Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-32 Malam Pengantin


__ADS_3

Setelah acara pernikahan selesai, pengantin kembali ke rumah, Earlangga tidak mau menghabiskan waktunya berdua-dua dengan Valerie di hotel. Valerie menurut saja, meskipun dia merasa tidak enak dengan sikap Earlangga yang ketus padanya.


Tapi tidak ada yang bisa dilakukan Valerie selain bersabar dan memposisikan kalau dia bukan istrinya Earlangga. Dan dia juga harus faham kondisi Earlangga yang terpaksa bertanggung jawab atas apa yang tidak dilakukannya.


Earlangga membuka baju luar pengantinnya dengan kasar, lalu dilempar ke sofa. Dia kesal sangat kesal, mulai hari ini statusnya menjadi suami wanita yang sedang hamil oleh pria lain, benar-benar hari yang sangat buruk.


Valerie melihat baju yang dilempar ke sofa, segera mengambil baju itu. Dilihatnya Earlangga masuk ke kamar mandi. Valerie mancari kapstok menyimpan baju kotor ternyata tidak ada, memang di kamar  itu tidak pernah ada pakaian tertumpuk atau tergantung, sepertinya tempat baju kotorada dikamar mandi. Diapun duduk dipinggir tempat tidur dengan baju ditangannya.


Dia menoleh saat Earlangga keluar dari kamae mandi, masuk ke walk in closet dan kembali sudah berganti pakaian tidur, langsung berbaring saja di tempat tidur tanpa bicara, mengacuhkan Valerie yang ada dikamar itu.


 Valerie menghela nafas panjang, malam pengantin tidak akan seperti malam pengantin pada umumnya. Suaminya begitu membencinya.


Earlangga beberapa kali merubah posisi tidurnya yang tidak nyaman.


“Pak!” panggil Valerie.


Earlangga tidak menjawab, dia malah membelakangi Valerie.


“Saya minta maaf atas kejadian ini,” ucap Valerie. Earlangga tidak menjawab.


“Saya…” belum selesai Valerie bicara, Earlangga sudah memotong.


“Kau berisik mengganggu tidurku,” kata Earlangga. Sudah cukup jelas dia tidak mau bicara.


“Baiklah, selamat tidur,” ucap Valerie, tidak ada jawaban, dilihatnya pria itu sedang memeluk guling membelakanginya.


Valerie melihat ke sekeliling, tidak ada pakaiannya disini, pakaiannya ada di rumahnya Bu Asni. Diapun masuk ke kamar mandi, menyimpan baju kotornya Earlangga, lalu keluar lagi bukan hanya dari kamar mandi tapi dari kamar itu.


Valerie menutup pintu itu masih dengan baju pengantinnya, tiba-tiba dia berpapasan dengan Lorena yang juga akan pergi ke kamarnya.


“Ada apa? Kenapa ka keluar kamar? Mana Earlangga?” tanya Lorena.


“Pak Earlangga sudah tidur, saya mau ke rumahnya Bu Asni, baju gantinya ada disana,” kata Valerie.


Lorena melihat kelantai bawah.


“Pak Sobri! Pak Sobri!”teriaknya.


“Ya Bu!” jawab Pak Sobri segera berlari menghampiri dan naik ke lantai atas.


“Ambilkan pakaiannya Valerie dirumah Bu Asni,” perintah Lorena.


“Tidak usah Nyonya, bisa saya ambil sendiri,” kata Valerie.


“Tidak apa-apa, kau kan istrinya Earlangga, kau juga Nyonya di rumah ini,” kata Lorena.


“E eh, Nyonya apa?” tiba-tiba suara Ny. Grace memotong, dia muncul dari bawah tangga.


“Aku menyuruh Pak Sobri mengambil bajunya Valerie,” kata Lorena.


“Manja amat, ambil saja sendiri, atau kau tidur saja disana, tidak usah tidur di kamarnya Earlangga,” ujar Ny.Grace menatap Valerie.

__ADS_1


“Bu, Valerie istrinya Earlangga, jadi dia juga Nyonya dirumah disini,” kata Lorena.


“Tidak ada Nyonya! Dia menikah hanya untuk menunggu sampai bayinya lahir saja, tidak perlu ada Nyonya-Nyonya segala, Earlangga juga tidak mengaku menghamilinya, kalau bukan terlanjur malu, aku juga tidak akan pernah merestuinya jadi bagian keluarga ini,” ucap Ny.Grace.


Mendengar perkataan-perkataan Ny. Grace membuat Valerie sakit dan sedih. Pak Sobri hanya diam saja mematung melihat pertengkaran itu.


“Biar saya ambil sendiri Nyonya,” kata Valerie, dengan mata yang sudah memerah, dan ingin menangis. Sambil menunduk, dia mengangkat gaun pengantinnya menuruni tangga. Tates airmatanya tumpah satu persau membasahi gaunnya.


Pak Sobri kembali turun dengan bingung.


“Tunggu Pak Sobri!” panggil Ny.Grace


“Ya Nyonya!” kata Pak Sobri menghentikan langkahnya.


“Ingat ya, dia bukan Nyonya disini, tidak perlu memanjakannya,” kata Ny. Grace.


Pak Sobri hanya mengangguk.


Lorena menoleh pada Ny.Grace yang segera pergi tidak mau mendengar protesnya Lorena.


“Ada apa?” tanya Sean baru datang, menaiki tangga.


“Mau kemana Valerie?” tanyanya saat melihat Valerie berbelok ke ruangan belakang.


“Bajunya masih ada diurmahnya Bu Asni,” jawab Lorena.


“Kenapa tidak menyuruh pelayan lain saja untuk membawanya?” tanya Sean.


“Apa?” Sean terkejut.


“Apa lagi? Kau protes?” Terdengar suara Ny.Grace yang muncul lagi diruangan itu.


“Ibu, dia menantu dirumah ini, tidak perlu seperti itu,”kata Sean.


“Kau lupa? Dia disini hanya menunggu sampai bayinya lahir. Earlangga jelas-jelas tidak mengaku menghamilinya, jadi dia bukan menantu dirumah ini,” ucap Ny. Grace.


“Meskipun begitu, jangan mempelakukannya begitu Bu,kasihan, dia lagi hamil. Seharian ini dia berdiri dipelaminan, pasti dia sangat lelah,” kata Sean.


“Kalian terlalu memanjakannya, nanti lama-lama dia ngelunjak,” ujar Ny.Grace, lalu membalikkan badannya pergi lagi.


Lorena menoleh pada Sean.


“Sudahlah ayo kita tidur,” ujar Sean, memeluk pinggang istrinya, merekapun menuju kamar mereka.


Valerie sampai dirumah Bi Asni sambil mengusap-usap airmatanya. Perlahan dia membuka pintu rumah itu yang ternyata dikunci jadi terpaksa dia mengetuk- ngetuknya.


Bu Asni yang sudah terlelap, merasa heran ada ketukan dipintu rumahnya.


Dengan rasa kantuknya dia membukakan pinu rumah itu dan terkejut saat melihat Valerie sudah berdiri disana masih dengan gaun pengantinnya.


“Kau sedang apa disini?” tanya Bu Asni keheranan.

__ADS_1


“Aku mau ganti baju, bajuku masih ada disini,” jawab Valerie.


“Ayo masuklah, kenapa tidak menyuruh pelayan lain saja untuk mengambilnya. Kau kan Nyonya sekarang dirumah ini,“ kata Bu Asni.


“Tidak apa-apa Bu, aku ambil sendiri saja,” jawab Valerie, sambil menunduk dan masuk kekamarnya.


Bu Asni menatap kepergiannya dengan keheranan, diapun mengikuti Valerie.


“Biar ibu bantu,” kata Bu Asni, membantu membukakan gaun pengantinnya Valerie.


Valerie mengambil baju tidurnya dan dipakainya, diapun duduk didepan maja rias.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya Bu Asni.


“Tidak ada Bu, aku hanya lelah,” jawab Valerie, lalu mendekati tempat tidur dan berbaring disana.


“Kenapa kau malah tidur disitu? Kembali kerumah utama, suamimu pasti menunggumu,” kata Bu Asni.


“Tidak ada yang menungguku disana, aku tidur disini saja,” jawab Valerie.


“Sayang, ini malam pengantinmu, tidak baik kau meninggalkan kamar suamimu,” ucap Bu Asni.


“Dia bukan suamiku Bu, Pak Earlangga bukan suamiku, aku harus terbiasa begitu,” ucap Valerie malah memejamkan matanya.


“Sayang, jangan begitu, meskipun Pak Earlangga mungkin bersikap ketus padamu, kau tetap istrinya, kau tidak perlu memperdulikan sikapnya, nikmati hari-harimu, tegarlah, bersenang-senanglah, buat hatimu bahagia, jangan hiraukan apapun yang terjadi, jalani hari- harimu dengan bahagia. Wanita hamil itu harus bahagia, karena itu akan berpengaruh pada janin,” kata Bu Asni.


Valerie menatap Bu Asni, masih berbaring ditempat tidurnya.


“Kembali ke kamar suamimu, kau tidak perlu memperdulikan sikapnya,” kata Bu Asni.


Valerie terdiam sesaat lalu diapun bangun. Bu Asni mengambil koper kosongnya Valerie.


“Mau apa Bu?” tanya Valerie.


“Memindahkan pakaianmu,” kata Bu Asni.


“Ibu mengsirku?” tanya Valerie.


“Iya Ibu mengusirmu. Kau nyonya sekarang, ini rumah pelayan-pelayanmu, kau harus tinggal disana, bawa baju-bajumu,” kata Bu Asni.


“Tidak Bu, aku bukan Nyonya disana,” jawab Valerie sambil bangun, dan airmata menetas lagi dipipinya.


“Kau salah, kau Nyonya disana, kau sudah dinikahi Pak Earlangga, kau berhak tinggal disana,” kata Bu Asni, memasukkan baju-bajunya Valerie kedalam koper.


“Ayo aku antar ke rumah utama,” kata Bu Asni.


“Tidak Bu, aku pergi sendiri saja,” kata Valerie sambil turun dari tempat tidur, lalu mengambil kopernya.


Dia memang masih bingung dengan semua ini, rasanya tidak tahu malu pindah ke rumah majikannya. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya, diapun membawa kopernya menuju rumah utama.


Bu Asni hanya menatap kepergiannya.

__ADS_1


**************


__ADS_2