Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-26 Wild Card


__ADS_3

Lorena menatap Sean, pria itu masih berdiri menatapnya, seakan menghalangi jalannya.


“Ada apa? Kenapa aku tidak bisa pergi? Aku kan sudah bilang kalau aku akan bayar sewa rumahnya nanti setelah pulang. Kau boleh menelpon kalau kau tidak percaya,” kata Lorena dengan serius, dia mengira Sean akan menagih uang sewa rumah.


“Bukan itu,” jawab Sean, menggeleng.


“Bukan itu apa?” tanya Lorena, tidak mengerti.


“Kau mendapat Wild Card dari Presdir, kau bisa ikut lomba berikutnya,” ucap Sean.


“Wild Card?” tanya Lorena menatap Sean.


“Iya,” jawab Sean.


“Dari Presdir?” tanya Lorena lagi.


“Iya,” jawab Sean.


“Ko seperti lomba nyanyi di televisi, ada wild card segala?” kata Lorena, keheranan.


“Iya di kontes ini juga ada, jadi kau tidak perlu pulang kampung, kau bisa ikut lomba berikutnya,” seru Sean dengan bersemangat.


“Jadi aku dapat wild card?” tanya Lorena masih kebingungan. Sean mengangguk.


“Ko panitia tidak menelponku?” tanya Lorena lagi sambil menatap Sean.


“Presdir yang menelponku langsung,” jawab Sean.


“Benarkah? Tapi kenapa aku dapat wild card?” Lorena masih tidak percaya. Membuat Sean merasa kesal juga, wanita itu tidak percaya kata-katanya.


“Karena pada lomba memasak kemarin, Presdir sangat menyukai masakanmu, jadi dia memberimu wild card, jadi kau bisa ikut lomba berikutnya,” jawab Sean, terus berusaha meyakinkan Lorena.


“Benarkah?” ucap Lorena, senyum mulai mengembang di bibirnya. Entah kenapa Sean merasa ikut senang melihat wanita di depannya sudah bisa tersenyum, lega rasanya wajah cantik itu tidak murung lagi. Wajah cantik? Wajah cantik apa? Apa baru saja hatinya memuji wanita itu?


“Jadi aku bisa ikut lomba selanjutnya?” tanya Lorena. Sean mengangguk.


“Jadi aku tidak usah pulang?” tanya Lorena lagi. Sean kembali mengangguk.


“Aku dapat wild card dari Presdir?” tanya Lorena. Sean mengangguk lagi.


“Jadi Presdir menyukai masakanku sehingga memberiku wild card?” Lorena terus-terusan bertanya dan Sean terus terusan mengangguk.


Tiba-tiba wanita itu berseru kencang membuat Sean terkejut.


“Haa, betulkan perkiraanku, Presdir Samuel itu menyukaiku!” seru Lorena sambil menepuk bahunya Sean berkali-kali, membuat pria itu bengong, dan mengusap bahunya yang ditepuk tepuk tadi.


“Kau tidak percaya sih! Seharusnya kau baik padaku, supaya setelah aku menjadi istri Presdir, kau masih dipertahankan jadi asistennya!” seru Lorena, menggebu-gebu.


Sean langsung memberengut melihat reaksinya Lorena. Kenapa jadi Sam?


“Ko jadi aku yang harus baik padamu?” tanya Sean.


“Tentu saja, masa kau tidak mengerti juga. Pak Sam memberiku wild card itu karena dia menyukaiku, aku punya kesempatan besar akan menang di kontes dan menjadi istrinya, begitu,” jelas Lorena.


Sean tersenyum kecut, dia yang meloloskannya kenapa Sam yang dipujinya?


Lorena menatap Sean yang wajahnya berubah jadi masam.


“Kau tidak perlu khawatir, karena kau sudah membantuku, aku pasti akan mempertimbangkanmu untuk tetap jadi asistennya Pak Sam, kau jangan khawatir ya?” kata Lorena sambil  kembali menepuk-nepuk bahu Sean.


“Brother!” sebutnya lagi. Sean semakin cemberut saja.


Dia jadi berfikir apakah ini suatu kesalahan meloloskan Lorena? Kenapa dia malah lebih terpikat pada Sam?


“Kau tahu kan apa lomba berikutnya?” tanya Lorena. Sean tidak menjawab, dia menjadi kesal dengan sikap Lorena yang memuji Sam.


“Outbond! Kau tahu itu artinya?” tanya Lorena lagi, Sean masih diam.


“Artinya aku harus melatih fisikku supaya kuat. Jadi kau harus membantuku,” kata Lorena.


“Aku? Buat apa aku membantumu?” tanya sean.


“Tentu saja kau harus menemaniku berolah raga,” jawab Lorena.


“Ah tidak ah, kenapa aku harus repot-repot membantumu?” gerutu Sean.

__ADS_1


Tangan Lorena merangkul bahu Sean yang lebih tinggi darinya. Diapun sedikit menarik bahu Sean supaya kepalanya lebih dekat padanya, kemudian dia mendekatkan wajahnya pada pria itu lalu berbisik.


“Dengar, wanita di depanmu ini calon istri Presdir. Kau harus yakin aku menang di kontes itu, supaya kau masih bisa bekerja sebagai asistennya Pak Sam, supaya keuanganmu terjamin. Pak Sam pasti menggajimu sangat besar kan, makanya kau bisa menyewa rumah mewah ini, mobilmu juga mewah, kau ngerti sekarang?” ucap Lorena, menatap mata Sean yang ada di depan wajahnya, dan mata pria itu juga menatap matanya.


Mendengar perkataan Lorena membuat Sean kesal. Tangannya melepaskan rangkulannya Lorena. Apa kau tidak tahu Presdir yang sebenarnya adalah aku, Lorena, batinnya.


“Kau juga harus membantuku supaya Pak Sam semakin menyukaiku. Itu demi pekerjaanmu juga, bagaimana?” tanya Lorena dengan semangat.


Mendengar ocehannya Lorena, membuat Sean semakin jengkel., kenapa dia menjadi menyesal begini meloloskannya? Seharusnya wanita ini pulang kampung saja tadi tuh. Diapun membalikkan badannya.


“Kau mau kemana?” tanya Lorena.


“Mau mandi!” jawab Sean dengan ketus.


“Oh kau belum mandi ya,” kata Lorena, mengerutkan keningnya. Tadi dia sempat merangkul rangkul pria yang ternyata belum mandi itu, dia kira sudah mandi, selain wajahnya tetap tampan, tubuhnya juga harum, sepertinya Sean menggunakan parfum yang mahal jadi harum terus meskipun belum mandi, fikirnya.


Sean tidak menjawab lagi, dia keluar dari kamar Lorena, dan langsung masuk ke kamarnya, menutup


pintu dengan keras. Brugh!


Sean duduk di pinggir tempat tidur dan menggerutu, dia heran kenapa wanita itu selalu membuatnya kesal, padahal dia sudah kasihan karena dia gagal di kontes. Huh!


Kemudian Sean bangun, mengambil handphonenya, menelpon Sam.


“Sam! “Sapanya.


“Ada apa?” tanya Sam.


“Aku memberikan wild card buat wanita itu,” jawab Sean.


“Wild Card? Wild card apaan? Emang ada wild card?” tanya Sam.


“Ya anggap saja ada. Aku memberinya wild card khusus dari Presdir , jadi dia bisa ikut lomba selanjutnya,” jawab Sean. Sam tampak berfikir sebentar.


“Ya baiklah kalau begitu, nanti aku bicara dengan panitia,” jawab Sam.


Tutut tutut terdengar nada pemberitahuan panggilan ke dua di ponselnya Sam.


“Apa?” tanya Sean.


“Ada telpon masuk, dari…” Sam melihat handphonenya sebentar.


“Apa? Wanita itu menelpon? Dia tahu nomormu darimana?” tanya Sean.


“Aku tidak tahu, mau apa dia menelpon,” tanya Sam.


“Aku angkat dulu ya,” kata Sam pada Sean.


“Ya, tapi kau harus memberitahuku dia menelpon mau apa? Aku tunggu,” kata Sean.


“Iya,” jawab Sam.


Sam pun mengangkat telpon dari Lorena.


“Maaf Pak Sam, aku mengganggumu,” kata Lorena.


“Kau tahu nomorku darimana?” tanya Sam.


“Aku bertanya pada panitia,” jawa Lorena.


“Oh ada apa?” tanya Sam, meskipun agak kaget kenapa panitia gampang sekali memberi nomornya.


“Aku mengucapkan terimakasih karena kau sudah memberiku wild card dan aku bisa ikut lomba berikutnya,” kata Lorena.


“Iya sama-sama,” jawab Sam.


“Oleh karena itu, sebagai tanda terimakasihku padamu, bagaimana kalau kita makan malam, aku yang traktir,” kata Lorena.


“Apa? Makan malam?” tanya sam terkejut.


“Benar, nanti malam, bagaimana?” tanya Lorena.


“Mm baiklah kalau begitu, nanti aku jemput ya,” jawab Sam.


“Benarkah kau mau makan malam denganku?” tanya Lorena.

__ADS_1


“Tentu saja,” jawab sam.


“Baiklah nanti malam ya jam 7,” kata Lorena.


“Ya, nanti ku jemput,” jawab Sam.


Akhirnya telponpun ditutup.


Sam langsung menghubungi Sean lagi.


“Lama sekali, dia menelponmu mau apa?” tanya Sean sambil menggerutu.


“Dia mengucapkan terimakasih karena sudah diberi wild card,” jawab Sam.


“Begitu rupanya,” ucap Sean.


“Iya, dia juga mengajakku makan malam sebagai ucapan terimakasihnya” jawab Sam.


“Apa? Makan malam?” tanya Sean terkejut.


“Iya nanti aku akan menjemputnya pukul 7,” jawab Sam.


“Ko jadi kamu yang diajak makan malam? Aku kan  yang memberinya wild card,” kata Sean.


“Emang kau berani bicara pada Lorena kalau kau Presdirnya?” tanya Sam.


“Mm tidak, tidak, belum saatnya,” jawab Sean, menggelengkan kepalanya.


“Ya sudah, kita sudah dulu ya aku mau mandi,”  kata Sam.


“Ya,” jawab Sean, kemudian telponpun ditutup.


Sean merenung masih dengan memegang handphonenya. Kenapa wanita itu malah jadi makan malam dengan Sam? Ko jadi begini?


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. To tok tok.


Sean menatap pintu pasti pak Roby, diapun membuka pintu kamarnya.


“Ada apa pak Roby?” tanya Sean, tapi bibirnya terhenti saat melihat wanita itu sudah berdiri dipintu dengan pakaian olahraganya.


“Ada apa? Kau mau apa?” tanya sean , kenapa dia merasa ada gelagat tidak baik dari aura Lorena.


“Aku akan lari pagi, ayo kau lari pagi juga temani aku, mumpung masih pagi,” kata Lorena.


“Apa? Lari pagi? Tidak, kau saja yang lari,” jawab Sean, ogah.


“Kau ini bagaimana sih? Pekerjaanmu sedang ada diujung tanduk. Kau harus baik-baik  pada calon istri Presdir ini, supaya kau bisa bertahan jadi asistennya Presdir. Jadi asitennya Presdir kan gajinya besar, kan sayang kalau kau tidak bisa mempertahankannya,” kata Lorena.


Sean makin kesal saja mendengar perkataan Lorena, ini wanita belum jadi istri Presdir saja sudah sok jadi istri Presdir, benar-benar tidak akan dia luluskan kalau begini, batinnya. Tapi itu Cuma di dalam hati saja, tidak dengan bibirnya.


“Iya tapi  a…” kata-kata Sean terputus.


“Ah sudahlah, ayo cepat ganti baju! Tidak usah mandi, lama, ayo aku tunggu di teras,” ucap Lorena lalu pergi dari kamarnya Sean.


Sean bengong melihat tingkah wanita itu. Memberinya wild card benar-benar tindakan yang salah, Lorena malah kepedean jadi istri presdir dan memanfaatkan dirinya untuk mengkuti perintahnya. Bener-benar keputusan yang salah, batinnya.


Tapi akhirnya Sean mengalah dia berganti pakaian olah raga dan keluar rumah. Ternyata wanita itu sedang pemanasan di teras, menggerak gerakan tangannya ke kanan dan ke kiri. Sean mencibir dalam hati, ini wanita giat sekali mau ikut lomba.


“Jadi kita mau olahrga apa?” tanya Sean.


“Kita lari lari saja dulu keliling komplek, bagaimana?” tanya Lorena, menghentikan gerakan pemanasannya.


“Aku sudah menyiapkan dua botol minum,  nih bawa,” kata Lorena sambil memberikan 2 botol minuman ke tangan Sean.


Pria itu lagi-kagi bengong. Kenapa dia sekarang yang harus memegang botol botol itu?


“Ayo, nanti keburu siang, keliling komplek saja ya, tidak usah jauh jauh,” kata Lorena.


“Ya sudah ayo,” jawab Sean. Meskipun jadi kesal dengan sikap Lorena yang memanfaatkannya. Wanita ini sudah ditolong dengan wild cardnya malah jadi membuatnya seperti budak begini. Dasar! Tidak bisa dibiarkan nih.


Tiba-tiba Sean jadi punya ide mengerjai Lorena. Diapun tersenyum. Hemm… lihat saja nanti, batinnya. Lorena tampak duluan lari.


“Ayo Sean, nanti keburu siang, kau juga akan berangkat kerja kan?” teriak Lorena.


Sean menghela nafas panjang, menatap Lorena semakin jauh. Akhirnya dia ikut berlari bersama Lorena keliling komplek.

__ADS_1


***************


Jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2