Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-99 Pilihan Valerie


__ADS_3

Valerie masuk ke taxi yang didapatnya dijalan, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dilihatnya siapa yang menelpon, ternyata hanya miscall yang memberitahunya ada pesan masuk, segera dibukanya pesan itu ternyata dari Darren. Dia memberikan nomor ponsel yang harus dihubunginya jika Valerie memilih bersama bayinya dan menikah dengan Darren.


Ditutupnya ponselnya dengan hati yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata rasa sakit sedih dan perih, kenapa pernikahannya dengan Earlangga tidak memberikan kebahagiaan dalam hidupnya? Apakah dia memang tidak berjodoh dengan pria yang dicintainya? Kenapa sekarang dia harus memilih?


Sesampainya dihalaman rumah , ditatapnya rumah megah itu, rumah yang sangat megah dan besar tapi didalamnya tidak ada kebahagiaan, hatinya terasa sempit dan sesak didalam rumah ini. Bersama orang yang dicintainya sama sekali tidak membawa kebahagiaan dalan hidupnya malah sebaliknya, cobaan demi cobaan terus menghadangnya, dia merasa lelah, sangat lelah.


Kini kakinya melangkah masuk ke rumah itu. Kakinya terus melangkah menuju lantai atas. Saat akan memasuki kamarnya langkahnya terhenti, dia menoleh kearah kamarnya Ny,Grace. Diapun melangkahkan kakinya menuju kamar Ny.Grace.


Ternyata Ny.Grace sedang duduk menonton televisi di kamarnya.


Valerie melihat jam di dinding sudah waktunya memberikan makan siang dan obat untuk Ny.Grace. Diapun menyiapkan semuanya lalu kembali ke kamar itu.


Tidak ada yang dikatakan dari bibirnya, dia diam seribu bahasa. Ny.Grace memperhatikan wajah Valerie yang terlihat sembab, apa dia sudah menangis? Apakah dia ingat bayinya?


Setelah makan selesai dan minum obat. Valerie memutar kursi roda Ny.Grace supaya menghadapnya, membuat Ny.Grace keheranan.


Valerie menatap Nenek suaminya yang tidak berdaya itu.


“Nyonya, aku ingin bicara, mungkin ini adalah percakapan kita yang terakhir,” ucap Valerie, matanya sudah mulai merah.


Ny.Grace terkejut mendengarnya, dia menatap istri cucunya itu.


“Aku tahu kau sudah membuat kejahatan yang luar biasa pada hidupku, tapi aku tidak bisa membalasnya dengan kejahatan lagi. Kenapa? Karena aku menghargai Nyonya sabagai Neneknya suamiku,” ucap Valerie.


Ny.Grace semakin terkejut saja mendengarnya, apalagi melihat butiran air mata itu menetes dipipinya.


“Sekarang aku sadar kalau kehadiranku benar-benar menumbuhkan  kebencian didalam hatimu, aku sunguh sungguh minta maaf,” ucap Valerie, nada suaranya mulai tersekat seakan tidak bisa menahan kesedihan.


“Aku sudah tahu semua kejahatan yang nyonya lakukan padaku, pada bayiku,” ucap Valerie.


Ny.Grace semakin terkejut saja, apa maksus perkataannya?


“Dengar Nyonya, bisa saja aku memberimu racun dalam makananmu atau menjatuhkanmu dari loteng untuk membalas semua kejahatanmu, tapi tidak ku lakukan, aku tidak bisa berbuat seperti itu meskipun aku tahu Nyonya sudah membuatku berpisah dengan bayiku,” lanjut Valerie.


Ny,Grace semakin shok saja mendengar perkataan Valerie, apakah Valerie tahu sesuatu?


“Aku tahu bayiku masih hidup Nyonya,” ucap Valerie, membuat Ny.Grace bak mendapat serangan jantung, tubuhnya terasa menegang.

__ADS_1


“Ng.h..ng…h.” hanya itu yang keluar dari mulutnya.


“Aku tahu Jordan bukan bayiku, aku tahu kau menamai bayiku Aldric Stefanov, aku tahu semua,” ucap Valerie, lalu diapun terisak.


“Ng..h..ng..h,” mata Ny.Grace berkaca-kaca, ternyata  Valerie tahu semua, apakah dia akan mengatakannya pada Sean dan Earlangga?


“Dengan kejadian ini aku menjadi tahu betap besarnya rasa bencimu padaku,” ucap Valerie, terdiam sesaat.


“Sebenarnya aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk masuk ke dalam keluarga ini. Aku sadar aku hanya wanita biasa, yang dimatamu sangat rendah, aku tahu aku tidak sepadan dengan Earlangga, aku sadar itu. Semua bukan keinginanku akhirnya aku menikah dan punya bayi dari cucumu, semua takdir yang datang padaku,” kata Valerie.


Dia menghela nafas sebentar mencoba menenangkan dirinya.


“Untuk itu, aku sudah memutuskan akan pergi dari rumah ini, aku tidak mau membuatmu menderita lagi dengan kebencianmu padaku. Aku tidak akan menjadi penghalang apapun yang kau inginkan. Aku akan pergi, aku akan melepas Earlangga, untuk selamanya,” ucap Valerie.


Diapun menghapus airmatanya.


Ny.Grace menatapnya, matanyapun berkaca-kaca ingin dia mengucapkan maaf pada Valerie, tapi semua itu tidak bisa terucap.


“Nyonya tidak perlu menangisi, ataupun merasa menyesal. Aku yang salah, aku minta maaf, aku yang orang asing ini telah mengganggu ketentraman hidupmu, aku minta maaf,” ucap Valerie.


“Ng..h..ng..h” Ny.Grace ingin bicara tapi yang bisa dilakukannya hanya menangis.


Dia memeluk tubuh Nenek suaminya itu dengan airmata yang tumpah membasahi pipinya.


Ny.Grace hanya bisa menangis tanpa ada kata yang diucapkan, melihat istri cucunya itu menangis sambil membaringkan tubuhnya lalu menyusun bantal bantal dan menyelimutinya, membuatnya tidur senyaman mungkin.


Valerie menatap Ny.Grace yang hanya bisa menatapnya.


“Selamat beristirahat Nyonya, aku menyayangimu,” ucapnya, lalu menghapus airmatanya dan keluar dari kamar itu.


Ny,Grace menangis tidak tertahankan lagi. Dia terus menangis, dia menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Dia sungguh-sungguh menyesal. Kenapa dia tidak bisa melihat kebaikan dari istri cucunya itu? Matanya sudah dibutakan dengan harta dan kekuasaan, hingga tidak memperdulikan kalau dia telah menyakiti orang lain.


Dia ingin mencegah Valerie pergi tapi dia tidak bisa apa-apa, dia ingin memberitahu Earlanggaingin menelponnya sekarang juga supaya mencegah Valerie pergi tapi itu tidak bisa dilakukannya. Diapun hanya bisa menangis meratapi segala kesalahan yang telah diperbuatnya.


Valerie menutup pintu kamarnya Ny.Grace. Saat menuju kamarnya, dia melewati ruang kerja mertuanya, biasanya ibu mertuanya kerja diruangan itu, tapi dia tidak menghampirinya ataupun berniat basa basi karena dia akan tahu akan semakin berat meninggalkan rumah ini.


Valerie masuk ke dalam kamarnya, kamar yang dulu kamar suminya sekarang menjadi kamarnya berdua. Didalam lemari ada foto pernikahannya dan ada foto Jordan juga yang sudah meninggal. Diambilnya foto kecil di lemari itu, ditatapnya suaminya tercinta, disentuhnya foto itu. Dia tidak bisa bertemu dengan Earlangga dulu karena akan membuatnya merubah keputusannya, karena akan semakin berat meninggalkannya, dilihatnya lagi fotonya Jordan, dia menyeuh foto bayi itu. Meskipun bayi itu bukan bayinya tapi dia sudah mengaggapnya bayinya sendiri, diapun mencium kedua orang yang dicintainya itu.

__ADS_1


Valerie mengambil koper diatas lemari, dimasukkannya beberapa baju yang penting-penting saja.  Tidak lupa foto pernikahannya dan foto Jordan dia masukkan kedalam koper. Diapun mengambil kertas dan menuliskan sesuatu buat Earlangga.


‘Teruntuk suamiku..


 Aku harap saat kau membaca surat ini, kau menanggapinya dengan bijak.Aku minta maaf aku tidak bisa mendampingimu seperti janjiku padamu. Aku minta maaf aku tidak bisa menjadi istri yang baik buatmu dan ibu yang baik buat anak kita, aku minta maaf aku terpaksa  harus meninggalkanmu.


Kau tidak perlu mencariku, aku baik-baik saja. Semoga kau memaafkan sagala kesalahanku.  Aku pergi.


Istrimu yang mencintaimu.’


Tulisnya dengan tetesan airmata yang tumpah ke atas kertas yang ditulisnya, lalu dilipatnya. betapa berat hatinya menuliskan semua itu tapi ini adalah pilihannya, pilihan yang harus dipilihnya meskipun sengat berat untuk dilakukannya.


Setelah itu disimpannya kertas itu diatas tempat tidur.


Valerie segera keluar dari kamarnya, setelah melihat rumah sepi, diapun kembali ke kamar membawa kopernya lalu keluar dari rumah itu. Sebuah taxi yang dipesannya sudah ada di depan rumah.


“Kau akan pergi Bu?” tanya Pak Sobri yang bertemu dengan Valerie di pintu utama.


“Iya Pak Sobri, aku ada urusan,” jawab Valerie.


Pak Sobri tampak keheranan  melihat Valerie membawa koper, diapun menoleh ke arah taxi.


“Kopernya mau saya masukkan ke taxi?” tanya Pak Sobri, yang sebenarnya keheranan hanya dia tidak berhak bertanya yang macam-macam.


“Iya boleh,” jawab Valerie,


Pak Sobri membantunya memasukkannya ke dalam taxi.


“Aku pergi dulu, tolong sampaikan salamku pada Bu Asni, aku tidak sempat menemuinya, aku buru-buru,” ucap Valerie.


“Baik,” jawab Pak Sobri.


Valeriepun masuk ke dalam taxi, tidak lama kemudian taxi itu meninggalkan halaman rumahnya keluarga Joris.


Valerie melihat rumah itu dari kaca taxi, melihat banyak kenangan di dalam rumah itu, rumah dimana suaminya tinggal dan terpaksa harus dia tinggalkan sekarang.


Taxi melaju memasuki jalan raya, dan pemandangan rumah megah itupun hilang dengan semakin jauhnya taxi melaju.

__ADS_1


****************


__ADS_2