Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-79 Menjadi tawanan Darren


__ADS_3

Valerie menatap Darren dengan tidak percaya.


“Kau main-main kan Darren?” tanya Valerie.


“Buat apa main-main? Kau akan tinggal bersamaku beberapa bulan ke depan,” jawab Darren.


“Tidak! Aku ingin pulang!” teriak Valerie, dia langsung berlari menuju pintu tapi tangannya segera dipegang Darren dengan kuat.


“Lepaskan aku Darren! Aku tidak mau tinggal bersamammu! Earlangga pasti mencariku!” teriak Valerie lagi.


“Tidak bisa! Kau harus tinggal bersamaku!” teriak Darren.


Valerie mencoba melepaskan pegangannya Darren tapi pria itu masih memegangnya dengan kuat. Valerie mencari akal supaya lepas dari pegangannya Darren, diapun langsung menunduk dan menggigit tangannya Darren dengan keras sampai Darren berteriak kaget dan melepaskan pegangannya.


Valerie tidak menyia-nyiakan kesempatan ini diapun mencoba keluar dari kamar itu tapi kaki Darren sudah keburu menendang pintu itusampai tertutup. Valeripun mecoba meraih gagang pintu tapi Darren sudah kembali menarik tangannya dengan keras ke belakang dan..


Plak! Sebuah tamparan keras dipipinya membuat Valerie terjungkal jatuh kelantai. Pria itu menampar pipinya dengan keras.


“Jangan membuatku marah!” bentakDarren.


Mendapat tamparan keras dari Darren membuat Valerie terkejut dan menangis menahan sakit dipipinya juga tubuhnya yang terjatuh, dengan spontan memegang perutnya.


Melihat Valerieseperti itu membuat Darren terkejut, dia tidak sengaja menyakiti Valerie, bagaimana kalau ada apa-apa dengan bayi itu? Bisa-bisa Ny.Grace tidak jadi membayarnya.


Darren langsung berjongkok didepan Valerie mengulurkan tangannya yang langsung ditepis oleh Valerie.


“Kalau terjadi apa-apa dengan bayiku, aku tidak akan memaafkanmu!” bentak Valerie.


“Aku semakin yakin kau berbohong mengaku-ngaku ini bayimu! Sebenarnya siapa yang membayarmu?” tanya Valerie, menatap Darren disela airmatanya yang menetes kepipinya.


Ditanya begitu membuat Darren terkejut, seharusnya dia bersikap lemah lembut supaya Valerie mau menurut padanya.


“Aku minta maaf, aku hanya takut kau pergi,” ucap Darren, kembali mengulurkan tangannya, Valerie kembali menepisnya.


“Katakan padaku, siapa yang membayarmu?” tanya Valerie.


“Sudah aku katakan tidak ada yang membayarku!” jawab Darren.


“Kalau kau memang ayah bayi ini kau tidak akan menyakitiku dan bayiku!” ucap Valerie, menatap tajam Darren, membuat pria itu terdiam.


“Kau tahu, kau harus bedrest, aku harus minum obat di rumahsakit itu atau aku akan kehilangan bayiku,” ucap Valerie.


“Apa? Kau tidak boleh kehilangan bayimu!” kata Darren, terkejut.


“Tapi kau menyakitiku!” ucap Valerie, kembali menangis.


Darren tampak kebingungan.

__ADS_1


“Sudahlah jangan menangis, aku akan panggilkan Dokter supaya kau diberi obat lagi,” ucap Darren, kembali mengulurkan tangannya tapi Valerie tetap menepisnya, dia berusaha bangun sendiri.


Tapi Darren memaksa memegang tangan Valerie karena wanita hamil itu kesusahan untuk berdiri, Valerie kembali menepiskan tangan Darren tapi malah dia akan terjatuh kalau tidak segera Darren menangkapnya.


Darren terkejut saat menyadari dia malah memeluk Valerie dan menatap wajah itu dari dekat, merasakan tangan Valerie berpegangan pada lengannya dengan kuat supaya tidak terjatuh.


Beberapa saat Darren terdiam, tiba-tiba dia merasakan dadanya berdebar kencang. Ini pertama kalinya dia memeluk Valerie tapi kenapa dia merasakan  ada yang aneh saat memeluknya?


Darren tersadar saat Valerie mendorongnya supaya melepaskan pelukannya.


“Maaf,” ucap Darren, merasa gugup kini menyerang perasaannya.


Valerie tidak menjawab, dia terus berjalan menuju tempat tidur.


Darren hanya memperhatikannya lalu mengeluarkan ponselnya.


“Kau tunggu disisni! Aku akan mencari Dokter,” ucap Darren, sambil pergi menuju pintu.


Valerie senang mendengarnya, itu artinya Darren akan keluar lagi dari rumah ini dan dia akan berusaha kabur. Tapi keinginannya hanya angan-angan karena Darren keluar dari kamar itu dan kembali mengunci pintunya, membuatnya merasa putus asa.


Valerie merasakan sakit diperutnya, semakin membuatnya khawatir dengan bayinya yang berulang mendapat guncangan keras diperutnya. Fikirannya langsung teringat pada Earlangga, disaat seperti ini dia membutuhkan orang yang memperhatikannya. Sebelum dia tahu Earlangga yang telah menghamilinya, pria itu sudah lebih dulu sangat perhatian padanya. Kenapa dia tiba-tiba merasa merindukan pria itu?


Yang difikirkan oleh Valeriepun sedang gelisah. Malam ini adalah malam pertama  kalinya dia tidur tanpa Valerie. Biasanya wanita hamil itu akan tidur meringkuk disebelahnya, sekarang tempat tidur itu terasa begitu luas.


Earlangga kembali duduk melamun, diambilnya remote tv yang ada disamping bantalnya, hati dan fikirannya terus memikirkan istri dan bayinya.


Foto yang awalnya sangat tidak dia sukai. Sekarang dia malah merindukan kehadiran wanita hamil itu.


Earlangga kembali menelpon seseorang.


“Sudah ada kabar belum?” tanyanya.


“Belum Pak,” jawab orang yang diajaknya bicara di ponselnya. Earlangga kembali mematikan ponselnya, hatinya semakin resah dan gelisah. Apakah dia akan kehilangan anak dan istrinya? Dia kembali menghela nafas panjang, mencoba untuk membuat hatinya tenang.


******


Di Villa…


Darren berhasil memanggil seorang Dokter datang ke villa itu. Saat pintu itu terbuka Valerie sedang berbaring dan berselimut. Dia melihat wajah Valerie tampak pucat, tiba-tiba hatinya merasa bersalah karena dia sudah terlalu kasar pada waniat hamil itu. Di geleng-gelengkannya kepalanya, kenapa dia merasa simpati dan kasihan?


Valerie menoleh kearah pintu yang terbuka dan berusaha bangun, tapi Darren langsung menghampirinya.


“Kau istirahat saja, aku membawa Dokternya,” kata Darren.


Valerie menatap Darren dengan kesal lalu pada pria yang bersamanya.


“Kau Dokter?” tanya Valerie, dia takut pia itu pria bayarannya Darren yang pura-pura jadi Dokter.

__ADS_1


“Iya,” jawab pria itu.


“Dia terjatuh, kau periksa sekarang, beri obat yang bagus jangan sampai bayinya keguguran,” kata Darren pada pria itu.


“Baiklah,” jawab pria yang mengaku Dokter itu.


Meskipun ragu, akhirnya Valerie mau diperiksa oleh Dokter itu.


Darren melangkah menjauh biar Dokter itu biar memeriksa Valerie dengan leluasa.


Dilihatnya Dokter itu memeriksa dadanya wanita hamil itu, kemudian perutnya, tidak ada satupun yang luput dari perhatiannya. Kenapa dia begitu betah melihatnya? Saat Valerie tiba-tiba menoleh kearahnya, Darren kebakaran jenggot kedapatan sedang memperhatikannya, diapun segera beranjak lalu duduk dikursi.


“Usia berapa bulan? Seharusnya Ibu datang langsung ke klinik supaya saya bisa melihat langsung kondisi bayi di USG,” kata Dokter itu.


“Dia sangat lemah, tidak bisa pergi ke klinik,” jawab Darren mencari-cari alasan, jangan sampai Valerie banyak bicara pada Dokter itu.


“Sebenarnya aku dari rumah sakit dan harus bedrest, obatnya ketinggalan,” kata Valerie pada Dokter itu.


“Iya, kami sedang melakukan perjalanan,”ucap Darren.


Valerie meliriknya dengan kasal, semua ini gara-gara Darren. Pria itu tahu kalau Valerie marah padanya, tapi dia tidak menghiraukannya.


Dokter itu selesai memeriksa, lalu menoleh pada Darren.


“Sebaiknya istri Bapak harus dibawa ke klinik supaya bisa USG.  Saya tidak bisa memberikan obat yang lebih selain penguat kandungan,” kata Dokter itu sambil menulis seusatu di atas meja didepannya Darren.


Darren terdiam, Dokter itu mengira Valerie adalah istrinya.


“Ini resepnya, silahkan di tebus di apotik, sebelum terlalu malam,” ucap Dokter, memberikan resep pada Darren.


“Bagaimana dengan bayinya?” tanya Darren.


“Denyut jantung bayinya memang agak lemah tapi masih normal, Bapak tidak perlu khawatir,” jawab Dokter, sambil bangun dari duduknya, lalu menoleh pada  Valerie.


“Semoga cepat sembuh Bu, kalau bisa langsung periksa ke klinik terdekat,” kata Dokter itu lagi.


“Iya nanti ke klinik,” ucap Darren, sambil mengantar pria itu keluar dari kamar itu.


Valerie kembali berbaring, sebenarnya dia ingin bicara pada Dokter itu supaya membantunya kabur, tapi dia khawatir dengan kondisi bayinya dan Darren akan berbuat kasar lagi padanya.


Tidak berapa lama, Darren kembali lagi dengan sebuah kantong ditangannya yang disimpannya disamping Valerie.


“Kau makan, jangan banyak tingkah, aku mau menebus obatnya. Jangan coba - coba kabur,” ancam Darren.


Valerie tidak menjawab, dia hanya melirik sekilas pada bungkusan disampingnya itu.


Darren tidak bicara lagi, diapun keluar dari kamar itu tidak lupa mengunci pintunya, dia harus terus waspada jangan sampai Valerie akan mencoba kabur lagi.

__ADS_1


**************


__ADS_2