Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-6 Rasa Bersalah


__ADS_3

Terdengar suara burng-burung bercicit, juga sinar matahari yang menyorot masuk ke dalam kamar di sela sela jendela.  Earlangga menggeliatkan tubuhnya, dia merasakan pusing dikepalanya, diapun menggulingkan tubuhnya menjadi terlentang dan merasakan dinginnya AC menyentuh kulitnya. Diapun membukakan matanya dan keheranan saat melihat langit-langit yang berbeda dengan langit-langit kamarnya.


Earlangga melihat ke sekeliling, dia semakin terkejut saat melihat itu bukan kamarnya. Earlangga langsung bangun dan semakin terkejut lagi saat melihat tubuhnya yang tidak memakai pakaian sehelaipun. Dia Shock. Apalagi saat melihat ada noda noda merah diatas sprei yang putih itu yang acak-acakan.


“Apa ini?” gumamnya dengan hati yang bedebar-debar. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu barangkali ada orang lain yang ada di kamar itu bahkan kamar mandi juga pintunya terbuka dan ternyata hening tidak ada siapa-siapa dikamar itu.


“Apa yang terjadi?” gumamnya semakin bingung. Cepat cepat diambilnya pakaiannya. Dalam benaknya dia harus segera mencari Josh dan Nick, diapun cepat keluar dari kamar itu, di lorong lorong  Earlangga berteriak-teriak memanggil teman-temannya.


“Josh! Nick!” teriaknya. Disusurinya pintu pintu kamar yang berderet  itu sambil memanggil manggil temannya.


Terdengar salah satu pintu dibuka.


“Josh!” panggilnya dan segera menuju pintu yang terbuka itu. Dilihatnya temannya hanya menggunakan handuk dipinggangnya.  Earlangga sempat melihat didalam ada seorang wanita yang sedang duduk diatat tempat tidur dengan menyelimuti dirinya dengan selimut.


“Kita pulang!” kata Earlangga.


“Aku masih mau bersenang-senang!” kata Josh.


“Tidak bisa, kita pulang sekarang juga! Mana Nick?” tanya Earlangga.


“Kalian sangat berisik!” terdengar suara seseorang dari sebelah kamarnya Josh.


Nick keluar dari pintu dengan seorang wanita yang bergelayut mesra memeluknya.


“Nick kita pulang!” ajak Earlangga.


Josh masuk lagi kedalam kamar,  sedangkan Nick menoleh pada wanita itu yang terus menciuminya.


“Kalau kau rindu padaku , kau bisa telpon aku,” kata wanita itu.


“Baiklah sayang, aku pulang dulu,” ucap Nick sambil mencium wanita itu.


Earlangga hanya diam saja tidak berkata apa-apa ,dia menunggu Josh yang sedang berpakaian. Tidak berapa lama temannya itu keluar dari kamar itu.


 “Ayo,” ajak Earlangga. Dia benar-benar ingin pergi dari tempat itu.


Saat berada di halaman parkir ternyata mobilnya sudah tidak ada.


“Mereka benar-benar membawa mobilmu!” kata Nick.


“Tapi kau jangan khawatir aku akan menggantinya, aku yang bersalah karena mengajakmu kesini,” ujar Josh.


“Sudah tidak apa-apa, masih banyak mobilku yang lain,” ucap Earlangga.

__ADS_1


“Tentu saja, kau bisa membeli yang baru lagi,” kata Nick sambil menepuk bahunya Earlangga.


Akhirnya mereka menyetop taxi, pulang kerumahnya Sean.


Saat mereka sampai dirumah, ternyata ada beberapa mobil yang sudah parkir, sepertinya ada tamu di rumah.


Ny. Grace yang melihat cucunya datang dengan baju yang kusut itu menatapnya tajam.


“Kau tidak pulang semalam?” tanyanya, dengan raut muka tidak suka.


“Iya Nek,” jawab Earlangga.


“Lihat, kau begitu kotor!” kata Ny.Grace.


Sean yang sedang duduk bersama tamu-tamunya mendengar ibunya menegur Earlangga, langsung bangun dan menghampirinya.


Ditatapnya putranya itu juga pada kedua temannya.


“Ayah, ada sedikit masalah tadi malam, orang-orang mengerjai kami, mobilku diambil mereka,” kata Earlangga.


“Kenapa bisa begitu?” Ny.Grace yang menyahut.


Earlangga akan menjawab tapi Sean yang duluan menjawab.


“Kau kenapa sayang?” Lorena terkejut saat masuk keruangan itu melihat Earlangga sangat kotor juga dengan kedua temannya.


“Maaf Bu, tadi malam ada sedikit masalah dengan orang-orang,” jawab Earlangga.


“Tapi kau tidak apa-apa kan sayang? Tidak ada yang terluka?” tanya Lorena sambil menyentuh wajah putranya , dilihatnya takut ada yang luka.


“Tidak Bu, aku baik-baik saja,” jawab Earlangga.


“Cepatlah bersihkan dirimu, langsung susul kami diruang kerjaku!” terdengar suara Ny.Grace


.


“Iya, Nek,” jawab Earlangga, sambil melirik pada Josh dan Nick, merekapun menuju kamar mereka.


Lorena menghampiri suaminya dan memeluk pinggangnya.


Ny. Grace menoleh pada Lorena juga Sean.


“Lihat kelakuan Earl, itu karena dia dibiarkan tinggal di London, banyak bermain dan bergaul bebas!” kata Ny.Grace.

__ADS_1


“Ibu kan tahu, Earl tinggal di London demi kebaikannya juga,” jawab Sean.


“Tapi seharusnya dia tahu kalau banyak tanggung jawab yang ada di pundaknya,” kata Ny.Grace.


Sean akan bicara lagi, tapi tangan istrinya menyentuh lengannya, memintanya untuk tidak memperpanjang masalah.


Di dalam kamarnya Earlangga segera bergegas ke kamar mandi. Dibawah air shower itu mengguyur tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Dia masih memikirkan kejadian yang menimpanya tadi malam. Dia bertanya-tanya siapa gadis yang bersamanya tadi malam? Sampai-sampai dia menodainya dalam keadaan tidak sadar. Terbayang lagi saat melihat ceceran darah di atas sprei, dia semakin merasa bersalah telah menodainya.


Kasihan sekali gadis itu, batinnya. Apakah gadis itu adalah gadis yang dipertaruhkan itu? Tidak ada yang tahu, karena dia sama sekali tidak mengingat wajahnya.  Rasa bersalah terus menyelimuti hatinya Earlangga. Meskipun dia melakukannya tidak dengan sengaja tapi dia sudah merusak masa depan gadis itu dan itu tidak bisa dillupakan begitu saja, pasti gadis itu sedang menangis sekarang.


Setelah mandi dan berpakaian, Earlangga menuju ruang kerja neneknya. Dia belum hafal betul seluruh ruangan di rumah ini, karena selama hidupnya nyaris tidak pernah menginjakkan kakinya ke rumah ini, hanya orang tua dan neneknya saja yang datang mengunjunginya di London.


Di ruang kerja Ny.Grace sudah berkumul keluarganya juga ada beberapa orang tamu tadi yang bicara dengan ayahnya di ruang tamu.


“Masuklah sayang!” panggil Lorena. Earlangga segera ikut bergabung, duduk disalah satu sofa.


“Mereka adalah pengacara keluarga kita,” kata Sean, menoleh pada putranya, lalu pada tamu-tamu itu.


“Ini putraku, Earlangga, dia baru datang dari London,” lanjut Sean.


“Halo Pak Earlangga, kami pengacara keluaga Tn. Joris,” kata salah satu pengacara itu.


“Halo!” sapa Earlangga, menatap tamu-tamu itu.


“Kami akan membacakan kekayaan yang diwariskan oleh Tn Joris pada Pak Sean dan putranya, berarti itu kau,” kata salah satu pengacara.


Earlangga menoleh pada ayahnya.


“Kau dengarkan baik-baik,” kata Sean.


“Sebenarnya warisan ini sudah diturunkan sejak Pak Earlangga lahir, hanya saja sekarang kami menjelaskan lagi apa-apa saja kekayaan yang menjadi haknya Pak Earlangga,” lanjut pengacara itu.


Earlangga hanya mengangguk. Dia sama sekali tidak tertarik dengan kekayaan yang diwariskan padanya, kekayaan dari kakeknya di London juga sudah lebih dari cukup. Yang difikirkannya sekarang hanya teka teki gadis yang telah dia nodai.


Pengacara mulai menyebutkan berbagai macam kekayaan yang telah diterima oleh Earlangga saat dia dilahirkan dulu. Banyak sekali harta warisan itu apalagi dia adalah anak tunggal, semua kekayaan orang tuanya juga akan jatuh ke tangannya suatu saat nanti.


Earlangga tidak begitu menyimak, fikirannya terus pada gadis itu, dia bingung apa saja yang harus dilakukannya? Apakah dia perlu mencarinya? Tapi buat apa? Apakah dia harus bertanggung jawab? Tapi dia tidak mengenal gadis itu dan pastinya tidak mencintainya, apalagi kalau harus menikahinya.


Banyak diamnya  Earlangga tidak luput dari perhatiannya Lorena, dia menatap putranya itu lekat-lekat. Putranya pulang ke rumah dalam keadaan kusut, apa telah terjadi sesuatu yang tidak diceritakan padanya? Dia tahu putranya sudah dewasa sekarang, sudah memilki privasi sendiri, hanya saja dia tetap merasa was-was jika terjadi sesuatu yang buruk pada putranya.


 

__ADS_1


******************


__ADS_2