Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-122 Kematian Pak Tedi


__ADS_3

Di Penjara…


Ruang makan para napi itu begitu penuh. Para napi yang sudah melakukan kerja bakti hari ini beristirahat dan makan siang diruangan itu.


Pak Tedi yang terlihat semakin kurus, mengantri dengan napi yang lain mengambil makanan. Setelah itu dia mengedarkan pandangannya mencari tempat yang kosong. Dilihatnya di tengah ruangan itu ada deretan bangku yang masih kosong. Diapun berjalan menuju bangku itu.


Tidak dilihatnya dideretan napi yang sedang makan itu, ada salah satu kaki yang berselonjor ke tengah jalan antara deretan bangku yang kanan dan bangku yang kiri. Karena sudah sangat lapar yang amat sangat dia ingin ingin segera menyantap  makannya, hingga berjalan terburu-buru tanpa memperhatikan kaki itu.


Tiba-tiba Pak Tedi menendang kaki itu dan membuatnya membungkuk dan hilang keseimbangan, membuat nampannya jatuh kelantai menimbulkan suara yang berisik, tapi dia tidak sampai jatuh karena tapi tangan kirinya sempat menahan keatas meja kiri itu tapi sialnya tangannya itu menyenggol minuman yang ada diatas meja sampai tumpah mengenai piring seorang napi yang sedang makan.


“Brengsek!” terdengar suara makian dari napi yang duduk itu. Pria itu langsung menoleh pada Pak Tedi.


“Apa kau tidak punya mata?” teriak napi itu.


“Kakimu yang menghalangi jalan!” jawab Pak Tedi, dengan kesal, karena jatah makan siangnya juga berhamburan jatuh ka lantai, itu artinya dia tidak akan bisa makan karena jatah makan hanya satu piring.


“Kau berani menjawab? Kau melawanku?” bentak napi itu yang langsung berdiri, dia juga kesal sedang menikmati makannya dirusak oleh ulah Pak tedi yang menumpahkan minuman keatas nampannya.


Napi itu memliki tubuh yang besar, saat dia berdiri semakin terlihat tubuhnya yang tinggi besar. Kaki kirinya langsung menendang bangku yang tadi didudukinya membuat napi-napi yang masih duduk berjatuhan ke lantai.


Napi tinggi besar itu berdiri menatap Pak Tedi.


“Lihat, nasiku tumpah gara-gara kau!” maki Pak Tedi, dia masih sangt kesal, merasakan perutnya yang kelaparan karena sudah bekerja berat seharian.


“Kau berani melawanku?” bentak napi itu lagi, tangannya langsung meraih bajunya Pak Tedi, mengangkat tubuh itu dengan sebelah tenaganya.


“Kau yang bersalah, seharusnya kau yang meminta maaf,” maki Pak Tedi, dia sama sekali tidak takut meskipun napi itu mencengkram bajunya.


Melihat perlawanan dari Pak Tedi membuat napi itu tida suka, dia langsung mendorong Pak Tedi dengan keras, sampai tubuhnya Pak Tedi jatuh ke deretan bangku disebrangnya.


Brugh! Brugh! Prang! Prang!  Suara nampan stainless itu berjatuhan dari atas meja yang tertabra tubuhnya Pak Tedi.


Pak Tedi merasakan tulang punggungnya patah karena terjatuh kelantai dengan keras.


“Berani-beraninya kau menyuruhku minta maaf!” teriak napi itu yang tidak mau mengalah.


 Tidak ampun lagi napi itu langsung menghampiri Pak Tedi, kembali meraih bajunya Pak Tedi dan menghamtam wajahnya Pak Tedi dengan pukulan tangan kanannya berkali-kali.

__ADS_1


Bug! Bug ! Bug! Pukulan itu membuat wajah Pak Tedi babak belur. Ternyata napi itu sama sekali tidak memberikan ampun pada Pak Tedi. Dia kembali melempar tubuhnya Pak Tedi keatas meja  kayu itu, kembali suara benda berjatuhan terdengar begitu berisik.


Pak Tedi merasakan tubuhnya semakin remuk, tapi dia berusaha bangun dan menatap napi itu.


“Kurang ajar kau! Kau fikir aku akan takut?” bentaknya sambil berjalan terhuyung- huyung menghampiri napi itu.


Melihat Pak Tedi menghampirinya, napi itu langsung menendang perut Pak Tedi dengan kuat. Pak Tedi yang berbadan kurus dengan tendangan dari seorang pria kekar tinggi besar benar-benar tidak seimbang. Tubuh kurus itu terlempar ke jendela membuat tubuhnya jatuh kembali ke lantai. Darah segar keluar dari mulutnya Pak Tedi.


Pak Tedi berusaha bangun. Napi tinggi besar itu merasa tidak puas juga, dia menghampiri Pak Tedi dengan langkahnya yang berat. Dia kembali meraih bajunya Pak Tedi dan menendang perutnya Pak Tedi dengan lutut kakinya berkali-kali, dia tidak peduli pria itu sudah babak belur dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Para napi tidak ada yang berani melerai, yang daerah makannya tidak terjangkau oleh perkelahian itu, kembali makan dengan lahap tidak menghiraukan kejadian itu seakan akan tidak terjadi apa-apa. Semua masabodoh atau mereka yang akan mendapatkan imbasnya.


Beberapa sipir penjara  berlarian kearah perkelahian itu, mereka menarik tangannya napi yang berbadan tinggi besar itu yang masih marah dan sempat-sempatnya menendang lagi tubuh Pak Tedi yang terkulai dilantai.


Dua sipir membawa napi tinggi besar itu sedangkan dua lagi menghampiri tubuhnya Pak Tedi, memeriksa keadaannya.


“Sudah meninggal,” kata salah satu sipir yang memeriksa Pak Tedi, sambil menoleh pada temannya.


“Beritahu keluarganya,” kata sipir yang lain. Lalu sipir-sipir itu bangun, dan menyeret tubuhnya Pak Tedi keluar dari ruangan itu.


************


Sean meraih foto Lorena yang sedang hamil itu yang dia simpan dimeja disamping tempat tidurnya. Tangan kanannya menyentuh wajah yang sedang tersenyum itu. Begitu bahagianya waktu itu dengan tidak sabar menunggu kelahiran bayinya. Meskipun sudah berbulan-bulan Lorena menghilang Sean tetap merasakan kehadiran istrinya. Diciumnya foto itu.


“Sayang, aku tetap berharap kau masih hidup, juga bayi kita,” ucap Sean, kembali menyentuh wajah di foto itu, dia begitu sangat merindukannya.


Disimpannya kembali foto itu diatas meja, lalu dia keluar dari kamarnya. Baru juga membuka pintu ternyata Pak Deni berada didepan pintunya.


“Pak Deni? Ada apa?” tanya Sean, merasa terkejut melihat Pak Deni tiba-tiba ada didepan pintu.


“Ada kabar dari penjara,” jawab Pak Deni.


“Kabar apa?” tanya Sean.


“Pak Tedi mengalami perkelahian di penjara dan sekarang sudah meninggal,” jawab Pak Deni.


“Pak Tedi meninggal?” tanya Sean. Pak Deni mengangguk.

__ADS_1


Sean terdiam mendengarnya, entah harus merasa senang atau tidak dengan kabar itu, sepertinya hanya kematianlah yang akan menghentikan niat busuknya Pak Tedi. Sean tidak mungkin mengotori tangannya dengan membalas menghabisi Pak tedi tapi semua kembali pada tadirnya, akhrinya Pak Tedi sudah tidak bisa melakukan kejahatan lagi.


“Semoga sudah tidak ada lagi masalah di keluarga ini,” ucap Pak Deni, menatap Sean.


“Tapi aku tetap merasa tidak senang karena istri dan bayiku belum ditemukan,” ucap Sean.


“Ya saya mengerti,” jawab Pak Deni. Tanpa bicara lagi, Sean pun melangkah meninggalkan Pak Deni.


“Kau akan kemana sepagi ini?” tanya Pak Deni.


“Aku akan mencari istriku, aku masih berharap istri dan bayiku masih hidup, jawab Sean.


Mendengar perkatannya Sean membuat Pak Deni merasa sedih. Dalam hatinya dia selalu mendoakan putra majikannya itu bahagia.


“Kita berangkat sekarang!” kata Sean pada Sam sambil masuk ke dalam mobilnya.


“Baik,” jawab Sam sambil menyalakan mobilnya.


“Ada kabar kematian Pak Tedi dipenjara,” kata Sean.


“Apa? Pak Tedi meninggal?” tanya Sam, terkejut, dia memasang kembali rem tangannya dan menoleh pada Sean.


“Iya, Pak Tedi terlibat perkelahian dengan sesama napi,” jawab Sean sambil bersandar ke jok mobil, mencari posisi yang aman.


“Hukuman yang setimpal bukan?” tanya Sam.


“Tidak, aku tidak peduli dengan kematiannya, aku hanya ingin istriku ditemukan,” jawab Sean.


“Setidaknya tidak akan ada lagi yang menganggumu,” jawab Sam, sambil kembali menjalankan mobilnya.


“Di Perkebunan karet itu katanya ada es kelapa yang sedang viral, aku ingin mampir kesana, siapa tahu kita bisa bertanya pada orang-orang disana, yang mungkin pernah melihat istriku,” kata Sean.


“Iya, kau benar, akan banyak orang yang bisa kita tanyai,” jawab Sam.


Mobilpun segera melaju dengan pelan keluar dari rumahnya Sean.


************

__ADS_1


__ADS_2