Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-50 Informasi dari Bu Asni


__ADS_3

Keesokan harinya…


Earlangga bangun lebih awal, dia sudah mandi dan berpakaian akan berangkat bekerja. Dilihatnya Valerie masih tertidur dengan nyenyak, sepertinya obat itu beraksi sangat bagus. Didekatinya wanita yang masih tidur itu, kemudian tangannya mengulur menyentuh kening Valerie, dirasanya panasnya sudah turun, membuatnya merasa lega.


Ditatapnya lagi wajah Valerie itu, dia merasa kasihan melihatnya. Kebanyakan ibu hamil itu dimanja oleh suaminya, sedangkan Valerie hanya menangugung sendiri tanpa pria yang bertanggungjawab padanya dan bayinya.


Earlangga melihat jam tangannya, ternyata sudah siang, neneknya pasti sudah sarapan di dibawah. Diapun beranjak keluar dari kamar itu.


Sesampainya diruang makan terdengar suara neneknya bicara pada Bu Asni.


“Apa kau sudah membuatkan bubur buat Valerie?” tanya Ny.Grace, sambil mengakhiri makannya.


Earlangga menghentikan langkahnya dan mendengarkan apa yang akan dikatakan neneknya.


“Sudah Nyonya, tinggal dihangatkan saja,” jawab Bu Asni.


“Kalau dia sudah bangun, suruh pelayan membawakan makannya suapaya dia bisa langsung minum obatnya,” kata Ny.Grace.


“Baik Nyonya,” jawab Bu Asni.


Earlangga terdiam, dia semakin bingung saja dengan sikap neneknya, kenapa neneknya semakin perhatian saja? Apa benar karena tidak mau sampai ada yang mencemooh keluarganya tidak bisa mengurus Valerie? Atau ada alasan lain?


Earlangga kembali melangkahkan kakinya masuk ke ruang makan, bersamaan dengan Ny.Grace juga akan meninggalkan meja makan. Saat melihat kedatangan Earlangga neneknya menatapnya.


“Kau akan berangkat bekerja sekarang?” tanya Ny.Grace.


“Iya Nek,” jawab Earlangga.


“Istrimu sudah bangun?” tanya Ny.Grace.


“Belum, tapi panasnya sudah turun,” jawab Earlangga, sambil duduk dikursi.


Bu Asni menyiapkan makanan buat Earlangga, masih dengan menu khususnya yang sudah dituliskan oleh Valerie.


Ny.Grace tidak bicara lagi, diapun keluar dari ruang makan itu.


Earlangga menatap Bu Asni, dia ingat kalau  ada yang ingin ditanyakan pada koki rumahnya ini.


“Bu Asni bisakah duduk sebentar?” pinta Earlangga.


“Baik, Pak,” jawab Bu Asni, sambil menarik salah satu kursi.


“Ada yang ingin aku tanyakan,” kata Earlangga, sambil mulai makan sarapannya.


“Iya Pak, ada apa?” tanya Bu Asni, menatap pria itu.


“Ini soal Valerie,” jawab Earlangga, sekarang menghentikan makannya dan menatap Bu Asni.


“Iya Pak, ada apa dengan Valerie?” tanya Bu Asni.


“Apa ibu tahu siapa pacarnya Valerie?” tanya Earlangga.


“Apa?” Bu Asni terkejut mendengarnya.


“Iya, Valerie tinggal bersama ibu sudah lebih dari 2 bulan kan? Aku ingin tahu siapa pacarnya Valerie, siapa yang telah menghamilinya?” tanya Earlangga, menatap Bu Asni dengan serius.


Bu Asni terdiam mendengarnya, apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya?


“Bu Asni pasti tahukan pacarnya?” tanya Earlangga.


Bu Asni masih terdiam, dia heran kenapa majikannya ingin tahu soal itu?


“Kenapa Bapak ingin tahu?” tanya Bu Asni.

__ADS_1


“Tentu saja aku ingin tahu. Kau pasti tahukan kalau Valerie mengatakan bukan aku yang menghamilinya? Aku hanya ingin tahu kenapa Valerie tidak mau mengatakan siapa ayah bayi itu? Dia selalu mengatakan tidak tahu,”jawab Earlangga.


“Memangnya apa yang akan Bapak lakukan kalau Bapak tahu yang menghamili Valerie?” tanya Bu Asni.


“Tentu saja aku ingin tahu kenapa pria itu tidak mau bertanggung jawab pada Valerie? Seharusnya Valerie menikah dengan pria itu kan, bukan aku,” kata Earlangga.


Bu Asnipun teridam, benar kata Pak Earlangga, seharusnya bukan Pak Earlangga yang menikahinya.


“Katakan siapa pria itu?” tanya Earlangga tidak sabar.


“Kalau Bapak tahu pria itu Bapak akan meceraikan Valerie?” tanya Bu Asni.


“Aku belum tahu. Seharusnya begitu, Valerie harus bersama pacarnya itu kan, mereka akan punya anak, setelah bayi itu lahir, Valerie juga akan aku ceraikan karena memang bayinya bukan bayiku,” kata Earlangga.


Bu Asnipun diam, benar kata Pak Earlangga.


“Katakan siapa? Aku ingin tahu kenapa Valerie tidak menikah dengan pria itu?” tanya Earlangga lagi, masih menatap Bu Asni.


“Sebenarnya saya juga tidak tahu Pak,” ucap Bu Asni.


“Tidak tahu?” tanya Earlangga tidak mengerti.


“Valeriekan tinggal bersama ibu, pasti ibu tahu dia dekat dengan siapa,” kata Earlangga.


“Valerie juga tidak dekat dengan siapa-siapa,” jawab Bu Asni membuat Earlangga semakin terkejut dan tidak mengerti.


“Bagaimana mungkin dia tidak dekat dengan siapa-siapa tapi dia bisa hamil,” ucap Earlangga.


“Karena Valerie hamil akibat dinodai seseorang,” jawab Bu Asni, membuat Earlangga terkejut.


“Apa? Dinodai? Maksudmu apa?” tanyanya, lansgung saja merasa kesal pada pria yang tidak bertanggung jawab itu.


“Benar Pak, ada yang menodainya,” jawab Bu Asni.


“Valerie juga tidak tahu,” jawab Bu Asni.


“Apa? Tidak tahu? Bagaimana bisa tidak tahu kalau dia disentuh orang?” tanya Earlangga, menatap Bu Asni dengan rasa penasaran.


“Valerie dinodai disebuah club saat dia tidak sadarkan diri,”jawab Bu Asni.


Sontak saja Earlangga terdiam, jantungnya langsung berdebar kencang saja mendengarnya, jantungnya benar-benar terasa mau copot saking kagetnya.


“Apa? Dia di..di..nodai disebuah club?” tanya Earlangga, mulai gugup. Bayangannya kembali kebelakang pada kejadian itu, kejadian dia menodai seseorang di club.


“Benar Pak, kasihan dia,” jawab Bu Asni.


“Apa dia benar-benar tidak tahu pria itu?” tanya Earlangga , keningnya langsung berkeringat, dia berubah menjadi gelisah dan wajahnya pucat.


“Valerie tidak dapat melihat pria itu, karena Shock, dia langsung pulang setelah kejadian itu,” jawab Bu Asni.


Earlangga merasakan kakinya tiba-tiba lesu. Apakah yang menodai Valerie itu dirinya? Wajahnya semakin pucat, berbagai perasaan muncul dalam hatinya.


“Kau tahu kejadiannya di club mana?” tanya Earlangga dengan hati-hati dan bersiap-siap mendengar sesuatu yang akan membuatnya semakin shock.


“Tidak tahu, Pak,” jawab Bu Asni.


Earlangga terdiam lagi, dia terus bertanya-tanya apakah yang menodai Valerie benar-benar dirinya? Dan wanita itu sedang mengandung  bayinya?


“Pak, Bapak kenapa?” tanya Bu Asni.


“Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa, aku hanya kaget saja,” jawab Earlangga, sambil mengambil tisu dan melap wajahnya.


“Valerie tidak tahu siapa pria itu, dia juga tidak menyangka kalau akan hamil, dia tidak bisa meminta pertanggungjawaban pria itu karena memang tidak tahu identitasnya.

__ADS_1


Earlangga terdiam meskipun Bu Asni tidak menyebutkan nama club malam itu, tapi dia mencium bau parfumnya Valerie itu semakin menguatkan dirinya kalau wanita yang dinodainya malam itu adalah Valerie. Kenapa semua jadi seperti ini?


Pantas saja dia merasa parfum yang dipakai Valerie itu begitu familiar, dia merasa pernah memeluk tubuhnya, karena hanya satu-satunya wanita yang dipeluknya memiliki postur tubuh yang berbeda dengan wanita di luar negeri adalah wanita dimalam itu.


Earlangga menghela nafas panjang, mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, mencoba menenangkan hatinya, ternyata ada kemungkinan Valerie itu wanita yang bersamanya malam itu. Sepertinya dia harus ke club malam itu, dia harus memastikan bahwa kejadian yang dimalam Valerie itu adalah lokasi club yang sama. Dia harus memastikannya.


Dia harus memastikan kalau Valerie benar-benar wanita itu dan sekarang sedang mengandung bayinya! Kepala Earlangga rasanya mau pecah saja. Ada rasa bersalah yang menyelimutinya.


Earlangga segera mengakhiri makannya dan meminum obatnya.


Bu Asni memperhatikannya, dia bisa melihat pria itu terlihat pucat sekarang.


“Bu, bisakah ibu merahasiakan hal ini pada Valerie? Jangan bicara kalau aku menanyakan soal ayah bayi itu pada ibu,” kata Earlangga.


Bu Asni menatap Earlangga lalu mengangguk.


“Bapak akan mencari pria itu?” tanya Bu Asni.


“Iya, aku akan mencoba mencarinya,” jawab Earlangga, dia tidak menagtakan kalau dia mengalami hal yang hampir sama dengan Valerie,  menodai gadis yang tidak sadarkan diri malam itu.


Tidak bisa dibayangkan bagaimana reaksi Valerie kalau tahu hal itu, bisa saja Valerie akan membencinya karena sudah membuat hidupnya menderita.


“Bu Asni tahu buat apa Valerie ke club itu?” tanya Earlangga.


“Tidak tahu Pak, Valerie tidak menceritakan hal itu, hanya kejadian buruknya itu. Karena kejadiannya sebelum pindah ke rumah saya,” jawab Bu Asni.


Earlangga masih terdiam dengan segala hal yang muncul di benaknya.


“Saya juga jadi kasihan padanya, dia akan membesarkan bayi itu seorang diri,” kata Bu Asni.


“Bahkan dia juga sempat ingin menggugurkannya,” lanjut Bu Asni.


“Apa? Menggugurkannya?” tanya Earlangga terkejut.


“Iya Pak, karena kehamilannya tidak diinginkannya. Siapa yang mau punya bayi hasil dinodai pria tidak dikenal? Dia juga takut pria yang menghamilinya pria jahat atau sudah beristri, dia takut bayinya akan menanyakan ayahnya jika sudah besar nanti. Valeri sedang labil sekarang,” jawab Bu Asni.


Earlanggapun berfikir untuk  segera ke club malam itu untuk mengusut dan memastikan kalau wanita yang bersamanya malam itu adalah Valerie, mungkin ada yang melihatnya malam itu.


“Baiklah Bu, seperti yang aku katakan tadi, tolong rahasiakan semua ini,” kata Earlangga.


Bu Asni mengangguk.


Setelah bicara dengan Bu Asni, Earlangga segera kembali kekamarnya. Dilihatnya Valerie sedang duduk diatas tempat tidur dan disuapi seorang pelayan yang duduk dipinggirnya.


Earlangga berdiri mematung dipintu, menatap gadis itu yang kemungkinan sedang mengandung anaknya. Bagaimana jika benar wanita itu adalah Valerie? Apa yang akan dilakukannya?


Valerie menoleh pada Earlangga yang masih berdiri menatapnya.


“Maaf, saya malah sakit Pak,” ucap Valerie, dengan wajahnya yang pucat.


“Tidak apa-apa, aku senang kau lebih baik sekarang,” ucap Earlangga , entah kenapa dia merasa gugup yang bukan main, dia merasa diliputi rasa bersalah yang amat sangat saat mata itu menatapnya.


Mengingat lagi kejadian itu, rasanya sangat kejam dia menodai gadis itu, membuatnya hamil dan tidak bertanggung jawab atas kehamilannya. Dia tidak menyangka kalau yang dinodainya kemungkinan adalah istrinya sendiri.


**************


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2