Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-89 Makan malam


__ADS_3

Terdengar suara ketukan dipintu kamarnya Sean saat Lorena sudah bersiap-siap akan turun. Lorena membuka pintu kamar Sean yang juga jadi kamarnya sekarang.


“Nyonya Grace sudah menunggu di meja makan,” kata pria paruh baya itu berdiri di depan pintu, dia kepala pelayan di rumah ini yang mengurus keperluan rumahtangga. Berbeda dengan Pak Deni yang lebih banyak mengurus perusahaan keluarganya Sean.


“Baiklah, aku segera turun, apa suamiku sudah ada disana?” ucap Lorena.


“Belum, ada diruang kerjanya, akan saya beritahu,” jawab kepala pelayan itu.


“Tidak perlu Pak Sobri, biar aku saja yang memberitahunya,” kata Lorena.


Pak Sobri mengangguk lalu meninggalkan tempat itu.


Lorena menutup pintu kamarnya, lalu menuju ruang kerjanya Sean.


“Sayang, apa kau di dalam?” panggil Lorena sambil mengetuk pintu.


“Ya masuk saja,” terdengar suara Sean menjawab.


Lorena membuka pintu ruang kerjanya Sean, dan langsung tersenyum saat matanya bertemu dengan pandangannya Sean.


“Ibumu sudah menunggu diruang makan,” kata Lorena.


Sean langsung bangun dari duduknya, menghampiri istrinya yang berdiri dipintu.


“Ayo,” ajak Sean langsung memeluk pinggang Lorena.


“Aku sedang mengumpulkan informasi tempat kita berbulan madu,” kata Sean, sambil mencium pelipis Lorena, mereka menuju ruang makan.


“Aku tidak mau tempat yang terlalu ramai,” ucap Lorena.


“Iya aku setuju, aku hanya ingin berdua saja denganmu,” jawab Sean, dibalas tawanya Lorena yang juag memeluk pinggangnya Sean.


Saat mereka mendekati ruang makan, terdengar suara yang bercakap-cakap diruang makan.


“Ada siapa?” tanya Lorena.


“Aku tidak tahu,” jawab Sean.


Begitu memasuki ruang makan, mereka terkejut saat meliaht Ny.Grace tidak sendirian, tapi ada seorang wanita juga disana, Nisa.


Raut wajah Sean langsung berubah masam begitu juga Lorena.


“Mau apa aku di sini?” hardik Sean, langsung saja ketus pada Nisa, dia tidak suka ada wanita itu dirumahnya.


“Sayang, aku memasak makanaa kesukaanmu. Kau tahu kan aku berhasil lolos saat lomba memasak dan dapat nilai tinggi!” kata Nisa sambil bangun dari duduknya, menatap Sean sambil tersenyum manis meskipun Sean ketus padanya.


“Sayang? Kau memanggil suamiku sayang?” tanya Lorena dengan ketus, menatap Nisa, tidak suka wanita itu memanggil suaminya dengan sayang.


Nisa langsung tertawa.


“Tentu saja, apa kau tidak tahu aku calon istrinya Sean. Seharusnya dia menikahiku daripada menikahimu yang tidak bisa memberinya anak,” kata Nisa, sengaja menjatuhkan Lorena di depan Ny.Grace.


“Kau! Jaga mulutmu!” bentak Lorena.


“Sudahlah jangan bertengkar, ini waktunya makan,” potong Ny.Grace dengan kesal.

__ADS_1


“Sayang, duduklah didekatku,” ajak Sean, menariak tanganny  Lorena supaya duduk didekatnya.


Nisa memberengut kesal melihat Sean perhatian pada Lorena. Dia kesal, seharusnya dia bisa jadi nyonya dirumah ini. Tapi dia tidak berkata apa-apa lagi, diapun duduk didekat Ny.Grace.


Sean melihat makanan di meja makan itu.


“Aku memasak seafood kesukaanmu,” kata Nisa, sambil berdiri menyiukkan lauk yang ada dimangkuk itu.


“Aku sudah tidak suka seafood lagi,” kata Sean, lalu berteriak memanggil koki.


“Pak Usman, kau masak yang mana saja?” tanya Sean.


Pak Usman, koki di rumahnya Sean segera menghampiri meja makan  menunjukkan makanan yang dia masak hari ini.


“Aku akan makan itu saja,” kata Sean, sambil menunjuk masakan yang dibuat Pak Usman, Lorena membantu mengambilkannya.


“Kau juga harus makan yang banyak, sayang,” ucap Sean, dia balas mengambilkan menu yang sama dengannya.


“Terimakasih,” kata Lorena, yang dibalas Sean dengan ciuman dipipinya.


Melihatnya membuat Nisa semakin kesal tapi ditahannya rasa kesalnya itu demi tujuannya menikah dengan Sean tercapai.  Sean dan Lorena malah bersikap mesra-mesra didepannya, sengaja membuatnya panas hati.


“Nyonya, kau coba masakanku, waktu lomba aku dapat nilai tinggi,” kata Nisa sambil tersenyum pada Ny.Grace. Dia tahu menaklukkan Sean akan sulit jadi dia harus mendekati Ny.Grace.


“Baiklah aku coba masakanmu,” ucap Ny.Grace. Nisa mengambilan makanan yang dia bawa itu kepiringnya Ny.Grace.


“Hemm enak juga masakanmu,” puji Ny.Grace.


“Kalau Nyonya mau, aku akan sering sering kesini membawakan menu makan malam,” ucap Nisa tersenyum senang, dia juga menyantap makanannya.


“Ny.Martha? Kau mengenalnya?” Ny.Grace balik bertanya.


“Ny.Martha teman ibuku, tadi siang aku menemani ibuku menengok cucunya yang baru lahir, cucu yang ke 4. Putrinya yang baru menikah tahun lalu sudah melahirkan, bayinya laki-laki,” jawab Nisa.


“Oh aku baru tahu, jadi cucunya sudah bertambah lagi?” ucap Ny.grace, dengan nada lesu, dia merasa kecewa, teman-temannya sudah mempunyai cucu banyak sedangkan dia satupun tidak tahu, Sean malah menikahi gadis yang tidak bisa memberi keturunan.


Nisa tersenyum saja melihat raut muka Ny.Grace memerah, Ny.Grace terkena umpannya.


“Nyonya jangan khawatir, kalau aku dan Sean segera menikah, nyonya juga akan segera mendapatkan cucu, nanti kalau ada pertemuan arisan Nyonya tidak akan malu,” lanjut Nisa, semakin membuat hati Nyonya Grace panas saja.


“Tidak ada pernikahan!” potig Sean sambil menatap Nisa.


“Aku dan kau tidak akan pernah menikah. Istriku hanya satu, Lorena saja, apa kau tidak mengerti?” bentak Sean.


“Sean!” Nyonya Grace balas membentak Sean.


“Apa yang dikatakan Nisa itu benar, kalian akan segera menikah. Seharusnya kau berterimakasih pada Nisa, yang mau menjadi istri kedua demi memberikan keturunan padamu!” kata Ny. Grace dengan ketus.


Sean terdiam, dia malas bertengkar masalah itu itu saja. Tangannya Sean  mengusap punggung istrinya, dia tahu Lorena pasti sedih kalau ada yang membicarakan masalah anak apalagi mendengar dia harus menikah dengan Nisa.


“Tidak apa-apa Nyonya, Sean tidak salah, nanti juga lambat laun Sean akan menerimaku, aku bisa mengerti,” ucap Nisa, semakin menyebalkan saja.


Nisa menoleh pada Sean.


“Sayang, buat besok kau mau aku masakkan apa?” tanya Nisa.

__ADS_1


“Stop memanggil suamiku sayang!” bentak Lorena.


Nisa beralih menatap Lorena.


“Sebentar lagi Sean akan jadi suamiku. Saharusnya kita sudah mulai membiasakan diri untuk berbagi,” jawab Nisa.


“Sampai kapanpun aku tidak akan mau berbagi suami denganmu atau wanita lain. Jangan bermimpi!” kata Lorena, masih dengan nada tinggi.


“Tidak bisakah kalian diam?” bentak Ny.Grace, menatap Lorena lalu pada Nisa.


Lorena dan Nisapun diam, kembali makan.


Sean menoleh pada Nisa.


“Kau tidak perlu memasak apapun untukku, aku tidak akan memakannya, lagipula besok aku tidak ada dirumah, kami akan berbulan madu,” kata Sean.


Nisa terkejut mendengarnya, ternyata Sean akan berbulan madu, itu artinya bisa-bisa Lorena akan cepat hamil dan dia sudah tidak punya kesempatan lagi menikah dengan Sean. Kalau itu terjadi ekonomi keluarganya akan terancam, sekarang saja ayahnya sudah susah mendapatkan kasus besar.


“Sayang, tapi kita akan segera menikah. Masa kau pergi bulan madu?” kata Nisa, lalu menoleh pada Ny.Grace.


“Benar kan Nyonya, aku dan Sean sebentar lagi akan menikah? Waktu berjalan sangat cepat,Nyonya,” Nisa terus menghasut Ny.Grace.


Ny.Grace belum menjawab, Nisa sudah bicara lagi sambil menoleh pada Sean.


“Lagipula bulan madumu akan sia-sia, Lorena tidak akan bisa punya anak. Lebih baik kita mengurus pernikahan kita, aku yakin kita akan segera mendapatkan momongan, seperti yang kau mau, Ibumu juga mediang kekekmu,” kata Nisa.


“Tutup mulutmu! Jangan sok tahu!” maki Sean. Nisa semakin jengkel saja terus terusan mendapat penolakan dari Sean.


“Kenapa kau bersikap kasar padaku? Aku sudah rela menjadi yang kedua, aku sudah bersedia memberikan keturunan buatmu, seharusnya kau bersikap lebih baik padaku,” kata Nisa, berakting menjadi yang tertindas dengan wajah memelas.


“Aku ingin punya anak, tapi bukan darimu, melainkan dari istriku, apa kau tidak faham?” Sean malah membentaknya lagi, lalu menyimpan serbetnya diatas meja dengan kesal.


“Sayang, bagaimana kalau kita makan diluar saja? Kau mau?” ajak Sean, sambil menoleh pada Lorena, lalu berdiri.


“Baiklah aku cuci tangan dulu,” sahut Lorena, diapun berdiri menuju tempat cuci tangan.


Sean beranjakndari kursinya.


“Sean!” panggil ibunya. Tapi Sean tidak mendengar.


“Sean!” panggil ibunya lagi, panggilannnya tidak dihiraukan Sean, dia tetap keluar dari ruang makan itu.


Lorena mencuci tangannya dengan sabun, Nisa sudah berdiri didekatnya.


“Kau boleh senang sekarang, tapi tidak sebentar lagi, Sean akan segera menikahiku,” kata Nisa.


Lorena menyelesaikan mencuci tangannya dan mengambil serbet, lalu menatap Nisa.


“Aku tahu aku punya kekurangan tapi bukan berarti aku lemah. Jadi jangan coba-coba bermain api denganku, kau tidak mengenalku!” kata Lorena.


“Huh sombong! Lihat saja nanti, kau akan menangis-nangis karena aku akan lebih dulu mengandung anaknya Sean,” ucap Nisa.


“Mungkin kau bisa lebih dulu hamil tapi bukan dari Sean. Dia tidak mau menikah denganmu! Jangan terlalu memaksakan diri!” jawab Lorena, semakin membuat Nisa sebal.


Lorenapun meninggalkan ruang makan itu, cepat-cepat menemui suaminya yang sudah menunggunya untuk makan malam diluar.

__ADS_1


************


__ADS_2