Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-108 Kehamilan Jeni ( part 1 )


__ADS_3

Nisa mencari-cari putrinya yang belum juga bangun. Diketuk-ketuknya pintu kamarnya Jeni.


“Jeni, kenapa kau belum bangun juga? Ini sudah jam berapa? Kau telat berangkat ke kantor. Kau harus ingat kau hanya karyawan biasa sekarang, ayahmu tidak akan memberikanmu toleransi! Jeni, bangun!” teriak Nisa, sambil mengetuk ngetuk pintu kamarnya Jeni.


“Jeni!” panggil Nisa lagi berulang-ulang.


“Masuk!” terdengar suara Jeni dari dalam dengan lemah.


Nisa segera membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Dilihatnya Jeni masih berbaring belum mandi.


“Hei, kau ini jangan malas! Kau terlambat! Kau akan kena SP! Kalau kau tidak bekerja, bagaimana hidup kita?” maki Nisa.


“Kepalaku pusing Bu, aku muntah muntah terus pagi ini, perutku mual,” jawab Jeni, masih meringkukkan badannya di tempat tidur, sama sekali tidak menoleh pada Ibunya.


“Kau sakit?” tanya Nisa, sambil duduk dipinggir tempat tidur lalu memegang keningnya Jeni.


“Kau tidak panas, kau tidak demam, kenapa pusing dan mual-mual? Kau masuk angin?” tanya Nisa.


Belum juga Jeni menjawab, gadis itu sudah bangun dan belari ke kamar mandi muntah-muntah lagi. Nisa mengikutinya sampai pintu kamar.


Begitu Jeni keluar kamar, dia menatapnya penuh selidik.


“Kau tidak sedang hamil kan?” tanya Nisa.


Jeni terkejut mendengar perkataan ibunya.


“Hamil? Tidak, Ibu ini bicara apa?” tanya Jeni, sembil tertawa.


Tapi kemudian ada dorongan mual lagi yang tidak tertahankan oleh Jeni diapun kembali ke kamar mandi.


Nisa langsung memberengut dengan wajah yang masam menatap kedalam kamar mandi. Begitu Jeni keluar dia menatapnya.


“Kau hamiL? Bayi siapa?” tanya Nisa.


Jeni menatap ibunya.


“Hamil?” tanya Jeni.


“Coba kau ingat-ingat kapan kau terakhir datang bulan?” tanya Nisa.


Jenipun terdiam, dan mengingat-ingat ternyata benar dia telat datang bulan.


“Aku…” ucap Jeni, wajahnya langsung pucat.


“Kau tunggu disini, aku akan menyuruh bibi untuk membelikan tespek di apotek,” ucap Nisa, lalu keluar dari kamarnya Jeni.


Selang beberapa waktu Nisa kembali lagi dengan tespek yang ada ditangannya.


“Pakai ini, pastikan kau hamil atau tidak,” ucap Nisa.


Jenipun mengambil tespek itu lalu pergi ke kamar mandi. Tidak berapa lama dia keluar lagi dengan tespek ditangannya.


“Apa hasilnya?” tanya Nisa.


Jeni memberikan hasil tespek itu dengan lesu. Nisapun mengambilnya dan melihat hasilnya, ternyata hasilnya positif.


Jeni duduk dipinggir tempat tidur dengan lesu.


“Kau hamil oleh siapa? Katakan!” tanya Nisa dengan marah.


“Aku..entahlah,” jawab Jeni.


“Entahlah apa maksudmu?” bentak Nisa.


“Sepertinya..” jawab Jeni.


“Sepertinya? Dengan siapa? Kau harus minta tanggung jawab pada pria itu!” kata Nisa.


Jenipun diam.


“Kenapa diam? Cepat telpon pacarmu!” teriak Nisa, sambil mengambilkan ponselnya Jeni dan diberikan pada Jeni yang malah diam saja.


“Cepat telpon dia!” bentak Nisa.


Jenipun meraih ponselnya, akan menelpon pacarnya.


“Tapi Bu..” ucap Jeni.

__ADS_1


“Tapi apa? Dia pria kaya kan? Itu bagus, jika dia menikahimu kau tidak perlu capek-capek bekerja lagi, kehidupan kita akan lebih baik, ibu juga tidak akan kekurangan,” kata Nisa bersemangat.


“Baiklah aku akan menelponnya,” ucap Jeni, benar juga kats Ibunya, kalau dia menikah dengan Dion, hidupnya akan lebih baik.


“Halo Dion!” ucap Jeni.


“Ada apa? Aku sedang sibuk!” kata suara di seberang.


Jeni menoleh pada Ibunya yang menganggukkan kepalanya supaya bicara dengan Dion.


“Dion, aku hamil, aku sudah tespek tadi,” ucap Jeni.


“Apa?” terdengar Dion terkaget-kaget.


“Iya Dion, aku hamil, kau harus menikahiku,” kata Jeni.


“Kau menjebakku? Kau sengaja membuat dirimu hamil supaya bisa menikah denganku?” tuding Dion.


“Dion, apa maksudmu bicara begitu? Aku benar-benar hamil anakmu,” kata Jeni, mulai kesal.


“Tidak, Tidak, aku tidak mau menikah denganmu!” ujar Dion.


“Apa? Tidak mau menikah denganku? Kenapa?” tanya Jeni dengan suara tinggi. Nisa yang mendengarnya sangat terkejut.


“Pokoknya aku tidak mau menikah denganmu!” kata Dion.


“Kau harus bertanggung jawab, aku hamil,” terik Jeni, mulai putus asa dengan penolakan Dion.


“Gugurkan saja, aku tidak mau menikah denganmu,” kata Dion.


“Tapi Dion..” Jeni belum selesai bicara, Dion memotongnya.


“Pokoknya aku tidak mau menikah denganmu, gugurkan dan aku akan memberimu uang,” ucap Dion.


Tiba-tiba ada suara dibelakangnya Dion.


“Sayang, kau sudah selesai mandi?” tanya suara seorang wanita.


Jeni yang mendengarnya terkejut bukan main.


“Dion! Apa yang kau lakukan? Siapa wanita itu? Kau bermalam dengan wanita lain?” bentak Jeni.


“Dion aku hamil bayimu!” teriak Jeni,dia mengatakannya dengan mata yang berkaca-kaca.


Melihat Jeni yang seperti itu, Nisa langsung mengambil ponselnya Jeni dan menelpon Dion.


“Heh, Brengsek! Kau harus menikahi putriku!” bentak Nisa.


Dion yang tidak menyangka akan ada ibu Jeni yang menelpon sangat kaget.


“Kau dengar tidak?” maki Nisa.


“Aku tidak mau!” tolak Dion.


“Harus!” bentak Nisa.


“Aku tidak mau, belum tentu bayi itu bayiku juga! Gugurkan saja! Bikin ribet!” kata Dion lalu telponpun ditutup.


“Halo! Halo!” teriak Nisa.


“Pria brengsek!" Gerutunya, lalu melihat pada Jeni yang kini sedang menangis.


Nisa menatapnya.


“Dion tidak mau bertanggung jawab, dia juga berselingkuh,” ucap Jeni disela isaknya.


“Kau harus menikah dengan dia, tidak boleh tidak!” kata Jeni.


“Tapi aku juga tidak mau,” ucap Jeni.


“Kenapa jadi tidak mau? Kau sangat aneh! Kau mau hamil sendirian saja?” tanya Nisa.


“Dion banyak pacarnya, aku tidak mau rumah tanggaku seperti ibu dan ayah,” kata Jeni.


Membuat Nisa terdiam. Dia tahu rumah tangganya dengan Brian berantakan dari dulu. Brian suka main perempuan dari sebelum menikah.


“Tapi kau tidak mungkin hamil sendirian, kita juga butuh uang Dion, kau terpaksa harus menikah dengan Dion, ibu akan datang kerumah orang tuanya,” kata Nisa.

__ADS_1


Jenipun terdiam.


“Cepat berpakaian!” perintah Nisa.


“Berpakaian?” Jeni menatap ibunya.


“Kita kerumahnya Dion sekarang,” kata Nisa.


“Ibu serius?” tanya Jeni.


“Iya Ibu serius, cepat berpakaian!” jawab NIsa.


Akhirnya Jenipun berpakaian.


“Kau sebutkan dimana rumahnya Dion, kita kesana sekarang!” kata Nisa.


Jenipun menyebutkan alamat rumahnya Dion, meskipun dia tidak pernah masuk kerumah itu atau di kenalkan pada orang tuanya, tapi Dion pernah menyebutkan alamat dimana dia tinggal. Nisa segera menjalankan mobilnya menuju rumah orang tuanya Dion.


Sampai dirumah Dion, ternyata ayahnya Dion akan berangkat kerja sedangkan ibunya Dion mengantarnya sampai teras.


Mereka keheranan saat mobil Nisa masuk kehalaman rumah mereka.


“Ayo turun!” ajak Nisa pada Jeni.


Jenipun turun mengikuti ibunya.


Orang tuanya Dion langsung menatap mereka.


“Kalian siapa?” tanya Ibunya Dion, menatap Nisa dan Jeni.


“Aku ibunya Jeni,” jawab  Nisa dengan ketus.


Melihat sikapnya Nisa, orang tuanya Dion tampak curiga.


“Ada apa ya?” tanya Ibunya Dion tanpa menyuruh masuk.


“Kami kesini mencari Dion,” jawab Nisa.


“Mau apa? Ada masalah dengan Dion?” tanya ayahnya Dion,melihat pada Nisa lalu pada Jeni.


“Dion sudah menghamili Jeni, dia harus bertanggung jawab!” kata Nisa.


Orang tuanya Dion sangat terkejut, mereka saling pandang.


“Dion! Dion!” panggil Ibunya Dion.


Jeni dan Nisa masih menunggu diluar. Tidak berapa lama muncul Dion dari dalam rumah, pria itu terlihat baru mandi karena rambutnya yang terlihat masih basah.


Wajahnya langsung berubah pucat saat melihat Jeni.


“Dion! Kau harus bertanggung jawab!” kata Jeni, langsung menghampiri Dion dan  memegang tangannya.


Dion langsung menepisnya.


“Aku tidak tahu bayi siapa yang kau kandung, mungkin saja kau hamil oleh pria lain,” kata Dion.


“Dion! Ini bayimu!” teriak Jeni.


“Aku tidak mau mengakuinya!” balas Dion.


“Dion!” Jeni memegang tangannya Dion lagi.


“Heh, heh, anakku sudah tidak mengaku, kau tidak boleh memaksanya!” kata ibunya Dion.


“Tapi ini bayi Dion Bu,” kata Jeni, sudah mulai terisak.


“Aku lebih percaya anakku, daripada kata-katamu!” ujar Ibunya Dion.


“Sebaiknya kalian pergi!” usir ayahnya Dion.


“Tidak bisa, Dion harus beranggung jawab, dia harus menikahiku!” kata Jeni, bersikeras.


“Dion tidak mungkin menikahimu!” ujar ayahnya Dion.


“Kenapa? Ini bayinya!” kata Jeni, menatap ayahnya Dion.


“Sayang, ada apa sih?” tanya suara wanita dari dalam. Jeni langsung saja mematung, Itu suara wanita yang ada ditelpon tadi.

__ADS_1


Seorang wanita keluar dari pintu itu dengan rambut yang menggunakan handuk.


*****************


__ADS_2