Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-25 Menemui Darren


__ADS_3

Siang itu setelah merasakan tubuhnya lebih baik, Valerie memaksakan pergi ke kantornya Earlangga. Dia tidak mau kalau kehamilan ini sampai diketahui oleh semua orang. Tapi sampai ditengah jalan dia berubah fikiran. Dilihatnya jam di tangannya masih banyak waktu untuk ke kantornya Earlangga.


“Pak tolong antar aku ke tempat lain dulu, aku ada urusan,” kata Valerie.


“Baik Sus,” jawab Pak Usman.


Valerie menyebutkan alamat rumahnya Darren. Sebenarnya dia tidak mau bertemu dengan Darren juga anggota keluarga yang lain, tapi dia butuh keterangan Darren siapa pria yang menidurinya waktu itu.


Valerie meminta Pak Usman parkir mobilnya diluar rumah saja. Biar Valerie sendiri yang masuk ke rumah itu. Pak Satpam yang sudah mengenalinya membukakan gerbang.


“Apa kabarmu? Kau tinggal dimana sekarang?” tanya Pak Satpam sumringah melihat kedatangan Valerie.


“Aku kabar baik, apa aku bisa bertemu dengan Darren?” tanya Valerie.


“Tuan Darren ada di belakang,” jawab Pak Satpam.


“Kemana yang lainnya? Kelihatannya sepi?” tanya Valerie.


“Nyonya Nisa sedang keluar juga Non Jeni,” jawab satpam.


“Baiklah aku akan menemui Darren dulu,” kata Valerie, yang diangguki Pak Satpam.


Pak Satpam mengerutkan dahinya saat melihat mobil yang membawa Valerie hanya diparkir dipinggir jalan raya di luar gedung. Dilihatnya supirnya Valerie keluar dari mobil untuk menghilangkan jenuh.


“Pak, kenapa tidak dibawa masuk saja mobilnya?” kata Pak Satpam pada Pak Usman.


“Suster Valerie meminta tunggu diluar saja, karena tidak akan lama,” jawab Pak Usam, sambil menghampiri Pak Satpam.


“Ini rumah siapa?” tanya Pak Usman.


“Ini rumah keluarganya Pak Brian,” jawab Pak Satpam.


“Oh,”Pak Usman manggut-manggut.


“Sepertinya kau sangat dekat dengan suster Valerie?” tanya Pak Usman lagi.


“Suster Valerie tinggal disini sudah lama, merawat Pak Tedi, mertuanya Pak Brian,” jawab Pak Satpam.


Pak Usman kembali menganguk-angguk, tangannya memegang pagar besi yang tertutup itu, matanya melirik kedalam rumah itu. Kebetulan garasi rumah itu terbuka. Dia mengerutkan dahinya saat melihat sebuah mobil sport mewah ada didalamnya.


Mobil itu sangat mirip dengan yang dibawa Earlangga saat Earlangga baru datang bersama teman bulenya, kabarnya mobil itu ada yang merampasnya saat Earlangga main ke club bersama temannya itu.


Tapi Pak Usman tidak hafal berapa nomor mobil itu karena mobilnya baru sehari dibawa ke rumah. Bukan sehari lagi tapi cuma beberapa jam terparkir dirumah majikannya.


Valerie berjalan memarkir halaman rumah itu. Dia juga sempat melihat digarasi yang terbuka ada terparkir mobil sport mewah, mungkin Darren baru membelinya. Gajinya tidak dibayar oleh Nyonya Nisa, tapi putranya bisa membeli mobil semewah itu, sangat aneh.


Valerie mengetuk kamarnya Darren tidak ada yang menjawab, sepertinya Darren tidak ada dikamarnya. Diapun pergi ke ruangan lain mencari pria itu tapi tidak ditemukan juga. Saat menengok kearah jendela, dia melaihat Darren sedang berenang dikolam halaman belakang. Valerie pun segera pergi kesana.

__ADS_1


Darren yang sedang berenang terkejut melihat kedatangan gadis perawat itu, diapun segera menepi.


“Heh, tumben kau kemari? Mau apa? Menagih gajimu? Ibu sedang tidak ada!” teriak Darren sambil kembali berenang menjauh.


“Aku bukan mencari Nyonya, aku mencarimu!” teriak Valerie, supaya suaranya terdengar oleh Darren.


Pria itu meluncur di air yang bening. Setelah menjauh, tubuhnya kembali mendekat.


“Kau mau apa? Sepertinya kau sudah mendapatkan pekerjaan baru,” kata Darren, sambil memegang tangga kolam, menatap Valerie yang menggunakan seragam putih-putih.


“Aku ingi bicara denganmu,” kata Valerie.


“Soal apa?” tanya Darren. Valeriepun terdiam.


Darren naik ke darat, lalu berjalan menuju meja yang ada di pinggir kolam dan mengambil handuknya. Saat Darren berjalan itu, Valerie melihat bagian belakangnya Darren. Dia merasa lega Darren bukanlah pria yang ada ditempat tidur itu. Jadi pria lain yang telah menidurinya.


“Kau mau bicara apa?” tanya Darren sambil melap rambutnya yang basah dengan handuk.


“Aku ingin tahu kau memberikanku pada pria siapa malam itu?” tanya Valerie.


Dareen membalikkan badannya menatap Valerie lalu tertawa.


“Mana aku tahu? Bisa saja si bule itu atau pria lainnya,” kata Darren.


“Kau benar- benar brengsek Darren!” maki Valerie.


“Maaf, aku terpaksa, aku harus menang taruhan waktu itu,” kata Darren, tidak ada tanda-tanda dia menyesal.


“Tapi seharusnya kau tidak mengorbankanku!” teriak Valerie dengan kesal. Airmata mulai menggenangi matanya.


“Aah sudahlah, jangan diperbesar, bule itu minta gadis virgin waktu itu, jadi aku memberikanmu!” kata Darren.


Mendengarnya membuat Valerie terkejut, jadi dia diberikan pada bule itu? Bule yang tidak dia kenal, bukan satu bule disana, ada dua atau tiga orang bule disana, jadi yang menidurinya adalah pria bule?


“Pria bule yang mana?” tanya Valerie.


“Kenapa bertanya padaku? Mana aku tahu? Ada 2 3 bule disana,” kata Darren mengingat-ingat lagi, dia menyebut 3 karena Earlangagapun memilki kulit yang pucat seperti bule, rambutnya juga tidak sehitam orang pribumi pada umumnya, karena memanag Earlangga blasteran Belanda, Inggris dan perancis, kesan-kesan orang pribumi tidak terlalu tampak padanya.


“Kau yakin tidak tahu?” tanya Valerie.


“Apa maksudmu kau datang kesini menanyakan itu? Bisa saja kau tidur dengan 3 orang itu sekaligus,” jawab Darren sambil tertawa menjijikkan.


“Kau benar-benar brengsek! Kau menghancurkan hidupku!” teriak Valerie.


“Alah, tidak usah memperbesar masalah! Kalau cuma mau bertanya begitu, lebih baik kau pergi dari hadapanku! Aku bosan melihatmu dirumah ini lagi,” ujar Darren.


Valerie menatap Darren dengan kesal. Dia tidak menemukan jawaban apapun dari Darren tentang siapa pria yang bersamanya malam itu.

__ADS_1


“Kau tahu siapa bule-bule itu?” tanya Valerie.


“Tidak, aku tidak mengenal mereka,” jawab Darren.


Mendengarnya selain terasa sakit di hatinya Valerie, bahkan Darren mengumpaninya pada bule-bule yang tidak dikenal, benar-benar laki-laki yang biadab.


“Kau yakin tidak mengenal mereka?” tanya Valerie.


“Tidak, aku baru melihat mereka disana,” jawab Darren membuat Valerie terdiam.


Darren menatap Valerie.


“Kau mencari mereka buat apa? Kau mencari orang yang menidurimu buat apa? Jangan katakan kalau kau hamil!” kata Darren  membuat Valerie tersentak kaget, wajahnya langsung pucat.


“Kau jangan bicara sembarangan!” maki Valerie.


Darren malah tertawa. Tiba-tiba ada suara yang masuk ke area kolam itu.


“Heh! Ngapain kau kesini? Kau mau mengemis pekerjaan?” terdengar suara seorang wanita. Valerie menoleh pada orang yang datang itu, ternyata Jeni.


Jeni melihat Valerie dari atas sampai bawah.


“Kau sudah dapat pekerjaan? Aku fikir kau sudah jadi gelandangan dijalanan,” kata Jeni.


Valerie tidak menaggapi ucapannya Jeni. Penghuni rumah ini benar-benar sangat memuakkan, kalau bukan karena dia bertekad untuk kuliah perawat dan tidak ada lagi keluarga yang bisa diikutinya, dia tidak mau mengikuti Mbok Narti bekerja dirumah ini merawat Pak Tedi. Mbok Narti juga meninggal karena saat dia sakit majikannya tidak peduli.


“Dia mau apa kak?” tanya Jeni menoleh pada Darren.


“Dia mencari pria yang menidurinya di club!” jawab Darren dengan senyum sinis, membuat Jeni tertawa.


“Sok sok nyari orang, kau ini dijual juga tidak laku, badan kurus kering begitu,” ejek Jeni, menatap tubuh Valerie yang sejak keluar dari rumah itu memang berat badannya turun.


Valerie malas meladeni pertengkaran ini. Diapun membalikkan badannya meninggalkan kolam itu.


“Eh dia pergi begitu saja,” geretu Jeni, melihat Valerie pergi.


“Kak, ajak aku jalan jalan dengan mobilmu itu dong! Aku ingin pamerin pada teman-temanku!” kata Jeni pada kakaknya.


“Tidak,aku tidak mau!” tolak Darren.


“Kak, aku mau pamerin mobil itu!” ujar Jeni.


“Heh, daripada kau merengek-rengek begitu, lebih baik kau cari pria kaya minta dibelikan mobil seperti itu! Reseh banget, sedikit-sedikit minta diantar,” keluh Darren, lalu beranjak.


“Kau sangat pelit! Iihat ya aku akan mendapatkan pria yang bisa membelikanku mobil seperti itu!” kata Jeni dengan kesal, diapun beranjak meninggalkan kolam itu.


************

__ADS_1


__ADS_2