
Tiba-tiba ponselnya Earlangga berbunyi, pria itu menerimanya tapi sepertinya sinyal dalam ruangan itu sangat jelek.
“Maaf aku menerima telpon dulu, disini sinyalnya jelek,” kata Earlangga sambil beranjak dan keluar dari Resto itu mencari sinyal untuk menerima telpon.
“Kau perawat Pak Earlangga?” tanya Billy, yang duduk disebelahnya Valerie.
“Iya Pak,” jawab Valerie, mengangguk.
“Apa kau perawat yang lain?” tanya Billy lagi.
“Maksud Bapak apa ya?” tanya Valerie tidak mengerti dengan pertanyaannya Billy.
“Ya kau mengertilah maksudku, jam kerjamu tidak semalaman kan?” bisik Billy, sambil mencondongkan kepalanya kedekat telinga Valeri. Gadis itu menjauhkan kepalanya dari wajahnya Billy.
“Maaf Pak, setelah Pak Earlangga minum obat, saya pulang,” kata Valerie.
“Pulang? Worskhopnya dua hari, kami menginap disini,” ucap Dodi.
Valerie terkejut mendengarnya, dia tidak tahu kalau Earlangga masih akan tinggal di villa ini.
Billy kembali mencondongkan tubuhnya ke dekat Valerie dan berbisik.
“Kalau pekerjaanmu sudah selesai, bagimana kalau nanti malam setelah acara workshop jam 9, kita jalan jalan,” ajak Billy.
Valerie menoleh pada Billy yang menatapnya sambil tersenyum, terlihat jelas tatapan mata pria hidung belang itu.
“Maaf Pak saya tidak bisa,” jawab Valerie.
“Jangan-jangan kau memang sudah di booking Earlangga?” tanya Billy.
“Maaf Pak, saya tidak mengerti maksud Bapak, saya hanya perawatnya saja,” jawab Valerie, hatinya sudah mulai tidak nyaman berada diantara pria-pria itu.
“Kau berbohong, mana ada perawat dibawa-bawa ke villa seperti ini? Pak Earlangga menginap disini, tidak mungkin kau juga tidak menginap, tidak perlu jual mahal, aku bisa membayar sebanyak Earlangga membayarmu,” ucap Billy, membuat Valerie sakit hati dan telinganya terasa panas.
“Maaf Pak, saya hanya bekerja sebagai perawat Pak Earlangga,” kata Valerie, wajahnya sudah mulai pucat dia tidak menyangka kalau kehadirannya disini malah menjadi terkesan negatif padanya.
“Berapa sih kau dibayar Earlangga? Jual mahal amat,” ucap Dodi.
__ADS_1
“Tapi saya memang hanya perawat Pak,” kata Valerie, rasanya hatinya ingin menangis mendapat perlakuan tidak enak seperti ini.
“Apa yang kalian bicarakan?” tiba-tiba Earlangga sudah ada dimeja itu.
Ketiga pria itu langsung bersikap santai, terutama Billy yang menjauh dari Valerie.
“Kami hanya berbincang-bincang saja,” kata Dodi.
Earlangga duduk dikursinya, dia melihat wajah Valerie tampak pucat. Dia kembali makan.
“Jangan ada yang berani menggangu perawatku atau kalian akan menyesal,”ucap Earlangga sambil menyantap makanannya.
Ketiga temannya itu tampak terkejut.
“Tentu saja tidak, mana berani kami mengganggu milikmu,” kata Edwin.
Diangaguki Dodi dan Billy yang masih sesekali melirik Valerie. Dia sangat terlihat sekali tertarik pada Valerie.
Valeria hanya diam mencoba tenang menghadapi ganggun-gangguan itu. Tapi dia harus bersabar sampai menunggu Earlangga selesai makan dan minum obat. Terpaksa dia hanya mendengarkan pria-pria itu bicara, meskipun dia merasa risih dengan tatapannya Billy.
“Acaranya dimulai lagi, ayo kita kesana,” ajak Edwin sambil beranjak diikuti oleh yang lainnya.
Earlangga menoleh pada Valerie dan mengeluarkan kunci dari saku celananya, lalu diberikan pada Valerie.
“Kau bisa istirahat di villaku,” kata Earlangga.
“Tapi Pak, memangnya saya harus menginap? Saya pulang saja Pak,” ujar Valerie.
“Villanya sangat luas, ada dua kamar disana, kau jangan khawatir,” ucap Earlangga sambil bangun akan menyusul teman-temannya.
Akhirnya Valerie mengangguk. Ternyata Earlangga membalikkan badannya.
“Pak Usman suruh kembali saja, kau pulang bersamaku besok,” kata Earlangga.
“Baik Pak,” jawab Valerie, kemudian dilihatnya pria itu pergi menjauh.
Mau tidak mau akhirnya Valerie meminta diantar Pak Usman ke villanya Earlangga, setelah itu memberitahu Pak Usman untuk kembali pulang, sedangkan dia harus menunggu Earlangga selesai meetingnya.
__ADS_1
Benar kata Earlangga, Villa itu sangat luas, ada dua kamar di dalamnya dan dihalaman belakang ada kolam renang berukuran sedang dengan airnya yang hangat. Valerie hanya menyentuhkan kakinya ke air yang meluap dipinggiran kolam itu. Kalau dia tidak malu, dia ingin sekali berenang di kolam itu tapi itu sangat tidak sopan karena ini villanya majikannya.
Akhirnya Valerie memilih untuk beristirahat di kamar yang ukurannya lebih kecil. Dia tidak berani melihat kamar yang ditempati oleh Earlangga.
Malam semakin larut, Valerie sudah terbuai dalam mimpinya dengan udaranya yang sangat dingin. Dia terbangun saat dimalam harinya mendengar suara langkah beberapa orang dan tawa seorang wanita. Suara prianya dia bisa hafal itu suaranya Earlangga dan siapa wanita yang bersamanya itu?
Valerie mencoba mengintip di lubang kunci. Disana dia bisa melihat Earlangga membuka pintu villa itu dengan seorang wanita cantik yang bergelayut manja dilengannya. Entah apa yang mereka bicarakan, kemudian wanita itu pergi.
Valerie malihat jam di dinding sudah menunjukkan jam 12 malam. Seharusnya dia juga tidak boleh megintip-intip begini dia tidak boleh ikut campur urusan majikannya. Diapun kembali ke tempat tidur dan berusaha tidur. Tapi kepalanya masih penuh dengan tanda tanya wanita yang bersama Earlangga itu, apakah itu pacarnya? Tidak mungkin pacar, Earlangga belum lama datang ke negara ini, kalau bukan pacar terus siapa? Teman kencan? Wanita panggilan?
Valerie kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa dia malah mengurusi privasi majikannya lagi? Akhirnya ditariknya selimutnya dan mencoba tidur. Baru juga akan terlelap, tiba-tiba dia mendengar suara gedebyur yang sangat keras, diapun kembali terbangun dan duduk di tempat tidur.
Ada suara apa itu? Setelah di dengar-dengarkannya, ternyata suara seseorang yang loncat ke kolam renang. Siapa yang berenang malam-malam begini?
Karena penasaran, Valerie turun dari tempat tidurnya dan mencoba mengintip dibalik jendela. Benar saja, ada seorang pria yang sedang berenang disebrang kolam renang itu. Sepertinya Earlangga yang berenang. Malam-malam begini berenang, tapi tentu saja tidak dingin karena airnya itu dari kolam air panas.
Valerie bersandar di tembok itu, ternyata menjadi perawat pribadi itu pekerjaan yang membosankan, sama saja dengan saat merawat Pak Tedi. Tapi bedanya yang dirawatnya sekarang pria muda yang tampan dan tidak ada majikan yang lainnya yang cerewet, tidak tahu juga kalau misalnya orang tuanya Earlangga pulang dan ada Ny.Grace juga, pekerjaannya pasti akan sangat tidak menyenangkan.
Valerie kembali mengintip lewat jendela, sekarang pria itu berenang kearahnya. Tubuh pria itu terlihat kekar dan atletis apalagi denga perut ratanya dia sangat menawan. Dia jadi ingin tahu seperti apa pacarnya Earlangga, tidak mungkin pria setampan itu tidak punya pacar, apalagi tinggal di Luar negeri dengan pergaulannya yang bebas akan banyak gadis cantik yang di kencaninya, apalagi dengan kekayaan yang dimilikinya, sudah dipastikan tidak akan ada wanita yang akan menolaknya.
Valerie melihat Earlangga menyembulkan kepalanya ke permukaan air, pria itu terlihat seperti orang asing, mungkin karena memang ada keturunan luar juga, kulitnya lebih pucat dari kulit pribumi pada umumnya. Dilihatnya lagi pria itu duduk dipinggir kolam membelakanginya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya membuang air yang ada dirambutnya.
Valerie hanya bisa melihat punggungnya yang tak berkaos membelakanginya sambil essekali mengusap wajahnya yang basah. Valerie tersentak kaget, keringat dingin tiba-tiba muncul, jantungnya berdebar kencang. Lewat cahaya lampu yang tidak terlalu terang itu, dia melihat punggung polos pria itu, punggung yang hampir sama dengan pria yang tidur menelungkup diatas tempat tidur itu. Seketika kakinya terasa lemas.
Apa dia tidak salah lihat? Punggung itu hampir sama dengan punggung pria yang telah menodainya. Apakah, apakah pria itu adalah Earlangga? Tangan Valerie yang sedang menyibakkan gorden terasa menjadi gemetaran. Hatinya gelisah bercampur aduk, rasa sakit itu kembali menjalar dihatinya. Dia terus bertanya-tanya apa benar pria itu Earlangga?
Valerie mengerjapkan matanya yang kini berarir. Hatinya semakin gelisah, menebak-nebak apakah ria itu Earlangga? Bagaimana cara dia memastikannya? Karena pria itu tidak memiliki tanda atau apapun yang memastikan identitsanya, dia hanya ingat bagian belakang pria itu. Malam itu pria itu tidak menggunakan pakaian sehelaipun, tidak dengan Earlangga sekarang, tentu saja pria itu menggunakan celana renangnya.
Kaki Valerie terasa semakin lemas, matanya melihat lagi keluar, ternyata Earlangga kembali berenang. Kakinya sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi, kakinya semakin lemas dan diapun terduduk dilantai dengan airmata yang sudah tidak bisa tertahankan lagi.
Kenapa kejadian buruk itu harus menimpanya? Kalau seandainya benar Earlangga atau pria lainnya, apa yang akan dilakuaknnya pada pria itu? Apa dia harus mengemis-ngemis meminta dinikahi padahal dia tidak mencintainya?
Dan tentu saja pria itu pastilah pria hidung belang yang tidak bertanggung jawab. Maukah dia meminta pertanggung jawaban pada pria hidung belang itu? Maukah dia menghabiskan waktunya dengan pria hidung belang hanya karena telah menodainya? Akhirnya Valerie menangis sesenggukan dengan memeluk kedua lututnya yang terlipat.
**********
Readers jangan lupa like ditiap bab ya.
__ADS_1