Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-47 Rencana Latihan untuk Lomba


__ADS_3

Pagi ini Sean belum berangkat bekerja,  dia gelisah saja di depan rumahnya Lorena.  Sebenarnya hari ini hari libur tapi pekerjaanya tidak mengenal hari libur.


Setelah semalam tidak bertemu gadis itu ternyata pagi juga tidak bertemu dengannya, benar-benar membuatnya sangat rindu. Kata Pak Firman, Lorena dan Laura sedang lari pagi.


Pak Deni sudah terus-terusan menelponnya, tapi sebelum bertemu dengan Lorena, Sean merasa tidak bersemangat untuk bekerja. Seharian tidak melihat wajah cantik itu rasanya ada sesuatu yang kurang.


Matahari sudah mulai meninggi, barulah kedua gadis bersaudara itu pulang. Mereka tampak berkeringat tapi terlihat fresh dan saling bercanda.


“Sean? Kau akan berangkat kerja? Bukankah ini hari libur?” tanya Lorena, saat melihat pria itu masih duduk diteras.


“Iya, aku ada janji dengan temanku,” jawab Sean berbohong, dia segera bangun dari duduknya.


Laura yang melihat penampilan Sean yang rapih tampak menatap tidak berkedip. Dia langsung menyikut tangan Lorena.


“Ada apa?” tanya Lorena.


Laura menempelkan bibirnya ke telinga Lorena.


“Apa kau yakin kau tidak suka pada pria ini? Dia sangat tampan dan sepertinya dia juga orang kaya,” kata Laura.


“Sst, jangan selalu berfikir begitu,” kata Lorena.


“Sayang kalau kau lewatkan begitu saja,” bisik Laura lagi, sambil melihat kearah Sean dan tersenyum dibuat-buat.


“Apa kalian sudah lari pagi?” tanya Sean.


“Benar, kami sudah lari pagi, supaya badan Lorena vit saat ikut lomba outbond,” jawab Laura, sambil berjalan mendekati Sean.


Lorena langsung menarik tangannya Laura supaya mundur, gadis itu tiap lihat pria tampan sedikit langsung saja genit.


“Kenapa kau setiap melihat pria tampan sedikit berubah jadi genit begini?” keluh Lorena berbisik ke telinga Laura.


“Tampan sedikit gimana? Dia tampan banyak,” ucap Laura, juga berbisik ke telinga Lorena lalu menoleh lagi pada Sean dan tersenyum.


“Ingat Anton, ingat Anton,” balas Lorena.


“Hari ini kau pulang larut lagi?” tanya Lorena pada Sean.


“Iya,” jawab Sean.


“Ini saudariku, namanya Laura, dia kadang-kadang menemaniku di rumah,” kata Lorena menunjuk Laura.


Laura langsung saja mendekat dan mengulurkan tangannya pada Sean. Lagi-lagi Lorena menarik tangannya supaya mundur, membuat Laura kesal dan menoleh kearahnya.


“Kau kenapa? Aku mau bersalaman,” kata Laura.


“Tidak usah bersalaman, tanganmu bau keringat,” ucap Lorena.


Sean tersenyum menatap gadis itu. Lorena langsung tersenyum padanya. Melihat gadis itu tersenyum membuat hati Sean bahagia, melihat senyum gadis itu adalah sarapan yang paling mengenyangkan.


“Baiklah, selamat bekerja, aku mau mandi,” kata Lorena, dia akan beranjak, tiba-tiba Sean memanggilnya.


“Apa kau ingin aku temani nge Gym?” tanya Sean.


“Gym? Kau mengajakku nge Gym?” tanya Lorena menatap Sean.


“Iya, supaya outbond nanti kau bisa manjat manjat,” jawab Sean.


“Apa ada climbing juga?” tanya Lorena.


“Sepertinya sih begitu,” jawab Sean.


“Aku ikut nge Gym,” seru Laura.


Lorena menoleh pada Laura, kalau saudarinya ikut pasti membuat kebersamaan mereka terganggu, saudarinya terlalu  agresif pada pria.


Laura langsung saja mendekati Sean, menatapnya dari atas sampai bawah.


“Waah, kau suka nge Gym, kau pasti memiliki tubuh atletis dibalik bajumu, kau pasti berotot dan memilki perut yaaang…” ucapan Laura tidak berlanjut, Lorena menariknya lagi supaya menjauh dari Sean.


“Kau benar-benar mau mengajakku nge Gym?” tanya Lorena.


Sean mengangguk.


“Besok ya, sekarang aku bekerja dulu,” ucap Sean.


“Mm baiklah, besok ya,” kata Lorena.


“Sampai jumpa,” ucap Sean.


“Sampai jumpa?” tanya Lorena mengernyitkan dahinya.


“Karena kalau aku pulang aku tidak bertemu denganmu agi,” kata Sean.


“Kau benar, kau pulang larut,” ucap Lorena.


“Selamat bekerja,” ucap Lorena.


“Terimakasih,” jawab Sean tapi belum beranjak-beranjak juga.


Laura memperhatikan mereka berdua yang dari tadi tidak ada yang beranjak- beranjak juga. Diapun memicingkan matanya, sepertinya ada sesuatu diantara tapi mereka tidak mau mengakuinya. Diapun mencibir, sepertinya dia akan patah hati.


“Ayo, katanya mau mandi!” seru Laura.


“Iya,” jawab Lorena, tersenyum lagi pada Sean lalu masuk ke dalam rumah karena tangannya ditarik Leaura.


Sean juga tersenyum, kini dia sudah bersemangat lagi untuk berangkat bekerja.


“Katakan padaku, kalau kalian sepertinya punya hubungan!” kata Laura pada Lorena, sambil berjalan menuju kamarnya Lorena.


“Tidak ada,” jawab Lorena.


“Tidak ada bagaimana? Aku melihat dari tatapan mata kalian,” seru Laura.


“Kau ini bicara apa? Tidak ada hubungan apa-apa,” jawab Lorena sambil membuka pintu kamarnya.


“Kau belum mengaku! Kau selingkuh dari Presdirmu itu? Bagaimana kalau kau jatuh cinta pada Sean dan kau menang kontes?” tanya Laura.


“Aku juga tidak tahu apa akan menang kontes nanti?” ucap Lorena.


“Kau benar juga, kalau kau tidak lulus kontes, kau menikah saja dengan Sean, tapi kalau kau menang kontes, kau akan menyakitinya,” kata Laura.


“Kau ini bicara apa? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Sean,” kata Lorena.

__ADS_1


“Tapi mata kalian berkata lain, jujur saja, kau menyukianya kan?” tanya Laura.


“Kau tidak punya kerjaan!” teriak Lorena sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Laura bediri menatap pintu kamar mandi itu. Diapun berfikir, kalau misalkan mereka pacaran, buat apa ikut kontes lagi? Sepertinya mereka saling menyukai tapi mereka masih malu, batin Laura.


Laura duduk di sofa sambil terus berfikir keras. Bukankah kalau mereka jadian itu bagus? Siapa tahu jodoh!


Setelah lumayan lama Lorena dikamar mandi, dia keluar dengan menggosok-gosok rambutnya dengan handuk.


“Lorena!” panggil Laura, langsung menatap saudarinya itu, sambil mengikuti langkah Lorena yang membuka jendela kamarnya lalu keluar dan berhenti di balkon, dia berdiri dipinggir pagarnya, menatap ke halaman belakang rumahnya.


“Bagaimana kalau kalian jadian saja?” usul Laura.


“Jadian? Jadian apa?” tanya Lorena.


“Jadian, kau tidak perlu pura-pura kalau kau menyukainya!” jawab Laura.


Lorena terdiam beberapa saat. Laurapun akhirnya diam dan berdiri disampingnya.


“Kau masih trauma?” tanya Laura.


“Ya, aku takut patah hati lagi,” jawab Lorena.


“Tapi kau kan belum mencobanya, siapa tahu kalau kalian jadian kalian berjodoh,” kata Laura.


“Aku masih merasa takut pria yang kucintai akan meninggalkanku, aku tidak berani untuk jatuh cinta lagi pada pria,” jawab Lorena.


“Tapi kau tidak perlu seperti itu, kau harus membuka hatimu untuk pria yang lain, kau juga kan harus menikah, usiamu juga semakin bertambah, bersemangatlah!” kata Laura.


Lorena tidak menjawab. Dia masih merasakan sakit hatinya saat pacarnya meninggalkannya, pergi tanpa kabar berita, lenyap begitu saja.


“Jadi apa rencanamu sekarang? Kau tetap akan ikut kontes?” tanya Laura.


“Ya aku akan tetap ikut kontes,” jawab Lorena.


“Memangnya kau menyukai Presdir Samuel?” tanya Laura.


Lorena menggeleng.


“Ya kalau kau tidak menyukainya, ya sudah, kau tidak perlu melanjutkan kontes itu. Dan kalau kau menyukai Sean, lebih baik dekati saja dia,” kata Laura. Lorena hanya terdiam.


“Dia sangat mempesona, dia juga pasti memiliki tubuh yang berotot, ah aku tidak sabar untuk melihat tubuhnya,” lanjut Laura, sambil membayangkan tubuhnya Sean. Sebuah pukulan di bahu menyadarkannya.


“Kau kenapa?” bentak Laura, memegang bahunya yang sakit.


“Jangan memikirkan yang macam-macam,” seru Lorena.


“Macam-macam apa? Aku membayangkan tubuhnya Sean tanpa baju,” ucap Laura.


“Tanpa baju? Biasa saja!” seru Lorena.


“Apa? Biasa saja?” tanya Laura.


“Iya, biasa saja,” jawab Lorena berbohong, padahal waktu di Paris itu dia melihat tubuh atletisnya Sean saat pria itu menghampirinya tanpa berpakaian.


“Kau sudah melihatnya tidak pakai baju?” tanya Laura, terkejut.


“Apa yang sudah kalian lakukan? Apa kalian sudah..sudah…” tebak Laura dengan mata yang terbelalak kaget.


Lorena barulah sadar akan ucapannya.


“Sudah, sudah apa? Aku tidak melakuan apa-apa dengannya! Dia hanya lupa memakai baju!” kata Lorena.


“Lupa memakai baju apa maksudnya? Jadi kalian pernah..pernah…” Laura masih menebak-nebak.


“Pernah apa? Tidak pernah apa-apa!” seru Lorena, dan langsung menutup mulutnya Laura dengan tangannya. Mata Laura masih terbelalak kaget memikirkan kira-kira apa yang terjadi antara Lorena dengan Sean yang tidak memakai baju.


**************


Sean berada di ruang meeting hotel itu dengan Pak Deni.


“Pak besok libur ya,” kata Sean.


“Libur?” tanya Pak Deni.


“Besok kan bukan hari libur,” jawab pak Deni.


“Aku ada urusan,” jawab Sean.


“Baiklah, “ jawab pak Deni. Meskipun dia bingung, tapi di tidak bisa protes. Diapun beranjak lalu keluar dari ruangan itu.


Sean mengambil handphonenya dan menelpon Sam.


“Sam!” panggilnya.


“Ada apa? Kenapa kau menghilang begitu saja? Ada dimana kau sekarang?” tanya Sam.


“Outbond itu gamenya apa saja?” tanya Sean, tidak menjawab pertanyaan Sam.


“Ada apa kau menanyakan itu? Biasanya kau tidak peduli dengan detil lombanya,” jawab sam.


“Jangan banyak bicara, katakan saja apa saja outbondnya?” tanya Sean.


Dia ingin melatih Lorena, jadi saat lomba nanti Lorena sudah menguasainya dan bisa lulus kontes.


“Ada lari ke bukit,” jawab Sam.


“Terus?” tanya Sean.


“Ada Flying fox,” jawab Sam.


“Terus?” tanya Sean lagi.


“Climbing, terus ada permainan tali,” jawab sam.


“Permainan tali apa?” tanya Sean.


“Ya itu, berjalan diantara pohon dengan satu tali, berjalan jalan diatas tali begitu, di ketingian beberapa meter dari bawah,” jawab Sam.


“Gila! Kau bikin lomba seperti yang mau masuk militer saja! Aku tidak akan menikah dengan wanita yang berbadan kekar!” Gerutu Sean.


“Ya kan dari awal aku bilang, bukan jenis lombanya yang penting, tapi waktu, waktu penyeleksiannya supaya kau mendapatkan wanita yang kau mau,” jawab Sam.

__ADS_1


 “Ya ya sudahlah, apalagi?” tanya Sean.


“Ada jurit malam,” jawab Sam.


“Jurit malam? Apa lagi itu?” teriak Sean.


“Itu..yang berjalan malam-malam di pemakaman,” jawab Sam.


“Apa?”Sean semakin terkejut lagi.


“Kau benar –benar gila Sam, apa gadisku bisa melewati semua itu?” gerutu Sean.


“Gadisku? Gadisku? Siapa gadisku?” tanya Sam, menggoda, dia tahu yang dimaksud adalah Lorena.


“Mm maksudku pesertanya kasihan,” jawab Sean masih tidak mau mengaku.


“Nanti ada hantu tidak di kuburan itu?” tanya Sean, kemudian.


“Ya panitia sih menyediakan hantu bohongan juga,” jawab Sam sambil tetawa.


“Keterlaluan kau Sam! Bagaimana kalau pesertanya pingsan?” teriak Sean.


“Nanti ada panitia yang akan membawanya ke tenda,” jawab Sam.


Sean sampai geleng-geleng kepala mendengarnya.


“Ya lagi pula sebanding lah malah lebih, kalau menang kan selain menikah denganmu, dia akan mendapatkan kekayaan yang banyak, belum kalau kalian menikah dan punya anak, berapa banyak warisan yang akan didapatkan,” lanjut sam.


“Bukan itu yang aku fikirkan,” jawab Sean


“Apa?”tanya Sam.


“Tidak, tidak apa-apa,” ucap Sean. Dia terus memikirkan Lorena, apa Lorena sanggup melakukan lomba itu semua? Ada jurit  malam segala! Apa dia juga harus mengetes Lorena takut hantu atau tidak?


“Hantu panitia, hantunya apa? Jangan yang seram-seram!” kata Sean.


“Ah tidak, paling hantu local saja, hahaha..”jawab Sam sambil tertawa.


“Hantu local? Hantu apa? Ada banyak hantu local,” ucap Sean. Sam tidak menjawab dia malah tertawa terus.


“Yang urus panitia!” jawab Sam.


Sean terdiam lagi, dia harus siap sedia kalau begitu, bagaimana kalau Lorena pingsan saat ada dikuburan? Dia tidak mau panitia menggotong gotongnya ke tenda.


 Apa kalau giliran Lorena, dia yang jadi hantunya? Supaya tidak diseram-seramkan, pakai baju putih saja dibalik pohon, tidak perlu dengan wajah yang seram, pasti Lorena tidak akan takut. Kalau Lorena pingsan, dia yang akan menggendongnya ke tenda, jadi aman, tidak ada panitia yang akan menyentuhnya.


“Sean! Sean! Kau masih disitu?” tanya Sam.


“Iya!” jawab Sean.


Kau masih lama diluar kota?” tanya Sam.


“10 hari,” jawab Sean.


“Perasaan dari kemarin-kemarin jawabannya 10 hari terus, apa tidak akan berkurang tuh 10 hari?” tanya Sam.


Sean malah tertawa, dia tidak tahu selama gadis itu ada dikota ini, sepertinya dia tidak akan pulang-pulang.


“Kau benar-benar tidak akan pulang kalau Lorena tidak kembali ke ibu kota?” tanya Sam.


“Sepertinya begitu, daripada aku harus patah hati melihat ada pria yang mendekatinya,” kata Sean.


“Repot amat, kawinin aja sekalian, lamar, beres, “ ucap Sam.


“Tidak segampang itu. Dia belum benar-benar jatuh cinta padaku, masih butuh perjuangan,” kata Sean.


“Kau tahu Sean?” tanya Sam.


“Apa?” tanya Sean.


“Aku rasa kalau dia tahu perjuanganmu ini, Lorena tidak akan menolakmu, teman,” kata Sam.


“Aku berharap begitu,” jawab Sean, sambil tersenyum.


Dia benar-benar tergila –gila pada gadis ini. Hanya untuk mengucapkan 3 kata, ‘aku cinta padamu’ saja begitu sulit, sangat sulit. Dia benar-benar harus mengorbankan tenaga, waktu dan uang untuk mendapatkan momen yang tepat untuk mengatakan tiga kata itu tanpa penolakan.


Setelah telpon ditutup, bersamaan dengan datangnya Pak Deni dengan dua orang karyawan keruangan itu.


“Pak Deni!” panggil Sean.


“Ya pak,” jawab Pak Deni.


“Mmm tolong carikan lokasi sekitar sini yang biasa digunakan untuk outbond,” kata Sean.


“Outbond? Outbond untuk apa?” tanya Pak Deni.


“Itu yang ada Flying Fox, climbing, ya pokoknya yang begitu begitu,” jawab Sean.


“Juga kuburan, eh pemakaman umum,” lanjut Sean.


“Pemakaman umum?” tanya Pak Deni kebingungan, begitu juga dengan dua karyawan lain.


“Maksudnya untuk apa ya Pak?” tanya Pak Deni.


“Kau turuti saja perintahku, aku butuh informasi secepatnya, aku tunggu!” kata Sean.


“Baiklah, terus bagaimana dengan pekerjaan ini?” tanya Pak Deni.


“Kau simpan saja disitu, aku sedang berfikir, aku sedang tidak mau bekerja,” jawab Sean.


“Tapi Pak, ini sangat penting,” jawab Pak Deni.


“Yang aku fikirkan sekarang juga sangat penting, menyangkut masa depanku,” jawab Sean.


“Baiklah, berkasnya saya simpan dimeja saja, saya akan mencari lokasi outbondnya,” jawab Pak Deni.


“Ya, simpan saja disitu,” jawab Sean sambil memutar kursinya kesamping, menyandarkan punggungnya. Dia memikirkan cara supaya Lorena bisa lolos kontes dan jadi pemenangnya juga  pastinya mereka akan menikah.


Kalau lewat kontes, dia yakin apapun yang terjadi, Lorena mau menikah dengannya meskipun mungkin dia akan tahu kalau yang menyelenggarakan kontes itu dirinya, Presdir yang mencari istri itu adalah dirinya.


*************


Jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2