
Earlangga mengantar Valerie pulang rumah, dia keheranan saat melihat ada dua mobil terparakir dihalaman. Senyum mengembang dibibirnya.
“Sepertinya ayah dan ibu pulang!” ucapnya, dia sudah rindu dengan kedua orang tuanya.
Valerie juga tersenyum hanya saja dalam hatinya mulai resah, sepertinya mobil satunya adalah yang digunakan Ny.Grace.
Earlangga menoleh pada Valerie yang terlihat tegang.
Valerie pun menatapnya. Pria itu tersenyum.
“Kenapa kau begitu tegang?” tanya Earlangga.
“Ah tidak, aku biasa saja,” jawab Valerie, tapi Earlangga sudah bisa menebak apa perasaanya Valerie.
“Orangtuaku mertuamu, kau bisa menganggap mereka orang tuamu juga,” kata Earlangga.
“I iya,” jawab Valerie, dia tahu kalau orangtua Earlangga adalah mertuanya tapi karena Earlangga sekarang mengungkapkan perasaannya, justru dia merasa khawatir kalau sikap mereka akan berubah jika tahu semua itu.
Earlangga mengulurkan tangannya memegang tangan Valerie.
“Kau harus tenang,” ucapnya.
“Ayo kita turun,” ajak Earlangga kemudian.
Valeriepun mengangguk.
Sean dan Lorena baru saja tiba, rumah sepi seperti biasa karena penghuninyapun hanya satu orang diluar para pekerja yang akan kembaIi ke rumahnya di komplek samping setelah pekerjaan mereka selesai.
“Pak Sobri, Earlangga pergi bekerja?” tanya Sean.
“Iya Pak,” jawab Pak Sobri.
“Valerie juga ke rumah sakit?” tanya Lorena, sambil tangannya menunjuk beberapa koper yang harus disimpan oleh beberapa orang pelayan.
“Tidak Bu, Bu Valerie sekarang tidak bekerja lagi,” jawab Pak Sobri.
Ny.Grace langsung mengerling saat Pak Sobri mengatakannya.
“Dia berhenti bekerja?” tanya Ny.Grace.
“Pak Earlangga melarangnya bekerja,” jawab Pak Sobri.
Raut muka Ny,Grace langsung berubah, bukan karene soal bekerja tidak bekernya, dia tidak masalah Valerie tidak bekerja yang penting cicitnya lahir sehat, hanya dia merasa perhatian Earlangga yang berlebihan membuatnya tidak suka.
Melihat wajah ibunya berubah, Seanpun bicara.
“Tidak masalah Valerie tidak bekerja, biar dia juga focus menjaga kehamilannya, dia sangat kurus dan selalu pucat, mungkin dia kelelahan,” kata Sean.
“Iya sayang, tidak masalah,” kata Lorena, memeluk pingang suaminya, sebuah ciuman mendarat dipipinya.
“Aku sangat lelah, aku ingin berisitrahat, apa kau akan ke kantor?” tanya Lorena, menatap suaminya.
“Iya, aku akan menemui Earl,” jawab Sean.
Terdengar suara mobil memasuki teras.
“Ada tamu siapa?” tanya Lorena menoleh ke arah luar.
“Pak Earlangga pulang,” jawab Pak Sobri yang masih berdir dipintu.
“Pulang? Jam segini?” gumam Sean, keheranan.
Merekapun melihat kearah pintu. Tidak berapa lama terlihat putra mereka datang bersama Valerie.
“Sayang!” seru Lorena dia langsung saja berhambur mendekati putranya, dia sangat rindu pada putra semata wayangnya itu. Langsung saja melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya dan menghampiri Earlangga.
__ADS_1
“Sayang, ibu sangat rindu,” kata Lorena, langsung memeluk Earlangga. Putranya itu balas memeluknya dengan satu tangan, kemana satu tangannya lagi? Lorena melihat sebelah tangan Earlangga sedang memegang tangannya Valerie. Dia sejenak terdiam, apakah putranya sudah mulai menerima Valerie?
“Aku juga rindu, dirumah ini sangat sepi,” kata Earlangga sambil melepaskan pelukannya.
Lorena menoleh pada Valerie dan tersenyum.
“Nyonya, “ sapa Valerie membalas senyumannya ibu mertuanya.
“Perutmu sudah terlihat besar,” kata Lorena, menatap perut Valerie.
“Iya Nyonya, sudah 3 bulan lebih,” jawab Valerie, sembil mengusap perutnya dengan tangan kirinya karena tangan kanannya dipegang Earlangga.
Sikap Earlangga itu tidak luput dari perhatiannya Sean dan Ny. Grace.
Sean tidak pernah mempermasalahkan siapapun gadis yang disukai Earlangga, jadi dia bersikap biasa saja, dia langsung menghampiri Earlangga dan memeluk putranya.
“Bagaimana perusahaan semua beres?” tanya Sean.
“Iya ayah,” jawab Earlangga.
Earlangga menoleh pada neneknya dan langsung menghampirinya tanpa melepaskan tangannya Valerie, terpaksa Valerie juga mengikuti langkahnya Earlangga.
Lorena menoleh pada Sean, mereka saling pandang seakan mereka bisa menebak apa yang telah terjadi antara Earlangga dan Valerie.
Earlangga memeluk neneknya dan mencium pipinya.
“Ada yang ingin aku katakan pada Nenek, Ayah dan Ibu,” kata Earlangga, menatap neneknya, lalu pada orangtuanya.
“Soal apa?” tanya Sean.
“Aku sudah mengambil keputusan,” jawab Earlangga.
“Keputusan? Keputusan apa?” tanya Lorena, sedangkan Ny.Grace tidak bicara apa-apa, dia seakan sudah membaca apa yang akan dikatakan Earlangga.
“Aku memutuksan akan benar-benar menikahi Valerie, terlepas dari siapa ayah bayi itu. Aku mencintai Valerie,” kata Earlangga terus terang.
Lorena menoleh pada Sean lalu pada Earlangga.
“Kalau ibu sih tidak masalah, yang penting kau bisa menerima jika bayi itu telah tes DNA bukan bayimu,” kata Lorena, menoleh lagi pada Sean.
“Iya, ayah juga tidak mempermasalahkan hal itu, tidak masalah, setelah bayi itu lahir kalian tidak perlu bercerai,” kata Sean.
“Tidak bisa!” ucap Ny.Grace, membuat semua mata menoleh kearah nya.
“Aku tidak setuju,” kata Ny.Grace.
Semuapun diam, semua tahu pasti akan dipertentangkan oleh orang tertua di rumah ini.
“Dia tidak pantas untukmu! Kau tetap harus bercerai dair Valerie! Kau bisa mendapatkan gadis yangs sepadan denganmu, tidak dengan dia!” ujar Ny.Grace.
Mendengar hal itu membuat Valerie merasa sakit hati, dia tahu keputusan Earlangga yang mencintainya akan mendapat penolakan dari neneknya.
“Bu!” Lorena akan bicar tapi didahului Nyonya Grace.
“Aku tidak mau keluarga kita menikah dengan orang sembarangan! Kau dari keluarga bangsawan, pernikahan ini adalah sebuah kesalahan, kau harus bercerai dan memilih lagi wanita yang tepat buatmu,” kata Ny. Grace.
“Nek, bisakah untuk tidak mebahas masalah itu? Aku terlanjur jatuh cinta pada Valerie,” ujar Earlangga.
“Bayi itu bukan bayimu!” ucap Ny,Grace, berbohong, pura-pura tidak tahu bayi tu kemungkinan bayi Earlangga.
“Tidak masalah, aku akan menerimanya menjadi anakku sendiri,” kata Earlangga.
Ny.Grace mendekati Earlangga.
“Tidak bisa! Kau tetap harus mencari lagi pedamping yang sepadan, anggap saja pernikahanmu ini adalah pernikahan yang buruk, pembuang sial atau semacamnya, untuk mendapaktkan kehidupan yang lebih baik,” kata Ny.Grace.
__ADS_1
Valerie yang sudah menduga adanya penolakan ini tetap saja hatinya terasa sakit mendengar perkataannya Ny,Grace.
“Sudah cukup pernikahan yang memalukan ini, tapi janga terus-terusan mencoreng muka keluarga!” ujar Ny. Grace.
“Masalahnya dimana Nek? Hanya status? Yang penting kepribadiannya. Valerie gadis yang baik dan aku mencintainya,” kata Earlangga.
“Gadis yang baik katamu? Gadis yang baik tidak akan hamil dengan rpaia yang tidak jelas!” kata Ny,Grace dengan suara tinggi. Matanya Valerie langsung saja memerah mendapat cemoohan seperti itu.
“Nek, aku juga bukan pria yang baik, aku ukan pria sempurna,”ujar Earlangga.
“Tapi kau berbeda dengannya! Kau harus menyadari itu!” kata Ny. Grace.
“Aku tidak akan merubah keputusanku. Nenek suka atau tidak. Jika nenek tidak suka, aku akan kembali ke London membawa Valerie, aku akan tinggal disana, aku tidak akan mengurusi lagi kekayanangnya keluarganya Joris,” ucap Earlangga, membuat Ny.Grace terkejut juga Sean dan Lorena.
Earlangga menoleh pada Valerie, yang kini sudah menitikkan airmatanya.
“Ayo!” ajak Earlangga.
“Earl!Jangan main main dengan kata-katamu!” bentak Ny.Grace.
“Aku tidak main main nek, aku akan pulang ke London,” jawab Earlangga sambil menarik tangan Valerie meninggalkan ruangan itu.
Sean menoleh pada ibunya.
“Sudahlah Bu, Earlangga kan sudah terlanjur menikah dengan Valerie, biarkan saja, kalau memang Earlangga menyukainya, dia juga sudah bersar dia berhak menentukan pilihan hidupnya sendiri,” kata Sean.
Ny. Grace menatap Sean dengan tajam.
“Kau sebagai ayah dan kau sebagai ibu, seharusnya kalian bisa lebih menguasai putramu jangan diberikan kebebasan seperti itu?” bentak Ny.Grace.
“Tapi ini soal hati Bu, kalau Earlangga mencintai Valerie, ya biarkan saja, yang penting Earlangga bahagia, tidak masalah Valerie dari kalangan mana juga, nanti juga anak-anaknya tetap ikut darah Earlangga,” kata Lorena.
“Kau sama saja dengan putramu itu! Kau sebagai menantu disini, seharusnya kau ikut peraturan keluarga suamimu,” ujar Ny.Grace, pada Lorena.
“Sudahlah Bu, tolong hargai keinginannya Earlangga. Aku sudah kehilangan Earlangga dari kecil berpisah jauh, sekarang biarkan Earlangga berada dilingkungan kita, dia juga berhak memiliki apa yang aku miliki,” kata Sean.
“Putramu itu benar-benar tidak bias diurus, keras keapla, susah diatur!” gerutu Ny,Grace, lalu beranjak meninggalkan Sean dan Lorena.
Suami istri itu saling pandang. Sean mengulurkan tangannya mengusap punggung istrinya supaya bersabae dengan sikap ibunya.
Di dalam kamarnya Valerie langsung saja manangis, terisak-isak disamping tempat tidur.
Earlangga duduk disampingnya dan memeluk bahunya.
“Kau yang sabar, sudah aku katakan Nenek memang begitu. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan mundur, aku akan tetap mempertahankanmu menjadi istriku, selamanya,” kata Earlangga, memeluk Valerie lebih erat.
Valerie mendongak menatap Earlangga disela genangan airmatanya.
“Sebenarnya niat Ny.Grace itu baik, aku memang tidak pantas buatmu,” kata Valerie.
“Kau ini bicara apa? Aku tidak berfikir pantas atau tidak pantas, aku hanya menyukaimu, mencintaimu itu saja,” kata Earlangga, kembali memeluk Valerie.
“Sudah jangan berfikir macam-macam, soal nenekku aku yang urus. Kau harus percaya, nenek akan setuju, Nenekku tidak akan mau kehilangan aku, Nenek tidak akan mau aku kembali ke London, percaya padaku, Nenek lambat laun akan menerimamu” ucap Earlangga, terus memberikan semangat pada Valerie.
Valerie tidak bicara lagi, dia terus memeluk Earlangga.
Ny.Grace masuk kekamarnya langsung melempar tasnya ke tempat tidur, dia kesal bukan main, cucu satu-satunya itu sangat pembangkang dan sama sekali tidak menghargainya sebagai orang yang terua di rumah ini.
Tapi dia juga tidak mungkin membiarkan Earlangga kembali ka London dan tidak mengurus kekayaannya keluarga Joris, kalau sampai itu terjadi, sama saja dengan keturuan Joris terputus. Tidak, dia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Sepertinya dia harus mencari jalan halus untuk membuat Earlangga meninggalkan Valerie.
*****************
Readers semoga kalian tidak bosan bacanya, author juga sedang jenuh nulis terus..butuh refreshing he..he…
__ADS_1
************************