
Mobilnya Earlangga memasuki sebuah rumah mewah yang megah. Saat mobil itu berhenti, Valerie menatap rumah itu dari balik jendela.
“Rumahnya sangat bagus, apa ini rumah kakek dan nenekmu?” tanya Valerie.
“Bukan, ini rumah kita,” jawab Earlangga.
“Rumah kita?” tanya Valerie sambil menoleh pada Earlangga.
Earlangga meletakkan tangannya di belakang joknya Valerie, diapun mencondongkan kepalanya melihat ke jendela mobil sebelah Valerie, membuat Valerie terdiam dan tiba-tiba merasa gugup, karena wajah pria itu ada disampingnya. Meskipun dia sudah menjadi istrinya tapi rasa canggung itu masih ada karena dia merasa belum memiliki pria itu seutuhnya. Dia tetap merasa ragu palagi kalau harus bermanja-manja dengan pria itu.
“Kau suka?” tanya Earlangga.
“Iya,” jawab Valerie.
“Aku sengaja memilih membeli rumah baru saja, supaya kau merasa bebas dan nyaman,” kata Earlangga.
Valerie menoleh pada Ealrangga dan dia terkejut saat wajahnya hampir beradu dengan wajahnya Earlangga yang ternyata juga menoleh padanya. Meskipun Earlangga pernah menciumnya tapi dia tidak terfikirkan kalau pria itu akan menciumnya lagi. Dia benar-benar merasa canggung pada suami sendiri.
Earlangga menatap mata polos itu yang juga menatapnya, tidak seperti gadis kebanyakan yang dikenalnya, tatapan itu tidak seberani gadis-gadis lain, istrinya itu terihat kaget dan merasa malu. Diapun tersenyum.
“Ada yang ingin kau tanyakan?” tanya Earlangga.
“Ada siapa saja dirumah? Aku tidak mungkin sendirian kalau kau bekerja,” jawab Valerie.
“Ada para pekerja, jadi tidak akan terlalu sepi,” jawab Earlangga, masih menatapnya. Ditatap seperti itu membuat Valerie semakin gugup saja, wajahnya langsung memerah.
Earlangga tersenyum lagi merasa lucu melihatnya, ada rasa sedih dan bersalah setiap melihat wajah itu, kadang ada rasa kasihan juga karena Valerie tidak seperti istri umumnya, dia masih sangat menjaga jarak darinya. Mungkin karena perbedaan status dan banyaknya pertentangan atas pernikahan mereka.
“Ayo kita turun,” ajak Earlangga, Valerie cepat-cepat mengangguk, daripada dia terus terusan dalam posisi seperti ini rasanya jantungnya mau lepas saja.
Earlangga mengajak Valerie masuk kerumahnya, ada kepala pelayan yang menayambut mereka. Beberapa pelayan lainnya menyimpan karena koper-koper mereka.
Valerie kembali tertegun melihat isi rumah yang begitu mewah. Dia hanya mematung saja diruangan yang luas itu.
Earlangga mendekatkan bibirnya ke telinga Valerie.
“Kau Nyonya rumah disini,” ucap Earlangga, membuat Valerie terkejut, tersadar kalau dia dari tadi hanya bengong-bengong saja, diapun menoleh pada Earlangga, rasanya seperti mimpi apa yang didengarnya, dia Nyonya rumah di urmah mewah ini.
“Ayo kita lihat kamar kita,” ajak Earlangga, sambil kembali meraih tangannya Valerie.
Valerie tersenyum Earlangga menyebut kamar kita. Sekarang dia sudah punya kamar sendiri dengan suaminya. Tidak seperti tinggal di rumahnya Ny.Grace, serasa menumpang dirumah itu.
“Kau boleh merubah apapun isi rumah ini, kau bilang saja pada Mr.Philip, buat dirimu senyaman mungkin,” kata Earlangga, saat membuka sebuah kamar utama.
“Lagi-lagi Valerie tertegun melihatnya, kamar itu sangat luas. Takut juga kalau tinggal disini sendirian kalau Earlangga tidak ada dirumah, batinnya.
“Itu, kamar tamu?” tanya Valerie, menoleh pada sebuah pintu yang letaknya dekat kamar mereka.
“Bukan, itu kamar bayi,” jawab Earlangga, kembali menarik tangan Valerie menuju pintu kamar itu dan dibukanya.
“Kamar bayi? Kau sudah menyiapkannya?” tanya Valerie.
“Tentu saja,” jawab Earlangga sambil masuk keruangan itu.
“Tapi warna catnya masih netral soalnya kita belum tahu bayinya laki-laki atau perempuan,” lanjut Earlangga berdiri menatap kesekeliling kamar itu.
Valerie terus melihat isi ruangan itu, sepertinya dia tidak perlu repot-repot membeli apapun, semuanya sudah tersedia. Ranjang bayi sudah lengkap dengan mainan gantungan yang berbunyi nyaring. Dia langsung mengusap perutnya, pasti bayinya akan senang sekali tinggal dikamar ini.
__ADS_1
“Apa kita akan menemui kakek nenekmu?” tanya Valerie.
“Nanti, kau jangan khawatir kakek nenekku disini sangat baik, mereka orangnya terbuka, jadi tidak ada yang akan mengganggumu disini,” jawab Earlangga, seperti memahami apa yang difikirkan oleh Valerie.
“Bagaimana bayi kita? Apakah bayinya senang dengan kamar ini?” tanya Earlangga sambil menyentuh perutnya Valerie. Valerie segera mengangguk. Dia merasa terharu Earlangga sudah berbuat sebaik mungkin untuk membuatnya nyaman.
“Bayinya senang,” jawab Valerie.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berisik didepan rumah.
“Siapa yang datang?” tanya Valerie.
Terdengar klakson mobil yang berisik bersahutan.
“Itu teman-temanku! Nick dan Josh!” jawab Earlangga, lalu segera keluar dari kamar itu.
Valeriepun diam, Nick dan Josh, apa itu bule yang dulu pernah bertemu denganya di kantor Earlangga?
Valerie pun segera keluar dari kamar itu.
“Hei Nick, Josh, kalian datang juga,” seru Earlangga.
“Tentu saja, kau lihat ini mobil sport terbaru!” teriak Josh dari dalam mobil sambil membunyikan klakson mobilnya sampai berisik.
“Bagaimana dengan ini? Punyaku lebih bagus!” seru Nick.
Earlangga menghampiri mobil Nick lalu mobilnya Josh.
Nick dan Josh keluar dari mobilnya dan dengan bangganya memamerkan mobil baru mereka.
Valerie yang sudah berada diruang tamu mengintip dibalik jendela. Benar, bule-bule itu yang pernah dilihatnya di kantornya Earlangga. Ternyata mereka teman-temannya Earlangga. Tiba-tiba ada was-was dalam hatinya. Dia tidak begitu mengenal Earlangga seperti apa di London. Apakah Earlangga suka pergi ke club malam?
“Kau tinggal disini bersama istrimu?” tanya Josh.
“Iya,” jawab Earlangga, lalu memanggil-manggil Valerie, karena dia melihat dari bayangan mobil yang diparkir itu istrinya sedang mengintipnya di dekat jendela.
“Valerie sayang, kemarilah! Ini ada teman-temanku!” panggilnya.
Dengan ragu, Valerie keluar dari persembunyiannya. Nick dan Josh menoleh kearahnya. Mereka terkejut melihatnya.
Josh dan Nick tampak berfikir-fikir mengingat-ingat Valerie.
“Apa kita pernah bertemu?” tanya Josh.
“Sepertinya kita pernah bertemu, tapi ya mungkin kau mirip saja,” kata Nick.
“Ini istriku tercinta,” ucap Earlangga, sambil memeluk bahunya Valerie, senangnya saat Earlangga mengatakan kata-kata itu, semoga saja memang selalu seperti itu, dia akan menjadi istri tercintanya Earlangga selamanya.
“Helo!” sapa Josh dan Nick, merekapun melihat perutnya Valerie.
“Bayiku,” ucap Earlangga, sambil mengusap-usap perut Valerie, tersenyum bangga pada temannya.
“Selamat! Kau akan menjadi ayah!” seru Josh dan Nick sambil tertawa senang.
“Bagaimana kalau kita rayakan? Kau baru tiba, teman-teman pasti ingin bertemu denganmu,” kata Josh.
“Iya benar, selain aku mau memperlihatkan mobil baruku,” ucap Nick.
__ADS_1
“Oke oke, nanti malam kita bertemu, tapi aku belum punya mobil baru,” jawab Earlanga.
“Kau sangat ketinggalan ternyata,” ujar Josh.
Earlangga termenung, dia memang lebih banyak waktunya mengurus masalah Vaerie, tidak bisa lagi bersenang-senang seperti dulu berkumpul dengan teman-temannya.
Valerie terdiam mendengar percakapan pria-pria itu, hatinya mendadak gelisah. Bagaimana kalau kejadiannya seperti yang terjadi dimalam itu? Tapi masa dia akan melarang Earlangga bertemu dengan teman-temannya?
Setelah menyapa Josh dan Nick, Valerie pergi ke kamarnya, bebaring beristirahat, dibiarkannya Earlangga berbincang dengan teman-temannya.
Diusapnya perutnya beberapa kali, rasa khawatir itu belum hilang, dia tidak tahu bagaimana pergaulannya Earlangga dengan teman-temannya di London.
Tidak berapa lama terdengar suara mobil mobil itu pergi dari rumah, sepertinya teman-temannya itu sudah pergi.
Terdengar suara pintu kamarnya dibuka.
“Kau tidur?” tanya Earlangga pada Valerie yang sedang berbaring meringkuk.
“Aku hanya lelah saja,” jawab Valerie.
Earlangga menghampirinya.
“Nanti malam aku ada acara dengan teman-temanku,” ucap Earlangga.
“Bisakah kau tidak pergi?” tanya Valerie tiba-tiba membuat Earlangga terkejut.
“Apa?” tanya Earlangga.
Valerie bangun dari berbaringnya dan menatap Earlangga.
“Aku takut kau pergi dengan temanmu akan terjadi hal yang buruk,” kata Valerie.
Earlangga tersenyum lalu duduk disamping Valerie.
“Aku hanya bertemu sebentar dengan temanku, kau tidak perlu cemas, aku pasti cepat pulang,” kata Earlangga, sambil meraih bahunya Valerie dan memeluknya
Valerie tidak bicara apa-apa lagi mungkin hanya perasaannya yang berlebihan, jadi dia berfikir macam-macam. Bagaimana kalau ternyata ada wanita-wanita cantik yang mengganggu Earlangga? Insting istrinya mulai bicara.
“Rumah ini sangat besar, aku merasa takut kalau sendirian,” kata Valerie, mencari- cari alasan supaya Earlangga tidak pergi.
Earlangga menatap Valerie, yang segera memalingkan mukanya takut tertebak ucapannya hanya alasan yang dibuat-buat saja.
Earlangga terdiam sesaat, dia baru sadar kalau sekarang dia sudah menikah, seharusnya dia memikirkan Valerie juga.
“Baiklah, aku tidak akan pergi, aku akan menemanimu saja disini. Kalau teman temanku ingin bertemu denganku aku minta mereka datang saja kerumah, bagaimana?” tanya Earlangga.
Valerie langsung tersenyum mendengarnya, begitu lebih baik, dia langsung mengangguk setuju. Senang rasanya ternyata Earlangga memikirkannya.
“Aku akan menemui Mr. Philip, supaya mengecek mobilku. Kau istirahat saja, kau pasti lelah,” ucap Earangga, mengusap rambutnya Valerie.
“Iya,” jawab Valerie. Earlanggapun bangun lalu keluar dari kamar itu.
Valerie kembali berbaring sepertinya dia akan tidur nyenyak dirumah ini, karena tidak ada Ny.Grace. Semoga saja Neneknya Earlangga itu tidak pernah datang kesini dengan alasan menengok cucunya atau melihat rumah barunya.
************
Readers, aku usahain bulan ini novel ini tamat ya. Selanjutnya aku nulis satu novel saja “Menikahi Tuan Depresi” supaya aku bisa jalan dengan pekerjaanku.
__ADS_1
********