
Earlangga kembali ke kamarnya dan dilihatnya Valerie sedang berbaring. Diapun mendekatinya dan menghentikan langkahnya di dekat tempat tidur itu.
“Maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu hari ini,” kata Earlangga.
“Tidak apa-apa Pak, aku tidak akan kemana-mana, aku akan istirahat,” jawab Valerie.
Earlangga tersenyum.
“Itu bagus. Baiklah aku akan bersiap-siap. Kalau ada apa-apa jangan segan-segan menghubungiku,” kata Earlangga.
“Baik Pak,” jawab Valerie.
Ealanggapun pergi ke kamar mandi, akan bersiap siap berangkat kerja. Sebenarnya dia ingin menemani Valerie hari ini tapi dia juga tidak mau bertengkar dengan neneknya apalagi neneknya akan kembali ke Paris.
Saat bertemu dengan neneknya lagi di tangga, Ny.Grace yang juga sudah rapih akan keluar, langsung menghentikan langkahnya.
“Jam 11 nenek ada pertemuan bisnis dengan Pak Brian, karena nenek mau kembali ke Paris, kau lanjutkan kerjasamanya. Nanti nenek kabari tempat dimana kita kan bertemu,” ucap Ny.Grace.
“Baiklah,” jawab Earlangga, sambil bergegas menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan teras.
Setelah Earlangga berangkat bekerja, Valerie bangun dari tidurnya. Dia kembali menimbang-nimbang apakah dia akan pergi dari rumah ini sekarang? Dia tidak mau kehadirannya dirumah ini malah membuat hubungan Earlangga dengan neneknya tidak baik, padahal sebenarnya dia juga hanyalah orang asing dirumah ini. Disebut istri juga dia tidak benar-benar istrinya Earlangga.
Valerie mengambil kopernya dan langsung diisi pakaiannya. Dia juga bingung harus pergi kemana? Apakah dia harus pulang kampung? Dia sebatang kara di kampung. Tapi di kampung tidak akan ada yang tahu keberadaannya, termasuk Earlangga, lagipula Earlangga tidak mungkin mencarinya.
Valerie kembali mengemas pakaiannya ke dalam kopernya. Kemudian diambilnya kertas HVS yang tertumpuk di salah satu laci lemari di kamar itu. Diapun duduk dipinggir tempat tidur dengan kopernya dijadikan mejanya, lalu mulai menulis surat buat Earlangga.
To : Bapak Earlangga
Sebelumnya saya minta maaf harus menulis surat ini…
Valerie diam lagi, dia bingung harus menggunakan kata-kata apa, dicoretnya tulisan itu lalu di simpannya kertas itu kesampingnya dan kembali menulis di kertas yang baru.
To : Pak Earlangga
Pak, dengan berat hati saya harus mengambil keputusan ini…
Baru juga menulis beberapa kata disimpan lagi, dia masih bingung, kemudian menulis lagi di lembaran baru. Diapun melamun, dia benar-benar bingung harus menulis apa. Mengingat sikapnya Earlangga yang semakin memperhatikannya dia merasa berat meninggalkannya, tidak bisa dipungkiri, dia juga merasa senang ada pria yang memperhatikannya disaat kondisinya seperti ini.
Earlangga mengendarai mobilnya dengan kencang di jalan raya. Dia sangat tidak suka dengan neneknya yang suka sekali memaksakan kehendaknya, dia juga memikirkan Valerie, neneknya tidak menyukai gadis itu hanya karena status sosialnya.
Diraihnya saku bajunya, akan mengambil ponselnya tapi apa yang dicarinya ternyata tidak ada, sepertinya ketinggalan di kamarnya. Earlanggapun membalikkan kembali arah mobilnya kembali pulang.
“Ada yang tertinggal Pak?” tanya Pak Sobri, saat melihat Earlangga kembali pulang.
“Iya ponselku ketinggalan,” jawab Earlangga, sambil bergegas masuk ke dalam rumah.
Saat membuka pintu kamar, Earlangga terkejut melihat Valerie yang sedang menulis diatas kopernya ditempat tidur. Valerie juga yang sedang menulis terkejut ada yang membuka pintu kamar tiba-tiba, diapun menoleh kearah pintu dan lebih terkejut lagi karena Earlangga sudah berdiri dipintu itu.
“Kau sedang apa?” tanya Earlangga, keheranan apalagi melihat Valerie dengan alat tulis yang dipegangnya.
Valerie langsung pucat pasi.
“Kau mau kemana? Tadi aku sudah melarangmu keluar rumah, dan ini..ini apa? Koper?” tanya Earlangga sambil mendekati, lalu menoleh pada kertas dan ballpoint di tangannya Valerie.
Earlangga mengambil oretan kertas tadi lalu dibacanya..
“Apa ini? Kau menulis surat cinta untukku?” tanya Earlangga menatap Valerie, gadis itu tidak bisa menjawab. Earlangga mengambil lagi kertas yang lain yang belum selesai ditulis.
Tangannya Earlangga meraih koper itu dan membukanya, isinya pakaiannya Valerie.
__ADS_1
“Kau akan pergi dari rumah ini?” tanya Earlangga, menatap Valerie.
“Iya Pak, “ jawab Valeri dengan pelan.
“Kenapa?” tanya Earlangga, untung saja ponselnya ketinggalan jadi dia tahu kalau Valerie akan pergi.
“Saya…saya tidak bisa tinggal disini,” jawab Valerie sambil menunduk.
“Kenapa?” tanya Earlangga lagi menatapnya dengan tajam.
Valerie menengadah menatap wajah pria yang betubuh tinggi itu.
“Saya tidak mau membuat hubungan Bapak dan Nyonya bermasalah karena saya,” jawab Valerie.
“Jadi kau memutuskan untuk pergi?” tanya Earlangga.
“Iya, saya fikir saya pergi lebih cepat lebih baik, hasil tes DNA nya juga pasti kan bayi ini bukan bayi Bapak, jadi tidak ada salahnya kalau saya pergi sekarang atau nanti, justru saya pergi sekarang itu lebih baik,” jawab Valerie.
“Tidak ada yang lebih baik kalau kau jauh dariku,” kata Ealangga, dengan keras, membuat Valerie terkejut dan menatapnya.
“Aku tidak mau kau pergi, kau tidak boleh pergi,” kata Earlangga.
“Tapi Pak, Nyonya tidak menyukai saya. Saya juga tidak mau menjadi penghalang kehidupan pribadi Bapak, yang mungkin akan menikah dengan gadis lain,” jawab Valerie.
Earlangga menatap Valerie.
“Kau ini bicara apa?” tanyanya dengan tatapan tidak suka.
“Ma..maaf,” jawab Valerie.
“Kau ini kan istriku, masa kau berkeliaran diluar? Memangnya kau pergi akan pergi kemana? Orang tuamu sudah tidak ada kan? Disini juga kau tidak punya siapa-siapa, bagaimana kau akan hidup dengan keadaan hamil seorang diri begini?” hardik Earlangga. Sebenarnya dia shock kalau sampai Valerie pergi, bagaimana dia harus mencarinya?
“Dengarkan aku. Selama bersamaku, kau tidak perlu takut pada nenekku, aku tidak akan membiarkan nenekku menyakitimu,” kata Earlangga, mata mereka bertemu dan saling tatap.
“Aku tahu nenekku tidak menyukaimu, biarkan saja, nenekku memang orangnya seperti itu. Selama aku bersamamu nenekku tidak akan bisa menyakitimu, jangan terlalu memikirkan nenekku,” lajut Earlangga, mengusap lembut tangannya Valerie.
Mendengar perkataan Earlangga membuat Valerie diam.
Mata Earlangga kini tertuju pada perutnya Valerie, tangannya terulur menyentuh perut bulat itu. Sebenarya dia ingin mencium bayi dalam perut itu tapi ditahaannya, Valerie pasti akan bertanya-tanya dengan sikapnya itu, dia hanya cukup menyentuhnya saja.
“Kalau kau pergi, kemana aku harus mencarimu?” tanyanya, seperti bicara pada diri sendiri, dia tidak mungkin membiarkan buah hatinya pergi meninggalkan rumah ini.
Tangannya Earlangga kembali mengusap perut itu perlahan.
Valerie terdiam, dia tidak mengerti dengan sikap dan perkataannya Earlangga. Dia hanya bisa merasakan tangan kokoh itu menyentuh dan mengusap perutnya, ada rasa tenang dalam dirinya.
Apakah Earlangga menyukainya? Bukankah kepergiannya itu sesuatu yang bagus supaya dia bisa bebas memilih gadis yang akan dinikahinya nanti tanpa kehadiranna yang akan menjadi penghalang?
“Tapi Pak, saya bingung dengan keberadaan saya disini,” ucap Valerie, menunduk menatap Earlangga yang masih menyentuh perutnya.
“Kenapa bingung? Kau kan istriku, kau berhak tinggal disini,” jawab Earlangga.
“Tapi…” jawaban Earlangga semakin membuat Valerie bingung, apa maksud nya itu? Apakah Earlangga akan benar-benar memperistrinya?
“Kau sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Earlangga sambil berdiri.
“Iya,” jawab Valerie.
“Kalau begitu ganti pakaianmu, itu, kau ikut denganku,” kata Earlangga.
__ADS_1
“Ikut? Ikut kemana Pak?” tanya Valerie, keheranan.
“Aku tidak mau kalau aku berangkat bekerja kau akan pergi dari rumah ini, jadi kau ikut denganku kemanapun aku pergi. Kalau kau merasa lelah dan butuh sesuatu bilang padaku,” jawab Earlangga.
“Tapi Pak,” Valerie akan menyela, tapi Earlangga langsung mengeluarkan isi koper itu.
“Kau akan memakai baju yang mana?” tanya Earlangga, sambil memilihkan bajunya Valerie, tidak menghiraukan perkataannya Valerie tanda dia tidak mau mendengar alasan apapun.
“Nah yang ini saja,” kata Earlangga, mengeluarkan sebuah dress, lau diberikan pada Valerie, yang terpaksa mengambilnya.
“Ayo berganti pakaiaan. Aku akan memanggil pelayan untuk merapihkan baju-bajumu,” ucap Earlangga, sambil membalikkan badannya kemudian keluar dari kamar itu.
Valerie menatap baju-bajunya yang dikeluarkan oleh Earlangga, dia tidak jadi pergi meninggalkan rumah ini. Dilihatnya lagi baju yang ada ditangannya yang dipilihkan oleh Earlangga. Diapun bangun dan berganti pakaian.
Tidak berapa lama Tari sudah masuk ke kamar itu bersama Earlangga.
“Kau rapihkan baju-bajunya,” kata Earlangga pada Tari.
“Baik Pak,” jawab Tari dan langsung melakukan perintah majikannya.
Earlangga menoleh pada Valerie.
“Kau sudah siap?” tanyanya.
“Sudah,” jawab Valerie.
Earlangga mengulurkan tangannya pada Valerie yang dengan ragu menyambut tangan itu yang langsung menggenggam tangannya dengan erat. Earlangga melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu diikuti oleh Valerie.
Earlangga melihat jam tangannya, neneknya mengatakan ada pertemuan jam 11 di suatu tempat dengan rekan bisnis neneknya, diapun bermaksud ke tampat itu.
Sekitar 1 jam kemudian Earlangga sampai ditempat yang dituju, disebuah restarurant mewah dipusat kota.
Ny.Grace sudah ada disana dengan seorang pria yang usianya tidak beda jauh dari Sean. Dari balik kaca Ny.Grace melihat mobil mewahnya Earlangga memasuki halaman parkir.
“Itu cucuku datang,” ucapnya pada pria itu.
Mata Nyonya Grace masih kearah parkiran dan dia terkejut saat melihat Earlangga turun dari mobilnya dengan Valerie, wajahnya langsung saja berubah merah karena kesal.
“Maaf Pak Brian, tunggu sebentar,” kata Ny.Grace, sambil beranjak menjauh dari mejanya lalu meraih ponselnya dan melakukan panggilan.
“Halo! Tari!” panggilnya pada Tari yang sudah selesai merapihkan baju-bajunya Valerie.
“Iya Nyonya,” jawab Tari, yang menyimpan ponselnya di saku seragam pelayan yang dipakainya.
“Kenapa Earlangga membawa Valerie keluar?” tanya Ny.Grace, dengan ketus.
“Saya juga tidak tahu Nyonya. Cuma tadi saya baru selesai merapihkan baju-bajunya Bu Valerie dari koper dimasukkan lagi kedalam lemari,” jawa Tari.
“Apa? Baju Valerie dari koper?” tanya Ny.Grace terkejut.
“Iya Nyonya, sepertinya Bu Valerie akan pergi tadi tapi dilarang Pak Earlangga,” jawab Tari.
Ny. Grace terdiam, jadi Valerie berencana meninggalkan rumah dan ternyata Earlangga melarangnya? Apa maksudnya ini? Apa Earlangga benar-benar sudah menyukai gadis itu? Ini tidak bisa dibiarkan! Ny. Grace menahan marahnya.
Dilihatnya Earlangga dan Valerie semakin mendekat. Dia kesal sekali pada cucunya itu yang susah sekali diatur. Kalau bukan dia cucunya satu-satunya, sudah dia biarkan saja Earlangga di London selamanya, daripada bikin pusing, keluhnya dalam hati.
Ny.Grace menutup ponselnya dan kembali ke mejanya menemui rekan bisnisnya yang masih sabar menunggu di kursinya.
************
__ADS_1