Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-2 Keluarga yang kacau


__ADS_3

Brugh! Brugh! Brugh! Terdengar suara gedoran di pintu, bukan gedoran lagi tapi seperti menendang-nendang.


Klutrak! Knop pintu diputar, belum sempat pintu di buka, seseorang dari luar mendorongnya dengan keras, sampai pintu terbuka dengan lebar.


Seorang pria tinggi besar masuk dengan sempoyongan, dari mulutnya tercium bau alcohol.


“Kau mabuk lagi?” bentak seorang wanita yang membuka pintu itu.


Pria itu tidak menjawab, dia terus berjalan masuk dengan sempoyongan.


“Darren! Kau tidak bisa terus-terusan begini!” teriak wanita itu.


“A aah! Bosan dengar ceramahmu!” teriak pria yang dipanggil Darren itu.


“Tiap hari kau mabuk-mabukan, bukannya mencari pekerjaan! Kita akan jatuh miskin kalau tidak ada yang bekerja di rumah ini!” teriak wanita itu lagi, dengan marah.


“Berisik! Jangan ikut campur urusanku!” balas Darren yang juga berteriak, terus berjalan dengan menabrak-nabrak barang yang ada di depannya.


Terdengar suara mobil memasuki halaman. Wanita itu keluar, melihat siapa yang datang.


Seorang gadis dengan dandanan yang glamour turun dari mobilnya sambil tertawa-tawa. Dilihatnya gadis itu berciuman dengan seseorang di dalam mobil, lalu keluar dari mobil itu masih dengan tawanya.


Kaca jendela mobil terbuka, seseorang yang didalam mobil itu memanggilnya, gadis itu menoleh lalu membalikkan tubuhnya melongokkan wajahnya kedalam mobil dan berciuman lagi dengan pria yang ada didalam mobil itu. Setelah itu  gadis itu mengambil kantong-kantong di bagasi mobil, barulah mobil itu pergi.


Gadis itu berjalan menghampiri wanita yang berdiri menatapnya itu.


“Kau juga, pulang larut malam! Bukankah besok kau ujian?” tanya wanita itu.


“Pusing memikirkan ujian, lebih baik senang-senang!” kata gadis itu sambil berjalan masuk melewati wanita itu.


“Kau juga mabuk?” tanya wanita itu yang mencium aroma alcohol saat gadis itu lewat.


“Minum sedikit! Ada temanku yang ulang tahun!” jawab gadis itu, lalu pergi meninggalkan wanita itu.


“Jeni! Siapa pria tadi? Pacarmu? Ibu lihat bukan pria yang mengantarmu kemarin?” tanya wanita itu.


“Itu Ferdy, pacar baruku!” jawab gadis itu tanpa menoleh.


“Kau gampang sekali gonta ganti pacar!” keluh wanita itu.


“Tentu saja aku mencari-cari pria yang kaya Bu! Aku ingin hidup senang terus! Aku tidak mau kekurangan uang!” jawab Jeni masih terus berjalan meninggalkan ibunya.


“Tapi kau juga harus memilih milih pria, jangan seperti ayahmu!” teriak wanita itu.


“Bukan aku yang memilih ayah, tapi ibu! Lagipula buat apa memperdulikannya? Biarkan  saja ayah pergi dengan wanita lain yang penting uang mengalir!” kata Jeni.

__ADS_1


“Justru itu, ayahmu sudah lama tidak mengirim ibu lagi uang, kau jangan boros- boros!” kata wanita itu.


Wanita itu benar-benar kesal melihat putra dan putrinya yang seperti itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia berjalan masuk dan melihat seseorang pria tua bertubuh sangat kurus  yang duduk di kursi roda yang menatapnya.


“Apa yang ayah lihat? Ini semua gara-gara ayah! Kalau ayah tidak sakit-sakitan dan membebaniku semua ini tidak akan terjadi! Aku menikah dengan pria yang tidak bertanggung jawab, main perempuan dan sekarang entah pegri kemana dengan perempuan itu. Anak-anakku juga tidak ada yang bisa diandalkan! Untung ibu sudah meninggal, kalau masih hidup akan membebaniku lagi! Semua ini benar-benar membuatku pusing!” umpat wanita itu, sambil menutup pintu rumah dengan keras.


“Nisa!” panggil pria itu dengan suara yang lemah.


“Apa? Sebaiknya kau masuk ke kamarmu! Percuma kau ada disini juga kau tidak bisa melakukan apa-apa!” jawab Nisa tanpa menoleh lalu pergi meninggalkan pria itu yang masih menatapnya.


Pak Tedi terdiam melihat putrinya yang memakinya. Dia hanya bisa diam, dengan kondisi tubuhnya yang tidak bisa bergerak banyak karena mengalami kelumpuhan dalam waktu yang lama, tidak ada yang hal berarti yang bisa dilakukannya! Dia menekan tombol kursi roda ternyata hanya bergerak sedikit lalu mati, dicobanya berulang-ulang masih seperti itu.


Nisa yang mendengar suara decitan kursi roda membalikkan badannya dan kembali menghampiri Pak Tedi.


“Sudah aku katakan, kau diam saja dikamar! “ bentaknya lalu dia berteriak.


“Valerie! Valerie!” teriaknya.


“Ya Nyonya!” terdengar jawaban dari seorang gadis yang berlari-lari menghampiri Nisa.


“Bawa masuk ayahku!” perintahnya.


“Baik Nyonya!” jawab gadis itu dengan mengantuk-ngantuk, langsung memegang kursi roda itu.


“Kursi rodanya harus diganti Nyonya, sudah macet dan karatan,” kata gadis yang dipanggil Valerie itu.


“Nyonya!” panggil Valerie


“Ada apa lagi?’ bentak Nisa.


“Saya akan ujian besok, tapi saya belum membayar uang kuliah saya Nyonya saya tidak bisa mengikuti ujian kalau belum bayar Nyonya. Nyonya kan sudah berbulan bulan tidak menggaji saya,” kata Valerie, menatap majikannya dengan takut.


Nisa membalikkan badan menatap Valerie.


“Heh! Sudah untung aku masih mau merawatmu disini, kau makan dan minum juga tinggal di rumah ini dengan gratis! Sok sok-an menanyakan gaji segala! Kalau miskin,miskin saja jangan sok kuliah segala! Tahu diri dong!” bentak Nisa.


“Mbok Narti mengajak saya bekerja disini karena saya mau kuliah Nyonya,” kata gadis itu.


“Sudah tidak perlu membawa-bawa orang yang sudah meninggal! Sudah untung kau bisa makan tinggal disini atau kau akan tidur dijalanan. Ini kota besar! Tidak ada yang murah disini!” bentak Nisa lagi.


“Cepat-cepat bawa masuk! Cerewet! Banyak protes!” maki Nisa lalu beranjak meninggalkan Valerie yang terdiam dengan kecewa. Diapun menahan rasa sakit dihatinya dan mendorong kursi roda itu yang macet-macet masuk kerungan lain, menuju kamarnya Pak Tedi.


Nisa berjalan akan memasuki kamarnya, terdengar hingar bingar music yang memekakkan telinga di kamar yang dilewatinya.


“Darren berisik!” terdengar suara gadis tadi berteriak sambil keluar dari kamar lainnya dan menggedor-gedor pintu kamar.

__ADS_1


Tidak ada respon hanya suara music itu semakin dikeraskan membuat gadis itu kesal dan menendang pintu kamar.


Nisa menghela nafas panjang melihat keributan itu, dia benar-benar merasa stress, lalu mengacuhkannya dan pergi menuju kamarnya.


Brugh! Dia juga menutup pintu kamar dengan kesal. Dilihatnya foto yang berada diatas meja disebuah lemari kecil. Diambilnya foto itu dan dilihatnya foto sepasang pengantin.


“Dasar pria brengsek! Aku menikahi pria brengsek!” umpatnya lalu menutup bingkai foto itu dengan kesal, diapun duduk di pinggir tempat tidur dan menangis, lalu berteriak, melempar bantal-bantal dan menarik spre yang sudah ditata rapih itu menjadi acak-acakkan.


“Kenapa hidupku harus begini?” teriaknya dengan kesal.


*************


 


Sore itu terasa cerah, meskipun matahari sudah mau tenggelam tapi rasa hangatnya masih terasa dikulit.


Tiga pria mengendarai mobil sport keluaran terbaru, terdengar suara music didalam mobil itu.


“Ternyata tempat kau dilahirkan ini sangat indah,” kata salah satu pria berkulit pucat yang duduk di depan.


“Ini juga pertama kalinya aku menginjakkan kakiku kesini,” jawab pria muda yang sedang menyetir itu yang tiada lain Earlangga, mereka baru tiba dari London.


“Kau banyak uang, masa tidak bisa sering serig melancong kesini?” tanya pria yang duudk dibelakang sambil membuka ponselnya, melihat foto-foto wanita cantik.


“Kau sudah bicara kan pada orang tuamu kalau kau datang tidak sendiri,” kata pria yang duduk disebelahnya Earlangga.


“Sudah, kalian tenang saja, orang tuaku baik, mereka pasti senang bisa bertemu dengan teman-temanku!” jawab Earlangga.


“Kau harus mengajakku berjalan-jalan, mumpung aku kesini, aku tidak mau melewatkan waktuku hanya dengan berdiam diri di rumah,” kata pria yang duduk di depan.


“Kau tenang saja Nick, aku juga belum mengenal kota ini,” jawab Earlangga.


“Aku ingin mencari gadis-gadis local, mereka memilki kulit yang cantik,” terdengar suara dari belakang.


“Josh! Kerjamu hanya mencari gadis-gadis saja! Pacarmu sudah banyak di London, kau mau mencari cari lagi disini?” kata Nick.


“Tidak apa-apa, aku belum pernah punya pacar berkulit eksotis,” jawab Josh.


“Kau kan hanya sebentar disini, apa kau akan meninggalkan gadismu begitu saja? Kasihan dia!” kata Earlangga.


“Hidup ini untuk bersenang-senang Earl, jangan buang-buang waktu!” ucap Josh masih sibuk dengan ponselnya.


“Aku menemukan tempat party! Bagaimana kalau nanti malam kita pergi kesana?” seru Josh tiba-tiba.


“Boleh!” jawab Nick. Earlangga tidak bicara, dia hanya tersenyum saja dan focus menjalankan mobilnya, sesekali melihat GPS yang ada di depannya.

__ADS_1


**************


__ADS_2