Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-94 Ny. Grace mengalami stroke


__ADS_3

Earlangga, Valerie dan Lorena tampak cemas menunggu Ny.Grace diperiksa Dokter, Sean datang dengan terburu-buru dari kantornya langsung ke rumah sakit.


“Bagaimana Dok?” tanya Earlangga pada Dokter yang sudah memeriksa Naneknya.


“Nyonya mengalami stroke, sebagian tubuhnya aka sulit digerakkan, beberapa urat syaraf juga terganggu,” jawab Dokter Egi.


Lorena melihat pada Ibu mertuanya, dia merasa sedih, walaubagaimanapun dia ibu dari suaminya.


“Apa bisa disembuhkan Dok?” tanya Earlangga.


“Selama menjalani perawatan yang intensif bisa,” jawab Dokter Egi.


“Baiklah Dok, terimakasih,” jawab Earlangga.


Dokter Egipun meninggalkan ruangan itu.


Lorena tampak berkaca-kaca dia merasa sedih ibu mertuanya sakit seperti itu.


“Bu,” panggil Sean.


Ny.Grace ingin bicara tapi bibirnya ternyata tidak bisa digerakkan dan tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.


“Bu!” Sean juga merasa sedih dengan keadaan ibunya.


Sean menoleh pada istrinya.


“Earl, kita butuh perawat, kau bilang pada Dokter Egi supaya menyediakan perawat dirumah,” kata Sean.


“Biar aku saja, Yah,” tiba-tiba Valeri menyela, semua mata menoleh pada Valerie.


“Biar aku saja yang merawat Nyonya, aku juga kan sudah tidak bekerja di rumah sakit,” kata Valerie.


“Sayang, kau serius mau merawat Ibu?” tanya Lorena.


“Iya Bu, aku akan merawat Nyonya,” jawab Valerie.


Earlangga menoleh pada istrinya. Meskipun selama ini istrinya dijahati terus neneknya tapi istrinya mau merawat neneknya.


“Terimakasih sayang,” kata Earlangga, sambil memeluk Valerie dan mencium pipinya.


“Ng h Ng..h..” Ny.Garce seperti ingin bicara.


Sean menoleh pada ibunya.


“Ibu, ingin apa?” tanya Sean, tapi tetap saja Ny.Grace tidak bisa mengeluarkan kata-lata.


Dalam hatinya Ny.Grace dia  tidak mau dirawat oleh Valerie, jangan-jangan Valerie mau balas dendam padanya.


“Bu, jangan khawatir nanti Valerie yang akan merawat ibu di rumah,” kata Sean.

__ADS_1


“Ng..h..Ng..h,” Ny.Grace berusaha bicara lagi, pokoknya dia tidak mau dirawat oleh Valerie. Tapi Sean sama sekali tidak mengerti. Akhinya dia diam. Dia kesal kenapa dia sampai menjadi sakit begini?


Kemudian terlintas di benaknya Ny.Grace kondisi baby Al, entah bagaimana keadaan bayi itu? Hatinya sangat cemas, tapi dia sakit sekarang, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa menyuruh orang untuk mencarinya.


Dilihatnya Sean duduk di kursi dekat Lorena. Ditatapnya anak cucu dan menantunya itu, apakah dia harus memberitahu keluarganya untuk mencari Al? Tapi bagaimana caranya? Untuk bicara saja dia tidak bisa. Tentu saja tidak akan ada yang tahu kalau dia tidak memberitahu keluarganya kalau bayinya Earlangga masih hidup. Kalaupun dia memberitahu pasti anak cucunya marah padanya mungkin tidak akan memanfaatnya. Tapi keadaan baby Al yang tidak tahu keberadaannya membuatnya semakin tersiksa.


Lorena menoleh pada Valerie.


“Sayang, dulu kau kerja dimana sebelum jadi perawat Earl?” tanya Lorena.


“Di rumah keluarganya Ny. Nisa,” jawab Valerie.


“Ny. Nisa?” tanya Lorena terkejut karena dia familiar dengan nama itu , tapi kan nama Nisa banyak, tidak mungkin Nisa putrinya Pak Tedi.


“Iya Bu,” jawab Valerie.


“Memangnya kau merawat siapa disana? Syaminya sakit?” tanya Lorena.


“Bukan, merawat ayahnya Ny.Nisa, Pak Tedi,” jawab Valerie membuat Lorena dan Sean terkejut.


“Pak Tedi?” Lorena menoleh pada Sean, kenapa begitu kebetulan ayahnya Ny.Nisa itu Pak Tedi.


“Iya Bu, Pak Tedi mengalami kelumpuhan dan stroke sudah lama sejak keluar dari penjara,” jawab Nisa. Tentu saja Lorena dan Sean kembali terkejut. Kenapa ceritanya sama dengan Pak Tedi yang mereka kenal.


“Pak Tedi keluar dari penjara?” tanya Sean.


“Benar Yah,” jawab Valerie.


“Sayang, bukannya Pak Tedi itu sudah meninggal dipenjara?” tanya Lorena pada Sean.


“Iya akibat  berkelahi, mungkin Tedi yang lain,” kata Sean.


“Tapi masa sih kebetulan sekali ayah dan anak namanya sama dengan Nisa dan Pak Tedi pengacaramu itu,” ucap Lorena.


“Pak Tedi yang aku rawat itu dulu pengacara,” ujar Valerie, dia tidak tahu persis kenapa Pak Tedi sampai dipenjara.


Sean dan Lorena semakin terkejut.


“Jangan-jangan itu Pak Tedi yang sama,” gumam Sean.


“Jadi sebenarnya Pak Tedi tidak meninggal sayang, dia masih hidup dan lumpuh,  aku yakin itu,“ kata Lorena, sambil menatap Sean yang tampak sedang berfikir.


“Ibu kenal Pak Tedi?” tanya Valerie.


“Aku tidak tahu itu Pak Tedi yang kita kenal bukan, cuma memang Pak Tedi yang kita kenal itu pengacara, dia pengacara yang mengurus warisannya ayah mertuamu sama Earlangga,” jelas Lorena.


Veleriepun terdiam.


“Pak Tedi itu orangnya licik dan berbuat curang mekanya dipenjara,” kata Sean.

__ADS_1


“Benarkah? Ny.Nisa sering menyalah-nyalahkan Pak Tedi, cuma aku tidak mengerti karena masalah apa,” ucap Valerie.


“Apa Nisa, bersikap baik padamu? tanya Lorena.


“Tidak Bu, gajiku tidak dibayar-bayar makanya aku pergi keluar dari rumah itu dan pindah ke rumahnya Bu Asni,” jawab Valerie.


“Keterlaluan Nisa itu,” keluh Lorena.


Earlangga yang mendengarnya mengusap punggung istrinya.


“Orang seperti itu harus dituntut,” ucap Earlangga.


“Tidak usah, jangan, biarkan saja. Aku sudah tidak memikirkannya,” jawab Valerie.


“Kau sangat baik sayang,” ucap Earlangga, memeluk bahu Valerie.


“Jeni itu putrinya Ny.Nisa dan Pak Brian,” ucap Valerie tiba-tiba, sontak membuat semuanya kaget termasuk Ny.Grace yang mendengar percakapan mereka tanpa bisa ikut bicara.


“Apa? Jeni yang tadi kerumah?” tanya Lorena.


“Jeni? Jeni Pak Brian, rekan bisnis kita? Yang ke rumah tadi itu Jeni pak Brian?” tanya Sean, lalu menoleh pada Earlangga.


Earlangga menoleh pada Valerie.


“Sayang, Jeni yang tadi kerumah yang putrinya Ny.Nisa itu?” tanya Earlangga.


“Iya, ayahnya Jeni namanya Pak Brian, aku dengar sih dia pengusaha kaya tapi aku tidak tahu apa Pak Brian yang rekan bisnis ayah,” jawab Valerie.


“Berarti benar itu orangnya. Jeni putrinya Ny.Nisa dan Pak Brian, rekan bisnis kita,” kata Earlangga, menatap ayahnya.


Lorena menoleh pada Sean.


“Sayang, kau tahu? Tadi Ibu yang mengajak Jeni kerumah, ibu ingin menjodohkan Jeni dengan Earlangga,” kata Lorena, dia langsung cemberut mengingat kelakuan ibu mertuanya.


Tentu saja Sean terkejut mendengarnya. Kenapa ibunya berbuat begitu lagi?


Dia langsung menoleh pada Ny.Grace yang diam saja, lalu menghampirinya dan menatapnya.


“Bu, jadi ibu mengajak Jeni kerumah untuk dijodohkan pada Earlangga?” tanya Seen.


“Ng..h..ng..h..” Ny. Grace berusaha bicara tapi tidak bisa.


“Ibu keterlaluan! Dulu ibu melakukannya padaku, sekarang ibu melakukannya lagi pada Earlangga. Kenapa ibu selalu memaksakan kehendak ibu?” tanya Sean, dengan kesal.


Lorena segera bangun dan menghampiri Sean lalu memegang tangannya Sean.


“Sayang, jangan begitu, ibu lagi sakit,” ucap Lorena.


“Aku hanya kesal saja kenapa ibu selalu begitu? Apa ingin rumah tangga anak cucunya berantakan?” keluh Sean.

__ADS_1


Lorenapun diam.


*************


__ADS_2