren.


Earlangga melihat ponsel itu dan ternyata itu adalah fotonya Valerie, bersama seorang pria di kursi roda.


“Nama dia Valerie, dia perawat kakekku, kalau kau ingin bertemu dengannya lagi, sayang sekali aku tidak tahu dia dimana sekarang, dia sudah berhenti kerja,” kata Darren, dia tidak tahu kalau Valerie sudah menikah dengan Earlangga.


“Tapi kalau kau ingin bertemu dengannya, aku akan mencarikannya untukmu, tapi tentu saja bayarannya sangat mahal,” ucap Darren.


“Tidak, aku tidak ingin bertemu dengannya, aku hanya ingin tahu identitasnya saja,” jawab Earlangga.


“Kau yakin dia yang bersamaku malam itu? Aku tidak terlalu mengingat wajahnya,” tanya Earlangga.


“Wanita penghibur tidak ada yang virgin, itu harus memesan, cuma dia yang aku bawa, dia tidak punya pacar, dia sibuk mengurus kakekku,” kata Darren.


“Baiklah, awas kalau aku bohong!” ancam Earlangga.


“Aku bicara jujur,” ucap Darren, sambil menoleh pada teman-temannya.


“Ayo, kita pesta!” ajaknya yang langsung disambut teman-temannya, merekapun masuk kedalam.


Earlangga terdiam mematung, jadi benar yang bersamanya malam itu adalah Valerie, itu foto yang diberikan oleh Darren adalah foto Valerie. Darren tidak tahu kalau yang dicarinya adalah Valerie, berarti benar gadis itu adalah Valerie.


Earlangga menghela nafas panjang, mengusap wajahnya dengan tangannya. Ternyata yang dia nodai adalah wanita yang dia nikahi. Diapun bergegas ke halaman parkir menuju mobilnya.


Earlangga menjalankan mobilnya dengan pelan, fikirannya kalut, bagaimana cara menjelaskan semua ini pada Valerie? Apakah dia harus melanjutkan pernikahannya dengan Valerie? Keluarganya memberi batas waktu sampai bayi itu lahir dan melihat hasil tes DNA. Kalau terbukti bahwa bayi itu bayinya apakah keluarganya akan menerimanya? Termasuk neneknya yang jelas jelas menginginkan dia mendapatkan pedamping yang sepadan.


Neneknya? Earlangga kembali teringat perubahan sikap neneknya, apakah neneknya tahu kalau bayi yang dikandung Valerie itu adalah bayinya? Jangan-jangan neneknya memang melakukan pencarian terhadap ayah bayinya Valerie selama ini.


Kalau memang neneknya tahu, kenapa neneknya tidak bicara apa-apa padanya? Neneknya tidak menyukai Valerie, jadi apa yang direncanakan oleh neneknya? Earlangga benar-benar merasa gelisah sepanjang jalan pulang.


Sesampainya dirumah, hari sudah larut. Earlangga membuka pintu kamarnya, dilihatnya Valerie sudah tidur meringkuk dan berselimut. Diapun bejalan mendekatinya dan duduk dipinggir tempat tidur dengan pelan jangan sampai Valerie terbangun.


Disentuhnya helaian rambut yang menutupi wajahnya Valerie. Istrinya terlihat pulas tidurnya. Disentuhnya keningnya, dia merasa lega panasnya sudah turun. Dia tidak menyangka kalau  gadis yang bermalam bersamanya itu ada di kamarnya sekarang, bahkan dia menikahinya.

__ADS_1


Dilihatnya wajah yang terlihat lebih kurus itu sekarang, lalu disentuhnya tangannya yang berada diatas perut bulatnya.


“Kau harus banyak makan, supaya bayi kita juga sehat,” gumam Earlangga, hampir tidak terdengar.


Bagaimana Valerie akan gemuk, dia sering pingsan dan muntah muntah, itu akibat yang ditimbulkan karena kehamilannya, hamil mengandung bayi yang tidak diketahui siapa ayahnya. Tangan Earlangga berhenti diatas perutnya Valerie.


Dia pernah menyentuh perut itu, tapi sekarang saat akan menyentuhnya rasanya sangat lain, tangannya gemetar dan ragu-ragu saat menyentuhnya. Tangannyapun menempel diperutnya Valerie. Di dalam perut itu ada bayinya, darah dagingnya, meskipun bayi itu tercipta dalam kondisi yang tidak baik.


Earlangga terkejut saat tiba-tiba Valerie begerak, dengan cepat dia menarik tangannya dari atas perut Valerie. Valerie merubah posisi tidurnya jadi membelakangi Earlangga. Earlangga kembali merapihkan selimutnya.


Semalaman itu Earlangga tidak tidur sedikitpun, dia hanya duduk bersandar dengan tumpukan bantal dipunggungnya. Setiap Valerie bergerak, dibetulkannya selimutnya, AC juga dirubah settingannya supaya tidak terlalu dingin, dia buat Valerie tidur senyaman mungkin. Tapi lama kelamaan meskipun udara masih dingin dia merasa kegerahan dan terpaksa bertelanjang dada. Dia benar-benar merasa kepanasan.


Diliriknya Valerie bergerak lagi, dilihatnya posisi tidurnya berubah, bantalnya ternyata bergeser. Dengan perlahan Earlangga membetulkan bantal itu supaya kepala Valerie kembali tidur dibantal. Begitu terus menerus.


Hingga menjelang pagi, setelah semalaman menjaga Valerie supaya bisa tidur nyenyak, barulah Earlangga tidak bisa menahan kantuk lagi, akhirnya diapun terlelap, bersamaan dengan sinar matahari yang mulai muncul.


Sekarang giliran Valerie yang bangun, tentu saja dia terkejut saat melihat Earlangga tidur terlentang tanpa memakai pakaian, hampir saja dia berteriak melihat tubuh kekarnya Earlangga dengan dada bidang dan perut ratanya, segera ditutupnya mulutnya jangan sampai membuat keributan. Dia bingung kenapa Earlangga tidak berpakaian?


Mata Valerie beralih melihat kearah AC ternyata settingannya dirubah. Valerie pun tecenung. Earlangga merubah suhu kamarnya supaya tidak terlalu dingin tapi sendirinya kepanasan, pria itu sangat perhatian.


Terdengar ketukan dipintu kamarnya. Valerie segera menuju pintu dan membukanya. Dia terkejut saat melihat Ny.Grace sudah berdiri menatapnya.


“Kau sudah bangun?” tanya Ny.Grace.


“Iya Nyonya,” jawab Valerie.


Matanya Nyonya Grace melihat kedalam kamar dan dia terkejut melihat Earlangga tidur tanpa berpakaian. Valerie langsung gugup, apalagi matanya Ny.Grace beralih menatapnya tajam.


“Pak Earlangga kegerahan jadi dia tidak berpakaian,” ucap Valerie seakan tahu arti tatapannya Ny.Grace.


“Kita perlu bicara, ikut aku ke ruang kerjaku,” kata Ny.Grace langsung pergi dari kamarnya Earlangga.


“Ada siapa?” tiba-tiba terdengar suara Earlangga bangun dari tidurnya.


“Tadi ada Nyonya Pak,” jawab Valerie sambil menutup pintu dan menundukkan kepalanya, dia tidak mau melihat tubuhnya Earlangga.

__ADS_1


“Ada apa nenek kesini?” tanya Earlangga, tidak menyadari aklau Valerie merasa malu melihatnya tidak berpakaian.


“Tidak tahu Pak, menyuruh saya ke ruang kerjanya,” jawab Valerie, masih menunduk saja.


Bagaimana dia bisa bergerak didalam kamar itu tanpa melihat tubuhnya Earlangga? Dia sangat malu menyadari dalam kamar ini dengan pria bertelanjang dada.


Earlangga malah menggeliatkan badannya, semakin membuat Valerie bukan menunduk lagi tapi memejamkan matanya. Tapi sepertinya pria itu tidak ada kefikiran malu atau apa, malah turun dari tempat tidurnya, berjalan menuju jendela dan membukanya, supaya udara dari luar masuk kekamarnya.


Merasakan ada yang membuka jendela, Valerie cepat-cepat lari ke kamar mandi dengan mata menyipit, membuat Earlangga mengerutkan dahinya, kenapa istrinya itu tiba-tiba lari?


“Aneh, dia kenapa?” gumamnya, kembali menggeliatkan tubuhnya.


Valerie berada dikamar mandi, dia terus menggerutu kenapa pria itu tidak tahu malu, tau bertelanjang dada begitu, berjalan-jalan seenaknya di dalam kamar, benar-benar tidak tahu malu, umpatnya.


Beberapa saat kemudian Valerie membuka pintu kamar mandi dengan pelan, ternyata Earlangga tidak ada, tidak tahu kemana. Valerie ingat kalau Ny.Grace ingin bertemu dengannya, diapun keluar dari kamar mandi, kemudian mengambil amplop yang tempo hari diberikan Ny.Grace lalu segera keruang kerjanya.


Terdengar suara ketukan dipintu ruang kerjanya.


“Masuk!” jawab Ny.Grace.


Valerie membuka pintu itu perlahan, bersamaan dengan Earlangga yang berjalan menuju kamarnya sambil membawa segelas susu buat Valerie, masih dengan bertelanjang dada.


Earlangga jadi ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh Ny.Grace pada Valerie. Diapun berjalan perlahan menuju ruang kerja neneknya, lalu berdiri di dekat pintu, mencoba mendengarkan apa yang dibicarakan neneknya dan Valerie di dalam. Tapi ternyata tidak terdengar apa-apa.


Earlangga menempelkan telinganya ke pintu ternyata masih tidak tedengar juga. Diapun menghela nafas panjang lalu minum susu  ditangannya,kemudian ditempelkannya lagi telinganya ke pintu. Sekarang sudah mulai ada percakapan didalam, membuat Earlangga semakin tegang dan penasaran, diseruputnya lagi minuman ditangannya, sambil mendengarkan percakapan didalam ruang kerja neneknya itu.


***********


Reader yang slow slow dulu ya…soalnya authornya sedang sakit sudah dua hari ini. Karena biasa gerak ga digerakin tuh malah ga enak jadi tetep nulis tapi yang adem adem aja biar tidak menguras fikiran.


Kecapean kayanya banyak yang diurus, karena aku memang sedang berusaha mewujudkan cita-citaku untuk memberikan lapangan pekerjaan pada orang lain dan ternyata itu tidak mudah.


Selalu terbayang disaat ada yang bertanya, Bu apakah ada pekerjaan buat saya? Bahagia rasanya jika kita bisa memberikan jalan kesejahteraan buat orang lain. Semoga dilancarkan semua urusannya…


*********

__ADS_1


__ADS_2