
Mobil mewah itu melaju cukup kencang menuju sebuah gedung perayaan. Sean duduk bersebrangan dengan ibunya, seperti biasa cara bicara mereka sangat kaku dan percakapan seperlunya.
“Apa kita perlu menghadiri acara yang tidak penting itu? Aku lelah ingin langsung pulang saja,” tanya Sean, dengan wajah dingin, pandangan matanya keluar jendela, melihat lampu lampu yang menyala sepanjang jalan itu.
“Hanya sebentar saja, Pak Sandy kebetulan mengadakan ulang tahun putrinya di Paris,” ucap ibunya. Sean tidak menjawab.
Tidak berapa lama mereka tiba di tempat perayaan ulangtahun itu. Gedung itu terlihat sangat indah dihiasi dengan balon warna warni dan ucapan selamat ulang tahun buat Carla.
Begitu mereka turun dari mobil, beberapa orang tamu yang juga baru datang langsung menghampiri mereka dan menyapanya. Melihat dari sikap mereka, terlihat sekali kalau mereka sangat menghormati sosok ibunya Sean juga Sean.
“Nyonya Grace, senang bertemu dengan anda,” sapa orang orang itu.
Handphonenya Sean terdengar berbunyi nyaring, diapun menjauh dari ibunya yang bersama orang-orang itu.
Ibunya Sean melirik putranya yang menjauh, diapun bersama orang orang itu duluan masuk ke dalam gedung.
Di dalam gedung, Ny.Grace disambut oleh Pak Sandy dengan hangat. Terdengar suara alunan music biola menggema diruangan itu.
“Terimakasih atas kedatangannya Nyonya. Saya sangat senang sekali,” kata pak Sandy.
“Kebetulan aku sedang di Paris bersama putraku. Dia sedang ada diluar menerima telepon,” sahut ibunya Sean.
Matanya langsung tertarik pada sosok gadis yang sedang bermain biola bersama tim music yang lain. Penonton dibuat terkesima dengan penampilannya yang memukau. Ada yang menarik saat melihat gadis itu, dia merasa pernah melihatnya tapi entah dimana, kepalanya terus mengingat ingat dimana dia pernah melihat gadis itu. Akhirnya diapun ingat dan seketika terkejut. Gadis itu mirip dengan gadis di foto yang diperlihatkan Pak Andre, asistennya. Dia mirip gadis yang tinggal serumah dengan putranya.
Terdengar suara tepuk tangan meriah dari para penonton saat sang pemain biola menyelesaikan lagunya.
Melihat mata Nyonya Grace tidak lepas pada sosok gadis pemain biola itu, membuat Pak Sandy merasa perlu menjelaskannya.
“Dia guru les putriku. Putriku sangat mengidolakannya, sampai-sampai memintanya tampil diParis,” kata Pak Sandy, menjelaskan, seakan mengerti rasa ingin tahunya Nyonya Grace.
“Kau benar, permainannya sangat memukau,” jawab Ny. Garce.
“Dia pemain biola professional,” kata Pak Sandy.
Nyonya Grace tersenyum dan mengangguk. Dia sangat tertarik pada sosok Lorena, yang selain cantik dan juga keluarga terpandang, tapi dia mau bekerja sebagai pemain biola di acara acara seperti ini. Kata Sean gadis itu sedang mengikuti kontes yang diadakan Sean. Dia benar-benar gadis yang baik, sangat cocok dengan Sean, setidaknya Sean tidak akan menikah dengan wanita yang hanya mengejar hartanya saja. Tapi Sean mengatakan tidak menyukai gadis itu, padahal menurutnya gadis itu sangat cocok dengan putranya. Sangat disayangkan kalau gadis itu gagal di kontes dan Sean menikahi gadis yang lain. Diapun memikirkan sesuatu.
Pak Sandy mengajak Ny. Grace ke sebuah meja yang kosong.
“Pak Sandy, bolehkah aku bicara dengan pemain Biola itu?” tanya Ny.Grace.
“Silahkan, sebentar aku akan memanggilnya. Sepertinya dia sedang istirahat, dia sudah tampil dari tadi,” kata pak Sandy.
“Aku melewatkan pertunjukannya,” ucap Ny.Grace.
Pak Sandy meninggalkan Ny.Grace sendiri, dia kemudian menemui Lorena yang sedang duduk bersama seorang gadis penyanyi tim pengiring music.
“Bu Lorena, maaf ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,” kata Pak Sandy.
“Seseorang? Siapa?” tanya Lorena, terkejut, dari tadi dia melihat orang-orang yang datang tidak ada yang dikenalnya.
“Nyonya Grace, mari ikut saya,” jawab Pak Sandy. Lorenapun mengangguk. Diapun bangun dari duduknya dan melangkah mengikuti langkahnya Pak Sandy.
Sampailah mereka di mejanya Ny. Grace.
__ADS_1
“Ny. Grace, ini Bu Lorena, guru les biola putriku,” ucap pak Sandy.
“Selamat malam,” sapa Lorena tersenyum ramah pada Ny. Grace.
“Malam,” jawab Ny, Grace membalas senyumnya Lorena.
“Ny. Grace, saya tinggal dulu, silahkan mencicipi hidangannya,” kata Pak Sandy.
“Terimakasih Pak sandy,” jawab Ny, Grace pada pak Sandy. Pria itu kemudian meninggalkan Ny,Grace bersama Lorena.
“Duduklah,” kata Ny,Grace.
Lorena mengikuti kata-kata Ny.Grace, diapun duduk disebrang Ny.Grace. Dia tidak mengerti kenapa wanita cantik yang sepertinya adalah bukan orang sembarangan itu memanggilnya.
“Aku sangat menyukai permainan biolamu,” kata Ny.Grace.
“Terimakasih,” jawab Lorena.
“Putraku juga akan ulangtahun 2 hari lagi, kalau kau ada waktu, aku ingin kau memeriahkan acara ulangtahun putraku. Apa kau juga bisa bernyanyi?” tanya Ny. Grace.
“Sedikit, tapi aku lebih menyukai permainan music, aku juga bisa bermain piano dan alat music lainnya,” jawab Lorena.
“Kalau kau ada waktu, setelah dari sini, kau bisa sementara tinggal di rumahku. Aku punya rumah disini,” kata Ny.Grace.
“Tapi Nyonya, saya tidak nyaman kalau tinggal di rumah Nyonya,” ucap Lorena.
“Tidak apa-apa. Dari sini aku akan pergi keluar kota jadi aku tidak tinggal di rumah, aku akan kembali di hari ulangtahun putraku. Nanti aku berikan alamat rumahnya,” kata Ny.Grace.
Lorena memikirkan tawarannya Ny. Grace, dia melihat wanita yang didepannya itu terkesan baik dan mengingat dia adalah kenalannya Pak Sandy, Lorena yakin dia wanita yang bisa dipercaya dan tidak berniat buruk padanya.
“Kau jangan khawatir, di rumahku banyak pelayan yang akan membantumu, buatlah senyaman mungkin,” kata Ny.Grace. Dia tahu Lorena pasti terbiasa dengan kemewahan dan tidak pernah susah, sama dengan Sean yang terbiasa dengan banyak pelayan di sekitarnya.
“Kau juga jangan khawatir, aku tidak akan menolak berapapun tarif yang kau tawarkan, aku yakin penampilanmu akan memukau tamu-tamuku nanti,” kata Ny.Grace.
Dalam hatinya Ny.Grace sebenarnya bertanya-tanya kenapa gadis ini harus tinggal di rumah kontrakannya Sean dan bekerja sebagai pemain music juga guru les music. Tapi seperti apa yang dilakukan oleh Sean yang dengan ide anehnya membuat kontes dan tinggal di rumah kontrakan, dia tidak mengerti pemikiran anak-anak muda itu. Tapi biarlah, dia tidak ikut campur urusan pribadinya Sean, putranya juga sudah besar pasti tahu apa yang sedang dilakukannya. Dia hanya akan memonitor saja jangan sampai Sean salah memilih calon istri dan tidak bahagia dengan pernikahannya.
“Baiklah Ny. Grace, saya setuju. Setelah urusan saya dengan Pak Sandy selesai, saya akan menghubungi Nyonya,” ucap Lorena, setuju.
“Baiklah kalau begitu, saya senang mendengarnya. Nanti asisten saya akan mengurus pembayarannya, juga yang lainnya,” kata Ny. Grace.
Setelah bercakap-cakap sebentar, Lorena meninggalkan mejanya Ny. Grace. Apalagi ada beberapa orang yang menghampiri Ny. Grace dan bergabung duduk disana.
Lorena berjalan hendak menuju tempat pentas lagi, ada satu lagi penampilan penutup yang akan dia persembahkan.
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat berhadapan dengan beberapa orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Dia sangat terkejut saat melihat salah satu dari pria pria yang ada di depannya itu. Sean.
Matanya tidak berkedip saat bersitatap dengan matanya Sean. Pria itu juga tampak terkejut melihat sosok yang ada di depannya, yang beberapa hari ini tidak dilihatnya.
Sean akan bicara tapi didahului oleh pria disampingnya.
“Hai nona, penampilanmu sangat bagus tadi, aku sangat kagum,” kata pria itu.
“Kau membuatku jatuh cinta,” ucap pria muda lainnya, mereka rata-rata seumuran Sean, mungkin teman-temannya Sean.
__ADS_1
“Apa aku boleh tahu berapa nomor telponmu? Mungkin kita bisa makan di luar nanti,” kata yang lainnya.
“Maaf, saya hanya bekerja disini. Terimakasih kalian menyukai music ku,” ucap Lorena, mengangguk ramah dan tetap tersenyum.
Melihat teman-temannya tampak menyukai Lorena dan berusaha mendekati Lorena, membuat sean merasa tidak suka. Dia tidak suka salah satu temannya menanyakan nomor telponnya dan mengajak makan Lorena di luar.
“Kau tinggal dimana sekarang? Apa boleh aku antar pulang?” tanya yang lainnya.
Melihat teman-temannya semakin agresif menggoda Lorena, Sean merasa kesal.
“Dia pacarku, jangan mengganggunya,” ucap Sean tiba-tiba, membuat Lorena dan teman-temannya terkejut.
“Apa? Pacarmu?Apa kau bercanda?” tanya teman-temannya menatap Sean.
“Iya, dia pacarku, jadi kalian tidak boleh mengganggunya,” jawab Sean dengan tegas.
Lorena menatap Sean, dia tidak mengerti kenapa Sean bicara begitu. Tiba-tiba Sean menarik tangannya, meninggalkan ruangan itu, pergi keluar gedung.
Nyonya Grace yang melihat putranya masuk ruangan dengan beberapa temannya tampak terkejut melihat Sean menarik tangan Lorena keluar gedung. Entah apa yang terjadi tadi, dia tidak memperhatikannya.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Sean, saat mereka sudah diluar gedung.
“Aku hanya bermain music,” jawab Lorena.
“Kau tinggal dimana? Apa kau punya uang untuk membayar hotel disini?” tanya Sean. Yang dia ingat Lorena tidak punya uang makanya tinggal dirumah kontrakannya.
“Semua sudah ditanggung Pak Sandy,” jawab Lorena.
Sean terdiam, dia merasa lega mendengarnya.
“Kau juga, kau ada disini? Kau tidak bersama Presdir?” tanya Lorena.
“Iya,” jawab Sean. Sebenarnya dia masih ingin bicara dengan Lorena, tapi dia teringat kalau tadi dia sempat melihat ibunya memperhatikannya, dia tidak mau memancing curiga ibunya.
Tanpa bicara apa-apa lagi, Sean kembali masuk ke gedung. Lorena menatap punggung pria itu.
Dia benar-benar merasa tidak percaya di Paris bisa melihat Sean lagi. Dia belum sempat menanyakan kapan Sean akan pulang, dirumah tanpa ada Sean rasanya sangat sepi sekali.
Lorenapun kembali masuk ke gedung, dia akan bermain music sekali lagi.
Saat tampil diatas panggung, matanya tertuju pada Sean yang duduk berkumpul dengan beberapa temannya tadi. Semakin hari pria itu semakin membuatnya bingung. Penampilannya sangat berbeda dengan saat tinggal dirumahnya. Meskipun Lorena tahu kalau pakaian yang dimiliki sean di lemari sangat bagus dan mahal mahal, tapi sehari hari dia hanya menggunakan kemeja saja saat berangkat bekerja, dia hanya beberapa kali saja terlihat menggunakan stelan jasnya.
Sekarang kenapa gayanya Sean begitu sangat berbeda. Dia benar-benar berubah. Lihat saja gayanya saat berkumpul dengan teman-temannya itu. Dia terlihat serius dan berwibawa. Tidak seperti jika sedang bersama Sam di acara kontes. Karena Lorena hanya sering melihatnya saat dirumah dan saat acara kontes saja.
Dan malam inipun begitu, dia terlihat sangat maskulin juga menawan. Dengan penampilan dan sikapnya Sean akhir-akhir ini, untuk mengajaknya bercanda atau bertengkar saja rasanya Lorena tidak berani, Sean berubah jadi sosok yang sangat beraura yang entah apa, dia merasa ada sesuatu yang entah apa itu, Lorena tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
Tapi ada yang terlupa, kemana Sam? Bukankah Sean asistennya Sam, kenapa Sean hanya ada dengan teman-temannya? Bukankah Sean melakukan perjalanan bisnis ke Luar Negeri berarti itu artinya Sean sedang mendampingi atasannya Perdir Samuel? Kemana Sam? Lorena merasa semakin banyak hal yang tidak dia mengerti.
**************
Readers, ini sudah memasuki episode ke 31, saatnya mengajukan rekomendasi di beranda. Author masih bingung apa perlu mengajukan rekomendasi supaya novelnya ada di beranda?
Author tidak punya teman yang akan mendukung dengan vote supaya mendapat rangking. Author hanya mendapat vote dari pembaca asli yang benar-benar menyukai novel ini.
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen