Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-54 Perhatian Earlangga


__ADS_3

Earlangga kembali lagi dengan segelas susu ditangannya. Valerie jadi menahan tawanya, kenapa pria itu selalu meminum susunya?


“Ayo minumlah,” kata Earlangga, sambil duduk dipinggir tempat tidur dan mengulurkan gelas susu itu.


“Terimakasih Pak, lain kali biar saya yang membuatnya,” kata Valerie, sambil mengambil gelas susu itu.


“Tadi aku sekalian membuat kopi,” jawab Earlangga, menatap wajah pucat itu.


Valerie mulai meminum susunya.


“Yang banyak minumnya,” kata Earlangga, karena Valerie minumnya hanya sedikit.


“Iya nanti saya minum lagi,” jawab Valerie.


“Kalau nanti keburu dingin, kau harus banyak minum juga makan,” kata Earlangga lagi, tangannya meraih gelasnya Valerie dan disodorkan ke mulutnya, membuat Valerie mau tidak mau jadi minum lagi.


“Yang banyak, kau harus sehat, biar bayinya juga sehat,” ucap Earlangga lagi, sambil mengambil tisu yang ada diatas meja kecil disamping tempat tidur dan di lapkan ke mulutnya Valerie yang ada bekas susu.


“Terimakasih,” jawab Valerie, dia bingung kenapa suaminya itu begitu perhatian padanya?


“Kau harus banyak makan, aku baru sadar kalau kau lebih kurus dari sejak kita bertemu,” kata Earlangga, tangannya mengulur lagi melap bekas susu yang tersisa dibibirnya Valerie.


Valerie menatap wajah pria itu yang begitu dekat didepannya, apa yang akan dikatakan Ny. Grace kalau melihat Earlangga seperti ini?


Earlangga kembali menatap wajah tirus itu. Banyak fikiran bermunculan di benaknya. Sungguh bingung apa yang harus diperbuatnya dengan kondisi seperti ini. Mengatakan dia yang telah menghamilinya juga bukan hal mudah, dia tidak mau ada reaksi berlebihan dari Valerie, belum keluarga besarnya. Menunggu sampai bayi itu lahir juga terasa begitu lama. Apa dia akan melanjutkan pernikahannya dengan Valerie dan bayi merka? Atau mereka akan bercerai dan bayi itu akan dibawa Valerie seperti yang Valerie bilang pada neneknya?


“Pak!” panggil Valerie karena Earlangga malah menatapnya tanpa bicara.


“Ya, ada apa?” tanya Earlangga, lamunannya langsung buyar.


“Saya minta maaf sudah membuat Bapak kepanasan,” jawab Valerie.


“Iya udara sangat panas, tapi tidak masalah,” jawab Earlangga, tidak melepaskan tatapannya pada Valerie.


Wajah Valerie semakin merah karena pria itu menatap terus menerus. Jantungnya jadi berdebar kencang dan dia merasa gugup juga, kenapa Earlangga menatapnya terus, benar-benar membuatnya salah tingkah.


Pandangan Earlangga turun melihat perutnya Valerie, membuat Valerie juga melihat perutnya, lalu menatap Earlangga lagi, dia tidak mengerti kenapa pria itu bersikap begitu.


“Kata ibuku aku harus mengajakmu membeli makanan yang kau suka. Aku ingin kau makan banyak, rasanya aku memang belum pernah melihatmu makan banyak,” ucap Earlangga, melihat Valerie yang lebih kurus dia merasa khawatir bayinya juga akan tidak sehat.

__ADS_1


“Makan apa..” gumam Valerie, kebingungan.


“Aku tidak ingin apa-apa,” lajutnya dengan bingung, karena memang nafsu makannya sangat kurang, tidak seperti kebanyakan ibu hamil yang mendadak sering merasa lapar terus.


“Kalau kau tidak makan, kau akan sakit lagi, kau dan bayimu harus sehat,” ucap Earlangga, meraih tangannya Valerie dan digenggamnya, lalu sebelah tangannya mengusap pipinya Valerie.


“Kau juga kurus,” ucapnya. Hatinya merasa sedih dan merasa bersalah Valerie melewati masa kehamilannya seperti ini, disaat kebanyakan ibu hamil akan merasa bahagia dengan perhatian dari suami dan keluarga besarnya yang menyambut kehamilannya dengan sukacita.


Valerie semakin bingung saja dengan sikapnya Earlangga, bukannya dia tidak senang karena diperhatikan tapi dia merasa takut kalau perhatiannya Earlangga malah membuatnya menyimpan perasaan dan diam-diam jatuh cinta padanya.


“Sebaiknya Bapak jangan terlalu perhatian pada saya,” ucap Valerie tiba-tiba.


“Kenapa?” tanya Earlangga, menatapnya sambil tersenyum.


“Setelah melahirkan nanti saya dan bayi saya akan pergi dari rumah ini, saya tidak mau hari itu akan semakin berat,” jawab Valerie.


Earlangga terdiam mendengarnya.


“Kenapa kau harus memikirkan nanti? Kita tidak tahu nanti akan seperti apa, tidak ada yang pasti kau akan tinggal disini atau tidak, semua itu bisa berubah,” ucap Earlangga.


Dalam hati diapun belum bisa menjanjikan apa-apa pada Valerie, karena dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti setelah bayi itu lahir dan terbukti tes DNA  bayi itu adalah bayinya.  Apakah dia akan melanjutkan pernikahannya dengan Valerie  dan menetap disini? Atau ada pertentangan dari keluarganya terutama neneknya dan dia harus pindah kembali ke London atau bisa jadi dia akan berpisah dengan Valerie? Tidak ada yang tahu nanti, hanya satu yang pasti, dia tidak mungkin melepaskan buah hatinya dari rahim siapapun bayi itu dilahirkan.


“Earl, kau tidak berangkat bekerja? Ini sudah terlalu siang. Banyak yang harus kau urus, nenek akan kembali ke Paris,” kata Ny.Grace.


Earlangga menoleh pada neneknya lalu menghampirinya.


“Sepertinya aku tidak akan ke kantor hari ini,” jawab Earlangga.


“Kenapa?” tanya Ny.Grace, matanya melirik sekilas pada Valerie.


“Aku akan menemani Valerie hari ini, mencari makanan yang dia suka, dia tidak mau makan,” kata Earlangga.


Ny.Grace menatap Earlangga dengan tajam.


“Earl, ada banyak pekerjaan yang lebih penting dari sekedar menemaninya makan,” kata Ny.Grace dengan ketus.


“Biarkan dia dengan Tari, Tari sudah nenek tugaskan untuk menjaganya, kau jangan khawatir,” lanjut Ny.Grace, semakin kesal saja pada Valerie yang dianggapnya sudah menghasut cucunya.


“Tidak Nek, aku…”belum selesai Earlangga bicara, neneknya sudah memotong lagi.

__ADS_1


“Kau jangan menyepelekan pekerjaanmu, banyak yang bergantung di pundakmu!” kata Ny.Grace.


“Aku tahu Nek, tapi hari ini aku sedang ingin menemani Valerie saja,” jawab Earlangga.


“Tidak ada menemani dia segala, kau tidak perlu perhatian padanya, pekerjaanmu lebih penting! Kau satu-satunya penerus keluarga Joris setelah ayahmu,” kata Ny,Grace.


“Pokoknya kau harus berangkat bekerja sekarang! Aku heran bagaimana kau di didik di London sampai seperti ini, tidak bertanggungjawab pada pekerjaanmu,” Ny. Grace terus saja mengeluh lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.


Bukan karena tidak mau bekerja yang dipermasalahkan Ny.Grace, hanya dia tidak suka Ealrangga dekat dengan Valerie, masih banyak gadis lain yang lebih pantas buat Earlangga, dan Earlangga juga mengerti maksud dari neneknya itu. Diapun mengikutinya dan menutup pintu kamar.


“Nek, kita perlu bicara!” kata Earlangga, suaranya masih terdengar oleh Valerie. Diapun turun dari tempat tidur, dia ingin tahu apa yang cucu dan nenek itu bicarakan.


“Nek, aku tidak suka nenek mengatur-aturku seperti ini,” ucap Earlangga, saat sudah berdiri berhadapan dengan neneknya.


“Aku mengaturmu demi kebaikanmu sendiri! Nenek sudah bilang jangan terlalu dekat dengan perawat itu, kau tidak pantas dengannya, nenek akan carikan gadis yang lebih cocok bersanding denganmu, tapi bukan perawat itu,” kata Ny.Grace.


“Aku tidak mau Nenek mengatur-atur dengan siapa aku akan menikah nanti setelah pernikahanku dengan Valerie,” ucap Earlangga.


“Kau harus menurut kata Nenek atau kau tidak akan mendapatkan sepeserpun warisanmu.” Ny.Grace masih bersikukuh dengan nada kesal.


“Aku tidak peduli Nek, sebelum aku kesini, aku sudah nyaman tinggal di London, aku juga mengurus perusahaan dari kakekku, itu sudah lebih dari cukup, aku tidak mau datang kesini dan urusan pribadiku diatur-atur,” kata Earlangga.


Ny.Grace menatap Erlangga dengan raut muka kesal dan menahan marah.


“Itu alasannya kenapa aku tidak suka kau dibesarkan di London! Kau hidup semaumu, kau tidak merasa kalau kau keturunan ayahmu, padahal semua ini milikmu!” kata Ny.Grace semakin kesal, lalu pergi meninggalkan Earlangga.


Earlangga hanya menghela nafas panjang melihat kepergian neneknya.


Ny.Grace benar-benar kesal pada cucunya itu, bagaimana mungkin cucunya yang putra bangsawan dengan kekayaan yang melimpah, menikah hanya dengan perempuan biasa?


Bagaimana kalau Earlangga jatuh cinta pada Valerie apalagi kalau sampai tahu itu bayinya, bisa bisa Erlangga bertahan dengan pernikahannya. Pernikahannya dengan Valerie sudah cukup membuatnya malu kalau bukan karena masalah kehamilan yang dituduhkan pada Earlangga, tidak mungkin dia merestui pernikahan itu.


Berbeda dengan Sean, meskipun Sean menikahi Lorena hasil dari kontes, tapi Lorena bukan gadis sembarangan, berbeda dengan Valerie yang tidak jelas asal usulnya, tahu-tahu jadi perawat cucunya bahkan hamil bayi cucunya. Benar-benar membuatnya tidak suka. Dia ingin menghapus jejak bibit bobot tidak jelas yang masuk dalam keluarganya.


Valerie bersandar ditembok saat mendengar perkataan Nyonya Grace itu. Ternyata dia pemicu pertengkaran Earlangga dengan neneknya. Hatinya semakin sedih saja, mungkin akan lebih baik kalau dia pergi dari rumah ini, daripada dia lambat laun akan jatuh cinta karena Earlanga semakin perhatian padanya dan semuanya akan semakin runyam.


Bayi ini juga bukan bayinya Earlangga, dia lebih baik pergi dari keluarga ini dan menjalankan kehidupannya sendiri diluar sana. Ya benar, akan lebih baik dia pergi. Dia akan menunggu Earlangga berangkat bekerja, kemudian dia pergi dari rumah ini.


*************

__ADS_1


__ADS_2