Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-100 Bertemu Aldric


__ADS_3

Pak Sobri yang melihat kepergiannya Valerie merasa janggal karena membawa koper dan pergi sendirian. Dia mau bertanya pada Nyonya nya merasa tidak enak. Diapun pergi ke belakang mencari Bu Asni.


“Ada apa?” tanya Bu Asni yang sedang menyiapkan bahan bahan yang mau dimasaknya untuk makan malam.


“Itu Bu Valerie pergi naik taxi bawa koper segala mau kemana ya?” tanya Pak Sobri.


Bu Asni menghentikan pekerjaannya lalu menatap Pak Sobri.


“Valerie pergi naik taxi? Kenapa tidak diantar supir?” tanya Bu Asni, keheranan.


“Itulah kenapa saya merasa ganjil melihatnya ya? Matanya juga seperti habis menangis,” ucap Pak Sobri.


“Bagaimana kalau kau telpon Pak Earlangga saja, mungkin tahu mau kemana, kalau ternyata Pak Earlangga tahu sih tidak apa-apa,” kata Bu Asni.


“Bu Valerie juga nitip salam buat Ibu,” ucap Pak Sobri.


“Ko pake nitip salam segala? Saya kan ada di dapur,” ucap Bu Asni semakin curiga.


“Ayo cepat telpon Pak Earlangga,” kata Bu Asni.


Pak Sobripun mengeluarkan ponselnya dan mendial nomornya Earlangga.


Earlangga yang sedang ada di kantornya bersama ayahnya melihat ponselnya berbunyi.


“Ada apa?” tanya Earlangga.


“Maaf Pak saya mau menanyakan apa Bu Valerie pergi sudah ijin Bapak?” tanya Pak  Sobri.


“Maksudnya apa?” tanya Earlangga.


“Bu Valerie pergi pakai taxi dan bawa koper, tidak pakai supir disini,” jawab Pak Sobri.


“Apa?” tanya Earlangga.


“Ada apa?” tanya Sean, yang heran mendengar Earlangga.


“Valerie pergi dari rumah pakai taxi dan bawa koper, dia tidak pakai supir,” jawab Earlangga. Membuat Sean juga keheranan.


“Kenapa bawa koper, emang dia mau kemana?” tanya Sean.


“Entahlah Yah, coba aku telpon ibu,” ucap Earlangga, diapun menelpon Lorena.


“Ada apa?” tanya Lorena yang masih sibuk diruang kerjanya.


“Ibu, kata Pak Sobri Valerie pergi dari rumah, apa bilang pada ibu mau kemana?” tanya Earlangga dengan cemas, kenapa hatinya merasa tidak enak?


“Pergi? Tadi sih pergi waktu pagi tapi kata pelayan hanya sebentar. Ibu ada diruang kerja jadi tidak bertemu,” jawab Lorena keheranan.


“Aku khawatir kata Pak Sobri perginya pakai taxi dan bawa koper,” ucap Earlangga.


“Begitu? Coba ibu cek,” ucap Lorena, diapun mematikan ponselnya, bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan itu, diapun menuju kamarnya Valerie.


“Valerie! Valerie!” Panggil Lorena.


Diketuk-ketuknya pintu kamarnya tidak ada jawaban. Diapun membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci.


“Valerie!” panggil Lorena, melongokkan kepalanya kekamar itu, hening karena memang tidak ada apa-apa. Diapun akan menutup pintunya kembali tapi terlihat sekilas ada kertas diatas tempat tidur. Lorenapun tidak jadi menutup pintu.


Kaki Lorena  melangkah masuk kedalam kamar, diambilnya kertas yang diatas tempat tidur itu lalu dibuka lipatannya dan dibaca. Dia sangat terkejut saat membacanya.


Lorena langsung menelpon balik Earlangga.


“Earl! Valerie pergi!” ucap Lorena histeris.


“Pergi? Maksud ibu apa?” tanay Earlangga.


Lorena mengirimkan foto sararnya Valeriw pada Earlangga.


Saat Earlangga membacanya, dia merasakan kakinya seketika lemas.


“Valerie pergi yah,” ucapnya terbata-bata.


“Apa? Pergi-pergi kemana?” tanya Sean.


Earlangga memberikan ponselnya pada ayahnya yang langsung membacanya. Sean terkejut saat membacanya.


“Sayang, apa kau bertengkar dengan Valerie?” tanya Sean.


“Tidak ayah,” jawab Earlangga, dia bingung kemana dan kenapa Valerie pergi?


“Apa karena bayi kalian meninggal dia jadi ingin pergi?” tanay Sean.


“Entahlah yah, aku tidak tahu,” jawab Earlangga.


“Aku harus mencarinya kemana? Valerie tidak punya sanak sodara disini,” kata Earlangga.


Earlangga terduduk dengan lesu, mencoba mencari tahu kira-kira Valerie pergi kemana. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang untuk mencari di rumah sakit tempat Valerie bekerja atau bertanya pada teman-teman Valerie magang. Dia juga tidak lupa menelpon Nella.


Lorena bertanya pada semua pekerja yang ada dirumah itu, tapi tidak ada seorangpun yang tahu kemana Valerie pergi. Diapun teringat ibunya. Lorena segera pergi kekamarnya Ny.Grace.

__ADS_1


Dilihatnya Ny.Grace sedang berbaring dengan airmata terus menetes dipipinya.


“Ibu, Ibu kenapa?” tanya Lorena.


Seperti biasa Ny.Grace tidak menjawab, mengeluarkan suara yang tidak jelas.


“Bu, Valerie pergi, apa ibu tau kemana?” tanya Lorena menatap ibu mertuanya.


Ny,Grace mencoba mengangguk kepalanya dengan lehernya yang kaku.


“Ng..h..ng..h..” ucapnya tidak berarti.


“Ibu tahu Valerie pergi?” tanya Lorena.


Ny,Grace mencoba mengangguk dengan susah payah.


“Ibu tahu kemana Valeri pergi?” ditanya begitu Ny.Grace  mencoba menggelengkan kepalanya.


“Kemana dia?” Gumam Lorena lalu duduk dikursi yang ada di kamar Ny.Grace itu.


Ny.Grace masih ingin bicara, tapi Lorena tidak mengerti.


“Dia kemana ya Bu,” gumamnya.


Lorena merasa kaget melihat Ny.Grace  kembali menangis.


“Ibu, kenapa ibu menangis?” tanya Lorena, menatap ibu mertuanya.


Ny.Grace berusaha bicara tapi tidak ada kata yang terucap. Lorenapun tidak bicara lagi. Percuma bertanya pada ibu mertuanya.


“Sudahlah Bu, aku mau mencoba mencarinya. Ibu istirahat saja,” ucap Lorena, lalu keluar lagi dari kamar itu.


Ny.Grace terus saja menangis, dia sangat menyesal dengan semua perbuatannya. Dia tidak bisa dimaafkan.


Sementara itu Taxinya Valerie berhenti didepan sebuah rumah mewah bercat putih. Satpam langsung membukakan pintu gerbang tanpa harus Valerie bertanya dulu apakah ini rumah Darren atau bukan.


“Ibu sudah ditunggu Pak Darren,” kata satpam itu.


Taxipun masuk ke halaman rumah itu.


Saat taxi itu berhenti di depan teras, seorang pelayan sudah datang menghampirinya,membuat Valerie mengeluarkan kopernya.


Seseorang keluar dari pintu rumah itu. Valerie menatap pria yang sedang berdiri di teras itu menatapnya. Diapun menaiki tangga teras.


“Aku tahu kau akan datang,” kata Darren sambil tersenyum.


“Apa aku bisa bertemu Aldric?” tanya Valerie. Dia sempat melihat penjagaan di rumah itu sangat ketat. Di gerbang masuk selain ada satpam ada dua orang berbadan kekar disana.


Mata Valerie langsung mencari-cari bayinya.


“Duduklah,” ucap Darren.


“Mana bayiku?” tanya Valeire.


“Sabar dulu, kau tenang saja, nanti kau akan sering bersamanya,”jawab Darren, lalu memanggil pelayannya untuk membawakan minum buat Valerie.


Akhirnya Valeriepun duduk, meskipun hatinya sudah tidak sabar ingin bertemu bayinya.


Darrenpun duduk disebrangnya.


“Kita harus membuat kesepakatan dulu,” ucap Darren.


“Kesepakatan apa lagi? Aku hanya ingin bertemu bayiku,” kata Valerie.


“Kau harus segera membuat gugutan Cerai pada Earlangga, pengacaraku yang akan mengurusnya,” kata Darren.


Valerie teridam. Sebenarnya dengan dia meninggalkan rumah itu saja sudah berarti dia berpisah dengan Earlangga.


“Bagaimana? Karena aku tidak mau menunggu lama untuk menikah denganmu,”  ucap Darren.


“Baiklah,” ucap Valerie dengan hati yang terasa tersayat-sayat.


Seorang pria mengampiri mereka.


“Ini pengacaraku,” ucap Darren, ternyata pria itu sudah menyiapkan pengacara.


Valerie terkejut mendengarnya, tidak menyangka akan secepat itu Darren memproses perceraiannya.


“Siang, Nyonya, anda hanya perlu menandatangani surat kuasa pengurusan gugatan cerai,” kata pengacara itu sambil duduk disalah satu kursi, sambil mengeluarkan sebuah surat kuasa yang tinggal ditandatangani saja.


Valerie terdiam, dia merasa sedih. Apa dia akan secepatnya bercerai dari Earlangga?


Valerie menatap Darren.


“Aku ingin bertemu dengan Aldric dulu. Aku ingin memastikan dia bayiku atau bukan,” kata Valerie.


“Baiklah kalau kau memaksa, ayo ikut aku!” ucap Darren sambil berdiri.


Valerie langsung mengikutinya berdiri, dia sangat ingin bertemu bayinya.

__ADS_1


Darren melangkah masuk rumah besar itu lalu menaiki tangga, Valerie mengikutinya dengan hati yang berdebar-debar tidak sabar ingin bertemu bayinya.


Sampailah Darren di sebuah pintu. Valerie langsung saja memegang gagang pintunya tapi ternyata terkunci.


Diapun mencoba membukanya ternyata dikunci, diapun menoleh pada Darren.


“Kau tidak bisa dengan mudah masuk begitu saja,” ucap Darren, membuat Valerie kesal.


“Aku sudah datang kesini, kau masih mempersulitku bertemu bayiku? Jangan-jangan kau membohongiku?” bentak Valerie, menatao Darren dengan marah.


Darren menunjuk kearah jendela kamar itu. Valeriepun segera menuju jendela yang terbuka itu dengan hati yang terus berdebar kencang.


Dilihatnya di dalam kamar yang luas itu ada tempat tidur bayi. Ada soerang bayi yang sedang


tidur disana. Ternyata bayi itu tidak sendiri, ada seorang wanita yang bersamanya.


Terdengar bayi


itu menangis. Wanita itu mendekatinya dan mengganti pempersnya, ternyata


pampersnya bocor.


Valerie


tidak bisa melihat bayi itu dikejauhan. Tangannya memegang teralis jendela itu


yang terbuka.


“Cup cup sayang,


kau mengompol banyak sekali,” kata wanita itu.


Valerie benar-benar tidak sabar ingin melihat jelas bayinya. Diapun menoleh pada Darren.


“Aku ingin melihatnya,” ucapnya dengan frustasi.


Darren mendeketi jendela dan memanggil wanita yang didalam itu.


“Surti, bawa bayi itu kemari!” kata Darren.


Wanita yang dipanggil Surti itu menoleh kearah Darren.


“Baik Pak,” jawab Surti, lalu menggendong bayi itu yang sudah selesai diganti pampers.


Valerie sangat tidak sabar ingn melihat bayi itu. Tangannya tampak gemetaran sembil memegang teralis, dia terlihat cemas, gelisah dan panic. Airmata sudah jatuh saja dipipinya.


“Bayiku..kau bayiku?” gumamnya, saat Surti mendekati jendela.


“Stop!” terdengar suara Darren yang menyuruh stop Surti berjalan. Surti pun menghentikan langkahnya.


“Perlihatkan bayinya,” kata Darren.


Surti merobah posisi menggendongnya supaya wajahnya bayi itu bisa dilihat Valerie.


Sudah tidak bisa diucapkan oleh kata-kata, airmata itu terus deras membasahi pipi Valerie saat melihat wajah tampannya Aldric. Tidak bisa dipungkiri bayi itu memang mirip Earlangga. Mata beningnya seperti mencari-cari sesuatu, hidung mancung dan bibirnya yang mungil, bayi itu terlihat sangat tampan dan lucu, dia gemuk dan sehat.


“Sayang, ini Ibu, Nak,” ucap Valerie, dengan suara terbata-bata. Tangan bayi itu bergerak-gerak menyentuh bajunya Surti.


“Aku ingin menggendongnya, Darren,” ucap Valerie.


“Kau bisa menggedendongnya setelah surat kuasa kau tandatangani,” kata Darren,membuat Valerie menoleh dan menatap pria itu.


“Apa? Kenapa kau begitu kejam padaku!” teriak Valerie.


“Kalau tidak begitu kau akan kabur,” kata Darren.


“Aku tidak akan kabur Darren, tolong, aku ingin memeluk bayiku,” ucap Valerie memegang bajunya Darren memohon Darren mengijinkannya masuk.


“Tolong Darren, tolonglah  aku mau menadatangani surat kuasa itu, mana suratnya, aku ingin memeluk bayiku,” ucap Valerie, lalu menunduk sedih.


Darren tidak bicara, menatap wanita itu yang terus seja menangis.


************


Readers kita ngebut ya…jangan lupa likenya.


Meskipun sebenarnya udah nambah sibuk lagi krna anak-anak sudah mulai sekolah tapi aku usahain up.


Dan kejadian dulu terulang lagi readers, aku ngisi quota harga 60 ribu sehari habis jadi aku harus ngisi lagi. Bahkan pernah sampai sebulan itu 300 ribu hanya untuk quota khusus buat upload novel saja, bukan baca ya, aku engga baca-baca novel lain cos ga sempat.


Makanya kalau pernah ada yang komen ke aku penulis banyak alasan. Ga usah ngajak aku ngebuktiin pengorbanan aku menulis deh, mending diem aja daripada lu malu kalau gue rinci.


Aku masih mending punya penghasilan lain, coba kalau bagi penulis yang ngandelin dari nulis doang, kasihan mereka udah tekor yang dapat cuma nyinyiran.


**************


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2