
Beberapa hari telah berlalu…
Sean sudah kembali bekerja dikantornya. Tapi beberapa hari ini juga dia terlihat tidak bersemangat. Sam bolak balik ke ruangannya, pria itu beberapa kali kepergok sedang melamun, kemudian dia kembali bekerja, kemudian melamun lagi, sepertinya pekerjaannya tidak akan selesai-selesai kalau diselingi dengan melamun, melihatnya membuat Sam semakin greget melihatnya.
Sam duduk didepan meja kerjanya Sean. Pria itu sedang menulis sesuatu dimejanya.
“Dua hari yang lalu aku sudah memberitahu kepada semua peserta untuk melanjutkan kontes itu,” kata Sam.
Tidak ada jawaban dari Sean, dia masih menulis, entah apa yang ditulisnya karena terhalang berkas yang menumpuk di depannya.
“Tapi gadismu itu belum memberikan jawaban kalau dia akan kembali ikut kontes atau tidak,” ucap Sam. Sean masih tidak bicara.
“Mungkin dia tidak akan ikut kontes, acaranya besok pagi. Tadi aku sudah menelpon Pak Roby, ternyata dia belum pulang ke rumah kontrakanmu,” kata Sama.
“Eh rumahmu sekarang, kau sudah membelinya,” ralat Sam. Sean tidak bereaksi, dia masih saja menulis.
“Jadi karena rumahnya sangat jauh dia tidak akan keburu mengikuti kontes besok,” ucap Sam.
Sean tidak menjawab, dia masih sibuk dengan tulisannya. Membuat Sam penasaran, diapun berdiri dan berjalan memutari meja kerja yang besar itu.
“Sebenarnya kau sedang menulis apa sih? Aku bicara dari tadi kau tidak menjawab samasekali,” keluh Sam.
Setelah dekat, Sam menoleh keatas kertas yang ditulis Sean, ternyata dia sedang menggambar wajahnya Lorena. Sam langsung merebutnya, dan melihat gambar itu.
“Apa ini? Ya ampun dari tadi aku ngoceh terus ternyata kau sedang menggambar wajahnya Lorena?” seru Sam, melihat gambar itu.
“Kembalikan gambarku!” teriak Sean. Dia kesal, Sam mengganggu kesenangannya.
Tangan kirinya akan meraih kertas itu tapi Sam malah menjauhkannya.
“Dikirain sedang apa, sudah aku katakan kau tinggal menyatakan cintamu saja, kalau kau jadian kan kau tinggal menelponnya, berhalo mesra bersayang-sayang, ini diam-diam merindukannya, menggambar wajahnya! Kau benar-benar menyiksa dirimu sendiri!” kata Sam.
“Diam kau! Kembalikan gambarku!” bentak Sean. Sam malah tertawa, bukannya memberikan kertas itu.
“Aku puny ide!” seru Sam tiba-tiba, berdiri mantap Sean.
“Ide apa?” tanya Sean, balas menatap Sam.
“Aku sampai lupa, kenapa tidak dari awal terfikirkan ya,” ucap Sam.
“Apa?” tanya Sean semakin penasaran.
“Besok kita ganti lombanya, menjadi lomba melukis wajah,” kata Sam.
“Melukis wajah siapa?” tanya Sean.
“Ya melukis wajahmu,” jawab Sean.
“Tidak, tidak, aku tidak mau nongkrong di depan dilihat oleh para peserta, tidak ada kerjaan!” gerutu Sean.
“Ya kau tidak perlu nongkrong di depan, fotomu saja yang dipajang,” kata Sam.
“Kau kan Presdirnya, ya foto kau saja! Tuh yang ada dispanduk,” ucap Sean.
“Hem, kau ini, targetnya kan Lorena, aku ingin tahu bagaimana kalau dia melukis wajahmu!” kata Sam. Seanpun terdiam.
__ADS_1
“Bagaimana menurutmu?” tanya Sam, menatap Sean.
“Mm boleh juga, jadi Lorena akan melukis fotoku?” ucap Sean.
“Benar, bagaimana?” tanya Sam.
Sean berfikir sebentar, tidak ada salahnya ide Sam itu, dia ingin tahu hasilnya seperti apa kalau Lorena melukis wajahnya.
“Tapi dia bisa meulis tidak ya?” tanya Sean.
“Aku tidak tahu, di berkasnya tidak ada keterempilan melukis kayanya,” jawab Sam.
“Tapi tidak apa-apa deh hasil lukisannya jelek juga,” kata Sean.
Sam langsung tertawa.
“Sepertinya sih dia tidak bisa melukis, kalau seperti anak TK gimana?” ucap Sam.
“Ah tidak apa-apa, asal dia yang melukisnya, aku pasti suka,” jawab Sean sambil tersenyum. Perkataannya langsung mendapat cibiran dari Sam.
“Tapi kenapa dia belum memberi kabar akan ikut lagi kontes atau tidak ya? Kenapa ya?” kata Sam, sambil mengembalikan kertasnya Sean.
Sean tidak bicara apa-apa, dia gelisah, bagaimana kalau Lorena tidak ikut kontes lagi? Apa yang harus dilakukannya? Beberapa hari tanpa melihat wajahnya membuatnya sangat rindu.
Diambilnya kembali alat tulisnya, melanjutkan menggambar lagi wajah Lorena.
“Tapi bagaimana kalau gambarnya jelek, apa kata panitia? Pasti aneh kalau gambarnya jelek tapi lulus lomba,” kata Sam.
“Bilang saja lukisan abstrak,” jawab Sean, masih terus menggambar.
**************
Di rumahnya, Lorena sedang bermain piano diruang tengah. Lagu yang dimainkan lagu yang sendu. Beberapa hari ini tidak ada pria itu rasanya sepi. Tapi apa yang harus dilakukannya? Kenapa dia merasa kesepian tidak ada pria itu?
Dua hari yang lalu dia sudah mendapatkan pesan kalau kontes akan diadakan lagi besok. Tapi entah kenapa sekarang dia tidak lagi bersemangat untuk kontes.
Dia tidak ada semangat untuk mengejar Predir Sam. Ada pria lain yang mulai mengisi hatinya, mungkin dia tidak akan ikut kontes lagi. Buat apa dia mengejar menikah dengan Pak Sam, pria yang tidak dicintainya? Kontes itu akan sia-sia saja.
Mungkin bagi wanita lain meskipun tidak cinta pada Pak Sam tapi ada uang yang mereka kejar, tapi bagi dirinya, dia sudah hidup berkecukupan dia tidak butuh uang, dia hanya butuh pria yang mencintainya dengan tulus dan mau menikahinya.
“Non!” terdengar suara seseorang mengagetkannya. Lorena menghentikan main pianonya, menoleh pada yang memanggilnya.
“Ada apa?” tanya Lorena.
“Pakaiannya Pak Sean tertinggal,” kata pelayan dirumahnya Lorena.
“Apa? Pakaian Sean? Aku lihat dikamarnya sudah bersih, kopernya juga tidak ada,” kata Lorena.
“Ada Non, satu lagi, jasnya tertinggal. Sekarang sudah dicuci dan digosok,” kata pelayannya itu.
“Mana coba aku lihat!” pinta Lorena. Dia jadi penasaran, setahu dia barang-barnag Sean sudah dibawa semua, ternyata ada yang tertinggal?
Pelayannya itu langsung pergi dari hadapannya Lorena. Sedangkan Lorena kembali membunyikan pianonya. Tidak berapa lama pelayannya kembali lagi dengan membawa sebuah jas dengan gantungannya.
“Ini Non Jasnya Pak Sean yang tertinggal,” kata pelayan itu. Lorenapun kembali menghentikan main pianonya dan menoleh kearah pelayan tadi.
__ADS_1
Lorena mengerutkan keningnya. Diraihnya jas itu. Itu kan Jas yang digunakan pria bertopeng itu, tapi kenapa pelayannya mengatakan itu jasnya Sean?
“Ini kan jas yang ada dikamarku kan?” tebak Lorena. Pelayannya mengangguk.
“Darimana kau tahu ini jasnya Sean?” tanya Lorena lagi menatap pelayannya.
“Ada label namanya non, di kerahnya,” jawab pelayannya.
Lorena buru-buru melihat kerah jas itu dan benar, ada label namanya Sean Joris. Dia pun terkejut. Jadi pria bertopeng itu Sean? Sean pria yang di pesta itu? Yang berdansa denganya, yang menolongnya dari gangguan Henry? Kenapa dia sampai tidak mengenalinya? Lorena terduduk lesu.
Seharusnya saat dia merasa pernah mendengar suaranya Sean dia bisa menebak kalau itu Sean, seharusnya dia memperhatikan saat tangan pria itu terasa lebih hangat karena Sean sedang sakit. Kenapa dia sampai tidak mengenalinya?
“Kau simpan di kamarku saja,” kata Lorena pada pelayannya yang langsung mengangguk dan mengambil jasnya Sean itu.
Lorena tidak habis fikir, kalau benar itu Sean, kenapa Sean tidak jujur mengatakan kalau itu dirinya saat dia mengira Sean itu Henry? Kenapa? Dan buat apa Sean yang sedang sakit malah memaksakan diri datang ke pesta topeng sampai harus berkelahi segala dan akhirnya dirawat dirumah sakit. Apakah sebenarnya Sean menyukainya?
Lorena masih diam dikuris pianonya, saat sebuah mobil terparkir didepan teras. Dari jendela terlihat Laura yang datang, dia langsung masuk kedalam rumah.
“Lorena!” panggilnya. Gadis itu menggunakan baju kerjanya.
“Jadi kau akan kembali ikut kontes atau kembali bekerja?” tanya Laura.
“Aku tidak tahu,” jawab Lorena.
“Ya sudah kalau begitu kau kerja lagi saja, mau berangkat sekarang bersamaku?” tanya Laura.
Lorena tidak menjawab.
“Atau mau ikut kontes saja?” tanya Laura, menatap wajah Lorena.
“Kalau ikut kontes, aku tidak menyukai Pak Sam,” jawab Lorena.
“Ya kalau begitu tidak usah ikut kontes,” kata Laura.
“Tapi…” gumam Lorena.
“Tapi apa?” Laura tidak mengerti.
Lorena tidak menjawab. Kalau dia tidak ikut kontes, dia tidak akan bertemu lagi dengan Sean. Tiba-tiba Lorena bangun dari duduknya.
“Aku mau ikut kontes, aku mau ke ibukota!” serunya, sambil meninggalkan Laura, menaiki tangga rumahnya menuju kamarnya.
“Kau serius? Katamu kau tidak menyukai Sam!” teriak Laura.
“Iya, tapi aku harus ikut kontes!” jawab Lorena juga berteriak, dia sudah ada diatas tangga.
“Kontesnya besok kan? Kau akan datang terlambat!” teriak Laura lagi.
“Makanya aku buru-buru!” jawab Lorena, diapun berlari menuju kamarnya.
“Ya sudah, aku berangkat kerja dulu!” teriak Laura. Tidak ada jawaban.
Lorena mengemasi barang-barangnya. Dia harus ikut kontes, dia harus ikut kontes, bukan untuk mengejar Presdir Sam, tapi dia…gerakan tangannya terhenti, dia ingin bertemu Asisten Sean. Buru-buru dia mengepak pakaiannya.
***************
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen