Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-38 Kejutan di rumah kontrakan


__ADS_3

Lorena menghentikan taxinya di depan rumah kontrakannya Sean. Akhirnya dia pulang. Tapi dia agak bingung melihat gerbang terbuka dan hilir mudik mobil-mobil pick up membawa berbagai macam matrial bangunan ke rumah itu.


“Masuk saja Pak,” kata Lorena pada supir taxi itu yang segera melajukan taxinya kembali memasuki halaman rumah.


Dua orang pelayan menyambutnya datang.


“Nona, anda sudah kembali?” tanya mereka.


“Iya, ini ada apa? Kenapa banyak bahan bangunan di rumah ini juga tukang- tukang?” tanya Lorena.


“Anda tidak tahu?” tanya pelayan itu menatap Lorena.


Lorena menggeleng.


“Halaman samping akan dijadikan tempat les biola,” jawab pelayan itu.


Lorena mengerutkan keningnya, jadi Sean benar-benar membuatkan ruangan khusus untuk les biola? Bukankah ini rumah kontrakan? Dilihatnya Pak Roby keluar dari dalam rumah dan langsung membungkuk memberi salam.


“Pak Roby, ini benar ruangan untuk les Biola?” tanya Lorena.


“Benar, Pak Sean sudah meminta developer untuk menambah ruangan khusus les biola,” jawab Pak Roby.


Lorena masih kebingungan.


“Bukankah ini rumah kontrakan ya?” tanya Lorena.


“Saya kurang tahu soal itu, bisa tanya langsung pada Pak Sean kalau sudah pulang,” jawab Pak Roby, dia tidak boleh ikut campur urusan majikannya.


“Ya sudahlah, nanti aku tanya kalau Sean sudah pulang,” jawab Lorena.


Lorena masuk ke dalam rumah, dari hari ke hari sosok pria itu semakin membuatnya bingung. Bukankah ini rumah kontrakan tapi kenapa di renovasi? Aah sungguh banyak yang tidak dimengerti, pria itu pulang masih lama, segala pertanyaannya akan ditanyakan menunggu dia pulang. Tidak ada pria itu sangat sepi rumah ini, batinnya.


Di dalam kamarnya Lorena melihat buku tabungannya, dia melihat angka di buku tabungan itu. Kira-kira cukup tidak untuk menebus mobilnya di kantor polisi. Sebenarnya sih cukup, tapi lomba masih ditunda sampai dengan waktu yang tidak ditentukan, dia butuh biaya untuk ini itu. Bawa mobil sendiri juga harus isi bensin belum harus membuat surat-surat yang baru, sangat merepotkan, akan menguras habis uangnya, atau dia pulang kampung saja dahulu? Sepertinya itu lebih baik.


**********


Keesokan harinya, setelah mandi dia malah bermalas-malasan lagi di tempat tidur, hari ini dia begitu malas mengerjakan apapun. Terdengar perutnya berbunyi kruwuk kruwuk, diapun memegang perutnya, lalu dilihatnya jam di dinding,  sudah menunjukkan jam untuk sarapan. Diapun keluar dari kamarnya menuju ruang makan.


Saat akan memasuki ruang makan, dari kejauhan dia melihat dari arah pintu sekilas ada seorang pria yang sedang makan sendirian tapi belum jelas siapa orang itu.


Lorena mengernyitkan dahinya, siapa yang makan di meja makan sendirian? Diapun mengendap-endap menuju ruang makan.


“Hei kau siapa?” teriaknya pada pria itu, sambil melongokkan kepalanya ke ruang makan.  Yang di tanya tidak menjawab juga tidak menoleh, dia terus saja makan.


Lorena terkejut melihat siapa yang makan, dia bur-buru masuk ke ruang makan.


“Sean?” tanyanya, tidak percaya, jantungnya serasa mau copot saking terkejutnya.


Pria itu tidak menghiraukannya, dia makan saja dengan santai. Tampak pak Roby dan beberapa pelayan seperti biasa berdiri tidak jauh dari meja makan.


Lorena mendekatinya dan memiringkan wajahnya melihat wajah Sean.


“Kau Sean kan? Atau aku bermimpi?” tanya Lorena sambil menggosok gosok matanya. Ditatapnya lagi pria yang sedang makan itu. Tangannya mencubit pipi pria itu.


“Jangan mencubitku!” teriak pria itu kesakitan, dan langsung mengusap pipinya.


“Kau Sean kan?” tanya Lorena.


“Iya, terus siapa lagi? Kau datang-datang mengganggu sarapanku,” jawab pria itu yang ternyata Sean, sekarang menatap Lorena dengan kesal.


“Kau, bukankah kau harus ke LA? Dan negara-negara lainnya?” tanya Lorena.


“Berubah jadwal,” jawab Sean, pendek, dia kembali melanjutkan sarapannya.


“Tiba-tiba?” tanya Lorena.


“Hem!” jawab Sean mengangguk.


Lorena mengernyitkan dahinya.


“Jadi kau akan tinggal lagi disini?” tanya Lorena.


“Hem!” jawab Sean.

__ADS_1


“Jadi kau tidak jadi keluar negeri lagi?” tanya Lorena.


“Hem!” jawab Sean.


“Jadi…”


“Bisakah kau berhenti bertanya? Kau mengganggu makanku, aku sedang sibuk mau cepat-cepat berangkat!” keluh Sean.


“Ya maaf, maaf, aku hanya bingung saja…” ucap Lorena masih menatap Sean, yang kini menyelesaikan makannya.


Pria itu langsung berdiri dan menoleh pada Pak Roby yang ada di ruang makan.


“Mobilnya sudah siap? Aku berangkat sekarang!” ucap Sean.


“Sudah Pak,” jawab Pak Roby. Seanpun meninggalkan ruang makan.


Lorena masih bingung melihat pria itu tiba-tiba ada di rumah ini lagi. Melihat Sean menghilang, dia buru-buru berlari mengejarnya, pria itu akan keluar rumah, Lorena menjajari langkahnya.


“Sean!” panggil Lorena.


Sean tidak menoleh, dia bergegas keluar rumah, Lorena masih mengikutinya dengan memiringkan kepalanya menatap wajahnya Sean.


“Kau menghalangi langkahku!” kata Sean.


“Aku masih tidak percaya ternyata kau pulang! Aku fikir aku tidak akan melihatmu lagi!” seru Lorena.


Sean menghentikan langkahnya, menatap Lorena, menempelkan satu jarinya ke keningnya Lorena, mendorongnya dengan pelan.


“Maksudmu apa tidak akan melihatku lagi? Kau mendoakan aku mati?” ucapnya, masih menatap gadis itu.


Lorena cengengesan.


"Bukan itu maksudku,”  ucapnya sambil mengusap keningnya yang didorong oleh Sean. Sean melanjutkan langkahnya lagi.


“Aku kira kau hantu, tiba-tiba ada dirumah ini,” lanjut Lorena. Sean tidak menjawab, dia memasuki mobilnya. Lagi-lagi Lorena melongokkan kepelanya ke dalam mobil.


“Apa lagi?” tanya Sean.


“Tidak apa-apa,” jawab Lorena, lalu mundur.


“Pak, Jalan Pak,” perintahnya, sambil menutup pintunya. Mobilpun melaju meninggalkan rumah itu.


Lagi-lagi Lorena mengernyitkan dahinya, tumben Sean membawa supir.


“Aaaah dia semakin membingungkaaaan!” teriaknya dengan kencang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Nona! Apa anda baik-baik saja?” tiba-tiba Pak Roby berlari menghampi Lorena juga pekerja- pekerja renovasi rumah berdatangan.


Lorena menatap mereka dengan terkejut. Apa teriakannya sangat keras?


“Tidak, aku tidak apa-apa,” jawab Lorena cepat-cepat berlari masuk ke dalam rumah.


**************


Di kantornya Sean sangat sibuk, terlihat banyak tamu-tamu yang sepertinya sangat penting. Saat Sean datang semua orang menyapanya dengan hormat.


“Mr. Sean, anda sudah tunggu tamu dari Jepang,” ucap Pak Deni.


“Tamu dari LA juga akan tiba beberapa menit lagi,” kata sekretarisnya.


Dan Bla bla bla banyak laporan diucapkan saat dia tiba. Sean hanya mengangguk, inilah kesehariannya, saking banyaknya jadwal yang diagendakan, dia tidak ada waktu untuk menjalin kasih yang sesungguhnya, untuk mencari istri saja tidak sempat. Dia inginnya seperti orang lain rutin berkecan, jalan jalan ke tempat romantis dengan pacarnya, tapi dia sangat sulit melakukan itu.


Sam sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya, menyambutnya dengan keheranan.


“Katamu kau akan ke LA, kenapa tiba-tiba kesini?” bisiknya, karena banyak orang, jadi dia harus menjaga sikapnya.


“Aku memindahkan jadwalku diluar negeri untuk diproses disini!” jawab Sean juga berbisik.


“Kau gila ya! Semua orang dibuat kalangkabut mereka sangat sibuk,” kata Sam.


“Aku tidak mau berlama-lama di Luarnegeri,” jawab Sean, sambil duduk di ruang kerjanya. Sam menatap Sean yang juga menatapnya.


“Apa terjadi sesuatu di Paris?” tanya Sam.

__ADS_1


“Tidak, tidak ada,” jawab Sean, menggelengkan kepalanya. Tapi Sam tidak percaya, dia curiga pasti telah terjadi sesuatu.


“Pak Sean, tamu yang dari Jepang sudah ada di ruang meeting, tidak nyaman kalau membuat mereka menunggu terlalu lama,” potong Pak Deni, tiba-tiba muncul diantara mereka.


Pak Deni melirik Sam yang langsung diam saja menghentikan pembicaraannya dengan Sean. Sean bangun dari duduknya, dan meninggalkan ruangan itu.


Pak Deni menoleh pada sam.


“Jangan mengganggunya, Sean sedang sibuk sekali beberapa hari ke depan,” kata Pak Deni.


Sam hanya mengangguk. Terus bagaimana dengan kontesnya?


Sampun keluar ruangan, dia melihat Sean bersama pejabat-pejabat yang lain menuju ruang meeting, di ruang tunggu sekretrasis juga sudah ada lagi tamu-tamu yang lain. Dia merasa kasihan pada pria itu, waktunya hanya untuk bekerja, untuk mengurus pendamping hidupnya saja tidak bisa.


Sam penasaran kenapa Sean merubah jadwal kerjanya? Membuat semua orang begitu sibuk mendadak, orang-orang dari luar negri berdatangan menemuinya, benar-benar gila Sean.


Sebenarnya apa telah terjadi padanya? Pasti ada sesuatu yang besar yang membuat Sean bersikap begitu. Tapi untuk jawaban pertanyaannya itu  itu dia harus bersabar, atauu..hemm bagaimana kalau dia menemui Pak Roby saja. Mungkin dari Pak Roby bisa memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi.


Sam mengambil kunci mobilnya kemudian meninggalkan kantor itu menuju rumah kontrakannya Sean.


Sesampainya di rumah di disambut oleh pak Roby.


“Ini ada apa Pak?” tanya Sam saat melihat orang-orang sedang merenovasi rumah.


“Pak Sean meminta developer untuk menambah ruangan,” jawab Pak Roby.


“Ruangan? Ruangan apa?” tanya Sam, penasaran.


“Ruangan les biola,” jawab Pak Roby.


“Les biola?” Sam semakin terkejut.


“Iya, ruangan les Biola untuk Nona Lorena,” kata Pak Roby.


Sam mengerutkan dahinya, jadi Sean membuatkan ruangan les biola untuk Lorena? Apa dia sadar melakukan hal itu? Ada apa dengannya?


“Kapan Sean pulang?” tanya Sam.


“Malam tadi sangat larut,” jawab Pak Roby.


“Bukankah dia harusnya masih di luar negeri?” ucap Sam.


“Saya juga tidak tahu, karena Pak Sean tiba-tiba saja pulang,” jawab Pak Roby.


Sam mengerutkan keningnya, dia tambah heran saja pada sikapnya Sean.


“Kemana Lorena?” tanya Sam, karena melihat rumah sepi.


“Nona Lorena sedang ke restaurant, ada pekerjaan disana,” jawab Pak Roby.


Sam menatap pak Roby.


“Pak Roby, apa telah terjadi sesuatu pada majikanku? Sean? Aku merasa dia itu sangat aneh,” kata sam.


“Kejadian? Semua biasa-biasa saja, “ jawab pak Roby.


“Tidak terjadi sesuatu dirumah?” tanya Sam lagi.


“Tidak juga, kemarin Nona Lorena baru pulang dari Paris, mereka seperti biasa bertengkar kecil-kecil, sudah biasa,” jawab pak Roby.


“Lorena pulang dari Paris?” tanya Sam.


“Benar, ada jadwal tampil di acara ulangtahun murid lesnya,” jawab Pak Roby.


Hemmm Sam terus berfikir, dia jadi curiga jangan-jangan Sean jatuh cinta pada Lorena. Buat apa dia membuat ruangan les biola segala, itu artinya rumah ini akan dia beli atau sudah dia beli? Dia belum bicara apa-apa dengannya soal rumah kontrakan ini.


Jangan-jangan Lorena juga yang membuatnya membatalkan jadwal kerjanya ke luar negeri dan malah mendatangkan orang-orang dari luar negri itu kesini, jangan-jangan Sean takut Lorena pulang kampung kalau kontesnya ditunda lama.


Hemmm benar-benar harus ditanyakan pada Sean, batinnnya.


************


Maaf ya telat up, kemarin like tiba-tiba anjlok, ditunggu like sampai 300, ternyata ditunggu sudah dua hari tidak sampe juga.

__ADS_1


*************


__ADS_2