
Earlangga dan kedua temannya melihat kesekeliling club malam itu. Hingar bingar music dan pencahayaan yang temaram, menjadi ciri khas club malam ini. Tampak para gadis yang menjajakan minuman dengan nampan berisi gelas gelas ditangannya berlalu lalang diantara pengunjung.
“Swit wiiww,” Josh lagi-lagi bersiul karena mereka itu tampak begitu cantik dan sexy.
“Hai Baby!” goda Josh sambil tersenyum pada gadis itu yang balas tersenyum padanya tapi lewat begitu saja.
“Mereka sangat cantik-cantik,” gumam Josh.
Earlangga melihat ada kursi kosong.
“Kita kesana!” ajaknya pada teman-temannya, sambil melangkah menuju kursi kursi kosong itu, diikuti temannya.
Seorang pelayan langsung menghampiri mereka dan membawakan minuman. Josh mengambil salah satu gelas, lalu Nick, sedangkan Earlangga menatap nampan itu.
“No Alcohol!” kata Earlangga. Pelayan itu mengangguk lalu meninggalkan tempat mereka.
“Minumlah sedikit, kita party,” ujar Nick.
“Kau tahu aku tidak bisa minum, ibuku bisa marah kalau aku mabuk-mabukan,” jawab Earlangga.
Disaat merka bercengkrama dan menikmati music, tiba-tiba beberapa orang pria menghampiri mereka dan menyimpan beberapa botol minuman di meja itu.
“Apa ini?” tanya Josh menatap pria-pria itu.
“Kalian pengunjung baru kan?” tanya Darren.
Josh menatap Darren dengan tidak suka.
“Iya,” jawab Nick.
“Kalian mau apa?” tanya Earlangga.
Pria pria itupun duduk dikursi-kursi yang kosong mengelilingi mereka.
“Kami menantang kalian minum,” kata Darren.
“Maaf, kami tidak sedang minum,” jawab Earlangga.
“Ayolah hanya sedikit!” kata Darren.
“Maaf, tidak bisa!” jawab Earlangga.
“Kalian tidak bisa menolaknya, aturan disini pengunjung baru harus mau minum dengan kami,” kata Rendi
“Baiklah, baiklah,” ucap Josh.
“Josh!” Earlangga menoleh pada Josh, dia tidak mau ada keributan apapun.
Darren menatap Earlangga.
“Kau kenapa? Kau takut?” tanya Darren.
“Aku tidak biasa minum,” jawab Earlangga.
“Apa? Ha haha…” teman-teman Darren menertawakannya.
“Kami ingin mobil itu!” kata Darren tiba-tiba.
“Apa?” tanya Earlangga dan temannya terkejut.
“Kami ingin mobil itu!” jawab Darren.
“Aku tidak menjualnya,” kata Earlangga.
Teman-teman Darren kembali tertawa.
“Kita tidak berniat membelinya,” ucap Darren. Earlangga sudah menebak gelagat tidak baik.
“Kami menantang kalian minum, jika kalian kalah mobil itu milik kami!” kata Darren.
“Kami tidak berminat!” ucap Earlangga lalu menoleh pada kedua temannya.
“Kami datang kesini untuk bersenang-senang!” kata Nick.
__ADS_1
“Kalian jangan khawatir, kalian butuh wanita? Banyak wanita cantik disini, aku akan menyediakannya, asalkan kalian berikan mobil itu!” ujar Darren.
“Maaf kami tidak bisa!” jawab Earlangga, sambil berdiri.
“Josh, Nick, ayo kita pulang!” ajak Earlangga, dia tidak mau membuat masalah dihari pertamanya dia menginjakkan kakinya di ibukota.
Josh dan Nick saling pandang, merekapun bangun dan beranjak dari tempat itu. Baru juga beberapa langkah terdengar teriakan Darren.
“Pengecut!” teriak Darren.
Merasa dikatai membuat Josh naik darah, dia menoleh lagi kearah Darren.
“Jaga mulutmu!” teriaknya dalam bahasa Inggris.
Darren dan teman-temannya tertawa.
“Pecundang!” teriak yang lainnya.
Darren menghampiri Josh.
“Pecundang!” ucap Darren sambil mendekatkan wajahnya pada Josh. Kemudian terdengar teman-teman Darren meneriaki mereka.
“Pecundang! Pecundang! Pecundang!” teriak mereka tidak henti-hentinya membuat Earlangga dan temannya merasa kesal.
Darren mendekatkan wajahnya pada Josh.
“Pecundang!” ucapnya. Lalu pada Earlangga dan terakhir pada Nick.
“Pecundang!” ulangnya. Merasa dipermalukan seperti itu membuat Josh tambah marah.
“Oke aku terima tantanganmu!” ucap Josh pada Darren.
Langsung disambut meriah teman-temanya Darren. Beberapa orang lansgaung memeluk mereka bertiga menggiringnya ke kursi tadi.
Earlangga menoleh pada Josh.
“Kau tenang saja, aku yang minum, aku tidak akan kalah!” kata Josh.
Mereka didudukkan di kursi itu.
“Oke aturannya begini, “ Darren mulai bicara lagi, dia duduk disebrang Earlangga dan dan temannya.
“Kalian kalah, mobil kalian milik kami,” kata Darren, karena dia memang mengincar mobil mewah itu.
“Kau gila! Mobil itu harganya milyaran!” umpat Earlangga.
“Justru itu aku meningingkannya!” jawab Darren diikuti tawa teman-temannya.
Josh menoleh pada Earlangga dan menepuk bahunya.
“Kau tenang saja, aku tidak akan kalah!” jawab Josh.
“Tapi aku tidak bisa minum,” ucap Earlangga, langung saja teman-teman Dareen menertawannya lagi.
“Ternyata ada anak mami disini!” ucap Darren.
“Ayo kita mulai!” kata Rendi.
“Apa untungnya bagi kami? Kalian punya apa?” tanya Nick.
“Aku mau gadis Virgin!” tiba-tiba Josh bicara, dia tahu pasti pria-pria itu tidak akan bisa menyediakannya.
“Apa?” tanya Darren terkejut.
“Josh!” Earlangga menoleh pada Josh tanda tidak setuju.
“Temanku benar, Virgin! Aku yakin kalian tidak punya!” kata Nick sambil tersenyum sinis.
Ditanya begitu tentu saja Dareen terdiam juga temannya. Bagaimana bisa mendapatakan gadis Virgin ditempat ini? Tentu saja wanita wanita penghibur itu bukan virgin.
“Belum apa-apa kalian sudah lalah, sudahlah lebih baik kalian pergi jangan ganggau kami!” kata Nick, membuat Darren eksal. Tentu saja pemintaan itu tidak bisa dia kabulkan.
Tiba-tiba seseorang membisikkan sesuatu ketelinganya Darren.
__ADS_1
“Bos! Orang suruhanmu datang kesini,” kata pria itu.
Dareen baru teringat kalau dia menyuruh Valerie membawakan barang pesanan temannya. Diapun beranjak, lalu meninggalkan ruangan itu, keluar dari club malam itu.
Di halaman parkir Valerie sudah menunggunya, sambil memasukkan kedua tangan di sakunya, dia merasa dingin meskipun sudah menggunakan Sweater.
“Mana barangnya?” tanya Darren.
“Ini!” jawab Valerie., memberikan bungkusan berwarna coklat itu.
Dareen segera menerimanya.
“Mana bayaranku?” tanya Valerie.
“Di rumah!” bentak Darren, membuat Valerie cemberut.
“Aku juga membayar taxi tadi!” kata Valerie.
Akhirnya Darren mengeluarkan dompetnya, memberikan beberapa lembar ratusan ribu pada Valerie.
“Nih! Cepat pulang sana!” usirnya.
Valerie menerima uang itu, dia tersenyum, lumayan banyak, bisa dia bayarkan untuk mencicil biaya kuliahnya. Diapun beranjak menjauh tiba-tiba Darren memanggilnya lagi.
“Tunggu! Tunggu!” teriak Darren.
“Apa lagi?” tanya Valerie menatap Darren.
Darren menatap Valerie, dalam benaknya dia menebak-nebak kondisi Valerie, pasti Valerie masih Virgin itu artinya dia bisa menjadikannya taruhan di tantangan tadi.
“Aku ada pekerjaan untukmu!” kata Darren.
Sebelum Valerie bicara, Dareen menarik tangannya Valerie menuju pintu masuk club.
“Tuan! Apa yang kau lakukan?” teriak Valerie.
“Sudah kau diam saja!” kata Darren. Valerie mencoba melapaskan tangannya tapi dipegang erat oleh Darren.
Diabaikannya Valerie yang memintanya melepaskan tangannya. Darren membawa Valerie masuk dan menghampiri teman-temannya.
“Aku dapat Virgin! Kita mulai tantangannya!” kata Darren yang langsung disambut meriah teman-temannya. Mendengarnya membuat Valerie terkejut tapi sebelum dia protes, tiba-tiba Darren memukul kepala bagian belakang Valerie sampai gadis itu pingsan dan terjatuh menelungkup ke kursi disamping Josh.
“Gadis itu buat kalian! Terserah mau kalian apakan, dan sabagai gantinya, Mobil itu menjadi milikku,” kata Darren dengan bersemangat. Dia begitu menginginkan mobil itu.
Josh melirik gadis yang menelungkup di sofa itu.
“Apa dia cantik?’ tanya Josh.
“Kalian butuh yang Virgin kan bukan yang cantik!” jawab Darren.
“Oke aku terima!” ucap Josh.
“Tidak tidak, Josh, jangan main-main! Kasihan gadis itu!” ucap Earlangga melirik gadis itu yang menelungkup di sofa tidak memperlihatkan wajahnya.
“Kau tenang saja,” kata Josh.
“Baiklah, kita mulai!” ucap Darren.
Teman-temannya menyiapkaa botol botol di depan mereka bertiga. Earlangga bingung, dia tidak menginginkan semua ini, dia tidak suka permainan seperti ini, apalagi ada gadis yang dipertaruhkan disini.
“Bebaskan gadis itu!” ucap Earlangga.
Darren tertawa sinis.
“Dia akan bebas kalau kalian menang! Itu artinya gadis itu milik kalian! Jadi kau harus menang!” kata Darren.
Mendengar perkataan itu, Earlangga melirik gadis itu lagi, dia merasa kasihan karena melihat dari dandandannya dia bukanlah gadis yang bekerja di club ini.
“Baiklah!” kata Earlangga, akhirnya menerima tantangan Darren dan teman temannya, yang disambut riuh teman-temannya Darren.
Permainanpun dimulai. Tiga orang temannya Dareen duduk disebrang Earlangga dan teman-temannya.
*****************
__ADS_1