Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-77 Hasutan Pak Tedi


__ADS_3

Nyonya Grace terkejut saat mendapatkan copyan surat keterangan kesehatannya Lorena. Wajahnya langsung pucat, hatinya gelisah, langkahnya tidak berhenti bolak balik didalam ruang kerja di rumahnya. Dia sedang memikirkan jika Sean menikah dengan Lorena. Percuma saja kalau Sean menikah dengan Lorena tapi tidak bisa cepat-cepat memiliki anak, bukan warisan lagi yang hilang tapi dia tidak akan mempunyai keturuanan lagi.


“Nyonya, ada tamu, Pak Tedi ingin bertemu,” lapor Pak Deni pada Ny.Grace setelah mengetuk pintu ruang kerja itu yang terbuka.


“Pak Tedi?” Ny. Grace tampak terkejut.


“Dia pengacara yang Sean berhentikan karena membocorkan rahasia wasiat kakeknya kan?” tanya Ny.Grace.


“Benar Ny.” jawab Pak Deni.


“Suruh masuk, aku ingin tahu dia ada perlu apa,” kata Ny.Grace.


Pak Deni mengangguk, lalu beranjak keluar dari ruangan itu.


Tidak berapa lama Pak Tedi masuk ke ruangan itu.


“Silahkan duduk,” kata Ny.Grace.


Pak Tedi mengangguk, dia duudk di sofa yang ada diruangan itu. Ny. Grace  duduk disebrangnya.


“Tumben sekali kau datang menemuiku,” kata Ny.Grace, menatap penuh selidik pada tamunya itu.


“Karena kebetulan saya mendapat kabar kalau Ny. Ada di ibukota,” jawab Pak Tedi.


“Baiklah, kau ada perlu apa?” tanya Ny. Grace.


“Begini Ny. Saya akan memberitahu Ny. Sebuah rahasia,” jawab Pak Tedi.


“Rahasia? Rahasia apa?” tanya Ny. Grace, menatap Pak Tedi.


“Rahasia dari surat wasiat yang belum dibacakan semuanya, Ny.” Jawab Pak Tedi.


Ny, Grace langsung tersenyum sinis.


“Kau membaca surat wasiat yang belum saatnya dibacakan?” tuduh Ny.Grace.


“Maaf Nyonya, anda salah faham. Karena saya sudah tidak lagi mengurus wasiat kakeknya Pak Sean, jadi tidak ada salahnya saya memberitahu anda,” jawab Pak Tedi, membuat Ny.Grace tertarik.


“Memangnya wasiat apa yang belum di bacakan?” tanya Ny.Grace.


“Kami hanya membacakan persyaratan untuk menerima seluruh warisan saja, kami belum menyampaikan kalau jika salah satu tidak bisa dipenuhi maka warisan itu akan disumbangkan seluruhnya, jadi Sean tidak akan menerima sepeserpun warisan itu, dan seluruh fasilitas kekayaan dari mertua anda seluruhnya akan ditarik,” kata Pak Tedi, membuat Ny.Grace terkejut.


“Apa maksudnya? Warisan yang sudah diberikan juga ditarik kembali?” tanya Ny,Grace tidak percaya.


“Sebenarnya isi wasiat seluruhnya seperti itu,” kata Pak Tedi.


Ny, Grace geleng-gelng kepala, kenapa mertuanya membuat wasiat seperti itu? Masa Sean tidak berhak mendapatkan apapun? Sedangkan dia keturunan satu-satunya, benar-benar keterlaluan mertuanya.


“Mungkin mertua anda ingin Sean cepat-cepat memberikan keturunan, jangan sampai terlambat untuk menikah, makanya membuat wasiat seperti itu,” kata Pak Tedi.


“Apa ucapanmu bisa dipercaya? Aku dengar Sean mengeluarkanmu dari tim pengacara kaluarga kami karena kau membocorkan rahasia wasiat itu,” tanya Ny. Grace.


“Itu hanya salah faham Nyonya, jadi putriku mendengar percakapanku di telpon dengan pengacara lain, jadi bukan saya yang membocorkannya. Putriku itu sangat menyukai putramu, jadi dia ikut kontes. Karena Lorena dalam setiap lombanya sering melakukan kecurangan makanya putriku jadi kesal dan marah lalu membocorkan siapa Presdir sebenarnya dalam kontes, jadi seperti itu, Nyonya,” jawab Pak Tedi.


Ny, Grace mengerutkan keningnya.


“Lorena itu tidak selugu kelihatannya, dari awal kontes dia selalu melakukan kecurangan. Ny. Pasti tahu Lorena dari orang berada, dia tidak bisa memasak dan mencuci tapi bisa lolos dalam kontes, itu karena dia curang,” kata Pak Tedi semakin mengompori Ny.Grace.

__ADS_1


“Apa benar begitu? Tapi itu kan hanya kontes isengnya Sean saja,” ucap Ny.Grace.


“Memang betul karena Pak Sean hanya butuh hiburan saja, tapi yang harus di perhatikan bahwa kecurangan yang di lakukan Lorena itu untuk mendapatkan obesinya memenangkan kontes, itu sudah menujukkan kalau Lorena bukan gadis yang baik, dia mempunyai sifat yang licik tidak cocok dengan Pak Sean,” kata Pak Tedi semakin menghasut Ny.Grace.


Ny. Grace terdiam mendengarnya. Apa benar Lorena gadis seperti itu? Dia terus curang dalam setiap lomba asal menang kontes? Rasanya tidak percaya gadis semanis itu mempunyai perilaku yang buruk.


“Tapi Sean menyukainya,” kata Ny.Grace.


“Tentu saja, karena dibelakang kontes, dia merayu Pak Sean makanya tinggal serumah dengannya. Apa Nyonya tidak menyadari itu? Dia gadis yang sangat licik,” hasut Pak Tedi lagi.


Ny. Grace menatap Pak Tedi.


“Ada lagi yang akan kau sampaikan?” tanya Ny.Grace.


“Hanya itu saja. Asal Nyonya tahu kenapa pengacara yang lain tidak mengatakan itu karena kalau Pak Sean tidak mendapatkan warisan, kami semua akan mendapat bagian dari warisan itu,  tentu saja para pengacara menginginkan Pak Sean tidak mendapatkan warisan. Saya bicara begini karena saya sudah keluar dari tim jadi saya tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, saya hanya memberikan informasi ini saja pada Nyonya,” kata Pak Tedi lagi.


Kata-kata Pak Tedi itu membuat Ny.Grace bingung, bagaimana kalau Sean menikah dengan lorena dan tidak memiliki keturunan? Sayang sekali kalau seluruh kekayaan mertuanya di bagi-bagikan begitu saja pada orang lain. Kenapa mertuanya membuat persyaratan yang begitu? Atau mertuanya memang ingin supaya Sean cepat menikah dan mempunyai anak, makanya dibuat persyaratan warisan seperti itu supaya Sean tidak terlambat menikah?


Setelah tidak ada lagi yang disampaikan, Pak Tedi keluar dari ruangan itu, dia senyum senyum saja keluar dari rumahnya Sean. Dia tahu pasti Ny.Grace sudah mendapat surat copyan kesehatannya Lorena, semuanya sudah sesuai rencana.


“Pak Deni! Pak Deni!” panggil Ny.Grace.


“Ya Ny.” Jawab Pak Deni, muncul dibalik pintu.


“Sean ada dimana sekarang?” tanya Ny.Grace.


“Di kantornya, Ny,” jawab Pak Deni.


“Pulang kerja suruh pulang ke rumah, ada yang ingin aku bicarakan,” kata Ny.Grace.


Sementara itu Sean sedang gelisah dikantornya. Pekerjaannya yang bertumpuk hanya dilihat saja, dia benar-benar memikirkan pekerjaanya. Dia teringat terus pada Lorena, pada hasil tes itu.


“Lagi-lagi kau melamun, aku fikir setelah mendapatkan calon istrimu kau akan terus bahagia,” tiba-tiba Sam sudah muncul dan berdiri dihadapannya.


“Kau mengagetkanku,” keluh Sean.


“Masa aku sebesar ini tidak kau lihat? Kau sedang memikirkan apalagi? Aku sedang mencarikan WO yang bagus untuk penikahanmu,” kata Sam.


“Ada masalah,” jawab Sean menatap Sam.


“Masalah apa lagi?” tanya Sam, dia duduk di kursi depan meja Sean.


“Hasil tes kesuburan itu Lorena tidak sehat, dia akan sulit memberiku keturunan,” jawab Sean, membuat Sam terkejut.


“Apa? Kau serius?” tanya Sam.


“ Iya, aku serius,” jawab Sean.


“Kenapa bisa begitu?” tanya Sam.


“Entahlah, dia menangis terus, aku sangat bingung,” jawab Sean.


“Jadi bagaimana? Kau mau mencari wanita lain?” tanya Sam.


“Bukan itu! Kau bicara tidak difikir dulu!” bentak Sean.


“Maaf, jadi bagaimana?” tanya Sam, kebingungan.

__ADS_1


“Kalau ibuku tahu pasti aku disuruh mencari lagi gadis lain, itu masalahnya,” kata Sean.


“Bukankah itu gampang, banyak gadis yang suka padamu, tidak ada masalah,” jawab Sam.


“Masalahnya aku tidak mau! Aku hanya mencintai Lorena,” ucap Sean.


“Meskipun Lorena tidak bisa secepatnya memberimu keturunan?” tanya Sam.


“Iya, itu yang aku bingungkan. Ibuku pasti sudah tahu soal ini,” ucap Sean.


“Ibumu tidak akan setuju kalau begitu,” kata Sam.


“Iya, apalagi aku keturunan  satu-satunya kakekku, aku harus mempunyai keturunan, kalau tidak, generasi penerus kakeknya benar-benar putus sampai padaku saja,” kata Sean.


Sam pun terdiam.


Sean menyandarkan punggungnya kesandaran kursi.


“Aku sangat mencintainya Sam, aku sudah berjanji tidak akan meninggalkannya apapun yang terjadi,” kata Sean.


“Tapi ibumu tidak akan setuju atau bisa saja mengijinkanmu menikah dengan Lorena tapi kau disuruh menikah lagi dengan gadis yang subur supaya cepat mempunyai anak,” kata Sam.


“Aku tidak mau seperti itu, itu sama saja dengan menyakiti hati Lorena, aku tidak mau menyakitinya,” kata Sean.


“Kalau begitu kau lepaskan warisan itu,” kata Sam.


“Apa?” tanya Sean.


“Lepaskan saja warisan itu, kau kan sudah kaya, buat apa warisan lagi?” usul Sam.


Sean tampak merenung.


“Aku juga berfikir kesana, aku akan tetap menikah dengan Lorena dan melepaskan warisan itu jika pada waktunya ternyata aku belum punya keturunan,” jawab Sean.


“Seharusnya dari awal kontes itu tes kesuburan dulu, jadi yang ikut hanya gadis gadis subur saja,” kata Sam.


“Tidak semua orang mau melakukannya, Lorena saja marah padaku, tentunya dia tidak akan ikut kontes kalau tesnya begitu,” ucap Sean.


Terdengar suara ketukan dipintu menghentikan pembicaraan mereka.


“Pak Deni!” ucap Sean saat melihat Pak Deni sudah ada dipintu ruang kerjanya.


“Iya Pak, saya hanya mau menyampaikan kalau Nyonya minta supaya pulang dari kantor langsung pulang ke rumah, ada yang akan dibicarakan,” jawab Pak Deni.


“Bicara soal apa?” tanya  Sean.


“Mungkin sekitar pernikahanmu, tadi Nyonya juga menerima surat hasil tes kesehatan kalian,” kata Pak Deni, berjalan mendekati Sean.


“Jadi ibu sudah tahu soal Lorena tidak sehat,?” tanya Sean, menatap Pak Deni.


Pak Deni hanya mengangguk. Sean menghela nafas panjang.


“Aku akan pulang tapi aku akan menemui Lorena dulu,” jawab Sean.


Pak Deni hanya menatapnya, dia merasa kasihan perjuangan Sean mendapatkan Lorena masih harus melewati rintangan lagi, yang belum tentu berakhir dengan kebahagiaan.


**********

__ADS_1


__ADS_2