
Malam itu Sam masih di kantornya Sean, dia berjalan mendekati sekretarisnya Sean yang juga belum pulang.
“Pak Sean masih diruang meeting?” tanya Sam pada Bu Devi.
“Iya, jadwalnya sangat padat hari ini,” jawab Bu Devi.
Sam melihat jam di tangannya, hari sudah menunjukan pukul 8 malam. Sudah malam begini dia masih di ruang meeting. Sejak diselengagakan acara kontes, pekerjaan Sam memang dikurangi supaya dia lebih focus untuk mengurus kontes juga, jadi dia tidak selalu mendampingi Sean, dia lebih banyak mengerjakan yang lebih bersifat internal atau untuk sekedar menemani Sean.
Sedang memikirkan Sean, tiba-tiba pria itu muncul dibalik tembok, sekarang sedang berjalan kearahnya diikuti beberapa orang karyawan.
Sam menatap Sean yang tampak lelah dan masuk ke ruang kerjanya. Sam buru-buru mengikutinya.
“Kau sangat sibuk tapi aku tidak mau menunggu lagi,” ucap Sam, sambil menoleh ke belakang, ternyata karyawan tadi tidak ikut masuk, hanya berhenti di meja Bu Devi.
“Menunggu apa?” tanya Sean, dia membuka jasnya lalu disimpan di kursinya, dia juga mulai membuka kancing lengan kemejanya.
Sam mendekatkan kepalanya ke telinga Sean.
“Apa kau jatuh cinta pada Lorena?” bisik Sam, membuat Sean terkejut dan menatapnya.
“Kau ini bicara apa?” tanya Sean.
“Sudah jangan berbohong, apa di Paris kau berkencan dengannya?” tanya Sam lagi.
Sean menatap Sam.
“Kau tahu darimana kalau Lorena juga ke Paris?” tanya Sean.
“Tadi siang aku ke rumah kontrakan, kau juga merenovasoi rumah untuk ruang les biola, apa kau akan membeli rumah itu? Kau seharusnya bicara dulu padaku!” kata Sam.
“Aku tidak sempat menelponmu, jadwalku padat,” ucap Sean, dia berjalan kearah ruangan lain yang ada di ruang kerjanya itu, disana ada sebuah kamar lengkap dengan tempat tidur,lemari pakaian, juga kamar mandi.
Sean masuk ke kamar mandi, Sam masih mengikutinya.
“Aku mau mandi, apa kau juga mau ikut mandi?” tanya Sean.
Sam langsung mundur lagi, dia benar-benar penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan majikan juga temannya itu.
Diapun kembali ke ruang kerja Sean, duduk di sofa menunggu Sean selesai mandi dengan rasa yang tidak sabar.
Setelah cukup lama menunggu Sean mandi, akhirnya pria itu selesai juga dan sudah berganti pakaian.
“Kau masih disini? Aku masih banyak pekerjaan,” ucap Sean, sambil memakai jam tangannya.
“Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? ” tanya Sam.
“Tidak terjadi apa-apa,” jawab Sean.
“Kalau kau jatuh cinta pada Lorena, kau akui saja, bukankah itu bagus? Kau bisa langsung menikah dengannya, semua masalahmu beres. Soal kontes kita tutup, kita bisa memberikan ganti rugi uang pada peserta, semua akan beres,” ucap Sam.
“Tidak semudah itu,” kata Sean, sambil menatap Sam.
“Tidak semudah itu? Kenapa?” tanya Sam, tidak mengerti.
“Dia tidak suka kalau ternyata aku Presdirnya,” jawab Sean.
“Kau pernah menanyakan itu pada Lorena?” tanya Sam, agak terkejut mendengar jawaban Sean.
“Iya. Dia akan berhenti ikut kontes kalau ternyata aku presdirnya,” jawab Sean.
“Terus, jadi bagaimana? Memang kau presdirnya. Atau kau akan selamanya pura-pura jadi asistenku? Tidak mungkin kan? Kau akan menikah, dia akan tahu siapa kau sebenarnya,” kata Sam.
“Itu yang aku bingung, aku takut dia menolakku,” ucap Sean.
__ADS_1
Sam tiba-tiba saja tertawa.
“Dunia benar-benar sudah terbalik, seorang Sean yang jadi idola sejak remaja, yang jadi impian setiap wanita, takut ditolak? Apa benar dia akan menolakmu?” tanya Sam.
“Itu yang dia katakan padaku, dia tidak mau suami yang suka berbohong,” ucap Sean.
Sam mulai menggaruk- garuk kepalanya pertanda bingung.
“Terus bagaimana jadinya?” tanya Sam.
“Makanya aku pulang,” jawab Sean.
“Kau takut dia pulang kampung? Kau pulang juga percuma kau tetap saja sibuk,” kata Sam.
“Makanya aku membuat ruangan les itu biar dia sibuk dengan les Biolanya, jadi tidak akan pulang kampung. Kau urus pembayaran rumah kontrakan itu, ” kata Sean.
“Jada benar kau membeli rumah kontrakan itu?” tanya Sam.
“Iya, makanya direnovasi,” jawab Sean, kini dia duduk di kursi kerjanya, membuka lacinya mengambil beberapa berkas disana.
Sam menatap pria itu.
“Kenapa kau menatapku?” tanya Sean.
Sam menyimpan kedua tangan dipingganggnya, masih menatap Sean yang juga menatapnya.
“Kau benar-benar sedang dimabuk cinta teman,” ucapnya.
“Sudahlah, jangan mengejekku, kau kerjakan saja perintahku, urus pembelian rumah itu. Kau pastikan supaya dia tidak pulang kampung,” ucap Sean.
“Kau benar-benar takut dia pulang kampung? Ceritanya dia menjadi tahanan kota? Atau tahanan rumah kontrakanmu, atau tahanan dihatimu?” tanya Sam sambil tertawa.
“Kau terus mengejekku,” keluh Sean. Sam masih saja tertawa.
Kini Sam menghentikan tawanya.
“Apa bedanya, sekarang kau katakan kalau kau Presdirnya atau kalau kontes selesai? Kan sama saja dia akan menolakmu kalau memang katamu tadi dia tidak mau kau bohongi,” ucap Sam.
“Ya setidaknya aku punya waktu untuk membuatnya jatuh cinta padaku, jadi apapun yang terjadi nanti dia tidak akan menolakku,” kata Sean.
Sam menatap pria di depannya itu.
“Akhirnya ada juga peserta kontes yang membuatmu jatuh cinta. Aku sudah pusing tujuh keliling memilih wanita yang bisa membuatmu jatuh cinta. Tugasku akhirnya selesai,” ucap Sam.
“Belum selesai, kau masih punya tugas lain,” kata Sean.
“Tugas apa? Aku tinggal membuat kontes pura-pura saja sampai dia menang,” kata Sam.
“Kau harus membantuku supaya dia jatuh cinta padaku dan tidak akan menolakku apapun yang terjadi nanti,” kata Sean.
“Kau takut di tolak?” tanya Sam, menatap Sean dengan serius.
“Aku tidak pernah ditolak, aku takut ditolak,” jawab Sean dengan jujur.
“Kenapa kau tidak jadi pede begini? Kau tampan, kaya raya, apalagi yang kurang? Masa takut ditolak?” tanya Sam.
“Kenyataannya memang begitu, aku takut patah hati,” kata Sean.
“Tenyata kau krisis pede,” gumam Sam.
“Sudahlah, aku sibuk. Kau kerjakan saja tugasmu tadi, jaga dia jangan sampai pulang kampung, kau kerjakan saja itu,” ucap Sean.
“Dia benar-benar menjadi tahanan kota nih?” tanya Sam.
__ADS_1
“Bukan tahanan kota, tapi tahanan di hatiku,” jawab Sean, membuat Sam tertawa mendengarnya.
“Baiklah, aku akan menjaganya jangan sampai dia pulang kampung, aku juga tidak tega kalau kau patah hati,” ucap Sam.
Sean bangun dari duduknya dengan membawa berkas yang diambilnya dalam laci tadi, diapun keluar dari ruangan itu. Sam hanya menatap kepergiannya.
“Sean, Sean, kau jatuh cinta segitunya, aku rasa Lorena tidak akan menolakmu, apa benar dia akan menolakmu? Rasanya tidak mungkin,” gumam Sam tampak bingung.
******
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sean sedang ada diruangannya.
“Pak, kita akan lanjut meetingnya?” tanya Bu Devi, dia juga belum pulang padahal sudah melebihi jam kerja.
“Stop saja,” jawab Sean.
“Aku akan pulang,” lanjutnya.
“Tapi masih banyak yang belum Bapak periksa, itu artinya kita harus menambah hari lagi untuk biaya akomodasi tamu-tamu dari luar Pak,” ucap Bu Devi.
“Tidak apa-apa kau siapkan saja dananya, pokoknya setiap jam 10 stop. Aku ingin pulang,” jawab Sean, sambil beranjak dari kursinya.
“Baik,” jawab Bu Devi, sambil menatap pria muda itu.
Pak Deni masuk ke dalam ruangan itu.
“Kau akan pulang?” tanya Pak Deni, menatap Sean.
“Iya,” jawab Sean.
“Ke rumah?” tanya pak Deni lagi.
“Tidak, ke kontrakan. Kau tangani saja apa yang bisa kau kerjakan. Aku pulang,” ucap Sean.
Pak Denipun mengangguk, lalu menatap Bu Devi.
“Tumben sekali Pak Sean membatasi jam kerjanya sampai pukul 10 malam,” ucap Bu Devi, juga menatap Pak Deni.
“Kau benar, pekerjaan sangat banyak, biasanya minimal jam 12 malam dia behenti bekerja” ucap Pak Deni.
“Kita juga harus menambah biaya akomodasi tamu tamu dari luar negeri, karena pekerjaannya ditunda besok, padahal ada beberapa yang hanya tinggal tandantangan saja Pak. Pak Sean memilih mengeluarkan tambahan biaya,” ucap Bu Devi, tampak keheranan.
“Kau kerjakan saja apa perintahnya, aku akan kembali ke ruang meeting,” jawab Pak Deni.
Pak Deni keluar ruangan. Sebenarnya dia juga tidak habis fikir dengan perubahan sikapnya Sean yang tiba-tiba merubah jadwal kerjanya. Bahkan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan di Luar negeri beralih semua ke kantor ini, benar-benar pekerjaan yang merepotkan dan buang buang uang.
Apa telah terjadi sesuatu? Apa yang menyebabkan pria itu berubah? Pak Deni bertanya-tanya dalam hati.
Sesampainya di rumah, Pak Roby masih menunggunya diruang tamu. Begitu mendengar suara mobil masuk, dia bergegas membukakan pintu buat Sean.
Sean masuk ke rumah kontrakan itu. Beberapa hari tidak tinggal dirumah itu rasanya sangat membuatnya rindu, apalagi dengan suara yang sekarang dia dengar, suara music biola, ada senyum dibibirnya.
“Dia sedang bermain music?” tanya Sean pada Pak Roby yang langsung mengangguk. Sean langsung menaiki tangga, berhenti sebentar di ruangan pemisah kamarnya dengan kamar Lorena. Suara biola itu semakin jelas terdengar. Seperti malam malam sebelumnya, lagu itu sering Lorena mainkan setiap akan tidur.
Sean masuk ke kamarnya, duduk ditempat tidur, masih mendengarkan suara music biola itu. Dia meninggalkan pekerjaannya yang sangat penting hanya untuk mendengarkan music biola itu, biasanya Lorena akan tidur sekitar jam 10-11 malam, makanya dia menjadwalkan jam kerjanya hanya sampai jam 10 malam supaya bisa mendengarkan music biola yang Lorena mainkan.
“Apa yang difikirkan wanita itu sekarang?” batinnya, sambil meraih bantalnya dan berbaring ditempat tidur. Music itu masih terus mengalun. Sean masih mendengarkan music itu. Setiap malam dia mendengarnya sampai sampai dia menjadi hafal nadanya dan bisa memainkannya saat ulang tahun di Paris kemarin.
Apa dia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu? Rasanya dia tidak sanggup berlama-lama diluar negeri tanpa melihat wajahnya, melihat senyumnya, mendengar permainan musicnya, meskipun setiap bertemu ada saja yang membuat mereka bertengkar, tapi hari-hari itu semakin membuatnya merasa bahagia. Lambat laun Seanpun terlelap dalam tidurnya.
*****************
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen