
Pak Polisi kembali mencoba membangunkan supir berulang ulang. Sudah cukup lama barulah supir itu bangun dalam kebingungan sambil memegang kepalanya.
“Kau kenapa? Mobilmu berhenti dengan pintu terbuka!” tanya Pak polisi.
Pak supir menatap Pak Polisi itu mencoba mengumpulkan ingatannya. Setelah ingat, dia langsung panik, menoleh kebelakang.
“Majikan saya Pak, majikan saya dibelakang kemana?”tanya Pak Supir. Pak polisi menoleh ke arah belakang mobil.
“Dari tadi juga kau sendiri disini? Apa kau korban perampokan?” tanya Pak Polisi.
“Majikan saya diculik, majikan saya pasti diculik!” teriak Supir itu kembali histeris, dicarinya hapdhone di sakunya, lalu menekan panggilan ke nomornya Sean.
Sean yang sedang sibuk diruang kerjanya melihat nomor supirnya menghubunginya mengerutkan kening, tumben sekali ada nomor Supir rumahnya menelpon, biasanya Pak Sobri atau Pak Deni yang menelpon.
“Ada apa? Tumben sekali kau menelpon?” tanya Sean.
“Ibu Pak! Ibu diculik!” teriak Pak Supir dengan gugup, tangannya gemetaran.
“Kau ini bicara apa?” Sean masih belum mengerti.
“Ibu diclik Pak! Ada orang yang membawa Ibu!” jawab Supir membuat Sean terkejut.
“Apa maksudmu Ibu diculik? Bagaimana bisa?” tanya Sean kini dia yang menjadi panic.
“Benar Pak, saya sedang ada dipinggir jalan bersama Pak Polisi. Tadi ibu mengajak control ke dokter, kemudian ada mobil yang menyalip dan berhenti didepan saya, mereka bersenjata menodongkan senjatanya pada saya dan memukul kepala saya. Sekarang saya baru sadar ibu sudah tidak ada!” jelas Pak Supir dengan terbata-bata. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga majikannya.
Sejenak Sean terdiam, dia merasa shock, dia tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu, istrinya diculik dalam keadaan hamil besar. Hatinya langsung merasa cemas, Sean semakin panik.
“Lapor polisi! Lapor polisi!” teriak Sean.
“Iya Pak, ini saya sedang bersama polisi yang menemukan saya dijalan,” jawab Pak Supir.
“Saya akan ke kantor polisi sekarang!” lanjut Pak Supir.
“Aku akan menyusul kesana,” jawab Sean langsung menutup telponnya.
“Sean!” terdengar suara pria yang masuk ke dalam ruangan, yang ternyata Sam dengan berkas yang ada ditangannya.
Sean langsung bangun dari kursinya.
“Sam ikut aku! Lorena diculik!” teriaknya.
“Apa? Di.. diculik?” tanya Sam, terkejut, menatap Sean yang bergegas menghampirinya.
“Simpan berkasnya dimeja, kita ke kantor polisi sekarang!” jawab Sean, tanpa bicara lagi keluar dari ruangan itu. Sam yang tidak mengerti, segera menyimpan berkas dimeja dan menyusul Sean yang sudah pergi keluar dengan tergesa-gesa.
Sesampainya di kantor polisi, Sean langsung menghampiri supirnya yang sedang membuat pernyataan dan langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
__ADS_1
“Katakan, apa yang terjadi dengan istriku?” tanya Sean. Pak Supir langsung berdiri berhadapan dengan Sean.
“Saya minta maaf Pak, saya tidak bisa menjaga ibu, ada dua orang pria yang menggunakan penutup kepalanya menculik ibu!” jawab Pak Supir.
“Kau tidak mengenali mereka?” tanya Sean.
“Tidak, Pak,” jawab Pak Supir dengan wajah yang pucat, selain dia merasa bersalah, dia juga takut dipecat dari pekerjaannya.
“Saya minta maaf Pak, orang itu bersenjata api,” jawab Pak supir.
“Mereka membawa senjata api?” tanya Sean, memastikan.
“Iya, salah satunya menodongkan pistolnya kearah saya memaksa untuk membuka pintu, karena takut ditembak jadi saya membuka pintu dan dia langsung memukul kepala saya sampai pingsan, saya tidak melihat lagi kondisi ibu,” jawab Pak Supir.
Penjelasan Pak Supir itu membuat Sean merasa lesu, begitu juga dengan Sam yang masih bengong saja terkejut mendengar penjelasan Pak Supir.
“Kalian tenang dulu, silahkan duduk,” kata Pak Polisi yang sedang membuat laporan dari Pak Supir itu menatap Pak Supir dengan Sean yang masih berdiri.
“Kau ingat ciri-ciri mobilnya?” tanya Pak Polisi.
“Saya hanya ingat mobilnya bewarna hitam, saya tidak memperhatikan plat nomornya,” jawab Pak Supir sambil duduk dikursi diikuti Sean.
Sean menoleh pada Sam yang masih berdiri karena hanya ada dua kursi yang ada didepan Polisi penerima laporan itu.
“Menurutmu siapa yang akan melakukan ini?” tanya Sean.
“Apa anda punya musuh Pak?” tanya Pak Polisi.
“Musuh?” Sean balik bertanya dan mengingat-ingat, dia kembali menoleh pada Sam.
“Apa mungkin Pak Tedi?” Tanya Sam.
Sean menoleh pada Pak Polisi.
“Apakah napi atas nama Pak Tedi masih ada ditahanan?” tanya Sean.
“Sebentar aku cek dulu, dimana dia ditahan? Atas tuduhan apa?” tanya Pak polisi.
“Dia seorang pengacara, dia menyalahgunakan profesinya,” jawab Sean.
Pak Polisi itu mengecek keberadan napi atas nama Pak Tedi.
“Masih berada ditahanan,” jawab Pak Polisi itu setelah mendapat jawaban dari petugas yang lainnya.
Sean terdiam kembali menoleh pada Sam tapi tidak berkata apa-apa, dalam hatinya dia tetap merasa Pak Tedilah yang berbuat jahat, tapi Pak Tedi masih dipenjara sekarang.
Setelah dari kantor polisi, Sean dan Sam menuju tahanan tepat Pak Tedi dipenjara.
__ADS_1
Saat melihat kedatangan Sean dan Sam, Pak Tedi langsung menyeringai tertawa.
“Sudah lama kita tidak bertemu,” kata Pak Tedi sambil duduk masih dengan tawa menyeringainya yang menyebalkan.
Melihat sosok Pak Tedi, Sean langsung naik pitam, dia langsung menghampiri dan menarik bajunya Pak Tedi.
“Katakan, dimana istriku? Apa yang kau lakukan pada istriku?” bentak Sean, tangannya sudah mengepal akan memukul Pak Tedi.
“Sean! Ingat ini kantor Polisi! Jangan menambah masalah!” cegah Sam sambil memegang tangannya Sean. Terpaksa Sean melepaskan pegangannya dibaju Pak Tedi dengan kesal, membuat Pak Tedi kembali tertawa.
“Kau datang-datang marah padaku? Ada masalah apa?” tanya Pak Tedi sambil duduk dengan santainya.
“Kau kan yang menculik istriku? Katakan dimana istriku?” teriak Sean sambil menggebrak meja.
“Sean, tenanglah!” kata Sam.
“Bagaimana aku bisa tenang? Aku harus menemukan istriku!” bentak Sean.
“Ya aku tahu, tapi cobalah tenang,” kata Sam lagi.
Sean kembali menatap Pak Tedi yang hanya senyum-senyum saja.
“Katakan, dimana istriku? Apa yang kau mau?” teriak Sean lagi pada Pak Tedi.
“Aku tidak tahu apa maksudmu,” kata Pak Tedi.
“Jangan bermain-main denganku!” bentak Sean, mendengarnya membuat Pak Tedi kesal bukan main, diapun berdiri dan menggebrak meja.
“Kau yang bermian-main denganku!” bentak Pak Tedi, menatap Sean dengan marah.
Sean menatap pria yang berdiri dihadapannya itu.
“Jadi benar, kau yang menculik istriku? Katakan dimana istriku!” teriak Sam lagi, dia kembali akan meraih bajunya Pak Tedi, tapi Sam kembali memegang tangannya.
“Sean! Tenanglah!” teriak Sam, menarik mundur Sean dari hadapannya Pak Tedi.
Sam menatap Pak Tedi yang menyeringai saja, dia senang melihat musuhnya terlihat panik dan putus asa.
“Pak Tedi, duduklah, kita bicara!” kata Sam, membuat Pak Tedi kembali duduk, dengan sudut mata yang menoleh pada Sean yang masih berdiri menatapnya.
Sam duduk berhadapan dengan Pak Tedi, menatap Pengacara yang dulu begitu gagah kini terlihat
lebih kurus dan kotor.
*******************
Kita kebut yuuuk..mumpung aku rehat dulu sebentar dari pekerjaan. Jangan lupa like di tiap bab.
__ADS_1