Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-116 Pengakuan Pak Tedi


__ADS_3

Di dalam penjara…


Pak Tedi sedang ada di dalam bangsal penjara yang kosong, saat sipir penjara membawa seorang pria yang berbadan tinggi besar.


Pak Tedi menatap kedatangan pria itu yang ternyata dimasukkan ke ruangannya, dia bertanya-tanya apakah ini napi baru? Padahal tempat tidur di ruangan ini sudah terisi semua.


Dilihatnya lagi sipir yang mengantar orang itu sudah pergi. Pria itu menatapnya, lalu mendekati Pak Tedi, dan menarik Pak Tedi supaya bangun dari duduknya dipinggir tempat tidurnya sampai dia terjatuh ke lantai.


“Hei apa yang kau lakukan?” bentak Pak Tedi, dia merasa kesal karena pendatang baru malah seenaknya padanya.


Pria tinggi besar itu berjalan lagi mendekati Pak Tedi yang tadi terjatuh kelantai.


“Kau mau apa?” tanya Pak Tedi, dia akan bangun tapi sebuah pukulan sudah mendarat diperut membuatnya tersungkur menahan rasa sakit diperutnya.


“Kau, kau siapa? Kau mau apa?” tanya Pak Tedi, sambil menahan sakit diperutnya.


Pria tinggi besar itu mendekatinya.


“Katakan dimana Lorena berada?” tanya pria tinggi besar itu.


Mendengar pertanyaan orang itu barulah Pak Tedi mengerti apa maksud tujuan kedatangan orang itu ke penjaranya. Diapun tertawa.


“Rupanya kau suruhan keluarganya Joris?” tanya Pak Tedi.


Bukan jawaban yang diterimanya tapi sebuah pukulan lagi di perutnya membuat Pak Tedi kembali tersungkur. Bukan satu pukulan, bahkan pria itu memukuli wajahnya juga sampai Pak Tedi babak belur, berusaha bangun sambil terus batuk-batuk.


“Katakan dimana Lorena?” tanya pria itu.


Pak Tedi menyeringai malah tertawa.


BUK! Sebuah tendangan kembali mengenai tubuhnya.


Pak Tedi akan bangun lagi dan Buk! Satu tendangan lagi dilakukan pria itu membuat Pak Tedi kesakitan dan kesulitan bernafas.


“Dimana Lorena?” tanya pria itu lagi, berdiri sambil bertolak pinggang. Sepertinya dia memang tidak memiliki rasa belas kasihan.


“Aku tidak akan mengatakannya!” teriak Pak Tedi, membuat pria itu berjongkok dan langsung mencekiknya membuat Pak Tedi sesak nafas, mulutnya menganga, dia benar-benar dicekik pria itu. Tangannya menggapai-gapai minta pertolongan.


“Kau mau bicara atau kau mau mati sekarang?” tanya pria itu.

__ADS_1


Saking tidak kuatnya menahan sesak nafasnya, Pak Tedi akhirnya mengangguk. Pria itu melepaskan cekikannya.


“Katakan dimana Lorena?” tanya pria itu.


Pak Tedi mengatur nafasnya, dia tidak meyangka pria itu akan benar-benar membunuhnya, dia hampir saja kehilangan nyawanya.


“Dia..” ucap Pa Tedi kembali mengatur nafasnya.


“Apa?” tanya pria itu.


“Dia, dia sudah mati dihabisi orang-orangku!” jawab Pak Tedi.


“Dimana kalian menyembunyikan mayatnya?” tanya pria itu.


“Aku tidak tahu, orang-orangku sudah pergi melarikan dir ke luar negeri!” jawab Pak Tedi.


Pia itu kembali akan mencekik Pak Tedi, tapi Pak Tedi buru-buru beringsut.


“Aku bicara sebenarnya. Aku menyuruh orang-orangku untuk menghabisi Lorena dan bayinya. Aku tidak tahu dimana mereka membuang mayatnya, mereka sudah pergi keluar negeri,” kata Pak Tedi.


“Kau bisa menghubungi mereka?” tanya pria itu.


Bugh! Pak Tedi kembali ditendang pria itu sampai tersungkur lagi kepojok tembok, wajahnya sudah tidak karuan babak belur dimana-mana. Pak Tedi hanya bisa mengerang, dia merakan sakit yang luar biasa ditubuhnya diapun jatuh pingsan tidak sadarkan diri.


Saat terbangun, dia berada di bangsalnya hanya sendiri, entah kemana pria itu, dia masih tergeletak dilantai yang kini terasa begitu dingin. Dia merasa kesal dia benar-benar telah gagal, hidupnya telah hancur, dia tidak akan bisa mendapatkan keuntungan lagi dari Sean, yang ada dia hampir mati barusan. Dia juga tidak bisa menjalankan misinya untuk memeras Sean, atau dia akan mati benar-benar mati, dia tidak menyangka Sean pun bisa berbuat kejam.


Pak Tedi terus terbatuk-batuk, dia merasakan tubunya remuk redam karena pukulan pria itu, sepertinya tulang tangan dan kakinya juga patah.


************


Di sebuah hotel di ibukota.


“Apa maksudmu?” tanya Mr.Julian saat mendapat sebuah telpon dari orang-orangnya.


“Lorena dihabisi? Pelakunya sudah keluar negeri? Dimana mereka membuang mayatnya?” tanya Mr.Julian, dengan bibir bergetar dan hati yang sangat sedih. Dia tidak menyangka kalau putrinya akan meninggal dengan cara yang tragis. Tapi dia tetap harus mencari tahu dimana orang-orang suruhan Pak Tedi itu membuang mayat putrinya.


Seperti yang dikatakan Pak Tedi, tidak ada yang tahu dimana mayatnya Lorena.


Dengan hati yang lesu, Mr.Julian menelpon Sean yang sekarang sedang berada diruang kerja di

__ADS_1


rumahnya bersama Sam.


Dengan tergesa-gesa Sean mengangkat telpon dari mertuanya. Dia shock saat mendengar perkataan mertuanya kalau Pak Tedi tetap mengatakan Lorena telah dihabisi oleh orang-orangnya dan dia tidak tahu dimana mayatnya dibuang.


Mata Sean langsung berkaca-kaca. Airmata sudah menggenang dikedua matanya itu.


“Ada apa?” tanya Sam.


“Pak Tedi tetap mengatakan Lorena sudah dihabisi tapi dia tidak tahu dimana orang-orangnya membuang mayatnya,” jawab Sean. Tetes tetes airmata jatuh ke pipinya, hatinya begitu hancur mendengarnya.


Sam terdiam membisu, dia juga ikut merasa sedih. Dia bingung apakah ini sesuatu yang nyata atau hanya sebuah mimpi.


“Sean, kalau mayatnya belum ditemukan, itu artinya masih ada harapan. Kau jangan patah semangat!” ucap Sam, diapun ikut berkaca-kaca menahan rasa sedihnya.


Sean mengahapus airmatanya.


“Pak Tedi tidak akan berani berbohong dibawah tekanan,” jawab Sean. Dia menahan rasa sesak yang kini muncul didadanya.


Sam diam membisu. Rasanya tidak percaya kalau Lorena meninggal dengan cara yang sangat tidak terbayangkan sebelumnya.


Sean bangun dari duduknya, dia berlari masuk ke kamar bayinya. Berdiri dipintu dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Dilihatnya tempat tidur itu, masih terbayang istrinya tersenyum sambil melipat baju bayinya. Rasanya tidak percaya kalau istrinya sudah meninggal bersama bayinya.


Sean berjalan menuju ranjang bayi yang sudah diberi kelambu dan ada mainan diatasnya, disentuhnya mainan itu yang seketika langsung bergemericing mengeluarkan suaranya.


“Sayang,” ucapnya, tidak bisa menahan tangisnya, airmata kembali menetes dipipinya. Disentuhnya kelambu itu lagi. Dia bingung harus berkata apa. Dia tidak sanggup kehilangan istri dan bayinya.


“Sayang, aku minta maaf,” ucapnya dengan lirih.


“Sean! Sean!” terdengar suara Ny.Grace berlari menuju kamarnya Sean tapi langkah ibunya itu terhenti saat melihat kamar bayi terbuka dan melihat Sean ada di dalamnya.


“Sean! Apa benar yang dikatakan Sam tadi? Orang- orang Pak Tedi sudah membunuh Lorena?” tanya Ny.Grace.


Sean tidak menjawab, dia masih mengusap kelambu-kelambu itu. Melihat sikapnya Sean, tidak perlu lagi dijelaskan benar atau tidak kabar itu. Ny.Grace terduduk lesu di kursi yang ada di kamar itu. Dia merasa sedih kehilangan menantu dan cucunya. Itu juga artinya warisan kakeknya Sean akan lenyap.


Sean hanya mengusap-usap kelambu itu dengan hatinya yang hancur tanpa menghiraukan kehadiran ibunya. Dia sangat kehilangan, dia merasa hampa, dia merasa hidupnya sudah tidak ada artinya lagi tanpa anak istrinya, dia masih tidak percaya dengan semua ini. Entah dimana mayat istrinya sekarang? Istrinya begitu bahagia menata kamar bayi ini.


“Sayang aku minta maaf, aku benar-benar bersalah padamu,” ucap Sean. Dia merasa dialah penyebab kemalangan yang dialami Lorena. Semua karena dirinya yang mengharuskan mendapatkan warisan itu. Seandainya tidak ada warisan itu mungkin nasib pernikahannya tidak akan seperti ini.


Sean kembali menghapus airmata yang kembali menetes dipipinya.

__ADS_1


**********************


__ADS_2