
Mobilnya Sean dan Lorena memasuki halaman rumah kontrakan yang kini jadi miliknya Sean.
Tidak jauh dari jalan itu, sebuah mobil yang ternyata membuntuti mereka berhenti disebrang kiri jalan di depan rumahnya Sean itu.
“Ternyata gadis itu hanya gadis miskin yang numpang tinggal di rumahnya Sean? Benar-benar tidak punya harga diri tinggal serumah bersama pria yang bukan siapa-siapanya,” kata gadis itu yang ternyata adalah Nisa, disampingnya duduk Bela, yang ikut melongok ke jendela sebelah Nisa yang terbuka.
“Kita laporkan saja pada Pak Rt, biar digerebeg,” usul Bela.
“Ya jangan dong, kalau digerebeg mereka malah dikawinin, kau ini bagaimana sih, ngasih ide yang pinteran dikit dong!” umpat Nisa. Bela hanya tersenyum kecut.
“Sudah ada infromasi lomba selanjutnya belum?” tanya Nisa.
“Belum sih, cuma ku dengar obrolan panitia tadi sekilas, kemungkinan fashion Show,” jawab Bela.
“Fashion Show?” tanya Nisa.
“Iya, Fashion Show baju tradisional,” jawab Bela.
Nisa langsung tersenyum senang.
“Peluang yang sangat bagus, aku pasti bisa memenangkannya. Diatas panggung Sean bisa dengan leluasa melihat kecantikanku, aku akan memilih baju terbaik di butik ibuku,” kata Nisa.
“Aku tahu kau pasti akan sangat cantik di atas panggung,” puji Bela.
“Aku yakin wanita penggoda itu gadis miskin yang hanya mengejar uangnya Sean, kalau tidak buat apa dia numpang di rumah itu? Apa dia tidak mampu membayar kontrakan di ibukota?” gumam Nisa.
“Kau benar, sepertinya dia gadis yang miskin makanya dia merendahkan dirinya pada Sean,” ucap Bela.
“Aku jadi ingin lihat baju seperti apa yang dia pakai? Dia pasti tidak mampu membeli baju yang bagus,” kata Nisa.
“Tapi kalau Sean memberinya uang pasti dia memakai baju yang bagus,” kata Bela. Nisa langsung melotot pada Bela.
“Oh ya maksudku dia tidak akan mampu membeli baju bagus,” ralat Bela,
“Lomba tinggal beberapa tahap lagi, aku harus segera membuatnya gugur,” ucap Nisa.
Setelah cukup lama bercakap-cakap, akhirnya Nisa kembali menjalankan mobilnya meninggalkan jalan didepan rumahnya Sean itu.
Turun dari mobilnya Sean, Lorena langsung ke kamarnya, begitu juga dengan Sean, dia akan bersiap-siap pergi ke kantor, pekerjaan sudah menunggunya.
Lorena sedang bersiap-siap ke restaurant untuk tampil bermian biola disana. Dia masih rajin mengumpulkan uang dari hasil bermain biolanya.
Tiba-tiba terdengar ketukan dipintu. Lorena segera membukanya, dilihatnya Sean sudah berdiri, dia terlihat sudah rapih dengan pakaian kerjanya.
Sean menatap Lorena yang juga sudah berdandadn cantik.
“Kau mau kemana?” tanya Sean. Kenapa melihat Lorena sudah berdandan cantik, hatinya merasa gelisah? Dia merasa takut ada pria yang mencoba mendekati Lorena lagi.
“Aku mau ke restaurant, aku masih kerja freelane disana,” jawab Lorena.
Sean terkejut mendengarnya dia sangat kagum pada gadis ini, meskipun Lorena dari keluarga berada tapi dia mau banting tulang bekerja keras. Sean semakin merasa yakin saja dengan perasaannya.
“Apa harus bekerja disana?” tanya Sean.
“Kenapa tidak? Anak -anak les kan nanti sore,” jawab Lorena.
Sean terdiam tidak bicara lagi.
“Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Lorena, melihat Sean hanya diam saja.
“Bagaimana kalau kita makan malam?” tanya Sean.
“Makan malam? Nanti malam?” tanya Lorena. Sean mengangguk.
“Tumben sekali kau mengajak makan malam,” kata Lorena.
“Kau mau?” tanya Sean.
Lorena malah tertawa.
“ Ceritanya kau mau mengajakku kencan?” tanya Lorena. Lagi-lagi dengan polosnya Sean mengangguk. Kenapa dia merasa seperti orang bodoh di depan Lorena?
“Iya, kau kan pacarku sekarang,” kata Sean.
“Apa? Pacar? Kapan kau menembakku?” tanya Lorena, membuat Sean kaget.
“Kan samalam aku sudah mengatakan,” kata Sean dengan wajahnya yang mendadak jadi pucat.
“Mengatakan apa?” tanya Lorena.
“Aku cinta padamu,” jawab Sean, benar-benar mendadak jadi orang bodoh.
“Itu kan hanya ungkapan saja, bukan menembak,” kata Lorena.
__ADS_1
Sean terdiam, memang kalau menembak harus bagaimana?
“Memangnya kalau menembak harus bagaimana?” tanya Sean.
“Kau kan punya banyak pacar, masa tidak tahu cara menembak,” keluh Lorena.
“Karena aku memang tidak pernah menembak,” kata Sean.
“Bagaimana kau bisa pacaran dengan banyak gadis tanpa menembak?” tanya Lorena keheranan.
“Aku hanya bilang ayo makan denganku dan langsung jalan,” jawab Sean, membuat Lorena tertawa.
“Jadi kau mengajakku makan malam itu artinya menembak?” tanyanya.
Wajah Sean langsung memerah.
“Memangnya aku harus bertanya apa?” tanya Sean.
“Seharusnya kau tanya, Lorena apa kau mau jadi pacarku?” ucap Lorena malah mengajari Sean.
“Oh aku harus bertanya begitu?” tanya Sean kebingungan, membuat Lorena tidak bisa menahan senyumnya. Sungguh aneh, pria yang banyak pacarnya tapi tidak bisa mengungkapkan cintanya.
Seanpun menatap Lorena, keringant dingin muncul di keningnya, seperti dia sudah berlari jauh saja.
“Baiklah, apa kau mau…” Sean menghentikan kata-katanya. Kenapa jantungnya malah berdebar semakin kencang? Bagaimana kalau ternyata Lorena menolaknya?
Lorena masih menatapnya, menatap wajah pria tampan itu yang kini berubah pucat.
“Kau tidak mau bicara? Aku mau segera ke restaurant,” kata Lorena.
“Jangan, tunggu dulu,” cegah Sean , sambil tangannya meraih tangannya Lorena. Lorenapun diam mencoba menunggu apa yanga akan dikatakan Sean.
Sean menghela nafas panjang, dia menguatkan hatinya bagaimana kalau Lorena menolak jadi pacarnya?
Huh! Sean menghembuskan nafasnya menghilangkan segala kegugupannya.
Ternyata menyatakn cinta menembak seorang gadis yang benar-benar di cintai lebih sulit daripada harus presentasi pekerjaan di depan orang banyak, keluhnya dalam hati.
Sean menatap Lorena sekali lagi, tangannya masih memegang tangan Lorena.
“Mau kah kau jadi pacarku?” tanya Sean, dengan jantung yang semakian tidak terkendali seakan mau copot dari tempatnya. Matanya menatap mata cantiknya Lorena.
Ternyata Lorena belum menjawab, malah menatapnya, mereka tatap-tatapan saja tidak ada yang bicara.
“Aku sudah bertanya tadi, apa kau mau jadi pacarku?” tanya Sean.
“Kau belum menjawab pertanyaanku!” potong Sean dengan nada agak tinggi.
“Memangnya harus dijawab sekarang?” tanya Lorena, membuat Sean semakin gelisah saja, kenapa gadis ini begitu membuatnya kesulitan?
“Tentu saja sekarang,” kata Sean dengan nada kecewa.
Melihat wajah Sean yang berubah masam, Lorena jadi ingin tertawa.
“Aku mau,” jawab Lorena, tiba-tiba. Seketika wajah masam itu berubah sumringah.
“Kau mau jadi pacarku?” tanya Sean.
Lorena mengangguk.
Senyum mengembang dibibirnya Sean, dia terlihat sangat grogi, hatinya merasa tenang Lorena menerimanya jadi pacarnya.
“Jadi.. kita pacaran sekarang?” tanya Sean.
Lorena mengangguk dan tersenyum. Dia menatap pria yang ada didepannya. Pria setampan Sean begitu tidak percaya dirinya di depan seorang gadis, membuatnya terlihat lucu.
Sean masih tesenyum, sudah tidak terbayangan betapa bahagianya hatinya. Perjuangannya selama ini tidak sia-sia.
Mereka kembali saling bertatapan.
“Baiklah kalau begitu, mmm…” Sean tampak bingung.
“Ada apalagi?” tanya Lorena.
“Karena kau mau jadi pacarku, apa kau mau kencan denganku? Nanti malam, kita makan malam,” jawab Sean.
“Baiklah, nanti aku percepat jadwal les anak-anak,” kata Lorena.
Tapi ternyata Sean masih mematung dipintu.
“Apa lagi?” tanya Lorena.
“Kau pacarku sekarang?” tanya Sean. Lorena mengangguk.
__ADS_1
Sean tersenyum senang, dia sangat bahagia.
“Mau ku antar ke restaurant?” tawar Sean.
“Tidak usah, aku bisa pakai taxi, aku juga mau menebus mobilku di kantor polisi,” kata Lorena.
“ Apa mau ku antar ke kantor polisi?” tanya Sean.
“Atau aku saja yang mengurus mobilmu?” tanya Sean lagi.
Lorena menggeleng, dia bisa melihat kalau Sean mencoba menjadi pacar yang baik.
“Tidak, kau sudah cukup baik padaku, kau berangkatlah bekerja,” kata Lorena.
“Baiklah kalau begitu, aku berangkat,” kata Sean. Lorena mengangguk diapun beranjak dari hadapanya Lorena. Tapi baru juga beberapa langkah dia balik lagi.
“Ada apa lagi?” tanya Lorena.
“Mmm bolehkan aku meminta nomor telponmu?” jawab Sean, sambil mengeluarkan handphone-nya, dalam benaknya berfikir kenapa dia merasa jadi anak abg yang bertukar nomor handphone?
“Boleh,” ucap Lorena langsung menyebutkan nomor telponnya.
“Aku sudah menyimpannya, apakah aku boleh menelponmu?” tanya Sean.
“Tentu saja,” jawab Lorena, mengangguk sambil tersenyum.
“Baik kalau begitu terimakasih. Aku berangkat dulu ya,” kata Sean.
Lorena mengangguk, Seanpun beranjak meninggalkan Lorena, tapi lagi-lagi dia balik lagi.
“Ada apa lagi?” tanya Lorena.
“Aku akan pulang cepat, kita makam malam,” kata Sean.
“Iya kau tadi sudah mengatakannya,” ucap Lorena.
“Oh iya sudah ya, aku berangkat,” kata Sean, kemudian beranjak meninggalkan kamar Lorena. Dia sempat menoleh lagi, dan Lorena hanya tersenyum menatapnya. Sean sangat lucu, batinnya.
Sean berjalan menuju mobilnya langsung menelpon Sam.
“Sam! Sam!” panggilnya berteriak.
“Apa?” tanya Sam, menjauhkan hpnya karena suara Sean yang berisik.
“Buatkan kalender yang bagus yang angkanya besar-besar,” kata Sean.
“Kalender buat apa?” tanya Sam.
“Terus tandai tanggal hari ini,” jawab Sean.
“Buat apa? Memangnya hari ini libur nasional?” tanya Sam.
“Bukan, cepat saja kau kerjakan, tanggal hari ini buat yang lebih besar, pokoknya kau desain lah,” jawab Sean.
“Maksudmu buat apa sih?” tanya Sam tidak mengerti.
“Ini tanggal jadian aku dan Lorena! Biar tidak lupa!” jawab Sean.
“Hah? Kau serius sudah jadian?” tanya Sam terkejut.
“Iya aku sudah menembaknya,” jawab Sean.
“Menembak jadi pacarnya?” tanya Sam.
“Iya, aku sudah bertanya apakah dia mau jadi pacarku? Dan Lorena menjawab mau,” kata Sean, dengan bersemangat sambil membuka pintu mobilnya.
“Nanti malam aku mengajaknya makan malam, kencan kami yang pertama sebagai pacar,” kata Sean.
“Kenapa tidak kau lamar saja sekalian? Tanggung amat cuma jadi pacar! Nanti kau mau melamarnya lama lagi, ga jadi jadi, manjang manjangin kontes lagi, ah bikin aku repot saja,” keluh sam.
“Kau cerewet, tentu saja aku nanti akan melamarnya, pokoknya kerjakan saja perintahku, buat kalender bulan ini, desain tandai tanggal hari ini hari jadi aku dan Lorena, secepatnya!” perintah Sean.
“Iya aku kerjakan sekarang. Umurmu berapa sih sekarang? Kau seperti ABG saja! Abg saja ga gini-gini amat,” gerutu Sam.
“Kau menggerutu lagi aku potong gajimu!” bentak Sean.
“Ya ya aku tidak akan menggerutu, aku kerjakan sekarang!” kata Sam.
Sean menutup telponnya dengan wajah sumringah, diapun masuk kedalam mobilnya. Hari ini benar-benar hari yang sangat cerah. Akhirnya Lorena mau jadi pacarnya, dan menunggu waktu yang tepat dia akan melamarnya. Mobilnyapun melaju meninggalkan halaman rumah itu.
**********
Edisi slow dulu ya readers…sekarang pukul 1 dini hari.
__ADS_1
Maaf ya baru up, authornya nyari-nyari info dulu saudara yang daerahnya kena banjir. Juga nyiapin apa saja yang bisa disumbangkan untuk korban banjir.
*************